Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan: Muda dalam Usia, Diakui dalam Reputasi


Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan: Muda dalam Usia, Diakui dalam Reputasi

Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan: Muda dalam Usia, Diakui dalam Reputasi
Kemampuannya sebagai dai bukan hanya karena dia adalah cucu Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, “Singa Podium” dan pejuang dakwah di Betawi tahun 1906-1969. Tapi juga karena sedari kecil dia memang telah tertempa dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius.
Wajah dai yang satu ini tentu sudah banyak dikenal kalangan habaib dan muhibbin yang ada di Indonesia. Usianya masih relatif muda, 31 tahun, namun reputasinya sebagai ulama dan muballig sudah diakui kaum muslimin. Tidak saja di Jakarta, tapi juga di banyak majelis haul dan Maulid yang digelar di berbagai tempat – seperti Gresik, Surabaya, Solo, Pekalongan, Tegal, Semarang, Bandung, Palembang, Pontianak dan Kalimantan. Hampir semua daerah di negeri ini sudah dirambahnya.

Kemampuannya sebagai dai bukan hanya karena dia adalah cucu Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, “Singa Podium” dan pejuang dakwah di Betawi tahun 1906-1969. Tapi juga karena sedari kecil dia memang telah tertempa dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius.

Wajah ulama muda yang shalih ini tampak bersih. Tutur katanya halus, dengan gaya berceramahnya yang enak didengar dan mengalir penuh untaian kalam salaf serta kata-kata mutiara yang menyejukkan para pendengarnya. Seperti kebanyakan habib, dia pun memelihara jenggot, dibiarkannya terjurai.

Habib Jindan, putra Habib Novel bin Salim bin Jindan Bin Syekh Abubakar, adalah salah seorang ulama yang terkenal di Jakarta. Ia juga dikenal sebagai penerjemah bahasa Arab ke bahasa Indonesia yang andal. “Ketika dia menerjemahkan taushiyah gurunya, Habib Umar bin Hafidz, makna dan substansinya hampir sama persis dengan bahasa aslinya. Bahkan waktunya pun hampir sama dengan waktu yang digunakan oleh Habib Umar,” tutur Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf di Jakarta.

Berkah Ulama dan Habaib

Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan lahir di Sukabumi, pada hari Rabu 10 Muharram 1398 atau 21 Desember 1977. Sejak kecil ia selalu berada di lingkungan majelis ta’lim, yang sarat dengan pendidikan ilmu-ilmu agama. “Waktu kecil saya sering diajak ke berbagai majelis ta’lim di Jakarta oleh abah saya, Habib Novel bin Salim bin Jindan. Dari situ saya mendapat banyak manfaat, antara lain berkah dari beberapa ulama dan habaib yang termasyhur,” kenang bapak lima anak (empat putra, satu putri) ini kepada alKisah. Ayahandanya memang dikenal sebagai muballigh yang termasyhur. Pengalaman masa kecil itu pula yang mendorongnya selalu memperdalam ilmu agama.

Ketika ia berumur dua tahun, keluarganya tinggal di Pasar Minggu, bersebelahan dengan rumah keluarga Habib Salim bin Toha Al-Haddad. Pada umur lima tahun, ia dititipkan untuk tinggal di rumah Habib Muhammad bin Husein Ba’bud dan putranya, Habib Ali bin Muhammad bin Husein Ba’abud, di Kompleks Pondok Pesantren Darun Nasyi’ien (Lawang, Malang). “Di Lawang, sehari-hari saya tidur di kamar Habib Muhammad Ba’bud. Selama di sana, dibilang mengaji, tidak juga. Namun berkah dari tempat itu selama setahun saya tinggal, masih terasa sampai sekarang,” ujarnya dengan senyum khasnya.

Menginjak umur enam tahun, ia ikut orangtuanya pindah ke Senen Bungur. Ia mengawali belajar di SD Islam Meranti, Kalibaru Timur (Bungur, Jakarta Pusat). Ia juga belajar diniyah pada sebuah madrasah yang diasuh oleh Ustadzah Nur Baiti.

Kemudian dia melanjutkan ke tingkat tsanawiyah di Madrasah Jami’atul Kheir, Jakarta, hingga tingkat aliyah, tapi tidak tamat. Selama di Jami’at Kheir, banyak guru yang mendidiknya, seperti Habib Rizieq Shihab, Habib Ali bin Ahmad Assegaf, K.H. Sabillar Rosyad, K.H. Fachrurazi Ibrahim, Ustadz Syaikhon Al-Gadri, Ustadz Fuad bin Syaikhon Al-Gadri, dan lain-lain.

Sejak muda, sepulang sekolah ia selalu belajar pada habaib dan ulama di Jakarta, seperti di Madrasah Tsaqafah Islamiyah, yang diasuh Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dan putranya, Ustadz Abu Bakar Assegaf. Habib Jindan juga pernah belajar bahasa Arab di Kwitang (Senen, Jakarta Pusat) di tempat Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi, dengan ustadz-ustadz setempat.

Selain itu pada sorenya ia sering mengikuti rauhah yang digelar oleh Majelis Ta’lim Habib Muhammad Al-Habsyi. Di majelis itu, banyak habib dan ulama yang menyampaikan pelajaran-pelajaran agama, seperti Habib Abdullah Syami’ Alattas, Habib Muhammad Al-Habsyi, Ustadz Hadi Assegaf, Habib Muhammad Mulachela, Ustadz Hadi Jawwas, dan lain-lain.

Beruntung, karena sering berada di lingkungan Kwitang, ia banyak berjumpa para ulama dari mancanegara, seperti Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Habib Ja’far Al-Mukhdor, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, dan masih banyak lainnya.

Pada setiap Ahad pagi, ia hadir di Kwitang bersama abahnya, Habib Novel, yang juga selalu didaulat berceramah. Sekitar 1993, ia bertemu pertama kali dengan Habib Umar Hafidz di Majlis Ta’lim Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang) saat pengajian Ahad pagi. Pertemuan kedua terjadi saat Habib Umar bin Salim Al-Hafidz berkunjung ke Jami’at Kheir. Saat itu yang mengantar rombongan Habib Umar adalah Habib Umar Mulachela dan Ustadz Hadi Assegaf.

Uniknya, satu-satunya kelas yang dimasuki Habib Umar adalah kelasnya, padahal di Jami’at Kheir saat itu ada belasan kelas. Begitu masuk kelas, Ustadz Hadi Assegaf dari depan kelas memperkenalkannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz. Saat itu, Ustadz Hadi menunjuknya sambil mengatakan kepada Habib Umar bahwa dirinya juga bermarga Bin Syekh Abu Bakar bin Salim, sama klannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz.

Saat itulah Habib Umar tersenyum sambil memandang Habib Jindan. Itulah perkenalan pertama Habib Jindan dengan Habib Umar Al-Hafidz di ruang kelasnya, yang masih terkenang sampai sekarang.

Sejak saat itu hatinya tergerak untuk belajar ke Hadhramaut. Pernah suatu ketika ia akan berangkat ke Hadhramaut, tapi sayang sang pembawa, Habib Bagir bin Muhammad bin Salim Alattas (Kebon Nanas), meninggal. Pernah juga ia akan berangkat dengan salah satu saudaranya, tapi saudaranya itu sakit. Hingga akhirnya tiba-tiba Habib Abdul Qadir Al-Haddad (Al-Hawi, Condet) datang ke rumahnya mengabarkan bahwa Habib Umar bin Hafidz menerimanya sebagai santri.

Sumber Inspirasi

Lalu ia berangkat bersama rombongan pertama dari Indonesia yang jumlahnya 30 orang santri. Di antaranya Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa, Habib Qureisy Baharun, Habib Shodiq bin Hasan Baharun, Habib Abdullah bin Hasan Al-Haddad, Habib Jafar bin Bagir Alattas, dan lain-lain. Ia kemudian belajar agama kepada Habib Umar bin Hafidz di Tarim, Hadhramaut. “Ketika itu Habib Umar belum mendirikan Pesantren Darul Musthafa. Yang ada hanya Ribath Tarim. Kami tinggal di rumah Habib Umar,” tuturnya.

Baru dua minggu di Hadhramaut, pecah perang saudara di Yaman. Memang, situasi perang tidak terasa di lingkungan pondok. Ada perang atau tidak, Habib Umar tetap mengajar murid-muridnya. Namun dampak perang saudara ini dirasakan seluruh penduduk Yaman. Listrik mati, gas minim, bahan makanan langka. “Terpaksa kami masak dengan kayu bakar,” katanya.

Baginya, Habib Umar bin Hafidz bukan sekadar guru, tapi juga sumber inspirasi. “Saya sangat mengagumi semangatnya dalam berdakwah dan mengajar. Dalam situasi apa pun, beliau selalu menekankan pentingnya berdakwah dan mengajar. Bahkan dalam situasi perang pun, tetap mengajar. Beliau memang tak kenal lelah.”

Saat itu Darul Musthafa belum mantap seperti sekarang, situasinya serba terbatas. Walaupun begitu, sangat mengesankan baginya. Dahulu para santri tinggal di sebuah kontrakan yang sederhana di belakang kediaman Habib Umar. Sedangkan pelajaran ta’lim, selain diasuh sendiri oleh Habib Umar, para santri juga belajar di berbagai majelis ta’lim yang biasa digelar di Tarim, seperti di Rubath Tarim, Baitul Faqih, Madrasah Syeikh Ali, mengaji kitab Bukhari di Masjid Ba’alwi, ta’lim di Zawiyah Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Al-Hawi, Hadhramaut), belajar kitab Ihya di Zanbal di Gubah Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus, Zawiyah Mufti Tarim, diasuh Syaikh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal, dan lain-lain.

Selama mengaji dengan Habib Umar, ia sangat terkesan. “Beliau dalam mengajar tidak pernah marah. Saya tidak pernah mendengar beliau mengomel atau memaki-maki kami. Kalau ada yang salah, ditegurnya baik-baik dan dikasih tahu. Selain itu, Habib Umar juga terkenal sangat istiqamah dalam hal apa pun.”

Habib Jindan mengaku sangat beruntung bisa belajar dengan seorang alim dan orator ulung seperti Habib Umar. Memang Habib Umar mendidik santri-santrinya bisa berdakwah. Para santri mendapat pendidikan khusus untuk memberikan taushiyah dalam bahasa Arab tiap sehabis shalat Subuh, masing-masing dua orang, walaupun hanya sekitar lima sampai sepuluh menit. Latihan kultum itu juga menjadi ajang saling memberikan masukan antarsantri.

Setelah satu tahun menjadi santri, ada program dakwah tiga hari sampai seminggu bagi yang mau dakwah berkeliling. Bahkan dirinya sudah mengajar untuk santri-santri senior pada akhir-akhir masa pendidikan.

Setelah selama kurang lebih empat tahun, tahun 1998, ia pulang ke Indonsia bersama rombongan Habib Umar yang mengantar sekaligus santri-santri asal Indoensia dan berkunjung ke rumah beberapa muridnya. Angkatan pertama ini hampir seluruhnya dari Indonesia, hanya dua-tiga orang yang santri setempat. Untuk itulah, ia pulang seminggu terlebih dahulu, untuk mempersiapkan acara dan program kunjungan Habib Umar di Indonesia.

Saat pertama kali pulang, ia, oleh sang abah, diperintahkan untuk berziarah ke para habib sepuh yang ada di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya. Ayahandanya, Habib Novel, Habib Hadi bin Ahmad Assegaf, dan Habib Anis Al-Habsyi mendorongnya untuk berdakwah.

Masukan, didikan, dan motivasi sang abah ia rasakan hingga sekarang. “Ikhlaslah dalam berdakwah. Apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati,” kata Habib Jindan menirukan abahnya. Habib Novel (alm.) memang dikenal sebagai orator ulung sebagaimana abahnya, Habib Salim bin Jindan. Wajarlah bila Habib Novel ingin putra-putranya menjadi dai-dai yang tangguh.

“Kalau ceramah, jangan terlalu panjang. Selagi orang sedang asyik, kamu berhenti. Jangan kalau orang sudah bosan, baru berhenti, nanti banyak audiens kapok mendengarnya. Lihat situasi dan keadaannya, sesuaikan dengan materi ceramahnya dan waktu ceramahnya. Lihat, kalau di situ ada beberapa penceramah, kamu harus batasi waktu berceramah dan bagi-bagi waktunya dengan yang lain.” Sampai masalah akhlaq dan sopan santun, semua orang diajarkan. AST
Explore posts in the same categories: Ulama habaib

Tokoh Ulama Semenanjung Tanah Melayu


Tokoh Ulama’

TOK KENALI Ulama Peringkat Wali
Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah DALAM sekian banyak e-mel yang saya terima, ada orang memprotes kenapa sudah sekian banyak ulama Nusantara yang diperkenalkan dalam halaman Agama Utusan Malaysia, namun cerita tentang Tok Kenali tidak muncul?. Pada prinsipnya kisah semua ulama Nusantara akan saya muatkan dalam akhbar ini, hanya gilirannya belum sampai. Ada ulama kisahnya disegerakan dan ada yang artikelnya masih dalam pemerosesan. Tok Kenali ialah satu nama yang paling terkenal dalam dunia pengajian Islam menggunakan sistem pondok di Malaysia. Bahkan beliau juga terkenal di seluruh alam Melayu. Oleh itu, memang riwayat beliau perlu diketahui oleh masyarakat. Dalam dua keluaran terakhir perbicaraan tentang ulama, telah disentuh perjuangan tokoh yang antipenjajah (Tok Ku Paloh Terengganu dan Haji Sulong al-Fathani). Ada orang berpendapat bahawa Tok Kenali tidak pernah terlibat dalam perjuangan yang bercorak demikian.
Bagi saya, pendapat seperti demikian itu adalah hanya ditinjau dari satu sudut yang belum menyeluruh.

Tok Kenali ialah murid yang paling dipercayai oleh Syeikh Ahmad al-Fathani, oleh itu hampir-hampir tidak ada satu rahsia perjuangan Syeikh Ahmad al-Fathani yang tidak diketahui oleh Tok Kenali. Di sini saya sentuh sedikit saja. Syeikh Ahmad al-Fathani ialah tokoh pertama dari lingkungan dunia Melayu sejagat yang secara diplomatik pergi ke Istanbul, Turki untuk melaporkan perbuatan tiga bangsa yang menjajah di dunia Melayu ketika itu. Bangsa-bangsa itu ialah Inggeris, Belanda dan Siam. Walau bagaimanapun, supaya suasana tidak selalu keras dan tegang dalam corak pemikiran jihad zhahiri, kisah Tok Kenali saya fokuskan kepada pemikiran jihad shufi. Jihad zhahiri lebih menitikberatkan perjuangan secara fizikal, sedang jihad shufi lebih mengutamakan pembinaan dalaman, qalbi atau hati dan rohani. Kedua-dua jenis jihad itu adalah penting dikombinasikan secara sepadu. Selain itu dalam disiplin ilmu akidah dan tasawuf ia dikenali dengan istilah ‘Wali Allah’ dan ‘karamah’ (istilah Melayu: keramat).

Tradisi penulisan para ulama Islam juga banyak menceritakan tentang ‘karamah’ para Wali Allah. Tulisan saya dalam Utusan Malaysia yang telah lalu (133 siri) tentang ‘karamah’ sengaja tidak saya sentuh kerana saya lebih mengutamakan riwayat yang berdasarkan fakta. Oleh kerana ramai yang minta kepada saya supaya menulis tentang karamah yang pernah berlaku pada Tok Kenali maka permintaan itu saya paparkan berdasarkan cerita yang telah saya kumpulkan daripada pelbagai sumber sejak tahun 1950-an lagi.

Karamah Tok Kenali

Nama sebenar Tok Kenali ialah Haji Muhammad Yusuf bin Ahmad al-Kalantani, lahir pada 1287 H/1871 M, wafat Ahad, 2 Syaaban 1352 H/19 November 1933 M. Yang saya riwayatkan ini adalah berdasarkan pelbagai cerita yang saya dengar, oleh itu tidak terikat sangat dalam sistem penulisan ilmiah.

Yang saya ingat pada tahun 1953, ibu saya Hajah Wan Zainab binti Syeikh Ahmad al-Fathani hanya menyebut nama murid ayahnya itu dengan istilah Awang Kenali. Menurutnya, Syeikh Ahmad al-Fathanilah yang pertama menggunakan istilah ‘Awang’ itu. Riwayatnya, sewaktu Syeikh Ahmad al-Fathani menjadi utusan ulama Mekah ke Beirut dan Mesir untuk menyelesaikan pertikaian pendapat antara Saiyid Yusuf an-Nabhani (Beirut) dengan Syeikh Muhammad Abduh (Mesir) dalam rombongan itu, Awang Kenali ikut serta.
Ketika sampai di Bukit Tursina, kerana di tempat itulah Nabi Musa mendengar ‘Kalam Allah’, Syeikh Ahmad al-Fathani menyuruh murid-muridnya munajat secara khusus. Awang Kenali ditugaskan supaya minta menjadi ulama. Nik Mahmud ditugaskan munajat minta menjadi seorang pembesar Kelantan. Setelah Tok Kenali munajat, Syeikh Ahmad al-Fathani menyatakan bahawa ilmu Awang Kenali tinggi hanya mencapai ‘awan’ tidak menjangkau kepada langit. Ilmu yang sampai ke peringkat ‘awan’ itulah yang dapat dijangkau oleh kebanyakan ulama di tanah Jawi.

Daripada perkataan ‘awan’ itulah kemudian bertukar menjadi ‘Awang’. Cerita yang sama juga saya dengar daripada Haji Wan Ismail bin Hawan, Qadhi Jala (cerita didengar pada tahun 1970). Dalam surat-surat Syeikh Ahmad al-Fathani kepada pihak lain, termasuk kepada orang Arab dan Turki, apabila melibatkan muridnya itu, beliau mengekalkan tulisan dengan istilah ‘Awan Kenali’ saja tanpa menyebut nama lainnya.
Pada tahun 1969 saya dengar cerita bahawa Tok Kenali pertama-tama datang ke Mekah penuh dengan peristiwa yang pelik-pelik (ajaib). Kehidupan sehari-harinya penuh dengan tawakal. Beliau tidak mempunyai pakaian yang lebih daripada sehelai, tidak memiliki wang, tidak siapa mengetahui beliau makan ataupun tidak pada setiap hari siang ataupun malam. Hampir-hampir tidak ada orang yang mengenalinya di Mekah ketika itu.

Orang yang tidak mengenalinya hanya memperhatikan keanehannya berada dari satu halaqah ke satu halaqah yang lain dalam Masjid Haram, Mekah. Keberadaannya dalam sesuatu halaqah tidak pula membawa sesuatu kitab seperti orang lainnya. Pada kebanyakan masa ketika duduk dalam halaqah beliau memejamkan mata, orang menyangka beliau bukan mendengar pelajaran tetapi tidur. Antara ulama yang mengajar dalam Masjid al-Haram ketika itu ada yang tembus pandangannya, diketahuinyalah bahawa pemuda yang aneh itu bukanlah sembarangan orang, martabatnya ialah seorang ‘Wali Allah’.

Walau bagaimanapun, tidak seorang ulama peringkat Wali Allah di Mekah mahu membuka rahsia itu kepada murid-muridnya. Ketika Tok Kenali sampai di Mekah, Syeikh Ahmad al-Fathani telah mengetahui pemuda yang berasal dari Kelantan itu, tetapi sengaja tidak dipedulikannya kerana pada firasat Syeikh Ahmad al-Fathani pemuda Kelantan itu sama ada lekas ataupun lambat akan datang juga kepada beliau.

Dalam masa berbulan-bulan peristiwa seperti di atas, pada satu ketika Tok Kenali mengunjungi halaqah Syeikh Ahmad al-Fathani. Tok Kenali duduk jauh di belakang pelajar-pelajar lain. Syeikh Ahmad al-Fathani telah mempersiapkan sekurang-kurangnya tiga kemusykilan atau masalah, yang pada pemikiran Syeikh Ahmad al-Fathani tidak akan dapat dijawab oleh siapa pun yang hadir dalam majlis pengajiannya, kecuali seseorang itu memiliki pandangan ‘kasyaf’ ataupun telah memperoleh ‘ilmu ladunni’.

Sewaktu Syeikh Ahmad al-Fathani melemparkan pengujian atau pertanyaan kepada semua pelajar, Tok Kenali seperti orang tidur-tidur saja. Semua pelajar terdiam, tidak seorang pun berkemampuan menjawab masalah yang dikemukakan oleh Syeikh Ahmad al-Fathani. Tiba-tiba Syeikh Ahmad al-Fathani menyergah pemuda Kelantan yang sedang tidur. Pemuda itu terkejut. Syeikh Ahmad al-Fathani menyuruhnya supaya datang ke hadapan duduk bersama beliau. Disuruhnya pemuda Kelantan itu menjawab masalah ujian yang dikemukakan lalu semuanya dijawab dengan sejelas-jelasnya.

Setelah peristiwa itu Tok Kenali menjadi murid yang paling mesra dengan Syeikh Ahmad al-Fathani. Bahkan Tok Kenali menjadikan dirinya sebagai ‘khadam’ kepada Syeikh Ahmad al-Fathani. Seluruh gerak dan diam Tok Kenali hanyalah berkhidmat kepada gurunya itu, kerana diketahuinya bahawa seluruh kerja Syeikh Ahmad al-Fathani semata-mata untuk kepentingan agama Islam dan bukan kepentingan peribadinya. (Cerita yang sama juga didengar daripada Tuan Guru Haji Mahmud bin Yusuf Juani di Pondok Gajah Mati, Kedah pada tahun 1970. Beliau ialah murid Tok Bermin, sahabat Tok Kenali).

Hampir semua murid Tok Kenali yang pernah saya temui meriwayatkan bahawa orang yang pernah belajar dengan Tok Kenali semuanya mendapat kedudukan dalam masyarakat. Apabila seseorang murid itu lebih berkhidmat kepada beliau maka ternyata akan lebih pula ilmu yang diperolehnya. Demikian juga kedudukan dalam masyarakat. Yang dimaksudkan berkhidmat di sini ialah ada yang pernah menyiram Tok Kenali ketika mandi. Bahkan ada murid yang pernah membasuh beraknya sesudah buang air besar.

Murid yang sampai kepada kedua-dua peringkat ini saja yang menjadi ulama besar, antara mereka termasuk Syeikh Idris al-Marbawi dan Syeikh Utsman Jalaluddin Penanti. (Sumber cerita ini daripada murid beliau, Tuan Guru Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani, Mufti Mempawah, yang didengar pada tahun 1969 di Mempawah; Tuan Guru Haji Mahmud di Gajah Mati, Kedah pada tahun 1970; Qadhi Haji Wan Ismail bin Hawan di Jala pada tahun 1970; Tuan Guru Haji Abdur Rahim Kelantan di Mekah pada tahun 1979, dan masih ada yang lain yang belum perlu disebutkan.)

Walaupun telah diketahui umum Tok Kenali berasal dari Kelantan tetapi sewaktu saya mengembara ke negeri Caiyya (nama asalnya Cahaya) yang terletak jauh ke Utara Patani dan Senggora, orang tua-tua bercerita bahawa asal usul datuk nenek Tok Kenali adalah dari Cahaya. Diriwayatkan ada dua atau tiga kali Tok Kenali pernah datang ke negeri Cahaya. Setiap kali Tok Kenali datang beliau dimuliakan orang. Tempat yang menjadi laluan Tok Kenali dihamparkan dengan kain kuning, demikian juga tempat duduknya. Orang ramai datang berduyun-duyun menziarahi Tok Kenali kerana mengambil berkat keramatnya. Ada orang tertentu yang didoakan oleh Tok Kenali ternyata dikabulkan oleh Allah sebagaimana doa yang beliau ucapkan (riwayat ini didengar di Caiya (Cahaya) pada 1992).

Penulisan

Penglibatan Tok Kenali dalam penulisan adalah sebagai bukti beliau seperti juga ulama-ulama terkenal lainnya. Beliau ialah Ketua Pengarang majalah Pengasuh yang pertama ketika majalah itu mula-mula diterbitkan. Dari sini dapat kita buktikan bahawa majalah Pengasuh merupakan majalah Islam yang paling lama dapat bertahan di Nusantara. Majalah Pengasuh masih kekal diterbitkan hingga sekarang ini (1427 H/2006 M) oleh Majlis Agama Islam Kelantan. Semua majalah Islam di Nusantara yang diterbitkan peringkat awal, bahkan termasuk yang agak terkebelakang, semuanya tidak diterbitkan lagi.

Karya-karya Tok Kenali yang ditulis dalam bentuk risalah atau kitab pula antaranya ialah Risalatud Durril Mantsur, yang selesai ditulis pada bulan Jumadil Akhir 1310 H/Disember 1892 M. Kandungannya merupakan terjemahan dan penjelasan fadhilat Burdah Bushiri. Dicetak dalam bentuk huruf batu/litografi oleh Syeikh Abdullah Mujallid, Mekah pada Jumadilakhir 1310 H.

Karya Tok Kenali dalam bidang ilmu sharaf pula ialah Madkhal Kamil fi ‘Ilmis Sharfi, selesai penulisan pada 15 Rabiulawal 1351 H. Kandungan merupakan karya tashhih tentang ilmu sharaf. Kemungkinan maksud daripada gurunya Syeikh Ahmad al-Fathani, iaitu karya berjudul Abniyatul Asma’ wal Af’al. Dicetak oleh Mathba’ah al-Asasiyah al-Kalantaniyah atas perbelanjaan Haji Wan Daud bin Haji Wan Sufyan.

Karya Tok Kenali dalam bidang ilmu nahu pula ialah Mulhiq li Miftahit Ta’allum fi I’rabi Matnil Ajrumiyah wal Amtsilah ‘ala Ratbih, selesai penulisan pada 29 Sya’ban 1354 H. Membicarakan ilmu nahu merupakan huraian kitab Matn al-Ajrumiyah. Kitab ini dikumpulkan atau ditulis kembali oleh salah seorang muridnya iaitu Tuan Guru Haji Abdullah Thahir bin Ahmad, Bunut Payung. Dicetak oleh Persama Press, Pulau Pinang atas kehendak Tuan Guru Abdullah Thahir bin Ahmad bin Muhammad Zain pada 9 Safar 1356 H.

————————————————————

Ingatan kuat Tok Pulau Ubi dikagumi

Oleh Mohd Azis Ngah dan Haspaizi Mohd Zain
azis@bharian.com.my

Yusuf sangat kuat ingatannya dan setiap kemusykilan, beliau boleh beri jawapan dengan menerangkan nama kitab serta muka suratnya sekali

SEBELUM merdeka, kebanyakan ulama dan tokoh agama sangat berpengaruh dalam pembentukan sosial masyarakat kerana mereka cukup disegani berikutan peribadi dan ilmunya.

Kelantan yang juga dikenali sebagai Serambi Makkah adalah antara negeri yang melahirkan ramai tokoh agama termasuk Tok Kenali, ulama tersohor yang dianggap antara tujuh wali Allah di Tanah Melayu.

Selain Tok Kenali, antara ulama besar di negeri Cik Siti Wan Kembang itu ialah Yusuf Abdul Rahman atau lebih dikenali sebagai Tok Pulau Ubi.Yusuf dilahirkan pada zaman pemerintahan Sultan Muhammad II. Ketika itu, Kelantan dilanda bencana ‘angin besar’ yang menyebabkan negeri itu menjadi miskin kerana banyak ternakan dan tanaman musnah sehingga ada penduduk terpaksa memakan pucuk kelapa dan pinang untuk hidup, selain ada yang mati kebuluran.

Sebagai anak kesayangan, Yusof cukup bertuah kerana dihantar berguru di Pattani di bawah bimbingan Tuan Guru Abdul Malek dan bapa sepupunya, Abdul Latif Pattani yang turut membiayainya melanjutkan pengajian di Makkah selama 10 tahun.

Sekembalinya ke Sungai Pinang, beliau telah membuka sekolah pondok dalam kawasan rumah Datuk Menteri Che Hasan Muhammad Saleh, tidak jauh dari Pondok Tuan Guru Abdul Malek.Setelah Mufti Wan Musa meletakkan jawatannya pada 1916, beliau ditawarkan jawatan Mufti Negeri Kelantan tetapi menolak tawaran itu. Jawatan itu diberi kepada Wan Muhammad, abang kepada Mufti Wan Musa. Yusof kemudian berpindah dari Sungai Pinang ke Pulai Ubi, sebuah kawasan yang tidak berpenghuni, cuma dipenuhi rumput panjang dan semak samun.

Walaupun Yusof tinggal di Pulau Ubi, Datuk Menteri masih menghormatinya, bahkan memberikan sepucuk senapang untuk menjaga keselamatan diri dan kampungnya. Beliau berhasrat memajukan kawasan itu dan niatnya berjaya kerana selepas itu, ramai yang datang membuka pondok pengajian di situ.Suasana di situ digambarkan sebagai ‘rumput yang panjang telah musnah oleh tangan manusia, kawasan yang lengang mula menjadi riuh rendah dengan suara manusia termasuk bacaan ayat suci al-Quran’. Begitulah Pulau Ubi digambarkan yang penuh dengan aktiviti mendalami ilmu. Pondoknya berkekalan hampir 50 buah sehingga Perang Dunia Kedua.

Anak murid Yusof datang dari pelusuk tempat termasuk Pattani dan beberapa negeri di luar Kelantan. Kemuncaknya ialah selepas seorang guru agama, Husain Mustafa Besut menjadi menantunya dan mereka berdua mengajar silih berganti. Mengenai peribadinya, beliau dikenali sebagai seorang yang sangat kuat ingatannya. Apabila wujud kemusykilan, beliau memberi jawapan dengan menerangkan nama kitab dan muka suratnya sekali. Hakikat itu diakui cucunya, Fadhil Abdul Hamid, 57, yang menjelaskan datuknya mempunyai suara nyaring, jika membaca al-Quran di Pulau Ubi, suaranya boleh didengari penduduk Telaga Lanas.

“Datuk saya seorang yang cukup tegas dalam mendidik anak, tidak menegur kesalahan dengan suara lantang untuk menasihati.

“Arwah bapa saya, Abdul Hamid pernah memberitahu bahawa datuk saya adalah seorang yang pendiam dan tidak suka bercakap perkara bukan-bukan, tetapi cukup mesra dengan cucunya.

“Setelah beliau meninggal dunia, bapa saya dan adiknya, Abdullah mewarisi ilmu agamanya, malah sekolah pondok yang dibukanya sebelum ini diambil alih bapa saya,” katanya.

Ulama tersohor itu kini mempunyai 251 ahli keluarga merangkumi lima generasi.Katanya, Yusuf sempat membina pusat pengajian pondok di Kampung Pulau Ubi, namun setelah Jepun menyerang Tanah Melayu pondok berkenaan dipindahkan ke Kampung Telaga Lanas. Namun, jika berkunjung ke kampung itu, masih ada lagi tinggalan sejarah ulama ini, apabila madrasah yang dibina oleh tokoh agama berkenaan masih kekal hingga kini. Malah, madrasah itu pada asalnya dibina di kampung kelahirannya di Sungai Pinang, kemudian dipindah ke kampung Pulau Ubi sebelum didirikan kembali di Telaga Lanas oleh Abdul Hamid. Menyingkap sejarahnya, walaupun ramai guru agama lain sezaman di sekitar Pengkalan Kubor, beliau masih dihormati oleh guru itu kerana kematangannya dalam ilmu agama dan al-Quran.

Satu daripada kelebihannya ialah sebarang perbuatan maksiat tidak boleh dilakukan di kampungnya. Contoh, kalau dibawa ayam sabung, ayam sabung itu tidak dapat bersabung. Kalau bergendang di kawasannya, gendang akan pecah.

“Pernah berlaku kes, seorang pencuri memanjat pokok kelapa untuk mencuri buahnya, ketika turun dia ternampak ular besar di batang pokok dan sejak peristiwa itu, orang ramai segan, hormat dan takut untuk melakukan perbuatan yang menyalahi agama di kampung berkenaan,” katanya.

Tok Pulai Ubi juga sangat gemar membaca al-Quran pada waktu malam, suka mentelaah kitab dan pada masa sama mengawal anak muridnya keluar daripada kawasan pondok pada waktu malam.

Biodata

* Dilahirkan di Sungai Pinang, Kelantan pada 1887 dan meninggal dunia ketika usia 90 tahun.
* Dikebumikan di Kampung Telaga Lanas, Tumpat, bersebelahan pusara isterinya.
* Berguru dengan Tok Wan Ali Kutan dan Wan Ahmad Muhammad Zain Pattani.
* Belajar al-Quran dengan Abdullah Senggora.
* Ketika di Makkah, Yusof bersahabat dengan Tok Selehor, Tok Kenali dan Pak Da Ail.
* Antara kitab yang diajarnya iaitu Furu’ al-Masa’il, Kashf al-Litham, ‘Aqidah al-Najid, Al-Durr al-thamin, Jauhar al-Mauhub, Hikam, Hudhud, Qatr al-Nada dan Fath al-Muin.
* Kelebihannya ialah dalam ilmu fiqh dan tauhid.
* Di antara muridnya ialah Ali Pulau Pisang, Syaikh ‘Uthman Jalaludin Penanti.
* ·

Dikurnikan enam anak;1) Abdul Hamid (meninggal dunia pada 23 September 1978 2) Abdullah (meninggal dunia pada 6 Julai 1977) 3) Muhammad Saud (meninggal dunia) 4) Mariam (meninggal dunia)

5) Zainab (meninggal dunia)

6) Azirah —————————————————————————–

Tok Pulai Condong ulama Nusantara

Oleh Haspaizi Mohd Zain

Abdul Samad Faqih terus gigih tuntut ilmu agama di Makkah walaupun dikatakan sudah layak jadi pengajar

KELANTAN bukan saja terkenal dengan kaum hawa yang mendominasi perniagaan, namun ia juga berfungsi sebagai pusat kelahiran tokoh ulama seperti Abdul Samad Faqih Abdullah atau lebih dikenali sebagai Tok Pulai Condong.

Tok Pulai Condong adalah seorang ulama Melayu terkemuka di Nusantara yang bertanggung jawab menyebarkan syiar Islam pada zaman kegelapan masyarakat Melayu lampau.

Tokoh ini dilahirkan ketika pemerintahan Long Yunus (1762-1794) iaitu pada 1792. Beliau adalah saudara dua pupu Syeikh Daud Abdullah al-Fatani. Beliau mendapat pendidikan daripada ayah dan datuknya sendiri melalui sistem pengajian pondok tradisional Pattani dan juga belajar di Pondok Pauh Bok, Patani daripada Syeikh Abdul Rahman Abdul Mubin al-Fatani sebelum melanjutkan pengajiannya ke Makkah. Ketika di Makkah, beliau belajar dengan Tuan Guru Adam dan ada yang mengatakan beliau adalah murid Syeikh Daud al-Fatani.

Setelah menetap beberapa tahun di Makkah, Tok Pulai Condong pulang ke Kelantan dan menyebarkan pengetahuannya dalam tiga cabang iaitu Usuluddin, Fiqh dan Tasawuf. Atas sikap ingin belajar, ulama ini sekali lagi melanjutkan pelajaran ke Makkah pada 1840 kerana berasa dirinya perlu belajar lagi, bukan mengajar. Padahal dalam penilaian beberapa orang ulama, ilmunya dalam Tasawuf sebenarnya memang layak mengajar bukan belajar. Tok Pulai Condong adalah ulama yang alim, warak dalam ilmu agama, malah doa yang selalu dipraktikkan ialah Hizbul Bahar serta berpegang kepada falsafah ‘Berhamba kepada Allah dengan sebaik hamba’.

Beliau kerap menunaikan haji dan pernah membawa anaknya, Muhammad Arshad yang berusia 13 tahun. Sewaktu menunaikan haji beliau sempat menziarah makam Imam Syafie di Mesir bersama Tuan Tabal (Pengarang Kitab Sabla dan Tuan Haji Hassan Besut).

Pada 1820 Tok Pulai Condong membuka Kampung Bilal Talib, Pulai Condong dan membina sebuah surau berhampiran sebatang pokok pulai di kampung itu. Sekembalinya dari Makkah, beliau aktif menyebarkan syiar Islam kepada masyarakat dengan mendirikan sebuah surau pada 1820 dan dijadikan pusat pengajian sistem pondok. Cicit beliau, Mohd Nor Haji Muhamad, 71, berkata surau pertama yang dibina Tok Pulai Condong terletak di Kampung Bilal Talib berhampiran sebatang pokok pulai yang dikatakan condong.

Belia mendapat gelaran itu sempena membuka kampung berkenaan dan membina surau berdekatan pokok pulai. Surau itu menjadi pusat pengajian pondok, di mana pelajarnya datang dari pelusuk nusantara seperti Kampar, Sumatera, Kemboja, Pattani, Terengganu dan negeri lain di Semenanjung. Selepas kematiannya, pondok itu diambil alih anaknya Muhammad Arshad.

Beliau juga mendirikan masjid pada 1820 tetapi musnah dalam kebakaran dan sekali lagi membina masjid baru sebelum ia dipindahkan ke Kampung Surau. Masjid itu dikenali sebagai Masjid Tok Pulai Condong yang digunakan hingga sekarang.

“Pada 1856 masjid itu sekali lagi terbakar, kali ini ia dibakar oleh penduduk kampung yang dikenali sebagai Awang Senik dan ia dibina semula dengan kerjasama anak mukimnya.

“Dalam kejadian itu, menara masjid tidak terbakar dan mimbar serta gendang asal masih kekal hingga kini,” katanya.

Mohd Nor berkata, menara masjid itu menjadi objek kemegahan tempatan kerana ia dibina oleh Tok Pulai Condong sendiri. Menara setinggi 57 kaki (18 meter) itu mempunyai keistimewaan tersendiri kerana dibina menggunakan sebatang kayu cengal tanpa bersambung.

Selain itu, menara masjid berbentuk lapan segi dengan ukur lilit 12 kaki (empat meter) itu, mempunyai 23 anak tangga, digunakan oleh bilal untuk melaungkan azan.

Keteguhan menara itu teruji apabila negeri dipukul ribut besar pada 1880 menyebabkan banyak pokok tumbang, tetapi menara itu tetap teguh dan tidak terusik.

Sumbangan Tok Pulai Condong dalam syiar Islam mendapat perhatian Sultan dan Sultan Muhammad II kemudian melantiknya sebagai guru di istana untuk mengajar Raja Perempuan mengenai Islam. Sumbangannya berjaya mengubah corak kehidupan masyarakat Kelantan ketika itu yang masih jahil kepada masyarakat berilmu dan patuh terhadap perintah Allah.

Info

* Meninggal dunia di Makkah pada 1874 dan dikebumikan di Tanah Perkuburan Maala (berhampiran kubur Siti Khadijah).
* Mempunyai empat orang isteri iaitu Mek Mendusa, Bi’ah, Thamani dan Zaleha.
* Dikurniakan 16 anak. Empat daripadanya meninggal dunia ketika masih kecil.
* Senarai anak Tok Pulai Condong.
Abdul Hamid
Abdul Syukur
Abdul Aziz
Umar
Muhammad Said
Taib
Siti Mariam
Muhammad Arsyad
Abdullah
Muhammad
Zainab
Ummu Maimunah

———————————————————————————————-

Tukku Paloh memerangi jenayah aqidah di Terengganu

Oleh ABD. AZIZ ITAR (aziz.itar@utusan.com.my)

SAYYID Abd. al-Rahman Muhammad Zayn al-Idrus atau lebih dikenali sebagai Tukku Paloh merupakan tokoh ulama dan umarak yang terkenal di Terengganu sekitar hujung kurun ke-19 hingga awal kurun ke-20.

Tukku Paloh yang dilahirkan pada 1817 disanjung tinggi kerana sumbangannya terhadap perkembangan politik, semangat patriotisme, keilmuan serta pelaksanaan hukum-hukum Islam di negeri tersebut.

Beliau yang dilahirkan di Kampung Cabang Tiga, Kuala Terengganu dan meninggal dunia pada 1918 juga amat disegani ramai hingga kini lantaran kesungguhannya melaksanakan hukum-hukum Islam.

Kesungguhan nasab ke-32 daripada keturunan Nabi Muhammad s.a.w. ini dalam melaksanakan hukum Islam di Terengganu dapat dilihat menerusi sebuah kitab tulisannya yang berjudul Ma’arij al-Lahfan li al-Taraqqi iq al-Irfan.

Kitab itu antara lain memperlihatkan sikap Tukku Paloh yang cukup serius terutamanya dalam memerangi jenayah aqidah yang berleluasa berlaku ketika di zamannya itu.

Sebagai contohnya, beliau menekankan tentang bahaya amalan masyarakat ketika itu yang mengamalkan main peteri iaitu suatu upacara mengubati pesakit melalui perubatan tradisional.

Menurut beliau dalam kitab itu, main peteri atau main bageh mempunyai unsur-unsur kurafat yang menggaitkan hantu dalam mengubati sesuatu penyakit telah membelenggu aqidah masyarakat di sana sejak sekian lama.

Banyak mazhab sesat dan penyelewengan aqidah yang didedahkan oleh Tukku Paloh menerusi kitab itu di mana ia menggambarkan senario yang berlaku di Terengganu pada ketika itu.

Rafidiyah, Kharijiah, Qadariyah, Jabariyah, Jahimiyah dan Murji’ah merupakan enam mazhab sesat yang mendapat tumpuan beliau menerusi kitab tersebut.

Mazhab-mazhab itu merupakan asas kepada kelompok-kelompok lain yang berpecah daripada aqidah yang sama di mana setiap satunya berpecah kepada 12 kumpulan.

Natijahnya, jumlah semua kumpulan itu menjadi 72 kumpulan. Ia sebenarnya berdasarkan sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud:

“Demi Tuhan yang menguasai jiwa Muhammad akan berfirqah (berpecah) umatku sebanyak 73 firqah. Satu firqah masuk ke dalam syurga dan 72 firqah masuk ke dalam neraka. Sahabat bertanya: Siapakah yang masuk ke dalam syurga itu wahai Rasulullah? Baginda menjawab: Firqah yang masuk ke dalam syurga itu ialah Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah” – Riwayat al-Tabrani.

Peranan Tukku Paloh itu bukan setakat banyak membantu mengubah senario kefahaman agama dalam masyarakat tetapi ia turut terus menjadi bahan kajian ramai sarjana hingga ke saat ini.

Antaranya pensyarah Jabatan Kesusasteraan Melayu, Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur (UM), Mohd. Taufik Arridzo Mohd. Balwi menerusi kertas kerjanya yang bertajuk Tukku Paloh : Kesungguhannya Memerangi Jenayah Aqidah Di Terengganu.

Ia dibentangkan pada Siri Seminar Bulanan Naskhah Melayu 2008 Siri Ke-14 yang dipengerusikan oleh Profesor Kanan Jabatan Kesusasteraan Melayu, Akademi Pengajian Melayu, UM, Prof. Datuk Dr. Abu Hassan Sham.

Sumbangan

Kertas kerja itu merupakan sebahagian daripada tesis doktor falsafah beliau yang memfokuskan tentang sumbangan Tukku Paloh dalam membetulkan aqidah umat Islam ketika itu.

Jelas Mohd. Taufik, tokoh terbilang itu misalnya, melaksanakan hukum Islam ketika dilantik oleh Sultan Zainal Abidin III mentadbir daerah Sungai Nerus di Terengganu.

“Daripada kajian yang saya jalankan tentang Tukku Paloh, saya difahamkan beliau seorang pentadbir yang serius dalam menjalankan hukum Islam secara menyeluruh di daerah tadbirannya itu.

“Ketika zaman Tukku Paloh, ada bukti yang menunjukkan hukuman seperti potong tangan kerana kesalahan mencuri telah dilaksanakan di negeri Terengganu,” katanya ketika ditemui selepas membentangkan kertas kerja tersebut di UM, Kuala Lumpur baru-baru ini.

Tukku Paloh bersungguh-sungguh dalam melaksanakan hukum-hukum Islam terutamanya dalam membetulkan aqidah umat Islam yang boleh dianggap perkara tunjang yang patut diberi perhatian utama.

Apatah lagi, katanya Allahyarham merupakan salah seorang penasihat utama Sultan Zainal Abidin III yang menasihati baginda dalam hal-hal pentadbiran Kerajaan Negeri Terengganu.

Senario itu memberi kelebihan kepada Tukku Paloh berdasarkan kebolehannya yang luas dalam bidang keilmuan Islam, apatah lagi ketika itu institusi ulama banyak mencorakkan sistem pemerintahan kerajaan di sana.

Sebagai contohnya, Tukku Paloh pernah diberi peranan menyusun dan seterusnya mewujudkan Undang-Undang Tubuh Kerajaan Negeri Terengganu bagi melancarkan lagi sistem pemerintahan di negeri itu.

Ma’arij al-Lahfan li al-Taraqqi ila Haqa iq al-Irfan atau maksudnya Tangga Bagi Orang Yang Sangat Dahaga Ia Bagi Orang Yang Naik Ia Kepada Martabat Segala Hakikat Makrifat itu merupakan kitab yang dikaji oleh Mohd. Taufik sejak 2006.

Kitab yang ditulis pada 1900 itu kini hanya boleh didapati dalam bentuk salinan di mana versi pertamanya didapati daripada cucu Tukku Paloh iaitu Tukku Paloh Tuan Baru pada 2004.

Sesuai dengan budaya setempat, terdapat unsur bahasa dialek Terengganu yang tercatat dalam perkataan-perkataan dan ayat-ayat dalam kitab ini.

Misalnya, perkataan lipah yang bermaksud lipas, setuh (sentuh), papang (papan), pihok (pihak), kasu (kasut), kerijakan (kerjakan), anok (anak), mekapuskan (menghapuskan) dan sebagainya.

Berdasarkan contoh tersebut ia menjelaskan lagi tentang pengaruh dialek Terengganu. Pada umumnya, perkataan-perkataan dalam bahasa Melayu diakhiri dengan sebutan ‘n’ tetapi dalam sebutan Terengganu ia diakhiri dengan sebutan ‘ng’. Contohnya, ‘makan’ tetapi ia bertukar menjadi ‘makang’.

Selain memerangi penyelewengan aqidah yang boleh dianggap sebagai jenayah, Tukku Paloh juga merupakan antara tokoh Melayu yang banyak mencetuskan semangat patriotisme bagi menentang penjajahan British.

Disebabkan tahap keilmuan yang tinggi, ditambah dengan sifatnya yang warak, nama Tukku Paloh turut menjadi sebutan ramai pada zamannya.

Tokoh yang pernah menuntut ilmu sekitar 10 tahun di Mekah ini dikatakan juga seorang pengamal tasawwuf yang tinggi serta dikenali sebagai pemimpin Tariqat Naqsyabandiyah.

Gelaran

Justeru, tidak hairanlah ramai yang menggelar beliau dengan gelaran Engku Sayyid Keramat kerana banyak peristiwa-peristiwa aneh yang berlaku ketika hidupnya.

“Antaranya pernah diceritakan orang seorang wakil British tidak dapat bangun daripada duduknya ketika berdepan dengan Tukku Paloh. Dia menjadi tergamam dan seperti tidak tahu hendak buat apa apabila berdepan dengan Tukku Paloh. Itu antara kekeramatan Allahyarham yang pernah diceritakan orang.

“Perkara itu tidak menghairankan kerana ia sudah banyak berlaku ke atas orang yang berilmu dan warak seperti Tukku Paloh. Mungkin itu kelebihan yang Allah berikan kepada beliau,” ujar Mohd. Taufik.

Dalam pada itu, beliau bukan sahaja mengkagumi isi kandungan kitab-kitab karangan Tukku Paloh tetapi turut mengkaji tentang keperibadian tokoh yang disegani ramai itu.

Malah, Mohd. Taufik mencadangkan agar usaha-usaha tertentu dilakukan bagi mengetengahkan lagi watak Tukku Paloh untuk dihayati serta diteladani oleh generasi muda hari ini.

“Banyak perkara yang boleh kita pelajari misalnya, kesungguhan Tukku Paloh dalam usaha mencari ilmu dan mengamalkan apa yang beliau pelajari. Sifat keperwiraan yang ada pada diri Tukku Paloh juga patut dihayati supaya ia menjadi inspirasi kepada generasi hari ini.

“Kalau selama ini kita mudah mengangkat tokoh-tokoh luar dalam filem, drama atau komik, mengapa tiada usaha dilakukan untuk menterjemahkan perjuangan Tukku Paloh dalam konteks kehidupan kita pada hari ini?” soalnya.

——————————————————————————————

Tuan Guru Ahmad al-Kalantani pengarang kitab Darul Hasan

Koleksi tulisan Allahyarham Wan Mohd. Shaghir Abdullah

Ulama Nusantara
SEJAK artikel mengenai ulama dikeluarkan dalam Utusan Malaysia mulai tahun 2004 hingga kini telah ramai ulama negeri Kelantan yang penulis perkenalkan. Di antara mereka ada yang terkenal di peringkat alam Melayu bahkan antarabangsa seperti Sheikh Wan Ali Kutan Al-Kalantani yang terkenal dengan kitab karangannya, Al-Jauharul Mauhub wa Munabbihatul Qulub (Mengenai Hadis) juga mengajar di Masjidil Haram Mekah.

Yang terkenal hanya di peringkat negeri alam Melayu/Nusantara sahaja seperti Sheikh Abdus Shamad (Tuan Tabal) yang mana beliau merupakan penyebar Tarekat Ahmadiyah yang pertama di Nusantara.

Ulama yang diperkenalkan pada kali ini ialah sahabat kepada Sheikh Wan Ali Kutan Al-Kalantani yang sama-sama belajar, baik di Kelantan mahupun di Mekah namun peranan dan pengaruhnya hanya sekitar negeri Kelantan sahaja.

Ulama yang diriwayatkan ini ialah Tuan Guru Haji Ahmad bin Haji Muhammad Yusuf bin Sheikh Abdul Halim Al-Kalantani.

Asal-usulnyaDiriwayatkan bahawa datuk kepada tokoh ulama yang akan dibicarakan di atas iaitu, Sheikh Abdul Halim tersebut adalah anak angkat kepada Long Yunus (Sultan Kelantan). Long Yunus memperoleh anak angkat tersebut daripada salah seorang sahabatnya seorang peniaga Cina sebagai hadiah dan tanda persahabatan dengan sultan.

Long Yunus menghantar Abdul Halim bersama-sama putera baginda belajar ke Mekah. Ada yang menceritakan kejadian tersebut semasa dengan Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani belajar di Mekah.

Tetapi ada yang meriwayatkan bahawa Abdul Halim dan putera Long Yunus menjadi murid kepada Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Setelah mendapat gelaran ulama, Sheikh Abdul Halim pulang ke Kelantan. Beliau adalah orang pertama mengajar menggunakan sistem pondok dengan kaedah Patani di Kelantan.

Beliau mempunyai dua anak iaitu Haji Muhammad Yusuf dan Haji Yaaqob. Haji Muhammad Yusuf ialah ahli dalam bidang seni bina dan seni suara manakala Haji Yaaqob pula adalah seorang ulama yang mengajar sebagai pengganti ayahnya. Haji Muhammad Yusuf memperoleh anak bernama Tuan Guru Haji Ahmad atau tokoh yang akan dibicarakan ini.

PendidikannyaTuan Guru Haji Ahmad dilahirkan di Kelantan, namun tempat dan tarikh lahirnya yang tepat tidak dapat dipastikan. Pun begitu, pada masa kehidupan beliau terdapat catatan yang mengatakan ia adalah sezaman dengan Sheikh Wan Ali Kutan (lahir 1253 H/1837 M atau 1235 H/1820 M). Pendidikan asasnya diperoleh daripada bapa saudaranya sendiri, iaitu Haji Yaaqob bin Sheikh Abdul Halim al-Kalantani.

Diriwayatkan pula pengetahuan yang diperoleh daripada bapa saudaranya itu bukan sahaja ilmu pengetahuan yang bersifat asas, tetapi hingga beliau diakui sebagai seorang ulama di Kelantan, dan ilmu-ilmunya tersebut diperoleh dari Haji Yaaqob sendiri. Walaupun beliau telah diakui sebagai seorang ulama di Kelantan, namun beliau masih juga meneruskan pelajarannya ke Mekah sebagai pengesahan daripada ulama-ulama Mekah pada zamannya.

Sebagaimana yang dapat dicatat, teman-teman beliau ketika kecil yang sama-sama belajar kepada Tuan Guru Haji Yaaqob adalah seperti berikut; saudara beliau sendiri iaitu Haji Uthman bin Haji Muhammad Yusuf, Sheikh Wan Ali bin Abdul Rahman Kutan, Sheikh Abdul Mutalib Kuta, Haji Wan Abdul Rahman bin Wan Sulaiman dan lain-lain. Semua sahabat beliau yang tersebut adalah ulama-ulama besar Kelantan yang sangat berperanan dan berpengaruh di zaman mereka.

Adapun ilmu-ilmu yang telah dikaji, yang dapat diketahui adalah ilmu tauhid, fikah, tasauf, nahu, saraf, bayan, ma’ani, badi’, arut, qawafi, mantiq, tafsir, tajwid dan lain-lain. Ilmu-ilmu tersebut telah dikuasai sejak di Kelantan lagi. Belajar di Mekah hanya untuk mendalami lagi pengetahuan beliau terhadap ilmu-ilmu tersebut.

Para guru Tuan Guru Haji Ahmad Kelantan di Mekah yang dapat dicatat antara lain ialah, Sheikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki. Adapun guru beliau selain yang tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti. Ada kemungkinan semua guru kepada Sheikh Wan Ali Kutan adalah juga guru kepada Tuan Haji Ahmad Kelantan ini.

Karya-karyanyaKarya penulisan Tuan Guru Haji Ahmad Kelantan yang diketahui hanya dua sahaja. Karya yang merupakan manuskrip asli tulisan tangan beliau itu tersimpan di Pusat Islam Malaysia di Bahagian Balai Pameran. Judul kitab tersebut adalah Darul Hasan.

Kitab Darul Hasan yang ditulis oleh Tuan Guru Haji Ahmad tersebut adalah atas permintaan Raja Kelantan. Tahun yang tercatat adalah pada 30 Ramadan 1282 H (1865 M). Manuskrip yang tersimpan di Pusat Islam Malaysia tersebut diberi nombor kelas iaitu MI 725. Belum diketahui apakah kitab Darul Hasan tersebut pernah diterbitkan oleh mana-mana penerbit di Timur Tengah mahupun di Asia Tenggara.

Namun jelas bahawa kitab Darul Hasan tidak pernah ditemui di mana-mana kedai buku di seluruh Asia Tenggara. Adapun yang berupa manuskrip berkemungkinan hanya sebuah itu sahaja naskhah mengenainya yang ditulis dengan huruf yang sangat indah. Terdiri dari tulisan hitam dan merah yang memancar terang. Keadaan manuskrip masih baik, di samping halaman dari awal hingga akhir juga dalam keadaan lengkap.

Kandungan ringkas kitab Darul Hasan adalah sebagai berikut: Tuan Guru Haji Ahmad Kelantan memulakan karangan beliau dengan puji-pujian dan selawat sebagaimana karangan-karangan tradisi Islam lainnya. Setelah itu menyebut dengan kalimat bahasa Arab bahawa ‘Sultan Kelantan’ meminta beliau menulis kitab ini. Tetapi pada terjemahan bahasa Melayu dari lafaz bahasa Arab itu tidak menyebut ‘Sultan Kelantan’ melainkan ‘Raja Kelantan’. Tentang nama kitab pula terjadi salah titik sama ada lafaz Arab mahupun lafaz Melayu iaitu tertulis Darul Hasaat dengan huruf ta sebenarnya adalah Darul Hasan iaitu dengan huruf nun. Hal ini tertulis di halaman terakhir.

Sesudah itu dimulai dengan menceritakan pohon kayu yang bernama ‘Syajaratul Yaqin’ yang mempunyai empat cabang. Dari cerita itu diteruskan dengan kejadian ‘Nur Muhammad’ sehingga dijadikan sekalian kejadian sesudahnya. Kejadian sekelian manusia pula diceritakan berdasarkan kepada mereka yang pertama memandang kepada Nur Muhammad. Maka ada yang menjadi Sultan, menjadi alim, yang mati syahid dan lain-lain.

Kemudian diceritakan pula asal tanah kejadian Nabi Adam a.s yang diambil dari beberapa negeri di dunia, seperti kepala Nabi Adam a.s berasal dari Baitul Maqdis, muka Nabi Adam a.s berasal dari syurga, kaki Nabi Adam a.s berasal dari tanah Kalkauthar dan lain-lain.

Selanjutnya menceritakan tentang kejadian ketua-ketua para malaikat, iaitu kejadian dan keadaan malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, dan dicantumkan beberapa hikayat malaikat Maut mencabut nyawa makhluk terutama manusia.

Cerita dilanjutkan dengan peristiwa yang menakutkan dan menakjubkan di alam kubur, di padang Mahsyar sekalian manusia memerlukan pertolongan dan syafaat yang dimulai dari menemui Saiyidul Basyar Nabi Adam a.s hingga ditutup dengan menemui Nabi Muhammad SAW. Seterusnya pula disambung dengan cerita neraka, syurga dan lain-lain.

Penutup sekali pengarangnya, Tuan Haji Ahmad Kelantan menyebut: “Telah selesai faqir ilallah Taala yang amat jahil al-Haji Ahmad bin al-Haji Yusuf bin Abdul Halim Kelantan menterjemahkan kitab Darul Hasan daripada bangsa Arab kepada bangsa Jawi supaya manfaat dengan dia sekelian mereka yang tiada tahu dengan bahasa Arab…..”.

Bahasa yang digunakan oleh Tuan Guru Haji Ahmad Kelantan dalam kitab tersebut agak banyak dalam bahasa negeri Kelantan. Beliau tidak terikat untuk mengikut tatacara bahasa kitab yang digunakan tradisi zamannya. Seperti kalimat ‘bangsa’ dalam kalimat dalam penutupnya, kitab-kitab lain selain kitab beliau pasti akan menggunakan istilah ‘bahasa’ pada tempat tersebut, bukan ‘bangsa’ seperti yang beliau tulis itu. Walau bagaimanapun kitab Darul Hasan dapat diklasifikasikan sebagai sastera Sufi Islam Melayu Klasik.

Pada hari penulis selesai menulis riwayat hidup beliau di bilik Balai Pameran Islam Malaysia, penulis menyerahkan kepada pihak majalah DAKWAH, dan seterusnya ke Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia (PNM). Tiba-tiba di atas meja Siti Mariani (seorang kakitangan di PNM) terletak dua manuskrip.

Satu di antaranya adalah karya Tuan Guru Haji Ahmad Kelantan. Dengan terdapatnya perkara baru tersebut, maka penulis tambah saja makalah yang telah selesai tadi dengan sedikit kalimat yang menerangkan perkara ini. Tuan Guru Haji Ahmad Kelantan menulis di akhir hayatnya pada manuskrip milik Pusat Manuskrip Melayu yang diberi nombor kelas dengan MS 780 itu, katanya: “Telah selesai Haji Ahmad ibnu Haji Yusuf menterjemahkan daripada bahasa Arab kepada bahasa Melayu dengan tolong Tuhan Rabbul Izzah bijahi Saiyidina Muhammad pada 10hb Safar pada hijrah al-Nubuah 1287 H (1870 M)”.

Kandungan isi kitab nombor MS 780 Pusat Manuskrip Melayu tersebut ialah mengenai fikah. Tuan Guru Haji Ahmad Kelantan memulakan perbicaraannya tentang kitab thaharah (bersuci) dan disudahi dengan kitab solat. Ditulis atas kertas warna biru muda, memakai dakwat warna hitam pada sebahagian besar isinya dan di beberapa tempat ditulis dengan warna merah. Semua huruf dalam keadaan jelas dan berwarna agak memancar.

Susunan bahasanya agak berbeza dengan karyanya yang pertama. Nampaknya pada MS 780 ini bahasanya sudah disesuaikan dengan bahasa-bahasa kitab jawi yang ditulis di zamannya. Sebagaimana karya yang pertama (Darul Hasan), maka kitab yang kedua ini juga tidak pernah diterbitkan. Selain itu judul kitab ini juga tidak dijelaskan oleh pengarangnya.

PengaruhnyaPengaruh beliau sangat besar di kalangan masyarakat luas di Kelantan. Melalui karangannya iaitu kitab Darul Hasan tersebut atas permintaan Sultan Kelantan adalah satu bukti bahawa Tuan Haji Ahmad ini mempunyai pengaruh yang besar dalam lingkungan istana kerajaan Kelantan.

Beliau ialah sebagai generasi penerus, yang menyambung pekerjaan datuknya, Sheikh Abdul Halim dan bapa saudaranya Haji Yaaqob bin Abdul Halim dalam mengajar ilmu-ilmu yang diperlukan oleh masyarakat Islam di Kelantan. Ilmu-ilmu yang wajib dipelajari ialah usuluddin, fikah dan tasauf.

Tiga ilmu tersebut berkembang di kalangan masyarakat dan diteruskan pula oleh murid-murid beliau yang boleh dikatakan sangat ramai. Antaranya Tok Kenali, diriwayatkan bahawa sebelum beliau melanjutkan pelajarannya ke Mekah, beliau pernah belajar dengan Tuan Guru Haji Ahmad ini. Pada zamannya, Tuan Guru Haji Ahmad dalam membina umat Islam kearah berilmu pengetahuan dan amal saling bekerjasama dengan sahabatnya Haji Wan Abdur Rahman bin Wan Sulaiman, yang menjadi Perdana Menteri Kelantan (Menteri Besar menurut istilah sekarang) pada ketika itu.

Dari keterangan tersebut, kedua ulama Kelantan tersebut telah berhasil menyatupadukan kerjasama yang serasi antara umara (golongan pemerintah) dan ulama (golongan ahli ilmu pengetahuan dalam Islam).

Demikianlah riwayat ringkas Tuan Guru Haji Ahmad bin Haji Yusuf Kelantan. Sejarah asal-usulnya, pendidikannya, karyanya dan pengaruhnya di kalangan lingkungan istana dan masyarakat Kelantan. Namun sebagaimana tarikh lahirnya, tahun wafatnya juga masih belum diketahui dengan pasti, yang masih memerlukan penyelidikan lebih mendalam untuk melengkapkan sejarah ulama ini

—————————————————————————————————

Haji Wan Musa Tuan Tabal pernah mengundang perdebatan hebat

Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah

TUAN TABAL dan dua orang anak beliau telah diperkenalkan sebelum ini. Artikel ini pula akan memperkenalkan mengenai anak beliau yang bernama Haji Wan Musa bin Tuan Tabal, iaitu salah seorang Mufti Kelantan yang pernah mengundang perdebatan khilafiyah antara beliau dengan beberapa orang ulama para sahabat yang seperguruannya dan ulama-ulama lainnya.

Riwayat Mufti Haji Wan Musa pernah ditulis oleh Nik Abdul Aziz bin Haji Nik Hasan dalam buku Sejarah Perkembangan Ulama Kelantan (cetakan pertama, Pustaka Aman Press, Kota Bharu, Kelantan, 1977), juga oleh Ismail Awang yang dimuat dalam majalah Pengasuh dan kemudian dimuat dalam buku, Tokoh-Tokoh Ulama Semenanjung Melayu (1). Juga ditulis oleh beberapa orang lainnya.

Oleh sebab riwayat Mufti Haji Wan Musa sudah agak banyak ditulis sebelum ini, maka dalam artikel ini saya utamakan membahas sepucuk surat yang dikirim oleh Haji Wan Musa dari Kota Bharu, Kelantan kepada gurunya Syeikh Ahmad al-Fathani di Mekah. Surat bertarikh 16 Rejab 1322H/25 September 1904M. Oleh yang demikian, banyak perkara yang tidak dibicarakan dalam tulisan-tulisan yang terdahulu terdapat dalam artikel ini.

Berdasarkan tahun kelahiran Haji Wan Musa 1291H/1874M, dapatlah dipastikan bahawa beliau adalah abang pada Haji Wan Abdullah yang lahir 1293H/1877M (riwayatnya dimuat dalam Bahagian Agama, Utusan Malaysia, 30 Oktober 2006). Haji Wan Musa pula adalah adik pada Mufti Haji Muhammad yang lahir 5 Rejab 1287H/1 Oktober 1870M. Haji Wan Musa meninggal dunia pada hari Sabtu, 24 Zulkaedah 1357H/14 Januari 1939M. Para guru ketiga-tiga putera Tuan Tabal yang tersebut adalah sama, iaitu dimulai dari pendidikan asas oleh Tuan Tabal sendiri, kemudian mereka melanjutkan pelajaran di Mekah. Guru mereka ketika di Mekah yang paling berkesan ialah Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani yang masih ada hubungan kekeluargaan dengan mereka.

BAHASAN SURAT

Surat Haji Wan Musa tarikh 16 Rejab 1322H/25 September 1904M, beliau menggunakan hampir semua gelaran kebesaran Syeikh Ahmad al-Fathani yang pernah diberikan oleh para ulama lainnya. Haji Wan Musa menulis: “Alhamdulillah wahdah, bahawa ditaslimkan ke bawah Hadhrat Sa’adah wa Qudwah al-Ulama’ al-’Amilin wa ‘Umdah al-Atqiya’ al-Kamilin Fakhr al-A’yan wa Bahjah az-Zaman wa Qurrah ‘Ain al-Ikhwan al-Ghani bi Kamalih ‘an al-Ishtinab lima hawah min ‘Ulwu al-Janab Uztazuna al-’Allamah wa Mulazuna al-Fahamah, kakanda Wan Ahmad bin al-Mukarram al-Haji Wan Muhammad Zain al-Fathani yang di Mekah al-Musyarrafah pada Syu’ib ‘Ali …” Semua gelaran yang ditulis dalam bahasa Arab tidak saya terjemah, kerana telah saya kupas dalam buku judul Syeikh Ahmad Al-Fathani Pemikir Agung Melayu dan Islam, jilid 1.

Haji Wan Musa menggunakan perkataan ‘kakanda’ untuk ganti nama Syeikh Ahmad al-Fathani, lazimnya panggilan daripada seorang murid kepada guru ialah perkataan ‘ayahanda’. Panggilan ‘kakanda’ yang digunakan tidak salah kerana masih ada hubungan kekeluargaan antara Haji Wan Musa dengan Syeikh Ahmad al-Fathani yang status persaudaraan boleh dipanggil `berpupu-puan.’ Dalam kekeluargaan, Tuan Tabal adalah pangkat ayah saudara Syeikh Ahmad al-Fathani antara dua atau tiga pupu. Lebih dekat lagi kerana Hajah Wan Kaltsum, ibu Haji Wan Musa, adalah kakak Syeikh Wan Ali Kutan. Isteri Syeikh Wan Ali Kutan bernama Hajah Wan Aisyah.

Beliau adalah adik beradik dengan Hajah Wan Cik ibu Syeikh Ahmad al-Fathani. Di antara anak Syeikh Wan Ali Kutan dan Hajah Wan Aisyah, ialah Haji Wan Abdur Rahman, Hajah Wan Fatimah, dan lain-lain bererti saudara sepupu Haji Wan Musa dari pihak ibu Haji Wan Musa kakak Syeikh Wan Ali Kutan. Haji Wan Abdur Rahman dan Hajah Wan Fatimah juga saudara sepupu Syeikh Ahmad al-Fathani dari pihak ibu sama ibu adik-beradik. Sekiranya tidak melalui jalan perkahwinan atau jalan yang disebutkan ini, Syeikh Wan Ali Kutan dan kakaknya Wan Kaltsum adalah pangkat ayah dan ibu saudara Syeikh Ahmad al-Fathani.

Oleh sebab itulah maka dalam surat Haji Wan Musa menggunakan perkataan ‘kakanda’ untuk diri Syeikh Ahmad al-Fathani, tidak menggunakan perkataan ‘ayahanda’, walau pun beliau seorang murid. Dan beliau menyebut dirinya ‘adinda’, tidak perkataan ‘anakanda’.

Setelah kalimat dalam bahasa Arab, Haji Wan Musa mengharapkan doa Syeikh Ahmad al-Fathani untuk keluarga, terutama diri dan anak-anak beliau termasuk dalam perhimpunan ulama, Haji Wan Musa menulis, “… serta adalah upah umrah tiga rial bagi Mek Cik binti Abdus Shamad boleh kakanda tolong menghasil akan dia. Dan ada pun tiga rial, adinda minta kakanda tolong beli kitab al-Fawaid al-Madaniyah atau al-Makkiyah dan adinda taraddud (maksudnya: ragu-ragu, pen) sedikit antara dua nama itu, yang ada menyebutkan Ishthilah at-Tuhfah, dan lainnya. Dan minta kekanda tolong beli kitab Mushthalah al-Hadits satu, dan Ushul Fiqh satu yang kecil-kecil, mana-mana yang elok pada hadrat kekanda. Dan kitab Nashaih ad-Diniyah satu.

“Maka jika tidak cukup rial itu, maka kekanda suruh Ahmad anak Haji Muhammad Manan beri dahulu. Kemudian boleh adinda bayar kepadanya di Jawi. Maka boleh kekanda terima ambil rial yang tersebut itu bersama-sama dengan surat ini di dalam bungkus rial yang adinda kirim kepada Ahmad ibnu Haji Muhammad Manan.”

Dalam petikan di atas dapat diketahui ada adik beradik Haji Wan Musa yang perempuan, ialah Mek Cik binti Abdus Shamad. Belum begitu pasti apakah Mek Cik binti Abdus Shamad itu sama ada kakak ataupun adik Haji Wan Musa, dalam dugaan saya kemungkinan adalah kakak.

Dalam kalimat-kalimat di atas dapat dibuktikan bahawa Haji Wan Musa seorang yang sangat gemar kepada pelbagai jenis kitab ilmu pengetahuan. Ada orang meriwayatkan bahawa Haji Wan Musa selalu menyisihkan wangnya untuk menambah jumlah kitab yang dimilikinya. Setiap kitab yang dibeli pasti dibaca, bukan hanya disimpan atau dijadikan perhiasan saja.

Pada konteks di atas dipastikan bahawa Ahmad ibnu Haji Muhammad Manan adalah sebagai utusan Haji Wan Musa kepada Syeikh Ahmad al-Fathani. Haji Ahmad bin Haji Muhammad Manan (lahir 1301H/1884M, wafat 1357H /1938M) termasuk murid Syeikh Ahmad al-Fathani dan selanjutnya juga menjadi murid Haji Wan Musa. Haji Ahmad bin Haji Muhammad Manan termasuk dalam golongan ulama besar yang terkenal di Kelantan.

Perkembangan khilafiyah di Kelantan selalu dilibatkan orang kepada Mufti Haji Wan Musa. Barangkali polemik Haji Wan Musa yang paling awal ialah antara beliau dengan Imam Haji Wan Daud. Transliterasi surat tentang itu selengkapnya sebagai berikut: “Dan lagi adinda maklum kepada hadrat kakanda, adalah adinda berkhilaf sedikit dengan Imam Haji Wan Daud pada bicara suatu masalah. Maka jadi munazharahlah adinda dengan dia, pada malam Selasa 10 Rabiulawal. Maka tiadalah adinda boleh ketahui siapa yang benarnya, kerana tiada hakim yang boleh memutuskan perbalahan itu. Maka adinda harap hadrat kakanda tolong menyatakan kepada adinda, adakah betul faham adinda itu atau ia yang betul?

Supaya adinda pakai kemudian hari pula. Maka masalah yang jadi perbalahan itu, dan kaifiat balahannya adinda surat pada satu kertas, adinda bubuh bersama-sama dengan surat ini supaya boleh kakanda ketahui daripada awal hingga akhirnya. Tetapi ibaratnya sehabis-habislah tiada eloknya, harapkan kekanda maaf banyak-banyak. Dan jika ada salah adinda pada tempat mana-mananya di dalam surat itu, maka minta kekanda nyata kepada adinda pada tahun hadapan ini supaya boleh adinda ketahui, ’’…Yang dimaksudkan pada kalimat… pada malam Selasa, 10 Rabiulawal … itu ialah pada tahun 1322 H. Tarikh 10 Rabiulawal 1322H jika dijadikan tahun Masihi ialah 24 Mei 1904M.

Semua buku yang membicarakan tentang polemik Haji Wan Musa tidak pernah menyebut peristiwa antara beliau dengan Imam Haji Wan Daud. Demikian juga tentang tarikh dan tahun kejadian, 10 Rabiulawal 1322H/24 Mei 1904M tidak pernah disebut. Semua polemik Mufti Haji Wan Musa dengan beberapa orang ulama hanya disebut mulai berlaku tahun 1916 M (lihat Sejarah Perkembangan Ulama Kelantan, hlm. 120).

Imam Haji Wan Daud yang tersebut juga salah seorang murid Syeikh Ahmad al-Fathani, menurut riwayat selain pernah menjadi Imam Masjid Muhammadi, beliau juga pernah menjadi Mufti Kelantan. Imam Haji Wan Daud meninggal dunia tahun 1326 H/1908 M, lebih kurang empat tahun setelah perselisihan pendapat dengan Haji Wan Musa. Haji Wan Musa dilantik menjadi Mufti Kelantan menggantikan Imam Haji Wan Daud yang tersebut itu.

Sehingga artikel ini saya tulis, saya belum dapat menjejaki masalah-masalah yang menjadi pertikaian pendapat antara Haji Wan Musa dengan Imam Haji Wan Daud yang tersebut dalam surat di atas kerana dalam surat hanya menyebut: “Maka masalah yang jadi perbalahan itu, dan kaifiat balahannya adinda surat pada satu kertas, adinda bubuh bersama-sama dengan surat ini supaya boleh kakanda ketahui daripada awal hingga akhirnya.”

Permasalahan yang dinyatakan “adinda surat pada satu kertas …” yang maksudnya dilampirkan bersama surat tarikh 16 Rejab 1322H/25 September 1904M hingga kini belum dijumpai. Jawapan Syeikh Ahmad al-Fathani mengenai yang tersebut juga belum dijumpai.

KAUM TUA – KAUM MUDA

Pada zaman yang sama dengan Haji Wan Musa di Minangkabau muncul istilah Kaum Tua dan Kaum Muda. Pada pandangan saya, Haji Wan Musa, sukar untuk dituduh sebagai Kaum Muda, kerana banyak perbezaan dengan pemikiran yang dinamakan Kaum Muda di Minangkabau, Jawa dan tempat-tempat lainnya di Indonesia. Sebagai contoh Kaum Muda di Indonesia menolak amalan dalam sesuatu tarekat sedangkan Haji Wan Musa adalah seorang yang sangat berpegang teguh dan beramal dengan Tarekat Ahmadiyah.

Beberapa pegangan hukum fiqh dalam Mazhab Syafie ada yang dipertahankan oleh Haji Wan Musa. Sebaliknya sesetengah peribadi pengikut Kaum Tua hanyalah berpegang dengan longgar dan rapuh. Sebagai contoh tentang hukum zakat fitrah dan wakaf. Haji Wan Musa secara konsekwen tetap berpegang seperti ulama-ulama Syafieyah lainnya, zakat fitrah mestilah segera dibagikan kepada yang berhak menerimanya, tidak boleh digunakan untuk pembangunan walau untuk membina masjid sekali pun. Sesuatu yang dinamakan ‘wakaf’ tidak boleh diperjual belikan walau dengan alasan apa pun juga.

——————————————————————————————
HAJI YAAKOB LORONG GAJAH MATI (1895-1956)

Salah seorang guru agama paling terkemuka di Kota Bharu pada suku ke dua abad ke-20 Masihi. Murid kanan Tok Kenali yang sebarisan dengan Hj. Saad Kangkong, Hj. Ali Pulau Pisang, Hj. Abdullah Tahir Bunut Payong, Hj. Mat Jebeng, Hj. Ahmad Batu Tiga Repek dll. Nama sebenar tokoh utama ini ialah Hj. Yaakub bin Hj. Ahmad yang tinggal di Lorong Gajah Mati, Kota Bharu.

Kerja awalnya bermula sebagai kerani di Mahkamah Syariah Kota Bharu dan pernah ditugaskan mengambil peringatan mesyuarat Jemaah Ulama’ Majlis Agama Islam Kelantan (MAIK). Mulai 1 April 1922,dilantik sebagai guru di Madrasah Muhammadiah (Sekolah Melayu Majlis) dengan gaji permulaan RM20 sebulan. Selepas 15 tahun (mulai 1 Julai 1938), bertukar menjadi guru kitab di Masjid Muhammadi (nama rasmi Masjid Besar Kota Bharu) yang berperanan sebagai pusat pengajian pondok terpenting di Kelantan pada ketika itu. Gajinya meningkat ke RM28 sebulan. Seterusnya mulai 1 Januari 1940, bertukar ke Jami’ Merbau Ismaili (nama awal Maahad Muhammadi) apabila pengajian kitab di Masjid Muhammadi berpindah ke situ. Gaji bulanannya sejak awal 1940 ialah RM34 dan beliau kekal berkhidmat

di situ sehingga 1945.

Antara murid-murid harapnnya ialah tuan Guru Hj. Nik Abdul Aziz (Menteri Besar Kelantan sekarang), Dato’ Hj. Ismail Yusoff (bekas Mufti Kerajaan Kelantan), Tuan Guru Engku Hj. Syed hasan Lemal, Tuan guru Hj. Awang Nuh Beris Kubor Besar, Ustaz Wan Mohd Saghir Kg. Baru,Pasir Pekan, Tuan Guru Hj. Abdul Wahid Sungai Udang (Melaka) dan Tuan Guru Hj. Ahmad Osman,Hutan Palas, Kodiang (Kedah).

Kewibawaan dan pengalaman luasnya sedemikian melayakkan beliau dilantik menganggotai Jemaah Ulama’ MAIK (seawal 1932) beberapa penggal. Pada mulanya beliau termasuk pengikut Sidi Muhammad al-Azhari (pengembang Tarikat Ahmadiah di negeri Kelantan), tetapi kemudian mengubah sikap, iaitu setelah beliau berdamping dengan Maulana Tok Khurasan, guru perintis ilmu hadis di Kelantan.

Tuan Guru Hj. Yaakub meninggal dunia di Kota Bharu pada waktu fajar hari Sabtu –6 Jamadilawal 1376 bersamaaan 8 Disember 1956 dengan meninggalkan 3 orang putera yang dikenali ramai, iaitu;

* · Dato’ Hj. Hussain (ahli perniagaan)-pewakaf Masjid al-Muttaqin di Lundang dan Masjid al-Ihsan di Dusun Muda, Kota Bharu.
* · Hj. Hasan (pengasas Pustaka Aman Press, Kota Bharu dan pewakaf Sekolah Islam Aman Kota Bharu).
* Ustaz Yusoff Zaky@ Dato’ Seri Setia Raja (pengarang terkemuka, pengasas Pustaka Dian Kota bharu dan Penterjemah Tafsir fi-Zilal al- Quran).

————————————————————————————-

HAJI ABDUL MALEK SUNGAI PINANG (1834-1934)

Tokoh guru pondok akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang seangkatan dengan Tok Mesir, Tok Ayah Kerasak, Hj. Nik Mat Dagu dan Hj. Ismail Pengkalan Paung, rakan akrab Hj. Abdul Latiff Jalaluddin (Bilal Masjid Kota Bharu).

Nama penuhnya ialah Hj. Abdul Malik bin Hasan, lahir di Kg. Sungai Pinang, Tumpat sekitar 1834 dari kalangan keluarga yang sangat miskin. Menuntut ilmu di Patani dan kota suci Mekah selama 14 tahun. Beliau masyhur alim al-Quran dan kitab jawi..

Selain mengajar al-Quran dan kitab jawi, beliau banyak terlibat dalam usaha membanteras amalan khurafat dan syirik, termasuk memuja kubur serta amalan ilmu sihir.

Di peringkat negeri pula, beliau turut tersenarai dalam panel ulama’ yang dijadikan pakarrujuk oleh Sultan Mansur Ahmad (dekad 1890-an) dalam menguatkuasakan undang-undang Islam seperti hukuman hudud kepada pencuri dan pembunuh (diarak keliling Pekan), hukuman ta’zir kepada orang yang tidak berpuasa dan tidak menutup aurat (dilumur belaking).

Kebanyakan murid-murid Tuan Guru Hj. Abdul Malek di berkati Allah dengan ilmu mereka serta berjaya melahirkan barisan pendidik pelapis pada zaman masing-masing.

Antara murid-murid kenamaannya ialah Tok Jerulong@ Hj. Mohd. Said Muhammad, Hj. Samat Hasan Padang Chenok, Hj. Che Mat Taib PasirPekan Hilir, Hj. Ismail Musa Temangan, Hj. Wan Abdullah Kg. Chap/ Sg. Pinang, Wan Hj. Khatib Bemban /Binjai, Tok Kedah@Hj. Idris Penggawa Kangkong, Hj. Mahmood Ali (Imam Kangkong), Hj. Mohd Akib Ismail Kg. Kelar, Hj. Daud Saamah (bapa kepada Hj. Tuan Guru Hj. Saad Kangkong), Tuan Guru Hj. Ali Pulau Pisang, Tuan Guru Hj. Abdullah Senik (pengasas Pondok Padang di Pasir Mas), Tuan Guru Hj. Wan Ahmad Abdul Halim (pengasas Pondok Padang Jelapang), Tuan Guru Hj. Abdul Rahman Osman (pengasas Pondok Selehong), Tuan Guru Hj. Yusoff Abdul Rahman (pengasas Pondok Pulau Ubi), hj. Ibrahim Tok Raja (Mufti Kerajaan Kelantan) dan Hj. Seman Sering (kemudian lebih terkenal dengan nama Sheikh Osman Jalluddin al-Kalantani)

Datuk kepada Dato’ Dr Nik Safiah Karim (Profesor Adjung di Universiti Malaya) ini kembali ke rahmatullah di Sg. Pinang pada malam Rabu 11/12 Ramadhan 1353 bersamaan 18 Disember 1934.

——————————————————————————

HAJI ISMAIL PONTIANAK (1882-1950)

Tokoh ulama’ perantau ‘Khatib Masjid Muhammadi dekad 1940-an yang paling popular. Lahir sezaman dengan Mufti Hj. Idris, Dato’ Perdana Hj. Nik Mahmud, Tok Seridik dan Sheikh Osman Jaalaluddin al-Kalantani.

Nama penuhnya ialah Hj. Ismail bin Hj. Abdul Majid, tetapi lebih dikenali dengan panggilan Hj. Ismail Pontianak kerana lamanya beliau berkelana dan bermastautin di Pontianak (Kalimantan Barat),bahkan pernah dilantik menjadi Mufti Kerajaan Pontianak – berkhidmat selama suku abad (1910-1935).

Meskipun demikian, Hj. Ismail akhirnya kembali menetap di Kelantan. Kerjaya awal tokoh Mekah ini dalam perkhidmatan Majlis Agama Islam Kelantan (MAIK) bermula pada 1 Januari 1940 apabila beliau dilantik menjadi guru kitab di Jami’ Merbau al-Ismaili dengan gaji permulaan RM47.50 sebulan. Selanjutnya beliau dipilih menganggotai Jemaah Ulama’ MAIK (10 April 1940 hingga 9 Februari 1947). Selain daripada itu dilantik sebagai Penterjemah Arab (semenjak 1 Julai 1941).

Zaman gemilang perkhidmatannya bermula pada 1 mei 1943 apabila beliau dilantik menjadi Khatib di Masjid Muhammadi, Kota Bharu. Berbeza dengan tok-tok khatib sebelumnya yang masih terikat dengan nota atau teks Arab sepenuhnya.

Hj. Ismail memperkenalkan khutbah tanpa teks ditangan. Kepetahan beliau menyampaikan khutbahnya secara spontan, dalam bahasa ibunda pula terbukti sangat berkesan. Walaupun khutbahnya agak panjang,namun ahli jemaah tidak bosan. Ini kerana beliau bijak menyusun kata, pandai menyelit ungkapan “segar” bersesuaian dengan suasana yang mampu membuat sidang hadirin tidak jemu atau mengantuk. Beliau bukan sahaja popular dikalangan ahli jemaah dan anak muridnya,malahan sangat disenangi oleh Sultan Ibrahim sehinggakan dilantik menjadi guru agama merangkap imam di Istana baginda.

Khatib yang disegani ini meninggal di rumahnya, Jalan Pengkalan Chepa, Kota Bharu pada tengah malam Isnin 18 Muharram1370 bersamaan dengan 29 Oktober 1950 dan dikebumikan di Kg. Labik, Machang-kampung asalnya.

Satu-satunya pusaka penulisan beliau yang diketahui sempat dicetak ialah Kitab Pedoman Kemuliaan Manusia (cetakan pertama 1938), setebal 320 muka surat iaitu sebuah karya “bunga rampai”.

——————————————————————————————–

HAJI ALI PULAU PISANG (1899-1968)

Salah seorang guru pondok di pertengahan abad ke-20 yang paling ternama di Kelantan. Merupakan harapan Tok Kenali terkanan yang mewarisi yang mewarisi ilmu tatabahasa Arabnya. Seangkatan dengan Hj. Abdullah Tahir Bunut Payong, Hj. Yaakub Lorong Gajah Mati, Hj. Saad Kangkong, Hj. Awang Lambor dan Hj. Awang Serendah. Rakan akrab Ayah Chik @ Lebai Omar Kubang Tuman.

Nama penuh tokoh ulama’ kelahiran mukim Pulau Pisang, daerah Badang, Kota Bharu ini ialah Hj. Mohd Ali Solahuddin bin Awang. Ibunya bernama Wan Kalsom. Beliau adalah anak ketiga daripada 9 beradik.

Selain Tok Kenali, guru-guru tempatannya termasuklah Hj. Abdul Malek Sg. Pinang, Hj. Yusof Sg. Pinang (kemudian lebih dikenali dengan nama Tok Pulau Ubi), Tok Kemuning (di Pulau Kundor), Hj. Omar Sg. Keladi, Pak Chik Musa, Hj. Yaakob Legor dan Hj. Ahmad Hafiz.

Namanya “timbul” kerana kealimannya dalam ilmu soraf (cabang tatabahasa Arab) sehingga digelar “Tok Sibaweh”. Tidak hairanlah jika Madrasah al-Falah (nama rasmi Pondok Pulau Pisang) yang dibangunkan beliau di Telok Chekering, Pulau Pisang senang menjadi tarikan para pelajar pondok. Sementelahan pula seawl 1932 lagi, Hj. Ali dipilih menganggotai Jemaah Ulama’ MAIK yang dipengerusikan oleh Dato’ Hj. Ahmad Maher al-Azhari (Mufti Kerajaan Kelantan).

Berikutan dengan kematian Hj. Saad Kangkong (1943) beliau dipinjam sebagai guru agama Kelas Khas di Jami’ Merbau al- Ismaili (pusat pengajian ilmu-ilmu Islam berbentuk sekolah pertama di Kelantan) yang menampung ramai pelajar dari dalam dan luar Kelantan pada awal dekad 1940-an, berkhidmat sehingga 1 Mac 1946. Selepas itu kembali semula ke Masjid Muhammadi.

Antara murid-muridnya ialah Dato’ Hj. Ismail Yusoff (Mufti Kerajaan Kelantan), Ustaz Dato’ Yusoff Zaky Yaakob (pengarang terkemuka dan penterjemah Tafsir fi-Zilal al-Quran), Ustaz Hj. Ismail Yusoff (imam Masjid Muhammadi), Ustaz Wan Mohd Saghir Wan Konok Pasir Pekan, Ustaz Azhari Abdul Rahman Melor, Hj. Abdul Aziz dan Hj. Mustafa Pasir Tumbuh, Hj. Zakaria Selising, Hj. Daud Getting, Hj. Daud Perakap, Hj. Nik Daud Tanah Merah, Hj. Wan Abdul Latif Jerteh, Hj. Abdul Wahid Sg. Udang (Melaka), Hj. Abdul Rasyid Bagan Datok Perak dan Hj,. Abdullah Abbas Nasution Tanjung Pauh (Kedah).

Ulama’ kesayangan Dato’ Mufti Hj. Ahmad Maher ini kembali ke rahmatullah di kediamannya di Kg. Limau Putenge, Pulau Pisang pada pukul 7.05 pagi Khamis-11 Rejab 1388 bersamaan 3 Oktober 1968 dengan meninggalkan dua buah karya bercetak yang mengupas tentang ilmu Soraf dan terjemahan Surah Yassin.

————————————————————————————-

TOK SELEHONG (1872-1935)

Tokoh guru pondok paling terkemuka di Jajahan Tumpat selepas zaman Hj. Abdul Malek Sungai Pinang. Seangkatan dengan Tok Kenali, Tok Padang Jelapang, Tok Bachok, Tok Seridik dan Tok Kemuning.

Nama sebenarnya ialah Hj. Abdul Rahman bin Hj. Osman. Juga dipanggil dengan nama Hj. Abdul Rahman Syair atau Tok Syair kerana kepandaiannya mengarang syair.

Seorang daripada guru awalnya ialah Hj. Abdul Malek Sungai Pulau Pinang yang berdekatan dengan kampungnya. Kemudian menyambung pelajaran di pondok Cha-ok, Patani –berguru dengan Tok Cha-ok @ Hj. Abdullah bin Mohd Akib. Akhir sekali pergi mendalami pengajian di Kota Makkah – berguru dengan Pak Chik Wan daud Pattani, Tuan Mokhtar Bogor,Tok Syafie kedah dan ramai lagi.

Selepas 18 tahun bermukim diTanah Suci Mekah, pulang ke tnah Air(1921) lalu mengasaskan pusat pengajian pondok sendiri di pinggir Sungai Selehong.Di pondok inilah beliau mengajar dan mengembangkan pondoknya yang sangat dikenali ramai pada zaman itu.Bidang ilmu yang sangat ditumpukanya ialah Ihsanuddin atau Tasawwuf dengan Syarh Hikam Ibn Ataa’llah sebagai teks utama.

Tok Guru Selehong masyhur sebagai ahli sufi yang zuhud.Bagi tujuan supaya hatinya tidak tertambat kepada dunia, beliau menggali lubang khas dalam kawasan tanah perkuburan Islam berhampiran Pondok Selehong yang dijadikanya semacam kamar khusus sebagai tempat beliau beribadat dan bersuluk.

Bapa mertua kpd tuan guru Haji Ahmad Batu 3 Repek dan Haji Awang Beta ini kembali kerahmatullah pada jam 8.30 malam Khamis 18 Zulkaedah 1353 bersamaan 20 Februari 1935 dan dikebumikan dikubur selehong, Tumpat.

————————————————————————————–

HAJI ABDULLAH TAHIR BUNUT PAYONG (1897-1961)

Salah seorang ulama’ besar negeri Kelantan yang masyhur alim dalam ilmu fiqh. Pendiri Pondok Bunut Payong yang terkenal di seluruh semenanjung itu. Seangkatan dengan Hj. Ali Pulau Pisang, Hj. Yaakub Lorong Gajah Mati, Hj. Saad Kangkong, Hj. Ahmad Batu Tiga Repek, Hj. Salleh Pedada dll.

Dilahirkan di Kg. Sireh, Kota Bharu pada 20 Muharram 1315 bersamaan 20 Jun 1897. Bapanya, Hj. Ahmad bin Mohd Zain yang berasal dari Kg.Chepa,Kedai Lalat pernah berkhidmat sebagai imam tua di Masjid Langgar, Kota Bharu (berkhidmat sehingga 1920)

Sesudah berguru selama 15 tahun dengan Tok Kenali, beliau belayar ke tanah suci Makkah untuk mendalami pengajiannya. Antara lain mengikuti kuliah Tuan Mokhtar Bogor, Sheikh Said al-Yamani, Sheikh Mohd Ali al-Maliki dan beberapa tokoh yang lain lagi.

Sekembali ke Kelantan, beliau diminta menyertai kumpulan tenaga pengajar Halaqat Kitab di Masjid Muhammadi, Kota Bharu. Bagaimanapun, khidmatnya tidak lama kerana pada 1931, beliau memulakan kegiatan keguruannya sendiri di Bunut Payong yang di beri nama Madrasah Ahmadiah. Madrasah ini kemudian terkenal ke seluruh pelosok semenanjung Melayu sebagai pusat pengajian pondok yang berprestasi tinggi di Kelantan.

Di pondok Bunut Payong inilah Tuan Guru Hj. Abdul Tahir mengajar kitab hingga ke akhir hayatnya. Beliau terkenal sebagai seorang tok guru yang tekun mengajar serta mengamalkan disiplin diri yang tegas.

Kerana kegigihannya yang sedemikian, maka tidak peliklah jika Pondok Bunut Payong berjaya melahirkan ramai murid berilmu tinggi seperti Hj. Hussain Rahimi, Hj. Nik Man Sg. Budor, Hj. Abdul Aziz Pasir Tumbuh, hj. ISMAIL Padang Lepai, Hj. Abdullah Kok Lanas, Hj. Omar Kubang Bemban, Hj. Abdul Rahman Slow Machang, Hj. Wook Lubok Chekok, Hj. Noor Teliar, Hj. Sulaiman Siram, Hj. Daud Bukit Bunga, Hj. Yaakub Kelong, Hj. Ghazali Pulau Chondong,Hj. Zakaria Selising, Hj. Osman Perlis, Hj. Ahmad Kodiang, Hj. Yahya joned Gurun, Hj. Ibrahim Bongek, Hj. Abdul Wahid Sungai Udang, Hj. Hussain Umbai, Hj. Ahmad Relai, Hj. Hasanuddin Berhala Gantang, Hj. Ismail Phuket, Hj. Ghazali Mundok.

Kerana ketokohannya juga beliau dilantik menganggotai Jemaah Ulama’ Majlis Agama Islam Kelantan beberapa penggal (seawal 1932).Kematian fuqaha’ ini pada pukul 7.20 pagi Selasa 4 Rabiulawal 1381 bersamaan 15 Ogos 1961 menyebabkan negeri Kelantan kehilangan seorang tokoh ilmuan yang menerangi budaya ilmu dan dakwah Islamiahnya.

Sentiasa rapatkan hubungan dengan Allah


Sentiasa rapatkan hubungan dengan Allah
Posted on Februari 9, 2010 by albakriah

Berdoa minta pertolongan hendaklah sepanjang masa bukan ketika berdepan musibah

RAMAI yang meminta kepada manusia tetapi tidak mahu meminta kepada Allah SWT. Mereka juga pandai menjaga hubungan baik dengan manusia tetapi memutuskan hubungannya dengan Allah SWT. Mereka bergantung kepada manusia dan berharap mendapat manfaat daripadanya sehingga melupakan kuasa Allah SWT yang memberi manfaat dan mudarat. Perbuatan sebegini boleh menyebabkan iman seseorang terjejas. Seolah-olah mereka hilang kepercayaan kepada Allah SWT, padahal Dialah yang menggenggam ubun-ubun setiap makhluk.

Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berjumpa dengan cucunda Umar bin Al-Khattab, seorang warak, zuhud lagi alim bernama Salim bin Abdullah bin Umar al-Khattab. Kedua-duanya berada di Baitullah. Khalifah bertanya: “Apakah kamu mempunyai hajat kepadaku, wahai Salim?” Salim menjawab: “Wahai Sulaiman tidakkah engkau malu mengatakan itu padahal engkau berada di Baitullah? Kemudian Salim keluar dan Sulaiman menunggunya di luar Baitullah dan kembali bertanya: “Apakah kamu mempunyai keperluan kepadaku?” Salim bertanya juga: “Keperluan dunia atau akhirat, wahai khalifah?” Sulaiman menjawab: “Keperluan dunia.” Salim berkata: “Adapun tentang keperluan dunia, kepada yang memilikinya pun aku tidak pernah meminta, bagaimana mungkin aku memintanya kepada yang tidak memilikinya?

Kepada Allah SWT yang memiliki dunia dan segala isinya pun beliau tidak meminta kecuali untuk kepentingan akhiratnya saja, apatah lagi kepada manusia yang hakikatnya tidak memiliki apa-apa. Begitu kuatnya hubungan orang mukmin kepada Allah SWT melebihi hubungan sesama manusia di dunia ini. Keyakinannya kepada Allah SWT terpacak kukuh dan tidak mungkin digoyah oleh kuasa apapun. Orang mukmin berpegang kepada satu keyakinan, iaitu hanya kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (Surah Al-An’am: 17)

Apabila syaitan pernah meminta kepada Allah SWT dan permintaannya dimakbulkan, mengapa ramai manusia tidak yakin dengan doanya kepada Allah SWT seterusnya berhenti berharap, berputus asa daripada rahmat-Nya dan mencabut akar keyakinan daripada hatinya kepada Allah SWT? Sedangkan iblis diberi peluang, inikan pula manusia makhluk pilihan paling mulia.

Sebagaimana yang terakam di dalam surah Al-A’raf: 14-15, maksudnya: “Iblis berkata: Beri tangguh kepadaku sampai waktu mereka (manusia) dibangkitkan”. Allah berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

Sehebat dan sekuat apapun, manusia tetap makhluk yang tidak berupaya melawan takdir-Nya. Dia memerlukan pertolongan Allah SWT, menyandar pada rahmat-Nya, bergantung hidup kepada limpah kurnia-Nya dan mengharapkan belas kasihan ketika menghadapi sebarang musibah.

Namun begitu, ada juga yang bergantung kepada Allah SWT ketika susah saja, jika sudah berakhir kesusahannya dia kembali berpaling. Sebagaimana firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya, begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Surah Yunus: 12)

Mengapa cepat sekali hati berubah? Sekejap ingat sekejap lupa, iman dan kufur bertukar-tukar seperti baju yang dipakai. Benarlah sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Bersegeralah kalian mengerjakan amal soleh. Kerana akan terjadi bencana yang menyerupai malam yang gelap, iaitu seseorang yang pada waktu pagi beriman tetapi pada waktu petang dia kafir atau sebaliknya pada waktu petang dia beriman dan pada pagi harinya dia kafir. Dia menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia.” (Hadis riwayat Muslim)

Perubahan iman yang berlaku sebegini pada asasnya disebabkan renggangnya hubungan manusia dengan Allah SWT, lemahnya keyakinan mengenai sifat-Nya dan kejahilan yang disengajakan. Secara sengaja mereka menolak kebenaran al-Quran dan Sunnah, berdolak-dalih mencari alasan untuk meninggalkan agama ke tepi. Pandai berputar belit menafikan ayat-ayat Allah dan semua itu dilakukan kerana mereka lupa siapa diri mereka sebenarnya.

Jika mereka berpijak pada bumi nyata, mereka akan menghayati kelemahan diri. Mereka memerlukan Allah SWT untuk selamat sampai ke tujuan. Jika mereka diliputi kesulitan hanya kepada Yang Maha Kuasa saja tempat bergantung. Apabila tiada lagi kekuatan dalam diri yang boleh menyelamatkan maka mereka menjerit mencari Tuhan Yang Maha Perkasa. Sebagaimana jeritan Qarun dan Firaun, kaum ‘Ad dan Tsamud. Sedangkan Nabi Musa merayu kepada Bani Israil setelah berkali-kali dikecewakan dengan kekufuran mereka:

Walau diri pernah ternoda oleh dosa dan maksiat, tetaplah berharap kepada Allah SWT. Sesiapa yang memutuskan hubungan dengan Allah maka dia akan terputus daripada kesenangan dunia dan di akhirat pula menanti azab yang kekal selama-lamanya. Doa dan harapan kepada Allah adalah senjata yang paling tajam untuk membunuh iblis dan syaitan. Doa seorang hamba melemahkan semangat iblis untuk menyesatkannya dari jalan Allah. Disebabkan tangisan, ketakutan, harapan dan cemas mengiringi doa seorang hamba membuat iblis berputus asa seketika.

Apatah lagi mendengar ketulusan seorang yang menyerahkan segala permintaannya menurut ilmu Allah SWT bukan menurut kehendak diri sendiri. Sebagaimana doa Nabi Nuh AS saat melihat darah dagingnya sendiri tenggelam ditelan banjir besar. Firman Allah yang bermaksud; “Nuh berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, nescaya aku termasuk orang-orang yang merugi.” (Surah Hud ayat: 47)

Bolehkah kita menghadirkan sangka baik kepada Allah SWT dalam keadaan seteruk apapun dan mempersembahkan doa yang paling tulus? Belum terlambat untuk mengetuk pintu langit dengan bahasa yang paling indah dan lembut diiringi dengan harapan dan keyakinan kepada janji Allah SWT. Sesungguhnya tidak akan ditolak doa orang yang berpuasa. Amin ya Allah, ya rabbal ‘alamiin.

Difailkan dalam: Amalan & Doa

Jika Tempat Anda Dilanda Gempa Bumi, Apa Yang Perlu Kita Lakukan??


Amalan Semasa Gempa Bumi, dari Pondok Pasir Tumbuh.
Posted on Februari 13, 2010 by albakriah

Antara perkara atau amalan serta ucapan yang perlu kita buat semasa berlaku gempa bumi termasuk tsunami ialah sebagaimana berikut :

1. Banyakkan istighfar memohon keampunan kepada Allah

2. Solat sunat gempa bumi (Zilzal) sebagaimana yang pernah ditulis oleh imam as-Syafie dalam kitabnya yang masyhur iaitu kitab al-Umm di mana solat ini jarang diketahui walau pun telah banyak dibahaskan oleh ulama mazhab Syafi’e tetapi mungkin akibat jarang dilakukan maka ia kurang diketahui. Solat ini agak berbeza dengan solat sunat biasa dan boleh dilakukan bila-bila masa apabila berlakunya gempa bumi serta dibuat secara seorang diri tanpa berjemaah

3. Segera ke masjid yang berhampiran jika ada samada untuk beribadat atau berlindung. Ini boleh kita saksikan bagaimana ramai orang yang terselamat apabila berlindung dalam masjid seperti di Sri Lanka di mana semua orang termasuk Kristian, Hindu dapat selamatkan diri apabila berlindung dalam masjid. Walau pun ada hujah yang mengatakan masjid tidak diroboh dilanda gempa bumi dan tsunami kerana binaannya kukuh tetapi hujah ini tidak boleh diterima apabila ada masjid kayu di Acheh tetap utuh walau pun bangunan batu sekelingnya ranap. Melalui peristiwa ini maka kita diminta berfikir dan bertindak agar sentiasa bergantung hati kepada masjid supaya ikatan dan hubungan kita dengan Allah semakin hampir

Difailkan dalam: Amalan & Doa

Mengenai Diriku


gambar

"Wahai Tuhan Yang Membaikkan Rupa Parasku, Baikkan Olehmu Akhlak Dan Budi Pekertiku"

A) IDENTITAS PRIBADI
Nama : Mohammad Bin Omar Bin Muda Bin Mad Diah Bin Raja Usman Bin Raja
Ali Al-Lagihi Al-Fathoni
Universiti : Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara atau dalam Bahasa Arabnya
Al-Jamiat Al-Hukumah Al-Islamiah Sumatrah As-Syimaliah, Medan Indonesia.
Kelulusan : Ijazah Sarjana Theologi Islam(S1/Sarjana Muda),
(S.Th.I,Kepujian Dua Tinggi/ Indeks Prestasi : 3.62)
Tarikh Tamat : Mei 2009
Tarikh Konvo/Wisuda :Mei 2009
Fakultas / Jurusan : Ushuluddin / Tafsir Hadis
Tempat/ Tanggal Lahir : Tumpat, Kelantan / 17 April 1978
Warganegara : Malaysia
Suku Bangsa : Melayu Kelantan-Patani
Alamat di Malaysia : Hadapan Klinik Desa, Kampong Bendang Kerian
16200 Tumpat, Kelantan, Malaysia.
Alamat di Indonesia : Jl Pimpinan Gg. Agama No 4, Medan Perjuangan.

Alamat Semasa: Taman Desa Ilmu Samarahan Sarawak Malaysia
Pekerjaan : Guru Pendidikan Islam j-QAF Pendidikan Khas, SK Dato Mohd Musa Samarahan, Islamic Blogger,Jurulatih Seni Silat Melayu
Status Perkahwinan : Berkahwin
Nama Isteri :1 Nur Fazriena Bt Razaly
Pekerjaan : Guru J-Qaf, Sek.Ren.Kg. Rangawan Haji Putin,Sadong Jaya,
Kota Samarahan, Sarawak, Malaysia.
Anak : Satu Putra
Nama :Mohd Syarif Hidayatullah

B) IDENTITAS ORANG TUA
Nama Ayah : Omar Bin Muda
Pekerjaan : Almarhum
Agama/Suku Bangsa : Islam/ Melayu Patani
Nama Ibu : Nik Zaharah Salleh
Pekerjaan : Tiada
Agama/Suku Bangsa : Islam/ Melayu Kelantan-Patani

C) Jenjang Pendidikan
1. Sek. Rendah Kebangsaan Berangan : Tahun 1986
2. Sek. Menengah Agama Tumpat : Tahun 1991
3. Madrasah Ad-Diniyyah Al-Bakriyyah
(Pondok Pasentren Pasir Tumbuh) Kelantan : Tahun 1993- 1997
4. Pusat Pengajian Pondok, Yayasan Islam Kelantan, Kelantan (PPP-YIK) : Tahun 1998- 07/2002

5.Pondok Irfan Islamiyah, Baba Mat, Alor Tar Tumpat Kelantan.

6. Kolej Ihsaniah Penang (MANHAL) : Tahun 2002- 2006

D) Pengalaman Organisasi
1. Anggota Pasukan Simpanan Tentera Darat,
Rejemen 506, Askar Wataniah Malaysia : Tahun 2000-03
2. Jurulatih Persatuan Seni Silat Tongkat
Sri Langkasuka Malaysia : Tahun 2001
3. Gurulatih Seni Silat Buah Pukul 7 Hari
Kelantan (Murid Pakdo Umar Telong) :Tahun 2000
4. Exco Keamanan Persatuan Persaudaraan
Islam Tumpat : Tahun 1999
4. Exco Dakwah Persatuan Mahasiswa Malaysia
(PMM) IAIN SUMUT : Tahun 2007-2008

GURU-GURU
1. Para Ustaz dan Ustazah di Sek.Men. Agama Tumpat (sekarang Maahad Muhamadi Tumpat) dan Madrasah Bustanul Arifin Berangan (Sekarang Maahad Tahfiz dan Sains)90-91.
2.Para Ustaz dan Ustazah di Madrasah Dinniah Bakriah (Pondok Pasir Tumbuh, Kota Baharu Kelantan) , terutama Tuan Guru Hj. Hasyim Kedah, Almarhum Tuan Guru Ustaz Hj.Atiqullah Yaakob, Ustaz Hj.Rahim, Tuan Guru Mohammad Tendong, Al-Alim Ustaz Salleh, Ustaz Hj.Abdul Halim, Ustaz Bakar.

3. Almarhum Al-Alim Baba Ahmad Tanjung Al-Fathoni yang dengan beliau terbuka ilmu Tauhid dan Maqulat 10 serta kefahaman cara mengajar, dan Al-Alim Tuan Guru Hj.Abdurahman Keranji yang keduanya merupakan pimpinan Pondok Al-Irfan Islamiah Tumpat, doa untuk Baba Me yang kini dalam tahanan Kapir Siam..semoga cekal dan tabah atas dugaan di dunia ini.

4. Para Guru di Pusat Pengajian Pondok YIK, Kandis, Bachok, terutama Al-Allamah Sheikh Wazir bin Che Awang Al-Makki Al-Bakistani, mantan Sheikh Pondok, Almarhum Tuan Guru Ustaz Hj. Zakaria Beris Kubur Besar, Almarhum Tuan Guru Hj.Hasan Mentuan, Tuan Guru Ustaz Ariffin Awang, Tuan Guru Almarhum Hj. Yusof Slow Machang, Tan Guru Hj.Haron, Ustaz Halim, Ustaz Qamalulail, Ustaz Idris Melawi, Ustaz Me Borang, Us Mad Jihad, Ustaz Me Pakistan, Ustaz Mazlan Adam, Cikgu Zaid dan Cikgu Sukiman.

5. Allamah Sheikh Nuruddin Al-Banjari, semoga apa yang didapati selama bertafaquh dengan beliau selama 3 bulan kan jadi bekalan sepanjang hayat dalam mempertahankan Ahli Sunnah Wal Jamaah.

6. Para Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN -SU Medan Indonesia. terutama Bapak Prof.Dr. Ramli Ab.Wahid, mantan Dekan Fakultas, Prof. Dr.Hasan Bakti Nasution, pembimbing penulis yang membimbing penulisan ilmiah yang berjudul konsep Tafakkur DalaM Tafsir Al-Kabir karya Imam Ar-Razi, Ibu Dra.Dahlia Lubis, Penolong RektorII yang banyak membantu masalah anak-anak Malaysia.

GURU QUR’AN
1-Mak Jenab- merupakan bekas isteri pertama ayahanda penulis, merangkap ibu tiri, guru Qur’an pertama.
2.Abe Awe Besut, Pondok Pasir Tumbuh.
3.Abe Sof anak Tok Guru Hj Ahmad Pulau Pisang Kedah.
4.Pak Chu
5.Hj Aziz Salleh(Abe Mek)
6.Ustaz Hj.Ramli Alqurra’, Imam Masjid Bendang Kerian Tumpat(Qiraat Nafi’Almadani dengan riwayat Warasy dan Qalun serta tajwid keduanya).
7.Ustaz Azhar dan Lokman KIAS (bidang Tarannum(bayyati dan hijaz),Qiraat Ibnul Kasir (riwayat susiy dan durry), Qiraat Abu Amr serta ilmu resam ustmani.

GURU-GURU SILAT
1.Pak Ngah Samad Pendekar – Guru silat pertama yang penulis menuntut, dengan beliau diperturunkan seni tari Rajawali Merah.
2.Wan Abas- Seni Tari dan Langkah Asas Minangkabau.
3.Pak Cik Pa JKR P. Temesu- Guru Silat Tongkat dan Pedang yang paling penulis sukai dengan sikap mesra beliau, terima kasih atas semua ilmu terutama buah merampas senjata, tempur tutup mata dan baca gerak lawan yang diperturunkan.
4. Abe Pi Golok, Guru Muai Thai Penulis.
5. Sarjen Askar Wataniah penulis yang menurunkan Ilmu Tekwondo TTS.
6. Pak Da Omar Telong – Guru yang juga Ayah angkat penulis, merangkap tukang urut bila sakit betis akibat sparing Muai, beliau telah perturunkan satu Ilmu persilatan unik yang jarang-jarang ditemui di Kelantan yaitu Ilmu Pendekar 7 Malam, bila penulis tanya orang tua-tua, Ilmu itu adalah ilmu yang di kenali Silat 7 hari atau Buah Pukulan Rahsia 7 hari, sungguh bertuah kerana kalau zaman dulu, orang pilihan Tok Guru saja yang dapat rasai “buah” ini, yang mana dia merupakan orang di percayai sebagai pewaris perguruan,syukur!!!.

KEGEMARAN

Membaca Kitab Agama, Baca Qur’an terutama Qiraat Nafi Al-Madani riwayat Warasy dan Qalun, Sifat 20, Seni Silat(seni tari, tangan kosong, senjata pedang dan tongkat),Muai, Seni Lukis, Seni Khat, Seni Debat dan Bahas serta ceramah, Terjemah buku dan kitab arab, memasak, berenang, cari ikan,
pertukangan dll.

CITA-CITA

Insanul Kamil

IKON

Rasulullah dan ulama Ahli Bait

MOTTO

aisy kariman mut syahidan.

BUKU KEGEMARAN
Kitab- Faridah Al-Faraid, Taqribul Ikhwan, (Usuluddin), Hikam Athoillah Al-Iskandari, Bustanul Ariffin, Penawar bagi Hati (Tasauf),Musalli, BughyatulTullab, Wisyah, Sabilal , Iqna’, (Fiqh), Muttamimmah, Al-Jurumiyah, Qatrul Nada,(Nahu),Mafatihul Ghaib, Jalalain, Nasafi(Tafsir),
Majalah-Senibeladiri, Al-Kisah
Novel- Maria, Ayat-ayat cinta.

SANAD PERGURUAN AGAMA JALUR PONDOK PASIR TUMBUH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الإسلام سيدنا محمد وآله وأصحابه اجمعين
سند الفقه الشافعي متصلا بالإمام الشافعي ثم الي رسول الله صلى الله عليه وسلم
يقول محمد
إني أخذت الفقه عن عدد من المشايخ الأجلاء
فممن اخذت عنهم
سيخنا ومعلمنا وأستاذنا (1) وان محمد بن وان عثمان
و حاج صالح بن إسمعيل
و حاج أبو بكر بن عثمان
وكلهم عن شيخنا (2) حاج هاشم بن أبى بكر فندوك فسير تومبوه كلنتان
وهو عن شيخ محمد ياسين بن محمد عيسى الفادنى
وأخذت أيضا عن
سيخنا ومعلمنا وأستاذنا (1) حاج هاشم بن أبى بكر فندوك فسير تومبوه كلنتان عن شيخ (2) محمد ياسين بن محمد عيسى الفادنى
وهو عن شيخه (3) الكياهى باقر بن نور الجوكجاوى
والكياهى عبد المحياط بن يعقوب فانجى السيد أرجى
والمعمر الكياهى أحمد بيضاوى بن عبد العزيز الاسمى
والكياهى عبد الوهاب بن حسب الله السرباوى
والشيخ حسن بن عبد الشكور السرباوى
والشيخ علي بن عبد الله البنجري المكى
وهم عن الإمام المحدث الحافظ الفقيه (4) الكياهى محفوظ بن عبد الله الترمسى
وهو عن شيخه العلامة (5) السيد البكرى بن محمد شطا المكى
وهو عن شيخه العلامة (6) السيد أحمد زينى دحلان
وهو عن شيخه العلامة (7) عثمان بن حسن الدمياطى
وهو عن شيخه العلامة (8) عبد الله بن حجازى الشرقاوى
وهو عن شيخه العلامة (9) الأستاذ محمد بن سالم الحفنى
وهو عن شيخه العلامة (10) الشهاب أحمد الخليفى
وهو عن شيخه العلامة (11) أحمد بن عبد اللطيف البشبيشى
وهو عن شيخه العلامة (12) الشمش محمد بن العلاء البابلى
وهو عن شيخه العلامة (13) نور الدين علي الزيادى
وهو عن الإمام الفقيه (14) شمس الدين محمد بن أحمد الرملى الصغير
وشهاب الدين البلقينى
والشهاب أحمد الرملى الكبير
وكلهم عن شيخ الإسلام (15) زكريا الأنصارى
وهو عن شيخه (16) جلال الدين محمد بن أحمد المحلى
والحافظ أحمد بن حجر العسقلاني
وعبد الرحمن بن عمرو بن سلار البلقينى
وكلهم عن الإمام الحافظ الشيخ (17) عبد الرحيم بن الحسين العراقى
وهو عن شيخه العلامة (18) علاء الدين بن العطار
وهو عن شيخه العلامة (19) محرر المذهب يحيى بن شرف النووى
وأخذ النووى عن جماعات وهم (20) أبو إبراهم إسحاق بن أحمد المغربى
وأبو محمد عبد الرحيم بن نوح القدسى
وأبو حفص عمر بن أسعد الأربلى
وسلار بن الأربلى الدمشقى
وأخذ الثلاثة الأولون عن العلامة (21) عثمان بن عبد الرحمن ابن الصلاح
وهو عن والده العلامة (22) عبد الرحمن الملقب بالصلاح
وهو عن شيخه العلامة (23) أبى القاسم بن البزرى الجزرى
وهو عن شيخه العلامة (24) أبى الحسن علي بن محمد الكيا الهراسى
وهو عن شيخه العلامة (25) عبد الملك بن عبد الله المعروف بإمام الحرمين
وهو عن شيخه العلامة (26) أبى محمد عبد الله الجوينى
وهو عن شيخه العلامة (27) أبى بكر عبد الله بن أحمد القفال المروزى
وهو عن شيخه العلامة (28) أبى زيد محمد بن أحمد المروزى
وهو عن شيخه العلامة (29) أبى إسحاق إبراهيم بن أحمد المروزى
وهو عن شيخه العلامة (30) أبى العباس أحمد ب بن عمربن سريج
وهو عن شيخه العلامة (31) أبى القاسم عثمان بنبشار الأنماطى
وهو عن شيخه العلامة (32) أبى إبراهيم إسماعيل بن يحيى المزنى
وهو عن صاحب المذهب أبى عبد الله محمد بن إدريس الشافعى
وتفقه الإمام الشافعى على جماعات منهم (33) أبو عبد الله مالك بن أنس
وهوعن (34) نافع
وهوعن(35) ابن عمر
وروي مالك ايضا عن (34) ربيعة
وهو عن (35) أنس
وابن عمر وأنس روا عن (36) النبي صلى الله عليه وسلم
_________________________________
وأخذ الإمام النووى عن سلار بن الأربلى الدمشقى وهو الشيخ الرابع له
وسلار أخذ عن أبى بكر الماهانى
وهو عن أبى القاسم بن البزرى الجزرى بسنده المار آنفا
وأخذ سلار بن الأربلى الدمشقى أيضا عن (21) محمد بن محمد صاحب الشامل
وهو عن (22) عبد الغفار القزوينى صاحب الحاوى
وهو عن (23) أبى القاسم عبد الكريم الرافعى محرر المذهب
وهو عن (24) والده الشيخ محمد بن عبد الكريم القزوينى
وهو عن (25) أبى سعيد محمد بن يحيى النيسابورى
وهو عن (26) حجة الإسلام محمد بن محمد الغزالى
وهو عن (27) أبى المعالى إمام الحرمين – الي آخر السند المار
————————————————–
وأخذ (1) حاج هاشم بن أبى بكر فندوك فسير تومبوه كلنتان

عن (2) الشيخ المشايخ عبد القادر بن عبد المطلب المندلى
وهو عن (3) الشيخ محمد علي ابن حسين المالكى
والشيخ عمر بن حمدان المحرسى
والشيخ محمد أحيد البوقرى
والمحقيق وان إسمعيل بن عبد القادر الفطانى الشهير بفأدا
والأولان عن (4) السيد البكرى بن محمد شطا المكى عن (5) السيد أحمد بن زينى دحلان بإسناده السابق
والثالث عن (4) الشيخ محمد مختار بن عطارد الجاوى عن (5) السيد البكرى المتقدم بإسناده السابق
والرابع عن (4) المدقق فأجيك وان داود الفطانى عن (5) السيد البكرى المتقدم
——————————————-
وأخذ (1) وان محمد بن وان عثمان
وحاج صالح بن إسماعيل
وأبو بكر بن عثمان أيضا
عن سيخها ومعلمها وأستاذها (2) حاج مصطف بن أبي بكر
و حاج عبد عزيز بن أبي بكر
و حاج هاشم بن أبي بكر
وهم عن (3) عبد الله طاهر بنوة فايوغ كلنتان
وهو عن (4) الشيخ محمد علي ابن حسين المالكى
والسيخ سعيد اليمنى
والشيخ مختار بن عطارد الجاوى
والأول والثالث عن (5) السيد البكرى بن محمد شطا عن (6) السيد أحمد بن زينى دحلان الي آخر السند المار

Ahmad bin Abdul Rahman Assagof Meninggal Dalam Zikir.


Ahmad bin Abdul Rahman Assagof Meninggal Dalam Zikir.

DIkirim oleh peribadirasulullah di Ogos 28, 2009

Ahmad bin Abdul Rahman Assagof merupakan seorang ulama besar. Di sepanjang hayatnya, beliau telah menghabiskan usianya dengan menjalani kehidupan secara zuhud. Lantaran itulah beliau terkenal sebagai salah seorang wali Allah yang tinggi karamahnya.

Sebagai manusia yang dikasihi Allah, Ahmad memiliki banyak keistimewaan atau karamah. Ianya bersesuaian sekali dengan tingkatan kewaliannya.

Pernah diceritakan mengenai karamahnya, di mana seorang hamba Allah bernama Mubin telah tergerak hatinya untuk memberikan sedikit sumbangan kepada Ahmad. Niatnya itu cuma terlintas di dalam hati dan dia merancang akan memberikan sumbangannya itu kepada Ahmad apabila tiba masanya.

Selang beberapa ketika, seorang pembantu Ahmad tiba-tiba muncul di depan rumah Mubin. Pembantu itu pun memberitahu akan tujuannya datang menemui Mubin, iaitu bagi menyampaikan pesanan Ahmad. Menurut pembantu itu, Ahmad meminta supaya Mubin menunaikan niatnya untuk memberikan sumbangan.

Mubin merasa sungguh hairan. Baru saja hatinya tergerak untuk memberikan sumbangan kepada Ahmad sudah tiba untuk menuntut apa yang dijanjikan. Mubin amat kagum dengan Ahmad kerana boleh mengetahui niat serta gerak hati orang lain. Maka, dia pun dengan tulus ikhlas telah memberikan sumbangan kepada Ahmad sebagaimana niatnya.

Dalam suatu peristiwa lain, salah seorang anak perempuan Ahmad yang masih kecil memintanya menangkap seekor burung yang sangat cantik. Burung itu sedang bertenggek di dahan sebatang pokok. Ahmad segera meminta pembantunya supaya menangkap burung itu.

Pembantu Ahmad pun memanjat pokok itu dengan berhati-hati. Dia khuatir kalau burung itu akan terbang apabila didekati. Bagaimanapun, dia merasa sangat aneh kerana burung itu langsung tidak bergerak dari tempatnya seolah-olah patuh kepada kehendak Ahmad. Pembantu Ahmad pun menangkap burung itu dengan mudah dan diberikan kepada anak perempuan Ahmad untuk dipelihara.

Dalam usia yang semakin meningkat tua, Ahmad telah jatuh sakit. Ramai orang yang datang menziarahinya. Mereka sangat bersimpati melihat penderitaan Ahmad. Apabila ditanya tentang penyakitnya, Ahmad dengan tenang menjawab:

“Orang soleh itu senang dengan musibah atau penderitaan yang dihadapinya, sebagaimana orang yang condong kepada duniawi sangat senang dengan kemewahan hidup!”

Dalam keadaan lemah menanggung sakit, Ahmad bangun untuk berwudhuk. Kemudian beliau menunaikan solat Zohor. Selesai bersolat, Ahmad pun berbaring dengan menghadap arah qiblat.

Dalam pembaringannya, Ahmad tidak putus-putus berzikir kepada Allah. Tiba waktunya beliau pun nazak dan akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam degup zikir. Demikianlah limpah rahmat Allah terhadap orang yang dikasihiNya.

Semoga kita juga meninggal dalam keadaan tidak melakukan maksiat pada Allah Azzawajal walaupun tidak dapat meninggalkan dalam keadaan berzikir. itulah harapan kita… oleh itu pastikanlah kita tidak mendekati maksiat walaupun sesaat kerana kematian tidak tidak dapat dihindari walau di saat mana sekalipun.

Kemuliaan Ahlul Yaman


Ditulis Oleh: Munzir Almusawa
Thursday, 11 February 2010
Kemuliaan Ahlul Yaman
Senin, 08 Februari 2010

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتَاكُمْ أَهْلَ اْليَمَن هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوْبًا اَلْإِيْمَانُ يَمَانٌ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ .

( صحيح البخاري )
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا، قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ وَفِيْ نَجْدِنَا، قَالَ : اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا، قَالُوْا : يَارَسُوْلَ اللهِ وَفِيْ نَجْدِنَا فَأَظُنُّهُ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَاْلفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

( صحيح البخاري )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“ Datang kepada kalian penduduk Yaman, mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah pada penduduk Yaman, dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .” ( Shahih Al Bukhari )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Ya Allah, berkatilah Syam kami dan berkatilah Yaman kami”, mereka berkata: Ya Rasulullah, juga Najd kita..?, (Beliau diam tapi kemudian kembali berdoa): “Ya Allah, berkatilah Syam kami dan berkatilah Yaman kami” , mereka berkata: Ya Rasulullah, juga Najd kita..? ,( Rasulullah diam dan kembali berdoa ): “Ya Allah, berkatilah Syam kami dan berkatilah Yaman kami” , mereka berkata : Ya Rasulullah, juga Najd kami..??, beliau saw kemudian menjawab: “dari sana (Najd) akan muncul goncangan dan fitnah!, dan dari sana (Najd) akan muncul tanduk setan!.” ( Shahih Al Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ.

Limpahan Puji kehadirat Allah Maha Raja Tunggal dan abadi di alam semesta, Yang Maha menghadapi seluruh hamba-Nya dan melihatnya setiap waktu dan saat, wahai aku dan kalian yang tidak lepas dari pandangan pengawasan Ilahi , Yang Maha lembut dan siap melimpahkan kasih sayang dan pengampunan bagi para pendosa , memandang para pendosa dengan keinginan mengampuni mereka , memandang para ahli ibadah untuk mengangkat derajat mereka , inilah Allah Maha Tunggal dan Maha Sempurna menguasai kerajaan alam semesta , alam kehidupan dunia dan alam akhirah , alam yang ada sebelum alam dunia ada , alam yang ada setelah alam dunia tiada, dalam kehidupan manusia tiada lepas satu kejap pun dari pengawasan Ilahi , beruntung karena Yang Maha Mengawasi adalah juga Yang Maha Mengampuni , Yang Maha mengawasi adalah juga Yang Maha memaafkan dan tiada yang lebih pemaaf dari Allah , tiada yang lebih ramah kelembutannya dari Allah . Oleh sebab itulah Allah subhanahu wata’ala menjadikan musibah , cobaan dan kesedihan hamba-Nya sebagai penghapus dosa bagi hamba-Nya yang malas beristighfar, maka tiada yang lebih indah dari Allah, tiada yang tidak indah dari perbuatan-Nya , hingga berkata Hujjatul Islam wabarakatul Anam Al Imam Abdullah bin ‘Alawy Al Haddad di dalam ratibnya :

وَكُلُّ فِعْلِكَ جَمِيْلٌ

“ Semua perbuatan-Mu indah wahai Allah “

Anugerah tentunya indah jika disyukuri maka akan semakin indah , musibah adalah penghapusan dosa, maka kepahitan hidup dalam musibah adalah obat untuk mencapai kebahagiaan yang kekal , maka adakah perbuatan-Nya yang tidak indah ?! . Mereka yang masih menyembah selain-Nya masih tetap dinanti taubatnya untuk kembali kepada keluhuran , sejauh-jauh hamba pada kejahatan dan kegelapan namun Rabbul ‘alamin masih tetap tidak akan pernah menutup pintu pengampunan-Nya, dan tiada yang lebih luas di alam semesta lebih dari pengampunan Allah subhanahu wata’ala, yang mana pasti sampai kepada segenap makhluk-Nya , sebagaimana firman-Nya :

رَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْئٍ

( الأعراف : 156 )

“ Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu “. ( QS. Al A’raf : 156 )

Semua yang ada di alam semesta ini mendapat kelembutan Ilahi , demikian janji Rabbul ‘alamin . Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِن مَّاء فَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاء إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

( النور : 45 )

“ Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. ( QS.An Nur : 45 )

Dan Allah Yang menciptakan seluruh hewan di muka bumi ini, Allah menciptakan mereka ada yang berjalan dengan perutnya seperti ular misalnya, ada yang berjalan dengan kedua kaki, dan ada juga yang berjalan dengan empat yaitu dengan kedua tangan dan kedua kakinya , dan yang demikian itu Allah subhanahu wata’ala menciptakan dengan kehendak-Nya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Al Mushawwir yaitu Yang Maha melukis dan menggambar penciptaan dan konstruksi setiap makhluk , konstruksi daripada kehidupan dunia , konstruksi langit dan bumi , konstruksi penciptaan sel seluruh manusia yang dibangun dengan pembangunan multi sempurna , dan konstruksi penciptaan lautan , daratan, bahkan setiap butir sel yangmana dalam setiap butir sel itu jika dibesarkan akan terlihat didalamnya ada sel-sel pengaman, ada bagian penerima zatnya , ada bagian penyerap mineral dan pembuangnya, demikian dalam setiap sel . Maka setiap konstruksi diatur oleh Yang Maha Tunggal dan Maha Abadi , inilah kerajaan langit dan bumi yang Rajanya tunggal dan abadi sebelum alam semesta ada hingga alam ini ada dan kemudian alam ini sirna , Dia Maha Ada , terlepas dari keterikatan waktu dan tempat , terlepas dari segala keterikatan apa yang ada pada makhluk-Nya , sebagaimana firman-Nya :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ

( الشورى : 11 )

“ Tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Allah) “. ( QS.As Syuuraa: 11 )

Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

( ال عمران : 185 )

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasanmu, (baik atau buruk, pahala atau dosa) Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. ( QS. Ali Imran : 185 )

Semua yang hidup pasti akan merasakan kematian , ingatlah wahai yang hidup pasti datang kepada kita kematian dan tidak ada yang lebih pasti dalam kehidupan kita daripada kematian , seraya Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

( لقمان : 34 )

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yg akan terjadi dan diperbuatnya esok (atas kejadian yg ia tidak tahu dg pasti), dan manusia tidak tahu pula di bumi mana dia akan mati, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. ( QS. Luqman : 34 )

Manusia tidak tau apa yang akan ia perbuat di hari esok , ia boleh berencana dengan perencanaan yang paling sempurna, namun barangkali hanya karena seekor lalat atau seekor nyamuk kecil yang masuk kedalam matanya , programnya sepuluh tahun ke depan terhalang karena matanya menjadi buta , hal ini bisa berubah dalam sekejap saja, kalau nyamuk masih dikatakan besar mungkin saja yang masuk kedalam matanya adalah virus yang sangat kecil mungkin sel malaria atau yang lainnya maka hancur leburlah seluruh rencana yang akan dikerjakannya esok . Manusia tidak tau apa yang akan terjadi padanya di hari esok , bisa saja merencanakan , bisa saja meramalkan , tapi kesemuanya tidak ada yang pasti . Bahkan manusia tidak tau dimana ia akan wafat ,apakah di lautan , di daratan , di tengah-tengah api , terpendam timbunan , dibunuh , di rumah sakit , di rumah , di negerinya sendiri atau di negeri orang lain, dikenal orang atau tidak dikenal orang , dikuburkan dengan baik atau dibuang begitu saja , seseorang tidak tau tentang hal , maka Yang Maha Tahu hanyalah Allah . Maha Tahu tentang kejadian esok , Maha Tahu dimana seseorang akan wafat, dan (Dia swt) masih terus melihat kita di setiap waktu dan saat, dan Dia Yang Maha Baik , Dialah Allah subhanahu wata’ala , Dialah Yang Maha Indah , Dialah Yang Maha Berkasih sayang , Dialah Yang Maha Lembut , Dialah Yang Maha memanggil setiap ruh dan jiwa untuk mencapai keluhuran , jangan tertipu dengan siang dan malam , jangan tertipu dengan kesusahan dan kesenangan , jangan tertipu dengan harta ataupun kemiskinan , jangan tertipu dengan segala kejadian karena Yang Maha memiliki kejadian yang akan datang, adalah Allah subhanahu wata’ala , ingatlah hal itu . Kita berusaha dengan segala kemampuan kita tapi ingatlah bahwa semuanya ditentukan oleh Yang Maha menentukan. Berusaha dan berdoa itu adalah hal terbaik yang kita jalankan dan itulah perbuatan orang yang paling beruntung , tiada orang yang paling beruntung melebihi orang yang banyak berdoa karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda , diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari dalam kitabnya Adab Al Mufrad :

أَعْجَزُ النَّاسِ أَعْجَزُهُمْ عَنِ الدُّعَاءِ

“ Orang yang paling lemah adalah orang yang paling lemah dari berdoa “

Semakin lemah seseorang maka semakin sedikit ia berdoa , dan semakin lemahlah ia diombang ambingkan siang dan malam , ketika datang fitnah ia terguncang , datang pujian ia terguncang , datang kenikmatan ia terguncang , datang musibah ia terguncang , datang kepada teman ia terguncang , ada teman ia merasa bingung , tidak ada teman ia merasa bingung juga , sendiri ia merasa tidak enak , bersama teman ada saja masalah, terus muncul kegundahan karena jiwanya tidak mau mengikat dan menyambung hubungan dengan Allah subhanahu wata’ala . Maka sambungkanlah jiwa kami dengan cahaya keindahan-Mu Ya Rabby.., sehingga kami menjadi kuat melewati samudera kehidupan yang dahsyat gelombangnya , kami tidak terombang ambingkan oleh ombak hingga timbul dan tenggelam didalam kehidupan yang kami lewati tapi selamatkan kami di bahtera sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , jangan biarkan kami satu persatu sendiri di dalam perahu kecil yang sebentar terbalik kemudian timbul dan tenggelam . Sebagian tenggelam dalam kemurkaan-Mu dan sebagian selamat dengan susah payah , maka naikkan kami pada bahtera terbesar rahmatan lil’alamin, (adalah) Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang Engkau tunjuk sebagai pembawa kesejukan dan kasih sayang-Mu , orang yang paling berbudi pekerti indah kepada muslim atau non muslim , kepada teman atau musuh , tidak ada orang yang lebih ramah yang kita ketahui di dunia ini melebihi nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , sangat ramah bahkan kepada musuhnya . Diriwayatkan didalam Sirah Ibn Hisyam , ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumahnya , di saat itu Abu Jahl telah menunggu dari kejauhan , ia telah menggali lubang agar Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam jatuh terperangkap kedalam lubang dan celaka, kemudia ia akan mentertawakan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata : “ seorang Rasul terperangkap kedalam lubang , padahal ia mempunyai wahyu dari Tuhan tetapi tidak mengetahui ada perangkap di depannya “ . Lubang sudah digali di depan pintu rumah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi nabi tidak keluar, pintu diketok nabi tetap tidak keluar , diketok kedua kalinya nabi pun tidak keluar , kemudian pintu diketok untuk ketiga kalinya maka Rasulullah membuka pintu dan mengagetkan Abu jahl kemudian Abu Jahl kaget dan mundur akhirnya ia masuk sendiri kedalam lubang yang digalinya , lalu siapa yang ia minta pertolongan saat itu ? ialah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Teman-teman Abu Jahl yang menyaksikan Abu Jahl yang ingin mencelakakan nabi dari kejauhan, berhasil atau tidak . Maka ketika mereka melihat Abu Jahl yang terjatuh kedalam lubang itu , mereka pun lari takut kepada Nabi Muhammad dan tidak mau menolong Abu Jahl , maka siapa yang akan menolongnya , siapa yang ia panggil ? Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Ia memanggil “ Ya Muhammad !” , tidak salahkah ia menggali lubang untuk mencelakakan nabi Muhammad dan setelah terpuruk sendiri ia meminta bantuan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Maka tangan mulia itupun terulur untuk mengangkat tangan Abu Jahl , padahal itu musuhnya yang selalu menghalangi dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , tetapi ia diangkat dan diselamatkan oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , menyelamatkan Abu Jahl dari perangkap yang telah ia buat untuk mencelakakan dirinya,kenapa? padahal jika nabi Muhammad membunuhnya maka berkuranglah satu orang yng menjadi penghalang dakwah , sudah jelas-jelas siang dan malam ia selalu memerangi dakwah sang Nabi di Makkah , biarkan saja jika ia mati dalam perangkap itu karena akan bertambah mudah dakwah sang nabi . Namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ingin menyelamatkan orang yang paling jahat didalam dakwahnya , kalau bisa ia selamat dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala , kalau bisa ia selamat dari api neraka , maka beliau selamatkan Abu Jahl barangkali ia mendapatkan hidayah dan masuk Islam supaya ia selamat dari api neraka , demikian indahnya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Demikian Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berbudi luhur . Ketika dua minggu yang lalu saya di Kokoda dalam perjalanan dari Sorong menuju Teminabuan , dalam perjalanan itu kita menggunakan mobil 4×4 yang dua baris dan dibelakangnya bak terbuka . Di tengah perjalanan kami diberhentikan oleh salah seorang biarawati (zoster), wanita pimpinan agama non muslim yang berusia diatas 50– an , maka sopir meminta izin kepada saya : “ Habib, boleh dinaikkan ibu biarawati itu ?” , saya menjawab : “ boleh , mau ditempatkan dimana disini sudah tidak ada tempat “ , sopir itu menjawab : “ di bak belakang bersama barang “ , saya merasa tidak tega jika ibu itu duduk di belakang bersama barang , sopir berkata lagi : “ ia sudah terbiasa Habib seperti itu “, maka saya semakin tercekik mendengar “ sudah terbiasa “, seorang biarawati penyeru kepada agama keyakinannya ia sudah terbiasa berjalan dan duduk di bak bagian belakang dari kampung ke kampung untuk menyebarkan keyakinannya , maka tidak salah kalau seandainya agama non muslim yang maju karena para dai muslim hanya bersembunyi di kota-kota besar , tidak mau keluar seperti mereka . Maka jangan salahkan mereka jika muslimin semakin mundur , karena para dai nya juga semakin mundur . Dan ketika sopir mengatakan ia sudah terbiasa , maka semakin sakit hati saya , bukan semakin tenang tapi semakin sakit saya mendengarnya . Tidak lama kemudian hujan gerimis , dan hujan semakin besar maka saya merasa sangat tidak tega berkata : “ pak sopir tolong berhenti saya mau menggantikan tempat biarawati itu , supaya dia yang pindah kedepan dan saya duduk di bak belakang ” , tetapi sopir itu menolak karena kami yang menyewa dan membayar untuk mobil itu , maka saya berkata : “ dia seorang wanita yang lebih tua dari saya meskipun ia beda agama , Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menghormati yang lebih tua “, ketika saya katakan kepada biarawati itu untuk naik kedepan di tempat saya , dan saya yang pindah ke belakang , ia menolak dan tidak mau turun , maka saya katakan: “ jika ibu tidak mau turun dan pindah ke belakang maka saya tidak mau naik ke mobil “, akhirnya ia turun dan pindah ke depan , dan saya duduk di belakang , di saat itu hujan mulai semakin deras maka saya buka sorban dan kacamata ini hanya pakai peci saja , saya sambil terus menangis, betapa kuat dan tabahnya biarawati itu betapa malunya saya karena saya dimanjakan di Jakarta sekedar turun dari mobil dan naik ke mimbar , mereka para dai non muslim di wilayah pedalaman terus berdakwah , maka siapa yang akan terjun kesana jika kita para dai muslim hanya duduk di kota – kota besar .

Hadirin hadirat , sungguh seorang muslim harus lebih sopan dari non muslim , itulah budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Saya teringat riwayat sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah didalam riwayat yang tsiqah , ketika menuju shalat subuh berjama’ah bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam ia mendapati ada seorang lelaki tua renta berjalan tertatih-tatih di depannya, sayyidina Ali tidak mau mendahuluinya ia tetap berjalan di belakangnya , akhirnya Rasulullah sudah takbiratul ihram , membaca surah Al Fatihah dan membaca surah yang panjang dan kemudian rukuk , maka rukuknya Rasulullah sangat lama , hingga sayyidina Ali tiba dan masuk ke shaff barulah Rasulullah i’tidal dan meneruskan shalat , setelah selesai shalat ditanya oleh para sahabat : “ wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , sungguh rukukmu kali ini berbeda kenapa lama sekali ?” , maka Rasulullah berkata : “ Jibril menahan bahuku agar tidak berdiri i’tidal , untuk menunggu sayyidina Ali bin Abi Thalib karena adab dan kesopanannya kepada yang lebih tua darinya “, bahu Rasulullah ditahan oleh malaikat agar tidak berdiri i’tidal sampai sayyidina Ali datang dan masuk ke shaff shalat agar ia tidak ketinggalan rakaat shalat . Inilah kerukunan ummat beragama yang harus dijalin oleh muslimin , disadarkan kembali bagaimana budi pekerti nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sesama agama dan yang diluar agamanya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sesampainya saya di wilayah-wilayah yang semakin mendalam di wilayah Kokoda , Nebes dan lainnya . Di wilayah-wilayah itu sudah ratusan tahun tidak dimasuki oleh para Habaib , padahal yang memasukkan Islam ke wilayah itu adalah para Habaib Hadramaut yang datang dari Gujarat , diantara mereka dari keluarga Al Habsy , As Saggaf, As Syathiry dan lainnya , dan masjid-masjid yang mereka bangun ada yang disebut masjid An Nur , dan ada juga wilayah suku besar yang namanya Babo , jadi Babo itu dulu namanya Baabus Salam karena pertama kali masuknya orang – orang yang berdakwah adalah di Babo , dan sebagian mengatakan di Fak Fak , mengapa disebut Fak Fak ? Fak – Fak adalah bahasa ‘aamiyah hadramiyah yang artinya pukulan Rebana (faq faq), karena di saat itu disambut dengan rebana ketika datang para Habaib dari Gujarat yang berasal dari Hadramaut Yaman dari keluarga As Syathiry , Al Hamid dan lainnya . Demikian juga yang datang ke Pulau Jawa mereka adalah dari Gujarat dan dari Hadramaut Yaman .

Sampailah kita pada hadits mulia ini , Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَتَاكُمْ أَهْلَ اْليَمَن هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوْبًا اَلْإِيْمَانُ يَمَانٌ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَّةٌ .

“ Datang kepada kalian penduduk Yaman mereka lebih ramah perasaannya dan lebih lembut hatinya, iman adalah penduduk Yaman dan hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman .” ( Shahih Al Bukhari )

Penduduk Yaman hatinya sangat lembut , perasaannya sangat berkasih sayang , dan iman ada pada penduduk Yaman serta rahasia hikmah juga ada pada penduduk Yaman, yaitu penduduk Hadramaut tempat berhijrahnya Al Imam Ahmad bin Isa Al Muhajir dari Baghdad. Kebanyakan penduduk Yaman adalah orang yang berlemah lembut hatinya , sebagimana hadits sang nabi namun karena terlalu berlemah lembut dan ramah , sangat baik dan sopan tidak mau mengganggu orang lain maka zaman sekarang banyak para teroris yang masuk ke Yaman dan sembunyi disana , karena orang-orang Yaman tidak suka bermusuhan dan tidak suka berprasangka buruk , tetapi sekarang nama Yaman buruk dikatakan Yaman sebagai sarang teroris , sungguh demi Allah tidak demikian karena ulama ahlu Yaman sejak berabad –abad tahun yang lalu didakwahi pertama kali oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan sayyidina Mu’adz bin Jabal ra . Sayyidina Mu’adz bin Jabal ke Yaman Utara dan sayyidina Ali bin Abi Thalib ke Yaman Selatan, Hadramaut . Demikian dakwah kedua shahabat ini membuka Yaman menjadi wilayah muslimin , dan disabdakan oleh Rasul yang berdoa:

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا

“ Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk wilayah Syam, Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Yaman “

Syam adalah wilayah Jordan dan sekitarnya , mengapa Rasulullah mendoakan keberkahan untuk wilayah yaman ? , karena beliau mengetahui bahwa nanti stelah beliau wafat akan ada Al Imam Ahmad Al Muhajir keturunan beliau hijrah ke Yaman dari Baghdad dan kemudian terus menyebar . Saat ini negeri muslimin terbesar di dunia adalah Indonesia , dan yang membawa Islam ke Indonesia adalah penduduk Yaman dari keluarga Al Hamid, As Saggaf , Al Habsy dan As Syathiry, Assegaf dll, yang menyebar ke pedalaman –pedalaman Papua , Sulawesi, Pulau Jawa , mereka rela berdakwah dengan memainkan wayang mengenalkan kalimat syahadah , mereka berjuang dan berdakwah dengan kelembutan tanpa senjata , tanpa kekerasan, tanpa pasukan , tetapi mereka datang dengan kedamaian dan kebaikan . Di Kokoda saya bertemu dengan salah seorang imam yang berasal dari wilayah Siwatori yang berkata : “ Habib, tolong berkunjung ke tempat kami di Siwatori , karena disana juga ada masjid yang dibangun oleh keluarga As Syathiry , kira-kira 3 atau 4 abad yang silam dan tidak pernah lagi dikunjungi oleh para Habaib” , maka saya katakan : “ Insyaallah saya akan datang, berapa lama perjalanan kesana?”, ia menjawab: “ Cuma 4 jam berjalan kaki “, saya katakan tidak ada kendaraan ?, tidak ada Habib hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, berangkat berjalan kaki 4 jam dan pulang berjalan kaki 4 jam, maka saya katakan saya tidak mampu karena waktu juga sangat sempit , saya masih harus ke Nebes mengunjungi masjid Al Jihad yang dibangun oleh para Habaib di masa lalu , perjalanan dengan menggunakan perahu kecil menyusuri belantara Irian Barat , samapi di Nebes 90 menit dan kembalinya lagi 90 menit . Bertemu dengan para imam disana , para ketua kampung disana dan mereka juga mengatakan sudah ratusan tahun mendengar saja cerita tentang Habib tetapi tidak pernah lagi ada kunjungan kesana , yang saya harukan sekarang kita sudah menggunakan speedboat walupun perjalanan masih berjam –jam dari Sorong 200Km menuju Teminabuan , di Teminabuan terdapat satu masjid di pinggir pantai yang disebut masjid At Taqwa dan disaat kebakaran di seluruh wilayah disana , masjid itu tidak disentuh oleh api karena dibangun oleh para salafusshalih di masa lalu, dan sekarang di Teminabuan sudah sangat sepi dari muslimin hanya tinggal beberapa orang saja , ada Raja Tarof disana , ada Bapak H. Syamsuddin yang sangat menyambut saya dan menyiapkan kapal menuju ke Kokoda 200 Km lagi perjalanan ke Kokoda , jadi perjalanan sudah demikian jauh maka saya tidak mampu jika harus berjalan kaki lagi selama 4 jam pergi dan 4 jam pulang , (beliau Habib Munzir bercanda) “bisa-bisa saya tidak kembali ke Jakarta akhirnya wafat di jalan wal’iyadzubillah” , (semoga) Allah memanjangkan usia kita .

Namun yang membuat saya takjub adalah para Habaib terdahulu melewati tengah belantara itu berangkat 4 jam perjalanan kaki dan 4 jam perjalanan pulang , dan bukan satu kali perjalanan , mereka selalu berkunjung menyebarkan Islam dari abad ke- 16 . Dijelaskan oleh para tokoh masyarakat di wilayah Bintuni bahwa mulai abad ke-16 Islam sudah masuk dan setelah itu sirna kemudian muncul lagi pada abad ke -18 .

Demikian hebatnya para dai dan para Habaib terdahulu . Mereka masuk sampai ke pelosok pedalaman Irian , yang sangat saya sedihkan adalah betapa hebatnya mereka memasuki pedalaman yang demikian panas disaat itu , di zaman sekarang saja wilayah tersebut masih sangat sulit dikunjungi , belum ada jaringan handphone , belum ada telepon , belum ada listrik , saat ini kita sudah merasa kesulitan, apalagi di masa lalu .

Pada abad ke – 16 mereka datang dari Hadramaut , menuju Gujarat, (lalu ke Indonesia), entah perjalanan berapa hari mungkin 1 atau 2 bulan baru sampai ke Indonesia . Yang masuk ke Pulau Jawa dikenal dengan sembilan wali ( Wali Songo ) , sembilan orang ini membawa keislaman di pulau Jawa dari ujung kulon hingga ujung Banyuwangi semua mengenal kalimat tauhid mulai dari masyarakat jelata, pedagang, penguasa sampai para raja, mereka mengenal “ Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah “ , mereka datang dengan iman , mereka datang dengan damai , mereka datang dengan kelembutan . Dan saya kira hanya di pulau Jawa saja , ternyata sampai ke ujung Irian pun mereka masuki ke tempat-tempat yang sangat sulit , demikian dari mana datangnya ? sudah dikabarkan dan didoakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ يَمَنِنَا

“ Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk wilayah Syam, Ya Allah limpahkanlah keberkahan untuk Yaman”

Penyebaran islam terbesar adalah dari Yaman karena negeri terbesar di muka bumi adalah Indonesia , dan Indonesia diislamkan oleh penduduk Yaman dari para Habaib kita , dan inilah keberhasilan terbesar di muka bumi , karena di negeri-negeri yang lain jumlah muslimin tidak sebanyak di Indonesia , padahal tidak ada para sahabat Rasul yang sampai ke Indonesia , maka dari mana keberhasilan itu datang tentunya dari penduduk Yaman , yaitu dari para Habaib nya , dari mana mereka ? dari doa sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Lalu ketika sang nabi mendoakan keberkahan untuk wilayah Syam dan Yaman maka diantara sahabat ada yang berkata : “ wilayah Najd juga wahai Rasulullah “, tetapi Rasul diam kemudian mendoakan lagi penduduk Syam dan Yaman , dan diantara sahabat ada yang berkata lagi : “ dan wilayah Najd wahai Rasul “, Najd adalah suatu wilayah pegunungan di Saudi Arabia , dua kali sahabat meminta rasulullah untuk mendoakan Najd , dan untuk yang ketiga kalinya Rasul menjawab : “ akan muncul goncangan dan fitnah dari tempat itu , dan terbitnya tanduk syaitan dari Najd “, demikian sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Dan muncul zaman sekarang yang membid’ahkan maulid , yang mengharamakan majelis dzikir , yang memusyrikkan orang ynag berziarah , maka semua itu muncul dari Najd, (Ibn Abdul wahab adalah dari Najd dan lahir di Najd) dan hal itu diketahui oleh sayyidina Muhammad 14 abad yang silam .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Demikian indahnya budi pekerti yang diwarisi dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , maka warisilah hubungan ynag kuat dengan para pendahulu kita , para guru-guru kita , para pembawa Islam ke tempat ini menyatukan sanad kita kepada mereka , kepada guru-guru kita, dari guru-gurunya sampai kepada Imam semua guru , sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membawa kesejahteraan dan keberkahan , semakin cinta kita kepada guru-guru kita dan para ulama’ kita , maka tentunya akan semakin kuat rantai terikat antara kita dan sang pembawa rahmat Allah subhanahu wata’ala . Kita ingat guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Hafizh adalah dari Yaman , dan kebanyakan dari mereka pun dari Yaman datang membawa kesejahteraan . Namun sekarang nama Yaman tercemar , sekarang nama Aceh juga tercemar , nama Makkah dan Madinah tercemar , nama-nama wilayah muslimin tercemar hal itu karena para oknum nya .

Namun yang sebenarnya negeri Yaman adalah negeri yang membawa kebahagiaan dan rahmat di masa setelah wafatnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , karena telah disampaikan oleh sang Nabi bahwa Iman akan terbit pada penduduk Yaman dan Hikmah kemuliaan ada pada penduduk Yaman . Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan hadits ini , beliau berkata bahwa hadits ini terikat pada kaum Anshar karena ternyata kaum Anshar itu adalah keturunan oarng –orang Yaman , yang mana Rasulullah telah bersabda :

مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُمُ اللهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُمُ اللهُ

“ Barangsiapa yang mencintai Anshar maka ia dicintai Allah , dan siapa yang membenci Anshar maka ia dibenci Allah “

Anshar adalah keturunan orang Yaman , bahkan Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam An Nawawy alaihi rahmatullah menjelaskan bahwa penduduk Makkah pun ketika di masa datangnya Siti Hajar ‘alaihassalam yang ditinggalkan oleh nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang ketika itu sayyidah Hajar bersama putranya yaitu nabi Ismail alaihissalam ditinggal di Makkah, ketika itu datang kafilah dari Bani Tihamah dari Yaman , jadi penduduk Makkah pun asal muasalnya dari Yaman juga , ternyata Makkah dan Madinah awalnya juga dari Yaman , demikian pula muslimin yang sampai ke Indonesia awalnya juga dari Yaman , bukan berarti saya memuji muji Yaman karena Guru kita orang Yaman bukan begitu maksudnya , tetapi tahqiq dari Hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita lebih mengetahui dan memahami asal muasal aqidah kita , jangan sampai kita tertipu karena asal muasal aqidah telah diajarkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Diriwayatkan bagaimana indahnya budi pekerti nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat yang juga sangat tunduk kepada budi pekerti yang indah, sayyidina Ali bin Abi Thalib kw , sayyidatuna Fathimah Az Zahra Ra dan para muhajirin dan anshar mereka wangi dan harum dengan budi pekerti yang indah , dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda diriwayatkan oleh Imam Bukhari didalam kitabnya Shahih Bukhari :

أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا

“ Orang yang paling aku cintai diantara kalian adalah yang paling indah budi pekertinya “

Maka berjuanglah untuk memperindah budi pekerti kita . Kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah memperindah hari-hari kita , Allah membantu keindahan budi pekerti kita , Rabby.. sungguh hati ini keras dari bermunajat , Rabby..kami rindu untuk memperbanyak doa dalam tangis kehadirat-Mu . Hadirin hadirat , kapan tangan yang penuh dosa ini akan sering terangkat mengemis pengampunan-Nya , kapan mata yang penuh dosa ini sering mengalirkan airmata kepada Allah , merindukan Allah , memohon maaf kepada Allah ,haru kepada cinta dan kenikmatan Allah, berapa banyak desah nafas kerinduan kita kepada-Nya , berapa banyak kalimat keluar dari lidah kita untuk memuji-Nya , berapa banyak alam pemikiran kita yang mengingat-Nya , karena lidah kita berbicara dan terkadang diam , tetapi alam pemikiran kita tidak akan pernah diam , alam pemikiran kita akan terus berbicara tetapi tidak terdengar oleh kita dan Allah mendengarnya, kalau lidah kita bisa ditahan agar tidak berbicara tetapi alam pemikiran terus berbicara dan didengar oleh Allah subhanahu wata’ala dan tidak terdengar oleh telinga manusia , maka kata-kata apa yang terus terlantun dari pemikiran kita , apakah lintasan pemikiran yang dicintai Allah ataukah lintasan pemikiran yang dihinakan Allah?!. Barangkali kita didalam sujud kita masih mensuarakan dan mendoakan hal-hal yang hina di mata Allah subhanahu wata’ala . Hadirin hadirat , jadikan tempat sujudmu basah dengan airmatamu dalam doa dan munajat , jadikan kedua pipimu menyaksikan airmata munajatmu , jadikan tangan kirimu selalu bersatu dengan tangan kananmu dalam doa dan munajat memanggil nama-Nya Yang Maha Luhur , Yang Maha Mengetahui kejadian esok , Yang Maha Mengetahui apa yang akan terjadi pada kita . Semua yang hidup akan mersakan kematian , kemudian dibalaslah amal-amalnya di hari kiamat . Berapa banyak perbuatan baikku wahai Allah , berapa banyak perbuatan jahatku , sungguh dosa-dosa jauh lebih banyak dari pahala, namun Engkau melipatgandakannya sepuluh kali lipat dan tiada seorang hamba yang bisa menginjak sorga sebelum pupus seluruh dosanya , maka dimana tempat kami sebelum dosa-dosa itu terhapus wahai Rabb , salah satu dari dua tempat ; pengampunan-Mu atau api neraka yang akan menghapusnya . Wahai Allah kami memohon pengampunan-Mu Ya Rahman Ya Rahim , jika Engkau belum memaafkan kami dalam kehidupan ini maka pastilah kami melewati penghapusan didalam api neraka, maka kami meminta wahai Yang Maha Mendengar dan Maha menjamu di istana keridhaan-Mu Ya Allah . Wahai hadirin yang hadir di malam agung ini , kau tidak akan bisa menyeru Allah kecuali diizinkan-Nya , dan kau telah dizinkannya bergetar bibirmu memanggil nama-Nya , maka dengan izin itu masuklah ke dalam gerbang keridhaan untuk membuka hati kita dengan cahaya keindahan nama-Nya .

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saya mohon doa agar dilimpahi kesehatan dan rahmah karena Majelis Rasulullah sudah mulai dengan kunjungan bulanan ke luar kota, dimulai bulan Februari ini hari Jum’at pagi tanggal 12 Februari saya ada acara di Surabaya tepatnya di daerah Pandaan , siangnya kembali dan malamnya majelis . Dan tanggal 16 dan 17 di Singapura dan Kualalumpur majelis bulanan mulai dibuka , tanggal 21 di Palembang majelis bulanan, tanggal 23 di Denpasar majelis bulanan terus dibuka , dan akan menyusul majelis bulanan di Banjarmasin tiap hari Ahad sebulan sekali akan mulai dibuka berangkat pagi pulang siang , dan seluruh wilayah sedikit demi sedikit akan terus ditancapkan panji-panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Dan wilayah Irian sudah lebih dari 20 wilayah yang telah ditancapakan umbul-umbul Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sudah dikunjungi , dan santri-santrinya sedang dalam perjalanan , dan esok akan meluncur dari Sorong 40 orang , dari Bintuni , Ransiki , Teminabuan, Kokoda , Nebes akan datang ke Jakarta 40 orang bersama KH. Ahmad Baihaqi dengan menggunakan kapal laut dan seminggu baru akan sampai kesini , karena keterbatasan biaya maka terpaksa memilih dengan kapal laut , dan santri yang sudah ada disini kurang lebih 30 orang dari Kokoda , kelak mereka akan kembali kesana untuk mengembalikan lagi dakwah salaf yang telah hilang 4 abad yang silam telah mulai hampir padam namun dengan keberkahan dakwah sang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , Allah subhanahu wata’ala akan makmurkan dalam waktu dekat seluruh wilayah Irian Barat akan kembali kepada panji dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ,amin allahumma amin .

Insyaallah beberapa minggu yang akan datang tepatnya 26 Februari acara kita , kabarkan kepada teman-temanmu , kita akan mengumpulkan sebanyak banyaknya jama’ah muslimin muslimat , ajak teman-teman dan saudaramu , kita bersatu berdoa dan berdzikir mulai dari rakyat sampai pimpinan tertinggi..!, di hari maulid nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Insyaallah kita jadikan hari itu hari paling dahsyatnya gemuruh doa kepada Allah subhanahu wata’ala dan Insyaallah semakin dekat Jakarta menjadi kota kedamaian sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Mari kita berdoa bersama bertawassul kepada Ahlul Badr untuk kedamaian dan keamanan dari segala musibah , amin allahumma amin . Tafaddhal masykuraa..
Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 11 February 2010 )

Friday, 12 February 2010

Rattib Al-Attas


Rattib Al-Attas
اَلْفَاتِحَةُ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ, اَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ…) الخرسُوْرَةُ الْفَاتِحَة
اَعُوْذُبِا للهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ (ثَلاَثًا)
( لَوْاَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَاَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وِتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. هُوَاللهُ الَّذِيْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَعَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَالرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ هُوَاللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ اْلمُؤْمِنُ اْلمُهَيْمِنُ اْلعَزِيْزُاْمجَبَارُ اْلمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّايُشْرِ كُوْنَ هُوَاللهُ اْمخَالِقُ اْلبَارِئُ اْلمُصَوِّرُلَهُ اْلاَسْمَاءُ اْمحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَافِى السَّمَوَاتِ وِاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُاْمحَكِيْمِ ) اَعُوْذُبِاللهِ السَّمِيْحِ اْلعَلِيْمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (ثلاثا) اَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّا مَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ (ثلاثا) بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَيَضُرُّمَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى اْلاَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (ثلاثا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (عَشْرًا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ (ثَلاَثًا) بِسْمِ اللهِ تَحَصَّنَّا بِاللهِ.بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا بِاللهِ (ثَلاَثًا) بِسْمِ اللهِ آمَنَّابِاللهِ. وَمَنْ يُؤْ مِنْ بِاللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ عَزَّاللهِ. سُبْحَانَ اللهِ جَلَّ اللهِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَلآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ (اَرْبَعًا) يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ يَاعَلِيْمًا بِخَلْقِهِ يَاخَبِيْرًا بِخَلْقِهِ. اُلْطُفْ بِنَايَالَطِيْفُ,يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرً (ثلاثا) يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَافِيْمَانَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَاوَ الْمُسْلِمِيْنَ (ثَلاَثًا) لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ (اَرْبَعِيْنَ مَرَّةً) مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ (سبعا) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (عَشْرًا) اَسْتَغْفِرَاللهَ (اا مَرَّةً). تَائِبُوْنَ اِلَى اللهِ (ثَلاَثًا) يَااَللهُ بِهَا.يَااَللهُ بِهَا يَااَللهُ بِحُسْنِ اْلخَاتِمَةِ (ثَلاَثً) غُفْرَا نَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ لاَيُكَلِفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسُعَهَا لَهَا مَا اكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكَتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْاَخْطَأْ نَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَا قَةَلَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَ نَا فَانْصُرْنَا عَلَى اْلقَوْمِ اْلكَا فِرِيْنَ.

Kemudian membaca :

اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَاوَ حَبِيْبِنَاوَ شَفِيْعِنَ رَسُوْلِ اللهِ , مُحَمَّدِ بِنْ عَبْدِاللهِ , وَاَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ , اَنَّ اللهَ يُعْلىِ دَرَجَاتِهِمْ فِى اْلْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِ هِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآ خِرَةِ وَيَجْعَلُنَا مِنْ حِزْ بِهِمْ وَيَرْزُ قُنَا مَحَبَّتَهُمْ وَيَتَوَفَّانَا عَلَى مِلَّتِهِمْ وَيَحْشُرُنَافِى زُمْرَ تِهِمْ . فِى خَيْرٍ وَ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ , بِسِرِ الْفَا تِحَةْ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا الْمُهَا جِرْ اِلَى اللهِ اَحْمَدْ بِنْ عِيْسَى وَاِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَااْلاُ سْتَاذِ اْلاَعْظَمِ اَلْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ , مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيّ بَاعَلَوِيْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ , وَذَوِىْ الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّ اللهَ يَغْفُرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ , وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَاوَاْلاَخِرَةِ . اَلْفَا تِحَةُ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَبَرَكَاتِنَا صَاحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ اْلاَنْفَاسِ اَلْحَبِيْبِ عُمَرْ بِنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ الْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ الشَّيْخِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ بَارَاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَبْدُالرَّحْمَنِ بِنْ عَقِيْل اَلْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب حُسَيْن بِنْ عُمَرْ اَلْعَطَّاسْ وَاِخْوَانِهِ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ عَقِيْل وَعَبْدِ اللهِ وَصَا لِحْ بِنْ عَبْدُالرَّحْمَنِ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَلِيِّ بْنِ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب اَحْمَدْ بِنْ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّاللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَا تِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَنَفَحَا تِهِمْ فِى الدِّ يِنِ وَالدُّ نْيَاوَاْلآخِرَةِ )اَلْفَا تِحَةْ(
اَلْفَاتِحَةُ اِلَى اَرْوَحِ اْلاَوْالِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّا لِحِيْنَ . وَاْلاَ ئِمَّةِ الرَّاشِدِ يْنَ وَاِلَى اَرْوَاحِ وَالِدِيْنَا وَمَشَا يِخِنَا وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ , ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ اَمْوَاتِ اَهْلِ هَذِهِ الْبَلْدَةِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَنَّ اللهَ يَغْفِرُلَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ اَسْرَ ارِهِمْ وَانْوَ ارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَبَرَكَاتِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّ نْيَا وَاْلآ خِرَةِ . اَلْفَاتِحَةْ.
اَلْفَاتِحَةُ بِالْقَبُوْلِ وَتَمَامِ كُلِّ سُوْلٍ وَمَأْمُوْلٍ وَصَلاَحِ الشَّأْنِ ظَا هِرًا وَبَا طِنًافِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ دَافِعَةً لِكُلِّ شَرٍّجَالِبَةً لِكُلِّ خَيْرٍ , لَنَا وَلِوَ الِدِيْنَا وَاَوْلاَدِنَاوَاَحْبَا بِنَا وَمَشَا ئِخِنَا فِى الدِّ يْنِ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَا فِيَةِ وَعَلَى نِيَّةِ اَنَّ اللهَ يُنَوِّرُ قُلُوْ بَنَا وَقَوَ الِبَنَا مَعَ الْهُدَى وَالتَّقَى وَالْعَفَافِ وَالْغِنَى . وَالْمَوْتِ عَلَى دِيْنِ اْلاِسَلاَمِ وَاْلاِ يْمَانِ بِلاَ مِحْنَةٍ وَلاَ اِمْتِحَانٍ , بِحَقِّ سَيِّدِ نَاوَلَدِ عَدْ نَانِ , وَعَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ .وَاِلَى حَضْرَةِ النَِّبيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (اَلْفَاتِحَةْ)

Kemudian membaca :

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَا نِكْ, سُبْحَا نَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَا ءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, فَلَكَ الْحَمْدُ حَتىَّ تَرْضَى, وَلَكَ الْحَمْدُ اِذَارَضِيْتَ, وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَى. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنّا مُحَمَّدٍ فِى اْلآ خِرِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْمَلَإِ اْلاَ عْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتىَّ تَرِثَ اْلاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْ دِعُكَ اَدْيَا نَنَا وَاَنْفُسَنَا وَاَمْوَ الَنَا وَاَهْلَنَا وَكُلَّ ثَيْءٍ اَعْطَيْتَنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَاِيَّا هُمْ فِى كَنَفِكَ وَاَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ, مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِىْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَذِيْ حَسَدٍ وَمِنْ شَرِّ كَلِّ ذِيْ شَرٍّ, اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شّيْىءٍ قَدِيْرُ. اَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَا فِيَةِ وَالسَّلاَ مَةِ, وَحَقِقْنَا بِااتَقْوَى وَاْلاِسْتِقَامَةِ وَاِعِذْنَا مِنْ مُوْ جِبَا تِ النَّدَا مَةِفِى اْلحَالِ وَاْلمَالِ, اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ. وَصَلِّ اللَّهُمَّ بِجَلاَلِكَ وَجَمَالِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, وَارْزُقْنَا كَمَالَ اْلمُتَا بَعَةِ لَهُ ظَا هِرًا وَبَا طِنًا يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, بِفَضْلِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمُ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

Doa Al-Faqih Al-Muqaddam


Doa Al-Faqih Al-Muqaddam
Ditulis oleh Administrator
Kamis, 05 Pebruari 2009 00:20
الدعاء للسيدنا الإمام محمد بن على باعلوى

Doa Sayyidina Al-Imam Muhammad bin Ali Ba’Alawi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَللَّهُمَّ انْـقُلْنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنَ الشَّقَاوَةِ اِلَى السَّعَادَةِ, وَمِنَ النَّارِ اِلَى الْجَـنَّةِ, وَمِنَ الْعَذَابِ اِلَى الرَّحْمَةِ, وَمِنَ الذُّ نُوْبِ اِلَى الْمَغْفِرَةِ, وَمِنَ اْلاِسَاءَةِ اِلَى اْلاِ حْسَانِ, وَمِنَ الْخَوْفِ اِلَى اْلاَ مَانِ, وَمِنَ اْلفَقْرِ اِلَى اْلغِنَى, وَ مِنَ الذُّلِّ اِلَى الْعِزِّ, وَمِنَ اْلاِ هَانَةِ اِلَى اْلكَرَا مَةِ, وَمِنَ الضِّيْقِ اِلَى السَّعَةِ,

وَمِنَ الشَّرِّ اِلَى الْخَيْرِ, وَمِنَ اْلعُسْرِ اِلَى اْليُسْرِ, وَمِنَ اْلاِدْبَارِ اِلَى اْلاِقْبَالِ, وَمِنَ السُّقْمِ اِلَى الصِّحَّةِ, وَمِنَ السُّخْطِ اِلَى الرِّضَى, وَمِنَ اْلغَفْلَةِ اِلَى اْلعِبَادَةِ, وَمِنَ اْلفَتْرَةِ اِلَى اْلاِجْتِهَادِ, وَمِنَ الْخِذْ لاَنِ اِلَى التَّوْفِيْقِ, وَمِنَ اْلبِدْعَةِ اِلَى السُّنَّةِ, وَمِنَ اْلجَوْرِ اِلَى اْلعَدْلِ
اَللَّهُمَّ اَعِنَّا عَلَى دِيْنِنَا بِا لدُّنْيَا, وَعَلَى الدُّنْيَا بِالتَّقْوَى, وَعَلَى التَّقْوَى بِالْعَمَلِ, وَعَلَى اْلعَمَلِ بِالتَّوْفِيْقِ, وَعَلَى جَمِيْعِ ذَالِكَ بِلُطْفِكَ الْمُفْضِى اِلَى رِضَاكَ الْمُنْهِى اِلَى جَنَّتِكَ الْمَصْحُوْبِ ذَالِكَ بِالنَّظَرِ اِلَى وَجْهِكَ اْلَكَرِيْمِ.

يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَللهُ, يَا رَبَّاهُ يَا رَبَّاهُ يَا رَبَّاهُ, يَاغَوْثَاهُ يَاغَوْثَاهُ يَاغَوْثَاهُ, يَااَكْرَمَ اْلاَكْرَمِيْنَ يَارَحْمَنُ يَارَحِيْمُ يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ يَاذَالْمَوَاهِبِ اْلعِظَامِ.

اَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ اَلَّذِى لآاِلَهَ اِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ.

اَللَّهُمَّ اِنِّى أَسْأَلُكَ التَّوْفِيْقَ لِمَحَابِّكَ مِنَ اْلأَعْمَالِ, وَصِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ, وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ, وَالْغُنْيَةَ عَمَّنْ سِوَاكَ, اِلَهِى يَا لَطِيْفُ يَارَزَّاقُ يَا وَدُوْدُ يَاقَوِيُّ يَامَتِيْنُ, أَسْأَلُكَ تَأَهُّلاً بِكَ, وَاسْتِغْرَاقًا فِيْكَ, وَلُطْفًا شَامِلاً مِنْ لَدُنْكَ, وَرِزْقًا وَاسِعًا هَِنيْئًا مَرِيْئًا, وَسِنًّا طَوِيْلاً وَعَمَلاً صَالِحًا, فِى اْلاِيْمَانِ وَاْليَقِيْنِ, وَمُلاَزَمَةً فِى الْحَقِّ وَالدِّيْنِ, وَعِزًّا وَشَرَفًا يَبْقَى وَيَتَأَبَّدُ, لاَيَشُوْ بُهُ تَكَبُّرٌ وَلاَعُتُوٌّ وَلاَ فَسَادٌ, إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.

nurulqulub