Poligami Dengan Berbagai hikmahnya


This slideshow requires JavaScript.

Al-Qur’an dengan jelas telah membolehkan seorang suami berpoligami (An-Nisa’:3). Hal ini diberikan Allah sebagai jalan untuk menyelesaikan salah satu perso’alan hidup dan kehidupan manusia. Namun, dari dahulu hingga sekarang, masih ada saja di antara umat Islam sendiri yang bersangka buruk atau enggan menerimanya sebagai perintah dari Allah, khususnya dari kebanyakan kalangan wanita.
Walau pun pada dasarnya seorang wanita sangat susah atau tidak sanggup untuk dimadu, tetapi dalam mengarungi kehidupan berumah tangga, wanita Islam haruslah memahami serta menghayati terlebih dahulu hikmah dan syarat-syarat di sebalik poligami yang dibolehkan oleh Islam. Kaum hawa tidak boleh bersikap su-udhdhon serta sengaja tidak mahu memahami atau berpura-pura tidak mau tahu mengapa dan bagaimana Islam membolehkan seorang lelaki itu berpoligami. Padahal sikap yang demikian itu sangat dilarang oleh Allah sesuai dengan firman-Nya:” Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab:36)
Bagi kaum lelaki juga demikian. Walau pun mereka telah diberikan keizinan oleh Allah untuk berpoligami, namun mereka tidak boleh menyalahgunakan keistimewaan tersebut dengan sesuka hatinya. Sebelum memutuskan untuk menambah isteri, mereka haruslahlah berfikir seribu kali sebelum hal itu dilakukan. Ada sebagian dari kaum lelaki yang menyalah gunakan keizinan Allah ini dengan tidak melihat dan mempelajari syarat-syarat, hikmah dan akibatnya, sehingga ketika mereka memasuki gerbang poligami, rumah tangga mereka langsung retak. Barangkali itulah akibat undang-undang Allah yang disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga tujuan asal berumahtangga yaitu untuk mendapatkan kehidupan yang sakinah, mawaddah dan rahmah berubah menjadi syaqawah yakni kehancuran dan kesengsaraan.
Poligami selalu menimbulkan masalah di kalangan orang banyak, terutama umat Islam. Walau bagaimanapun, Al-Qur’an dan Hadis telah menerangkan bagaimana poligami seharusnya dilaksanakan oleh umat Islam agar mereka tidak mudah terpedaya dengan fitnah-fitnah dan pendapat-pendapat yang sengaja ingin menjatuhkan Islam. Al-Qur’an dan Al-Hadis juga memberikan garis panduan agar umat Islam tidak berpoligami menurut sesuka hati dan nafsu mereka.
Perkawinan Nabi Muhammad SAW dijadikan sebagai satu bahan untuk melemahkan Islam oleh para orientalis Barat. Padahal sebelum itu para nabi yang lain juga telah beristeri lebih dari satu, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Daud, Nabi Ismail, Nabi Nuh, Nabi Ishaq, dan Nabi Sulaiman.
Agar Islam tidak tersebar dengan luas, mereka berusaha mencari-cari kelemahan Nabi Muhammad SAW yaitu dengan menuduh baginda sebagai orang yang bernafsu buas.
Umat-umat di zaman silam sebelum datangnya Islam, semuanya mengamalkan poligami dalam kehidupan mereka. Kitab Taurat sendiri telah membolehkan poligami dan tidak membatasi bilangannya. Bangsa Mesir purba juga mengamalkan praktek tersebut.
Ajaran Zaradisyt, yang menjadi peraturan hidup orang-orang Parsi, telah menganjurkan untuk berpoligami dan mengambil gundik serta perempuan-perempuan simpanan dengan alasan rakyat yang berperang senantiasa memerlukan wanita-wanita muda. Sebab itulah orang Parsi tidak mempunyai undang-undang yang membatasi bilangan isteri.
Orang-orang Romawi pula seperti Kaisar Seila mengumpulkan lima orang perempuan sekaligus dalam hidupnya sehari-hari. Kaisar Constantin dan anak-anaknya yang beragama Kristen juga melakukan poligami. Bahkan Kaisar Valentinianus II telah mengeluarkan satu undang-undang poligami. Dia memperkenankan rakyatnya mengawini beberapa orang wanita jika mereka mau. Sementara itu para paderi dan ketua gereja pada waktu itu sedikit pun tidak menentangnya. Hal ini terjadi pada pertengahan abad ke empat Masehi.
Poligami juga turut diamalkan oleh bangsa-bangsa lain seperti India purba, Babylon and Asyurian. Kemudian dalam masyarakat Cina dahulu pula terdapat satu tradisi beristeri banyak yang dikenal dengan nama bergundik. Tradisi ini membolehkan seorang suami itu menyimpan beberapa perempuan yang mereka sukai, di samping beberapa isteri yang dikawini secara sah.
Di kalangan para nabi pula dikatakan bahwa Nabi Sulaiman mempunyai seratus orang isteri. Rabbaiyun (pengikut Nabi Isa) membatasi kawin sehingga empat orang perempuan saja berdalilkan kepada Nabi Yakub yang telah mengumpulkan empat orang isteri saja.
Jadi, tidaklah heran jika sistem poligami ini telah tersebar luas di kalangan umat manusia sebelum Nabi Muhammad dilahirkan dan kebanyakan tujuan perkawinan yang dilakukan sebelum kelahiran Nabi Muhammad adalah semata-mata untuk mencari kepuasan hawa nafsu saja. Kemudian datanglah Islam yang membatasi jumlah isteri-isteri yang bisa dikawini yaitu hanya empat orang saja dengan syarat-syarat yang ketat tentunya.
Dalam agama Islam, apabila seorang lelaki akan berpoligami, hendaklah dia memenuhi syarat-syarat berikut:
Membatasi jumlah isteri yang akan dikawininya. Pembatasan ini juga bertujuan untuk membatasi kaum lelaki yang suka dengan wanita agar tidak berbuat sesuka hatinya. Di samping itu, dengan pembatasan empat orang isteri, diharapkan jangan sampai ada lelaki yang tidak menemukan isteri atau ada pula wanita yang tidak menemukan suami. Mungkin, kalau Islam membolehkan dua orang isteri saja, maka akan banyak wanita yang tidak menikah. Kalaupun dibolehkan lebih dari empat, mungkin terjadi banyak lelaki yang tidak memperoleh isteri. Jadi alangkah adilnya Allah SWT yang telah menjadikan manusia ini.
Berlaku adil. Para suami diwajibkan berlaku adil jika ingin berpoligami. Jika takut tidak akan berlaku adil dengan mengawini empat orang isteri, maka cukuplah tiga orang saja. Tetapi kalau itu pun masih juga tidak dapat bersikap adil, cukuplah dua saja. Dan kalau dua itu pun masih khawatir tidak bisa berlaku adil, maka hendaklah menikah dengan seorang saja. Perlu diketahui bahwa sikap adil ini mempunyai beberapa syarat:
a. Adil di antara para isteri. Setiap isteri berhak mendapatkan hak masing-masing dari suaminya berupa kemesraan, nafkah makan, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain yang diwajibkan Allah kepada setiap suami. Nabi bersabda:” Barangsiapa yang mempunyai dua orang isteri, lalu dia cenderung kepada salah seorang di antaranya dan tidak berlaku adil antara mereka berdua, maka kelak di hari kiamat dia akan datang dengan keadaan pinggangnya miring hampir jatuh sebelah.” (Ahmad bin Hambal)
b. Adil memberi nafkah. Dalam soal adil memberi nafkah ini, hendaklah si suami tidak mengurangi nafkah dari salah seorang isterinya dengan alasan bahwa si isteri itu kaya, kecuali isteri itu rela. Prinsip adil ini tidak ada perbedaannya antara gadis atau janda, isteri lama atau isteri baru, isteri muda atau isteri tua, yang cantik atau tidak cantik, yang berpindidikan tinggi atau yang buta huruf, kaya atau miskin, yang sakit atau yang sehat, yang mandul atau yang dapat melahirkan. Kesemuanya itu mempunyai hak yang sama sebagai isteri.
c. Adil dalam menyediakan tempat tinggal. Para ulama telah sepakat bahwa suami harus bertanggungjawab menyediakan tempat tinggal yang tersendiri untuk tiap-tiap isteri beserta anak-anaknya sesuai dengan kemampuan suami. Ini dilakukan semata-mata untuk menjaga kesejahteraan isteri-isteri dan anak-anaknya, jangan sampai timbul rasa cemburu yang tidak diingini.
d. Adil dalam giliran. Isteri berhak mendapatkan giliran suaminya menginap di rumahnya sama lamanya dengan waktu menginap di rumah isteri-isteri yang lain. Walau ada di antara mereka yang dalam keadaan haid, nifas atau sakit, suami wajib adil dalam masalah ini. Sebab tujuan perkawinan dalam agama Islam bukanlah semata-mata untuk mengadakan hubungan badan dengan isteri pada malam giliran itu, tetapi bermaksud untuk menyempurnakan kasih sayang dan kerukunan hidup antara suami-isteri.(Al-Rum:21)
Anak-anak juga berhak untuk mendapatkan perlindungan, pemeliharaan serta kasih sayang yang adil dari seorang ayah. Disyaratkan atas setiap suami yang berpoligami tidak membeda-bedakan antara anak si A dengan anak si A. Berlaku adil dalam soal nafkah anak-anak haruslah diperhatikan bahwa anak yang masih kecil berbeda dengan anak yang sudah besar. Anak perempuan berbeda dengan anak lelaki.
Sesungguhnya kalau kita perhatikan tentang tuntutan Syari’ah dalam hal menegakkan keadilan di dalam membagi giliran dan nafkah di antara para isteri, ternyata sangat sukar dan dan berat sekali untuk menegakkannya.
Malah bersikap adil dalam hal kasih sayang dan kecenderungan hati kepada para isteri itu lebih berat daripada membagi giliran dan nafkah karena hal itu diluar kemampuan manusia, seperti apa yang ditegaskan Allah:” Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isterimu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” (An-Nisa’:129). Oleh sebab itu, ada sebuah Hadis dari Aisyah bahwasannya Rasulullah telah membagi giliran di antara para isterinya secara adil lalu mengadu kepada Allah dalam do’anya:” Ya Allah, inilah pembagian giliran yang mampu aku penuhi dan janganlah Engkau mencela apa yang tidak mampu aku lakukan.” (Abu Daud, Tirmidzi dll.)
Tidak menimbulkan huru-hara di kalangan isteri maupun anak-anaknya. Seorang suami harus yakin bahwa perkawinannya yang baru tidak akan merusakkan kehidupan isteri serta anak-anaknya. Diperbolehkannya poligami dalam Islam adalah bertujuan untuk menjaga kepentingan semua pihak. Jika kepentingan semua pihak tidak dapat dijaga dengan baik, maka seseorang yang berpoligami pada saat itu telah melakukan dosa kepada Allah.
HIKMAH BERPOLIGAMI DALAM ISLAM
Islam membolehkan umatnya berpoligami bukanlah tanpa alasan atau tujuan tertentu. Dibolehkannya berpoligami ini mempunyai hikmah dan kepentingan serta kesejahteraan umat Islam itu sendiri. Di antaranya ialah:
Wanita itu mempunyai dua halangan yaitu haid dan nifas. Dalam keadaan begini, Islam membolehkan berpoligami dengan tujuan dalam menggauli salah seorang isterinya yang tidak berhalangan ketika itu. Dengan demikian, dapatlah menyelamatkan suami dari perbuatan zina di saat-saat isterinya berhalangan.
Untuk mendapatkan keturunan karena isteri mandul tidak dapat melahirkan anak atau isteri sudah terlalu tua dan sudah terputus haidnya. Dengan berpoligami diharapkan agar dapat terhindar dari perceraian karena isteri mandul atau sakit atau sudah terlalu tua.
Lelaki itu mempunyai daya seks yang berbeda. Jika suami mempunyai daya seks yang luar biasa, sedangkan isterinya tidak dapat mengimbanginya atau sakit atau masa haidnya terlalu lama, maka berpoligami pada waktu itu adalah langkah terbaik untuk memelihara serta menyelamatkan suami dari lembah perzinaan.
Untuk memberi perlindungan dan penghormatan kepada kaum wanita dari keganasan dan kebuasan kaum lelaki yang tidak dapat menahannya. Kalaulah poligami tidak diperbolehkan, kaum lelaki akan menggunakan wanita sebagai alat untuk kesenangannya semata-mata tanpa dibebani oleh rasa tanggungjawab. Akibatnya kaum wanita akan menjadi simpanan atau pelacur yang tidak dilayani seperti isteri serta tidak pula mendapatkan hak perlindungan untuk dirinya.
Untuk menghindari kelahiran anak-anak luar nikah sekaligus agar keturunan masyarakat terpelihara dan tidak disia-siakan kehidupannya. Dengan demikian dapat pula menjamin kemuliaan umat Islam secara keseluruhan.
Dengan keterangan-keterangan di atas jelaslah bahwa dibolehkannya poligami bukanlah untuk memenuhi nafsu seks saja bagi kalangan kaum lelaki tetapi mempunyai maksud serta tujuan untuk kemaslahatan umat Islam seluruhnya. Islam juga tidak memandang remeh akan syarat-syarat yang telah diharuskan kepada suami yang berpoligami. Sebab itulah, Allah memperingatkan dengan tegas bahwasannya tanggungjawab berpoligami itu sangat berat. Jikalau ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah itu tidak dapat dipenuhi oleh setiap suami yang berpoligami maka dia berdosa dan hal seperti ini tentunya bertentangan dengan ajaran Islam. Wallahu A’lam.(Muhaemin Karim,MA).

http://mdiqrohk.multiply.com/journal/item/3/Poligami_Dengan_Berbagai_hikmahnya

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s