Wahhabi Mengatakan Tasawwuf itu Sesat?


Tasawwuf itu Sesat
Posted on 10 Maret, 2010 by artikelislami
Bahasa: Indonesia

Tasawwuf adalah sesuatu yang dicurigai. Tasawwuf dianggap termasuk sifat buruk dan tercela yang bisa menggugurkan kesaksian dan menghilangkan keadilan, sehingga dikatakan, “Si fulan tidak tsiqah dan tidak dapat diterima riwayatnya. Karena dia seorang sufi (ahli tasawwuf).”

Anehnya, kita melihat sebagian orang yang mencela tasawwuf, yang memerangi pelakunya, dan menganggap pelakunya sebagai musuh, justeru mereka melaksanakan apa yang dilaksanakan oleh ahli tasawwuf, bahkan mereka tidak malu ketika mengutip ucapan imam-imam suffi dalam ceramah-ceramahnya, khuthbah-khuthbah Jum’at dan seminar-seminar. Mereka mengatakan, “Al Fudhail bin Iyadh berkata,” “Al Junayd berkata,” “Hasan Al-Bashri berkata,” “Sahl At-Tastari berkata,” “Al-Muhasibi berakta,” dan, “Bisyr Al-Hafi berkata.”

Mereka semua adalah imam dan tokoh sufi. KItab-kitab tasawwuf dipenuhi dengan perkataan, riwayat, cerita dan kebaikan mereka. Maka saya tidak tahu, aakah itu tindakan bodoh, atau pura-pura bodoh? Kebutaan atau pura-pura buta?

Saya ingin mengutip perkataan ulama yang merupakan tokoh sufi. Saya kutip ucapan mereka mengenai syari’at Islam agar kita mengetahui sikap mereka yang sebenarnya.

Imam Al-Junayd berkata, “Semua manusia menemui jalan buntu, kecuali orang yang mengikuti jejak Rasulullah SAW dan mengikuti jalan-jalan kebaikannya, maka wajib bagi para pengikutnya untuk mengikuti jejaknya.”

Dzun Nuun al-Mishri berkata, “Parameter pembicaraan ada empat, yaitu cinta kepada Allah, membenci yang sedikit, mengikuti Al-Qur`an dan takut bergeser (kualitas imannya). Sebagian tanda-tanda orang yang mencintai Allah ‘Azza wa Jalla adalah mengikuti kekasih Allah dalam akhlaqnya, pekerjaannya, perintah-perintahnya dan sunnahnya.”

As-Sirri as-Siqthi berkata, “Tasawwuf adalah nama dari ketiga makna ini, yakni orang yang cahaya pengetahuannya tidak mematikan cahaya waro’nya, tidak berbicara dengan kedalaman ilmu yang bertentangan dengan lahiriahnya Kitabullah dan Sunnah dan tidak terdorong oleh karomah-karomah untuk merusak batasan-batasan hal yang diharamkan Allah.”

Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-hafi berkata, “Aku bermimpi melihat Rasulullah SAW dalam tidur, lalu Nabi berkata kepadaku, ‘Wahai Bisyr! Apakah kamu tahu mengapa Allah mengangkat (derajat)mu di antara teman-temanmu?’ Aku menjawab, ‘Tidak wahai Rasulullah!’ Rasul bersabda, ‘Sebab engkau mengikuti sunnahku, engkau berkhidmah (melayani) orang-orang shalih, engkau menasihati saudara-saudaramu, engkau mencintai shahabat-shahabatku dan keluargaku. Inilah yang mengantarkan kamu ke tempat orang-orang yang baik.’”

Abu Yazid bin Thayfur bin Isa al-Busthomi berkata, “Jika kalian melihat seseorang yang mendapat karomah sehingga dia bisa terbang di udara, maka janganlah kalian tertipu, sehingga kalian melihat bagaimana dia melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, memelihara hukum-hukum Allah dan melaksanakan syari’at-Nya”

Abul Qasim al-junayd bin Muhammad berkata, “Barangsiapa yang tidak hafal al-Qur`an dan tidak menulis as-Sunnah, maka dia tidak bisa dijadikan panutan dalam urusan ini (agama), karena ilmu kita terkait erat dengan Al-Qur`an dan as-Sunnah.” Beliau juga berkata, “Madzhab kita ini terkait erat dengan Ushul (pokok-pokok) Al-Qur`an dan As-Sunnah dan ilmu kita terbangun dengan hadits Rasulullah SAW.”

Abul Hasan Ahmad bin Muhammad an-Nawawi berkata, “barangsiapa yang engkau lihat seraya mengklaim Allah (memberi) suatu tingkah laku yang mengeluarkannya dari batasan syara’, maka janganlah engkau mendekatinya.”

Abul Fawaris Syah bin Syuja’ Al-Karmani berkata, “Barangsiapa memelihara penglihatannya dari hal-hal yang diharamkan Allah, menahan hawa nafsunya dari syahwat, menyinari bathinnya dengan muroqobah terus-menerus dengan mengikuti Sunnah dan membiasakan dirinya dengan makanan yang halal, maka firosahnya akan benar.”

Maka bagaimana mungkin tasawwuf ini dapat dikatakan sesat? Sedangkan ia adalah penggabungan antara aqidah dan syari’at, dan ia membaguskan akhlaq. Janganlah seseorang berkata-kata tentang apa yang tidak diketahuinya. Janganlah seseorang itu hanya membeo terhadap ustadz-ustadznya. Seekor beo hanya mengatakan apa yang didengar tanpa benar-benar mengerti apa yang dikatakannya. Mengapa sebagian manusia enggan taqlid buta kepada para mujtahid, tetapi sangat gemar untuk taqlid kepada muqollid?
rujukan ke http://artikelislami.wordpress.com

Tuduhan Fahaman Asy’ari Sesat, Benarkah?


Paham Asy’ari itu Sesat
Posted on 10 Maret, 2010 by artikelislami
Bahasa:Indonesia

Sebagian ummat Islam tidak mengerti tentang madzhab Asy’ari, siapa orang-orang yang mengikuti imam Asy’ari, dan tidak mengerti manhaj mereka dalam masalah aqidah. Sebagian di antara mereka ada yang menisbatkan kesesatan kepada para pengikut Asy’ari atau menuduhnya keluar dari agama serta melenceng jauh dalam menyifati Allah.

Ketidak-tahuan inilah penyebab utama tercabik-cabiknya dan terpecah-belahnya golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sehingga sebagian di antara orang=orang yang tidak tahu itu mengklaim bahwa para pengikut Asy’ari itu termasuk kelompok sesat. Saya tidak tahu bagaimana mereka membandingkan antara kelompok yang beriman dan kelompok yang sesat?

Para pengikut Asy’ari (asya’irah) adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Mereka adalah ahlus sunnah yang menentang kezhaliman mu’tazilah. Mereka adalah seperti yang disampakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, “Ulama adalah penolong ilmu agama, sedangkan para pengikut Asy’ari adalah penolong-penolong pokok agama (ushuluddin/aqidah).” (Al-Fatawa Juz IV)

Di antara Asya’irah adalah ulama ahli hadits, fiqih dan tafzir. Di antara mereka adalah:

1. Ahmad bin Hajar al-Atsqalani, seorang syaikh muhadditin, pengarang kitab Fathul Bari, suatu Syarah Shahih Bukhari, beliau seorang ulama bermadzhab Asy’ari, di mana kitabnya selalu dibutuhkan para ulama.

2. Imam an-Nawawi, pengarang kitab Syarah Shahih Muslim dan pengarang kitab-kitab yang populer yang bermadzhab Asy’ari.

3. Imam al-Qurthubi, pengarang kitab al-Jami’ li Ahkamil Qur`an yang bermadzhab Asy’ari.

4. syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami, pengarang kitab a-Zawajir an Iqtiraf al-Kaba-ir yang bermadzhab Asy’ari.

5. Syaikhul Fiqh dan hadits Zakariya al-Anshori yang bermadzhab Asy’ari.

6. Imam Abu Bakr al-Baqillani.

7. Imam an-Nasafi.

8. Imam Syarbini.

9. Imam Ibnul Jauzi, pengarang kitab at-Tashil fi Ulumit Tanzil.

Mereka semua adalah para ulama yang bermadzhab Asy’ari. Sekiranya kita ingin menghitung ulama-ulama pakar hadits, fiqih, dan tafsir dari kalangan Asy’ari, niscaya kita mendapat kesulitan dan kita memerlukan berjilid-jilid kitab mereka untuk menjelaskan mereka semua. Sesungguhnya merupakan keharusan bagi kita untuk mengembalikan kebaikan kepada para pemiliknya, mengetahui keutamaan pemilik ilmu dan keutamaan para ulama yang berkhidmat kepada syari’at Muhammad SAW.

Kebaikan apa yang bisa kita harapkan, jika ulama-ulama dan para pendahulu kita yang shalih ini kita tuduh sesat dan melenceng? Bagaimana Allah akan membuka hati kita untuk menimba ilmu mereka jika kitapernah meyakini bahwa mereka telah melenceng dan sesat dari jalan Islam?

Jika Ahmad bin Hajar al-Atsqalani, Imam an-Nawawi, Imam al-Qurthubi, Ibnu Hajar al-Haitami, Zakariya al-Anshori, Imam Abu Bakr al-Baqillani, Imam an-Nasafi dan ulama-ulama pakar lainnya itu tidak termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu?

sila rujuk ke blog : http://artikelislami.wordpress.com

Cercaan Ulama Wahabbi Terhadap Ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah


Tajuk: Cercaan Ulama Wahabbi Terhadap Ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah
Dinaqal Oleh: Mohammad Omar
Bahasa:Arab

Kepada yang arif berbahasa Arab sila baca dengan teliti:

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

عبادة المشايخ عند الوهابية
عمر الاشقر يقول العلماء المخالفون لابن تيمية يلعنهم الله وهو جهلة ممقوتون باعو دينهم بثمين قليل.

فعند الاشقر الوهابي مدعي السلفية الجاهل هؤلاء الائمة يلعنهم الله وهم جهلة باعوا دينهم بثمن قليل.
ولا نعلم لماذا يحتفظوا بكتب جمهور الائمة الذي نقدوا ابن تيمية في مكتباتهم اذا كانوا ملعونون وجهلة؟؟
الوهابية تتفنن في عبادة مشايخهم وقديسهم ابن تيمية الحراني رحمه الله
ولا نعلم سر هذا الغلو البغيض في المشايخ عند الوهابية لدرجة أن يصل باحد جهلاء هذا المذهب إلى أن يلعن ويحكم بلعن جل علماء الامة الإسلامية ويتهمهم بالجهل والحقد وبيع الدين!!
فمن نقد ابن تيمية ورد عليه يا بشر غير هؤلاء حتى انه انقسم فيه العلماء فمنهم من قال أنه كافر ومنهم من قال انه فاسق فاجر ومنهم من توقف ورد عليه.
لتحميل قول عمر الاشقر الوهابي
العلماء المخالفون لابن تيمية يلعنهم الله وهو جهلة ممقوتون باعو دينهم بثمين قليل.

حتى الالباني نفسه اعترف بذلك وان ابن تيمية ذكر كلام مشكل جدا أدى إلى انقسام العلماء فيه راجع هنا.
الألباني يقول ابن تيمية قال كلاما مشكلاً جداً في الله وخلقه وتفلسف حتى أنقسم فيه علماء الإسلام ما بين مكفر له وما بين قائل يا ليته لم يقل هذا الكلام
لتحميل المقطع الصوتي اضغط هنا

ومن رد على ابن تيمية وهم في عرف الوهابية ملعونون وجهلة باعوا دينهم بثمن قليل
قضاة المذاهب الأربعة في عصره والذين امروا بحبسه أكثر من مرة لشذوذه فقد سجن أبن تيمية الحراني “سبع مرات” لمدد متفاوتة بلغ مجموعها الاجمالي: خمس سنوات

الائمة والعلماء الذين ردوا على ابن تيمية
ذِكر بعض العلماء والفقهاء والقضاة السنة الذين ناظروا ابن تيمية أو ردوا عليه وذكروا معايبه ممن عاصروه أو جاءوا بعده وكلهم في العرف الوهابي ملعونون جهلاء باعوا دينهم بثمن قليل (والوهابية تحتفظ بكتبهم وعالة في العلم عليهم فاي عقل هذا يا قوم))

ا- القاضي المفسر بدر الدين محمّد بن إبراهيم بن جماعة الشافعي المتوفى سنة 733هـ .
2- القاضي محمّد بن الحريري الأنصاري الحنفي.
3- القاضي محمّد بن أبي بكر المالكي.
4- القاضي أحمد بن عمر المقدسي الحنبلي.
وقد حبس بفتوى موقعة منهم سنة 726 هـ . أنظر عيون التواريخ للكتبي، ونجم المهتدي لابن المعلّم القرشي.
5- الشيخ صالح بن عبد الله البطائحي شيخ المنيبيع الرفاعي نزيل دمشق المتوفى سنة 707هـ.
أحد من قام على ابن تيمية ورد عليه، (أنظر روضة الناظرين وخلاصة مناقب الصالحين لأحمد الوتري”. وقد ترجمه الحافظ ابن حجر في الدرر الكامنة.
6- عصريه الشيخ كمال الدين محمد بن أبي الحسن علي السراج الرفاعي القرشي الشافعي.
تفاح الأرواح وفتاح الأرباح.
7- قاضي القضاة بالديار المصرية أحمد بن إبراهيم السروجي الحنفي المتوفى سنة 710 هـ .
اعتراضات على ابن تيمية في علم الكلام.
8- قاضي قضاة المالكية علي بن مخلوف بمصر المتوفى سنة 718 هـ. كان يقول: ابن تيمية يقول بالتجسيم وعندنا من اعتقد هذا الاعتقاد كفر ووجب قتله.
9- الشيخ الفقيه علي بن يعقوب البكري المتوفى سنة 724 هـ ، لما دخل ابن تيمية إلى مصر قام عليه وأنكر على ابن تيمية ما يقول.
10- الفقيه شمس الدين محمد بن عدلان الشافعي المتوفى سنة 749 هـ . كان يقول: إن ابن تيمية يقول: إن الله فوق العرش فوقية حقيقية، وان الله يتكلم بحرف وصوت.
11- الحافظ المجتهد تقي الدين السبكي المتوفى سنة 756 هـ .

الاعتبار ببقاء الجنة والنار.
الدرة المضية في الرد على ابن تيمية.
شفاء السقام في زيارة خير الأنام.
النظر المحقق في الحلف بالطلاق المعلق.
نقد الاجتماع والافتراق في مسائل الأيمان والطلاق.
التحقيق في مسألة التعليق.
رفع الشقاق عن مسألة الطلاق.
12- ناظره المحدث المفسر الأصولي الفقيه محمّد بن عمر بن مكي المعروف بابن المرخل الشافعي المتوفى سنة 716.
13- قدح فيه الحافظ أبو سعيد صلاح الدين العلائي المتوفى سنة 761 هـ .
* أنظر ذخائر القصر في تراجم نبلاء العصر لابن طولون (ص/ 32- 33).
* أحاديث زيارة قبر النبي .
14- قاضي قضاة المدينة المنورة أبو عبد الله محمد بن مسلّم بن مالك ألصالحي الحنبلي المتوفى سنة 726 هـ .
15- معاصر ه الشيخ أحمد بن يجيى الكلابي الحلبي المعروف بابن جهبل المتوفى سنة 733 هـ .
* رسالة في نفي الجهة.
16- القاضي كمال الدين بن الزملكاني ألمتوفي سنة 727 هـ .
* ناظره وردّ عليه برسالتين، واحدة في مسئلة الطلاق الأخرى في مسئلة ا لزيا رة.
17- ناظره القاضي صفي الدين الهندي المتوفى سنة 715 هـ .
18- الفقيه المحدّث علي بن محمّد الباجي الشافعي المتوفى سنة 714 هـ
ناظره في أربعة عشر موضعا وأفحمه.
19- المؤرخ الفقيه المتكلم الفخر بن المعلّم القرشي المتوفى سنة 725 هـ-
نجم المهتدي ررجم المعتدي.
20- الفقيه محمد بن علي بن علي المازني الدهان الدمشقي المتوفى سنة !! رسالة في الرد غلى ابن تيمية في مسألة الطلاق.
رسالة في الرد على ابن تيمية في مسألة الزيارة.
21- الفقيه أبو القاسم أحمد بن محمد بن محمد الشيرازي المتوفى سنة 733 هـ
رسالة في الرد على ابن تيمية.
22- رد عليه الفقيه المحدث جلال الدين محمد القزويني الشافعي المتوفى سنة 739 هـ
23- مرسوم السلطان ابن قلاوون المتوفى سنة 741 وو بحبسه.
24- معاصره الحافظ الذهبي المتوفى سنة 748 هـ
* بيان زغل العلم والطلب.
* النصيحة الذهبية.
25- المفسر أبو حيان الأندلسي المتوفى سنة 745 هـ
* تفسير النهر الماد من البحر المحيط.
26- الشيخ عفيف الدين عبد الله بن أسعد اليافعي اليمني ثم المكي المتوفى سنة 768هـ.
27- الفقيه الرحالة ابن بطوطة المتوفى سنة 779هـ .
رحلة ابن بطوطة.
28- الفقيه تاج الدين السبكي المتوفى سنة 771 هـ.
* طبقات الشافعية الكبرى.
29- تلميذه المؤرخ ابن شاكر الكتبي المتوفى سنة 764 هـ
* عيون التواريخ.
30- الشيخ عمر بن أبي اليمن اللخمي الفاكهي المالكي المتوفى سنة 734 هـ .
* التحفة المختارة في الرد على منكر الزيارة.
31- القاضي محمد السعدي المصري الأخنائي المتوفى سنة755 هـ .
* المقالة المرضية في الرد على من ينكر الزيارة المحمدية، طبعت ضمن “البراهين الساطعة” للعزامي.
32- الشيخ عيسى الزواوي المالكي المتوفى سنة 743 هـ.
* رسالة في مسألة الطلاق.
33- الشيخ أحمد بن عثمان التركماني الجوزجاني الحنفي المتوفى سنة 744هـ .
* الإبحاث الجلية في الرد على ابن تيمية.
34- الحافظ عبد الرحمن بن أحمد المعروف بابن رجب الحنبلي المتوفى سنة 795هـ .
* بيان مشكل الأحاديث الواردة في أن الطلاق الثلاث واحدة.
35- الحافظ ابن حجر العسقلاني المتوفى سنة 852هـ .
* الدرر الكامنة في أعيان المائة الثامنة.
* لسان الميزان.
* فتح الباري شرح صحيح البخاري.
* الإشارة بطرق حديث الزيارة.
36- الحافظ ولي الدين العراقي المتوفى سنة 826 هـ.
الأجوبة المرضية في الرد على الأسئلة المكية.
37 _ الفقيه المؤرخ ابن قاضي شهبة الشافعي المتوفى سنة 851 هـ.
* تايخ ابن قاضي شهبة.
38- الفقيه أبو بكر الحصني المتوفى مشة 829 هـ.
* دفع شبه من شبه وتمرد وننسب ذلك إلى الإمام أحمد.
39- رد عليه شيخ إفريقيا أبو عبد الله بن عرفة التونسي المالكي المتوفى سنة 853هـ .
45- العلأمة علاء الدين البخاري الحنفي المتوفى سنة 841 هـ ، كفره وكفر من سماه شيخ الإسلام أي من يقول عنه شيخ الإسلام مع علمه بمقالاته الكفرية، ذكر ذلك الحافظ السخاوي في الضوء اللامع.
41- الشيخ محمد بن أحمد حميد الدين الفرغاني الدمشقي الحنفي المتوفى سنة 867 هـ.
* الرد على ابن تيمية في الاعتقادات.
42- ردّ عليه الشيخ أحمد زروق الفاسي المالكي س المتوفى سنة 899هـ.
* شرح حزب البحر.
43- الحافظ السخاوي المتوفى سنة 902 هـ .
*الإعلان بالتوبيخ لمن ذمّ التاريخ.
44- أحمد بن محمد المعروف بابن عبد السلام المصري المتوفى سنة 931 هـ.
* القول الناصر في رد خباط علي بن ناصر.
45- ذمه العالم أحمد بن محمد الخوارزمي الدمشقي المعروف بابن قرا المتوفى سنة 968 هـ.
46- القاضي البياضي الحنفي المتوفى سنة 1098 هـ.
* إشارات المرام من عبارات الإمام.
47- الشيخ أحمد بن محمّد الوتري المتوفى سنة 980 هـ .
* روضة الناظرين وخلاصة مناقب الصالحين.
48- الشيخ ابن حجر الهيتمي المتودى سنة 974هـ .
* الفتاوى الحديثية.
” الجوهر المنظم في زيارة القبر المعظم.
حاشية الإيضاح في المناسك.
49- الشيخ جلال الدين الدواني المتوفى سنة 928 هـ
* شرح العضدية.
50- الشيخ عبد النافع بن محمّد بن علي بن عراق الدمشقي المتوفى سنة 926 هـ
* أنظر ذخائر القصر في تراجم نبلاء العصر لابن طولون (ص/ 32- 33).
51- القاضي أبو عبد الله المقرى.
* نظم اللالي في سلوك الأمالي.
52- ملا علي القاري الحنفي المتوفى سنة 014 ا هـ.
* شرح الشفا للقاضي عياض.
53- الشيخ عبد الرءوف المناوي الشافعي المتوفى سنة 531 ا هـ
* شرح الشمائل للترمذي.
54- المحذث محمّد بن علي بن علان الصديقي المكي المتوفى سنة 057 ا هـ.
المبرد المبكي في رد الصارم المنكي.
55- الشيخ أحمد الخفاجي المصري الحنفي المتوفى سنة 9 1 0 ا هـ.
شرح الشفا للقاضي عياض.
56- المؤرخ أحمد أبو العباس المقري المتوفى سنة 041 ا.
أزهار الرياض.
57- الشيخ محمّد الزرقاني المالكي المتوفى سنة 122 ا هـ .
* شرح المواهب اللدنية.
58- الشيخ عبد الغني النابلسي المتوفى سنة 43 ا اهـ
* ذمه في أكثر من كتاب.
59- ذمه الفقيه الصوفي محمّد مهدي بن علي الصيادي الشهير بالرواس المتوفى سنة 1287 هـ.
60- السيد محمّد أبو الهدى الصيادي المتوفى سنة 1328 هـ.
* قلادة الجواهر.
61- المفتي مصطفى بن أحمد الشطي الحنبلي الدمشقي المتوفى سنة 1348 هـ
* النقول الشرعية.
62- محمود خطاب السبكي المتوفى سنة 1352 هـ
* الدين الخالص أو إرشاد الخلق إلى دين الحق.
63- مفتي المدينة المنورة الشيخ المحدث محمد الخضر الشنقيطي المتوفى سئة 1353.
* لزوم الطلاق الثلاث دفعه بما لا يستطيع العالم دفعه.
64- الشيخ سلامة العزامي الشافعي المتوفى سنة 1376 هـ
* البراهين الساطعة في ردّ بعض البدع الشائعة.
*مقالات في جريدة المسلم (المصرية).
65- مفتي الديار المصرية الشيخ محمد بخيت المطيعي المتوفى سنة 1354 هـ.
* تطهير الفؤاد من دنس الاعتقاد.
66- وكيل المشيخة الإسلامية في دار الخلافة العثمانية الشيخ محمّد زاهد الكوثري المتوفى سنة 1371 هـ
* كتاب مقالات الكوثري.
*التعقب الحثيث لما ينفيه ابن تيمية من الحديث.
* البحوث الوفية في مفردات ابن تيمية.
* الإشفاق على أحكام الطلاق.
67- إبراهيم بن عثمان السمنودي المصري، من أهل هذا العصر.
*نصرة الإمام السبكي برد الصارم المنكي.
68- عالم مكة محمد العربي التبّان المتوفى سنة 1395هـ .
* براءة الأشعريين من عقائد المخالفين.
__________________

موقع المجهر
التبيان الجلي لحقيقة المجهر الوهابي الحاقد علي الجفري علي

http://www.almijhar.org/

ـــــــــــــ
موقع الصوفية
الوهابية أدعياء السلفية بمنظار الحقيقة
http://www.soufia.org
ـــــــــــــــــــــ
موقع كشف العريفي
http://www.arefe.org
غير متواجد هذه الأيام نسالك الدعاء

Pengasas fahaman Wahabi, Muhammad Abdul Wahhab (meninggal dunia 1787)


petikan dari: http://muafakatmalaysia.wordpress.com/2010/01/25/bukan-mujaddid/
KUALA LUMPUR 24 Jan. – Pengasas fahaman Wahabi, Muhammad Abdul Wahhab (meninggal dunia 1787) bukannya seorang mujaddid kerana sistem keilmuannya tidak berada dalam acuan Ahli Sunnah Wal Jamaah serta kaedah ilmunya tidak mengikut kaedah fahaman sunni.
Felo Kehormat Institut Pemikiran dan Tamadun Antarabangsa (ISTAC), Dr. Uthman El Muhammady berkata, selain itu ilmu yang ada padanya juga tidak sampai sehingga ke peringkat mampu melakukan ijtihad dan keadaan itu menyebabkan Muhammad bukan dikategorikan sebagai mujaddid.
Paling besar dalam sejarah beliau berkata ialah tindakan Muhammad bekerjasama dengan British dan Perancis hingga membawa kepada kejatuhan Khilafah Uthmaniah kerana menganggap kerajaan itu kononnya mengamalkan bidaah.
”Walaupun ini bukan satu-satunya faktor kemusnahan kerajaan tersebut tetapi ia tetap merupakan salah satu sebab yang membawa kepada kejatuhan itu.
“Tidak ada mazhab fiqh dalam Ahli Sunnah Wal Jamaah yang mengizinkan ulul-amri (pemerintah) disanggah sebegitu rupa dan ini berbeza dengan fahaman Wahabi,” katanya.
Beliau berkata demikian ketika membentangkan kertas kerja bertajuk ‘Penelitian kembali tentang kedudukan Muhammad Abdul Wahhab sebagai mujaddid‘ di Masjid Wilayah Persekutuan di sini hari ini.
Pembentangan kertas kerja itu sempena Wacana Pemikiran dan Pembinaan Ummah 1: Gerakan Tajdid dan Pemikiran Najdiyyun anjuran Pertubuhan Muafakat Sejahtera Masyarakat Malaysia (Muafakat).
Sehubungan itu Uthman berkata, sukar untuk meletakkan Muhammad berwajah mujaddid kerana amalannya yang bercanggah dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah.
Beliau berkata, ia ditambahkan lagi dengan tabiat fahaman Wahabi yang sama seperti Kahawarij zaman klasik dan sering berperang dengan golongan tidak bersetuju dengan mereka.
“Mereka senang menghalalkan darah dan harta orang lain sebagaimana yang jelas dalam sejarah serta ajaran mereka.
“Jelas dalam skop sistem ilmu Ahli Sunnah Wal Jamaah ajaran Muhammad Abdul Wahhab pada beberapa perkara asasi iaitu akidah, syariat dan akhlak serta rohani adalah amat bertentangan sama sekali,” katanya.
Uthman di dalam pembentangan kertas kerjanya turut mendedahkan bagaimana bapa Muhammad iaitu Abdul Wahhab Sulaiman al-Najdi serta adiknya Sulaiman yang tidak redha dengan dakwah pengasas fahaman Wahabi itu.
“Adiknya Sulaiman marahkan Muhammad kerana pengasas fahaman Wahabi itu terlalu berpandukan kepada fahaman ibn.Taimiyyah dan ibn. Qayyim tanpa memandang pendapat ulama terdahulu dan kemudian.
“Ini terkandung di dalam kitab karangan Syeikh Muhammad Abdullah al-Hanbali iaitu seorang mufti di Mekah (meninggal dunia 1295 hijrah),” katanya lagi.
Mengenai ulama yang boleh digelar mujaddid, Uthman telah menyenaraikannya mengikut tempoh tertentu antaranya; Umar Abdul Aziz (salah seorang Khalifah Bani Umaiyyah); Imam Syafie; Imam Abu Hassan al-Asyari; Al-Baqillani; Imam Abu Hamid al-Ghazali dan Imam al-Nawawi.
Oleh SAIFULIZAM MOHAMADdan SHOLINA OSMAN (pengarang@utusan.com.my)

http://utusan.com.my/

Tauhid tiga serangkai disyariat dalam Islam?


Tauhid tiga serangkai disyariat dalam Islam?

22 December, 2009 in Islam, religion | Tags: Abu al Hasan al Asy’ari, Ahli Sunnah Wal Jamaah, aqidah, asma’ wal sifat, ASWJ, ibn Taimiyyah, Islam, Maturidi, rububiyyah, sifat 20, Tanah Melayu, tauhid tiga, tauhid tiga serangkai, uluhiyyah, Wahhabi
Siri Persoalan Tauhid Tiga Serangkai Oleh Panel Penyelidikan Yayasan Sofa, Negeri Sembilan

sepertimana yang disiarkan oleh Utusan Malaysia 30 Nov 2009

MINGGU ini kita menyambung kembali persoalan tauhid tiga serangkai yang telah pun diberikan lontaran awal pada dua minggu lepas. Sebelum soalan pertama dilontarkan mengenai tauhid tiga serangkai atau tauhid tiga bahagian yang diformulasikan atau direka oleh Ibnu Taimiyyah ini,

sebaiknya kita melihat dahulu secara ringkas definisi yang diberikan kepada ketiga-tiga tauhid ini.

Tauhid rububiah didefinisikan dengan makna mengesakan Allah pada ciptaan, pemerintahan, takdir, pentadbiran dan perbuatan-Nya serta dalam memberikan suatu kesan.

Manakala tauhid uluhiah didefinisikan dengan makna mengesakan Allah dalam hal peribadatan tanpa mengambil seorang manusia pun bersama Allah sebagai sembahan.

Tauhid Asma’ dan Sifat pula didefinisikan dengan makna mengesakan Allah pada apa yang dinamakan dan disifatkan dengan diri-Nya, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab-Nya atau yang didapati daripada lidah nabi-Nya yang telah menetapkan dengan apa yang telah ditetapkan bagi diri-Nya.

Dalam membincangkan pembahagian ini, maka perkara utama yang perlu dipersoalkan dan bincangkan ialah adakah pembahagian ini telah dinaskan oleh syarak dan terdapat dalil-dalil yang menunjukkan ke atasnya? Adakah pembahagian ini merupakan perkara yang disyariatkan ataupun perkara baru yang dicipta (bidaah)?

Persoalan ini, mengandungi beberapa jawapan:

Jawapan Pertama

Ibnu Taimiyyah yang merupakan pereka pembahagian tauhid ini mendakwa dirinya bermazhab Hanbali.

Namun Imam Ahmad ibnu Hanbal r.a. sendiri, yang dikatakan menjadi tempat sandaran bagi orang-orang yang melakukan pembahagian tauhid bidaah ini, tidak pernah menyatakan bahawa tauhid itu mempunyai beberapa bahagian; tauhid rububiah, tauhid uluhiah dan tauhid asma’ dan sifat.

Beliau juga tidak pernah menyatakan bahawa sesiapa yang tidak mengetahui tauhid uluhiah, tidak dikira makrifatnya tentang tauhid rububiah kerana tauhid rububiah ini telah diketahui oleh orang musyrikin.

Sesungguhnya akidah Imam Ahmad ibn Hanbal r.a telah disusun di dalam kitab-kitab karangan pengikutnya. Misalnya, di dalam kitab biografinya yang ditulis oleh Ibnu Jauzi dan lain-lainnya, tidak terdapat langsung pembahagian tauhid rekaan ini. Maka dari manakah Ibnu Taimiyyah mengambil tauhid ini?

Jawapan Kedua

Tidak berkata walau seorang daripada Sahabat-sahabat Nabi r.a: “Sesungguhnya tauhid itu ialah tauhid rububiah dan tauhid uluhiah, dan sekiranya seseorang tidak mengetahui tentang tauhid uluhiah, maka tidak dikira makrifahnya tentang tauhid rububiyyah kerana tauhid rububiah ini telah diketahui oleh orang musyrikin”.

Justeru, saya mencabar kepada setiap orang yang mempunyai ilmu yang mendalam, supaya menaqalkan kepada kami pembahagian yang diada-adakan ini daripada sahabat-sahabat Nabi r.a, sekalipun dengan mengemukakan satu riwayat yang lemah.

Jawapan Ketiga

Tidak terdapat dalam sunnah Nabi SAW yang luas dan menjadi penjelas kepada kitab Allah, sama ada dalam kitab-kitab hadis sahih, sunan-sunan, musnad-musnad dan mu’jam-mu’jam yang menyebut bahawa Nabi SAW pernah bersabda dan mengajar sahabat-sahabatnya, bahawa tauhid itu terbahagi kepada tauhid uluhiah dan juga rububiah yang telah diketahui oleh orang musyrik.

Sekiranya berkumpul jin dan manusia bersama-sama mereka untuk menetapkan bahawa pembahagian ini adalah datang daripada Nabi SAW dengan isnadnya, sekalipun dengan isnad yang lemah, nescaya mereka tidak akan mampu untuk mendatangkannya walaupun dengan satu jalan.

Jawapan Keempat

Telah tercatat dalam sunnah yang banyak, bahawa dalam dakwah Rasulullah SAW mengajak manusia kepada Allah, Baginda SAW menyeru mereka ke arah penyaksian kalimah syahadah: Tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah. Baginda SAW juga mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala.

Di antara hadis yang paling masyhur menyebut tentang perkara ini ialah hadis Muaz ibnu Jabal r.a. Ketika beliau diutuskan oleh Nabi SAW ke Yaman, Baginda SAW bersabda kepadanya: Serulah mereka kepada penyaksian “Bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah”. Sekiranya mereka mentaatinya, maka hendaklah kamu khabarkan kepada mereka bahawa diwajibkan ke atas mereka solat lima waktu sehari semalam. (riwayat al-Bukhari dalam Sahihnya)

Diriwayatkan oleh pengarang kitab Sunan dan Ibnu Hibban, bahawa seorang Arab Badawi memberitahu Rasulullah SAW bahawa dia telah melihat anak bulan. Lantas Rasulullah SAW memerintahkan supaya berpuasa dan Baginda SAW tidak menyoalnya melainkan tentang pengakuannya terhadap kalimah syahadah. (diriwayatkan oleh Abu Daud, al Nasaei, al Tirmizi dan lain-lain)

Sekiranya tauhid itu terbahagi kepada tiga bahagian sebagaimana yang mereka perkatakan, maka sudah tentulah Nabi SAW menyeru sekelian manusia kepada tauhid uluhiah yang tidak mereka ketahui dan bukannya tauhid rububiah kerana mereka telah mengetahuinya.

Demikian juga, perlulah Baginda SAW bersabda kepada Muaz r.a, “Serulah mereka kepada tauhid uluhiah,” dan Baginda SAW bertanya terlebih dahulu kepada orang Arab Badawi yang melihat anak bulan Ramadan, “Adakah kamu mengetahui tentang tauhid uluhiah dan perbezaan di antara tauhid ini dengan tauhid rububiah, dan adakah kamu mengetahui tauhid asma’ dan sifat?”

Jawapan Kelima

Di dalam kitab Allah yang ternyata tidak dicemari dengan kebatilan, tidak membezakan di antara tauhid uluhiah dan tauhid rububiah.

Begitu juga tidak dikatakan kepada mereka: Sesiapa yang tidak mengetahui tauhid uluhiah tidak dikira imannya, bahkan dia adalah lebih kafir daripada Firaun dan Haman. Tetapi Allah SWT memerintahkan dengan kalimah tauhid secara mutlak sebagaimana firman Allah SWT kepada Nabi-Nya dalam surah Muhammad ayat 19: Ketahuilah, bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah. Begitu jugalah dengan keseluruhan ayat tauhid yang disebut di dalam al-Quran.

Sekiranya kamu kehendaki, maka bacalah surah al-Ikhlas yang menyamai sepertiga al-Quran. Adakah kamu mendapati di dalamnya ayat yang membezakan di antara uluhiah dan rububiah sebagaimana yang mereka sangkakan?

Jawapan Keenam

Melalui pembahagian yang direka ini, memberi kefahaman kepada kita, seolah-olah Allah masih belum lagi menyempurnakan agama-Nya. Kemudian, datang seseorang yang kononnya untuk menyempurnakan agama Allah yang masih lagi mempunyai kekurangan dan menjelaskan tentang tauhid dan pembahagiannya kepada manusia pada kurun ke-7 Hijrah.

Pada kurun ini, lahirnya pembahagian tauhid uluhiah, rububiah, asma’ dan sifat yang dicetuskan oleh Ibnu Taimiyyah (661- 724 H). Seolah-olah semua umat tidak mengetahui tentang apa yang diperkenalkan oleh pemuka-pemuka pembahagian tauhid rekaan ini.

Selepas kita mengetahui jawapan daripada soalan pertama ini, yakinlah kita dengan sempurna bahawa tauhid ini tidak mempunyai sumber yang sah daripada al-Quran dan hadis.

Ia menunjukkan bahawa pembahagian ini hanyalah rekaan semata-mata. Persoalan kedua akan dikemukakan pada minggu hadapan, insya-Allah.

****************************************

Tajuk sebelum ini dalam Siri Persoalan Tauhid Tiga Serangkai Oleh Panel Penyelidikan Yayasan Sofa, Negeri Sembilan

Mengapa tauhid tiga serangkai?


Mengapa tauhid tiga serangkai?

21 December, 2009 in Islam, religion | Tags: Abdullah Fahim, Abu al Hasan al Asy’ari, Ahli Sunnah Wal Jamaah, aqidah, ASWJ, ibn Taimiyyah, Islam, Maturidi, rububiyyah, sifat 20, Tanah Melayu, tauhid tiga, tauhid tiga serangkai, uluhiyyah, Wahhabi
Siri Persoalan Tauhid Tiga Serangkai Oleh Panel Penyelidikan Yayasan Sofa, Negeri Sembilan

sepertimana yang disiarkan oleh Utusan Malaysia 16 Nov 2009

SEJAK kemasukan Islam ke Tanah Melayu, umat Islam di negara ini kuat berpegang dengan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang disusun atau diformulasikan oleh dua tokoh terbesar dalam bidang ilmu tauhid iaitu Imam Abu al Hasan al Asy’ari r.a dan Imam Abu Mansur al Maturidi r.a. Perkara ini telah ditegaskan oleh ulama ulung Tanah Melayu, al Allamah Sheikh Abdullah Fahim.

Beliau juga menyatakan bahawa ia telah menjadi ijmak ulama di Tanah Melayu.

Antara kenyataannya berbunyi: “Tuan-tuan sedia maklum beratus-ratus tahun bahawa orang bangsa Melayu seMelaya ini dari peringkat ke bawah hingga peringkat ke atas; awam-awam, kadi-kadi, ulama-ulama, menteri-menteri, hingga Raja-raja sekalian mereka itu bermazhab dengan mazhab al Imam al Syafi’e r.a ijma’an (ijmak), tiada seorang pun yang bermazhab lain daripada mazhab Syafi’e. Usuluddin atas perjalanan Abi al Hasan al Asy’ari r.a. Diambilkan dari Syuruh dan Hawasyi Ummu al Barahin dan Jauharah dan sebagainya daripada kitab-kitab Melayu”.

Di dalam kitab ini, pendekatan Sifat 20 digunakan bagi memahami permasalahan ketuhanan. Pendekatan ini juga diguna pakai di kebanyakan negara-negara Islam yang berpegang dengan akidah ASWJ seperti di Mesir, Syria dan Morocco.

Ia juga menjadi silibus di kebanyakan universiti di dunia Islam termasuklah universiti Islam terulung di dunia, Universiti al Azhar al Syarif.

Sejak doktrin ini diguna pakai di negara kita, kita berupaya mengecapi nikmat keamanan beragama dan ketamadunan negara. Tidak seperti negara-negara Islam lain yang memakai acuan yang bercanggah dengannya seperti aliran fahaman Syiah, Muktazilah, Musyabbihah dan sebagainya.

Tidak timbul di dalam doktrin Sifat 20 ini soal-soal kepincangan dan percanggahannya dengan akidah ASWJ yang tulen.

Namun, setelah ratusan tahun pendekatan ini digunakan tanpa sebarang masalah dalam menjaga kemurnian tauhid dan akidah umat Islam, timbul desas-desus yang mengatakan bahawa ia diambil dari Falsafah Greek.

Malah, tidak lagi sesuai dijadikan sebagai pendekatan dalam pembelajaran ilmu Tauhid. Sementelahan itu juga, pendekatan tauhid tiga serangkai yang dirumuskan oleh Ibnu Taimiyyah menjadi pengganti Doktrin Sifat 20.

Usaha-usaha untuk menukar pendekatan tauhid tiga serangkai ini dalam kurikulum pendidikan negara juga nampaknya begitu pantas dilakukan.

Persoalannya, kenapakah tiba-tiba pendekatan ini pula yang perlu dipilih sebagai pengajaran ilmu tauhid di negara kita? Adakah pendekatan Sifat 20 mengandungi unsur-unsur yang mengelirukan atau terseleweng dari iktikad ASWJ?

Adakah pembahagian tauhid tiga serangkai ini telah dinaskan oleh syarak dan terdapat dalil-dalil yang menunjukkan ke atasnya? Apakah kita pasrah sahaja dengan pendapat yang mengatakan doktrin Sifat 20 yang kita pegang dan pakai selama ini bukan tauhid yang benar tetapi diambil dari fahaman falsafah Greek.

Jika begitu, semua orang yang berpegang dengan Tauhid 20 mengikut ajaran yang salah dan sesat. Apakah boleh kita terima penyesatan ini yang melibatkan nenek moyang kita, para ulama kita dan majoriti umat Islam di seluruh dunia?

Dibawa Rasullulah SAW

Kita telah sedia maklum, bahawa akidah ASWJ yang diketahui secara umum ialah akidah yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan diikuti oleh sahabat-sahabat baginda.

Tidak kedapatan langsung, perkataan yang terkeluar daripada Rasulullah SAW dan sahabat baginda yang menyebut tentang tauhid yang digembar-gemburkan oleh pengikut Ibnu Taimiyyah dan Wahhabi ini.

Begitu juga dalam metodologi ASWJ yang telah disusun oleh pelopornya, Imam Abu al Hasan al Asy’ari r.a dan Imam Abu Mansur al Maturidi r.a, tidak pernah menggariskan tauhid ini dalam ruang lingkup akidah ASWJ.

Apa yang kita dapati tauhid ini telah ditimbulkan dan direka oleh Ibnu Taimiyyah dan dikembang biakkan pula oleh anak-anak muridnya sehingga ke generasi Muhammad ibn Abdul Wahhab. Dalam erti kata lain, tauhid inilah yang menjadi pegangan golongan Wahhabi secara khusus.

Sejak dahulu lagi hinggalah ke hari ini, telah terdapat banyak penentangan dan penolakan yang diutarakan oleh ulama terhadap Tauhid 3 Serangkai ini.

Oleh yang demikian, kita melihat di dalam kitab-kitab penulisan ulama ASWJ, terdapat banyak butiran lanjut mengenai penolakan mereka terhadap tauhid yang direka cipta ini.

Jika kita menyoroti dari perspektif ulama tersebut, kita mendapati ulama al Azhar telah bersetuju mengeluarkan kenyataan tentang kesalahan tauhid ini yang sebenarnya telah direka dan dicipta oleh orang-orang yang terkeliru dengan maksud sebenar ayat al-Quran dan hadis.

Justeru, kenapa pula kita perlu memakai pendekatan Tauhid 3 Serangkai yang mengandungi kepincangan dan telah ditolak oleh ulama kecuali Ibnu Taimiyyah dan pengikut-pengikutnya?

Untuk lebih jelas lagi, di bawah ini disenaraikan beberapa cendekiawan dan sarjana Islam dan kitab penulisan mereka yang mengandungi penolakan terhadap ajaran tauhid rekaan ini:

* Al ‘Allamah al Mufassir al Muhaddith Sheikh Yusof al Dijwi RA, Ahli Lembaga Majlis Ulama Besar al Azhar.

Beliau mengeluarkan fatwa penolakan al Azhar terhadap tauhid rububiah dan uluhiah. Kenyataannya ini dipaparkan dalam Majalah Nur al Islam edisi tahun 1933 yang merupakan lidah rasmi al Azhar pada masa itu.

Fatwa yang dikeluarkannya ini, turut dipersetujui oleh ulama al Azhar yang lain tanpa adanya sebarang bangkangan. Sehingga hari ini, fatwa tersebut masih lagi segar. Ini dapat dilihat dalam beberapa majalah yang diiktiraf oleh al Azhar. Antaranya, di dalam majalah al Muslim. Al Muhaddith al ‘Allamah Sheikh Muhammad Zaki Ibrahim r.a telah mengeluarkan kembali fatwa ini dalam majalah tersebut.

* Al Muhaddith al ‘Allamah Sheikh Salamah al Qudha’i al ‘Azzami al Syafi’i r.a dalam kitabnya al Barahin al Sati’ah fi Raddi b’ad al bida’ al Syai’ah.

Kitab ini telah mendapat pengiktirafan dan pujian daripada muhaddith pada zaman tersebut iaitu al ‘Allamah Sheikh Muhammad Zahid al Kauthari r.a.

* Al Allamah al Muhaddith Prof. Dr. Sayyid Muhammad ibn Alawi al Maliki al Hasani, ulama besar di Mekah al Mukarramah dan bekas tenaga pengajar Masjid al Haram yang diakui ilmunya oleh ulama pada zaman ini.

Beliau telah menulis penolakannya terhadap tauhid ini dalam kitabnya Huwallah. Bahkan beliau menyarankan kerajaan Arab Saudi supaya mengkaji semula pengajaran tauhid ini di institusi pengajian rendah, menengah dan Tinggi di dalam Muktamar Hiwar al Watoni di Mekah yang diadakan pada 5/11/1424 hingga 9/11/1424. Ia disebut di dalam kertas kerja beliau yang bertajuk al Ghuluw.

* Mufti Besar Mesir, Prof. Dr. Ali Jumu’ah.

Beliau turut menyentuh masalah ini di dalam laman web beliau ketika menjawab soalan yang dikemukakan kepadanya. Iaitu, tentang seorang pemuda yang mengkafirkan seluruh penduduk kampung kerana bertawassul dengan mendakwa orang yang bertawassul tergolong dalam golongan musyrikin yang beriman dengan tauhid rububiah tetapi tidak beriman dengan tauhid uluhiah.

Beliau menolak sekeras-kerasnya pembahagian tauhid ini dengan mengatakan bahawa pembahagian tauhid ini adalah perkara rekaan yang tidak pernah datang dari Salafussoleh tetapi orang pertama yang menciptanya ialah Sheikh Ibnu Taimiyyah.

Beliau juga menyatakan bahawa pendapat yang menyatakan bahawa tauhid rububiah sahaja tidak mencukupi bagi keimanan seseorang adalah pendapat yang diadakan-diadakan dan bercanggah dengan ijmak kaum Muslimin sebelum Ibnu Taimiyyah.

* Prof. Dr. Muhammad Sa’id al Ramadhan Bouti, Ulama Kontemporari Dunia Islam dari Syria.

Beliau menyatakan dengan tegas bahawa pembahagian tauhid ini adalah bidaah dalam Seminar Pengurusan Fatwa Negara-negara Asean anjuran Universiti Sains Islam Malaysia pada pada 16 hingga 17 April 2005 di Hotel Nikko Kuala Lumpur.

* Prof. Dr. Isa ibn Abdullah Mani’ al Himyari – Mantan Pengarah Jabatan Waqaf dan Hal Ehwal Islam Dubai.

Beliau telah menulis mengenai kepincangan pembahagian tauhid ini di dalam kitabnya yang bertajuk ‘al Fath al Mubin fi Bara’at al Muwahhidin min ‘Aqaid al Musyabbihin.

* Al ‘Allamah Abu Abdullah ‘Alawi al Yamani dalam kitabnya Intabih Dinuka fi Khatorin.

Kitab ini telah mendapat pujian dari lima ulama besar Yaman.

* Al ‘Allamah Abu al Hasanain Abdullah ibn Abdur Rahman al Makki al Syafi’i, ulama besar Mekah.

Beliau juga telah membahaskan masalah ini di dalam kitabnya al Qaul al Wajih fi Tanzih Allah Taala ‘an al Tasybih.

* Dr. Sheikh Yusof al Bakhur al Hasani salah seorang ahli fatwa di Kanada juga telah menulis risalah mengenainya.

* Sheikh Sirajuddin Abbas seorang ulama unggul Indonesia, juga menghuraikan masalah ini yang ditulis dalam versi Melayu dalam kitabnya Akidah Ahli Sunnah wal Jamaah.

Beliau dengan tegas menyatakan bahawa tauhid ini merupakan iktikad rekaan puak Wahhabi dan bukannya iktikad ASWJ.

Dalam satu petikan, beliau menyatakan: Kaum Wahhabi mencipta pengajian baru ini bertujuan untuk menggolongkan orang-orang yang datang menziarahi Makam Nabi SAW di Madinah, orang-orang yang berdoa dengan bertawassul dan orang yang meminta syafaat Nabi SAW serupa dengan orang kafir yang dikatakan bertauhid rububiah itu.

* Al ‘Allamah Muhammad al ‘Arabi ibn al Tabbani al Hasani, Tenaga Pengajar di Masjid al Haram.

Beliau juga turut menulis kepincangan tauhid ini di dalam kitabnya Bara’ah al Asy’ariyyin min ‘Aqaid al Mukhalifin.

* Dr. Umar Abdullah Kamil, sarjana dan pakar ekonomi Arab Saudi serta ahli eksekutif Universiti al Azhar.

Beliau pernah membentangkan kebatilan konsep Tauhid 3 Serangkai ini di dalam Seminar Perpaduan Ummah dan Pemurniaan Akidah anjuran Kerajaan Negeri Pahang pada 25-26 Ogos 2006 dan di Multaqa 3 Ulama Mekah al Mukarramah yang dianjurkan oleh Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Johor pada 20 Februari 2008.

Kertas kerja tersebut telah diterbitkan oleh Sekretariat Penjelasan Hukum Berkenaan Isu-isu Aqidah dan Syariah Majlis Agama Islam Johor.

Beliau turut membahaskan kepincangan pembahagian tauhid ini di dalam kitabnya yang bertajuk Kalimah Hadi’ah fi Bayan Khata’ al Taqsim al Thulasi li al Tauhid (Perkataan yang tenang dalam menjelaskan kesalahan pembahagian yang tiga bagi ilmu Tauhid).

* Al Allamah Abdur Rahman Hasan Habannakah al Maidani.

Beliau juga telah menulis masalah ini secara khusus di dalam kitabnya yang bertajuk Tauhid al Rububiah wa Tauhid al Ilahiyyah wa Mazahib al nas bi al Nisbah Ilaihima.

Ulama-ulama ini telah lama melakukan pengkajian dan penelitian rapi terhadap tauhid tiga serangkai ini.

Kepada pembaca yang prihatin dan bijaksana sebaik-baiknya mendapatkan keterangan lanjut dari kitab-kitab ini terlebih dahulu sebelum berani membuat kesimpulan dan melontarkan pendapat di khalayak ramai.

Asas sahih

Perkara agama apatah lagi berkaitan dengan akidah tidak boleh dibuat kesimpulan sebarangan tetapi perlu merujuk kepada asas yang sahih.

Untuk mempertahankan agama tidak cukup bermodalkan semangat juang dan sijil menjela-jela semata-mata sehingga kita terpekik dan terlolong tidak kena pada tempatnya tetapi memerlukan kemantapan ilmu, kecemburuan terhadap penodaan yang dilakukan ke atas agama dan umatnya, keikhlasan kepada Allah dan hati yang disinari cahaya oleh Allah.

Ibnu Taimiyyah dan pengikut-pengikutnya didapati telah menjadikan konsep pembahagian tauhid ini sebagai batu loncatan untuk mengkafirkan umat Islam.

Mereka telah mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dengan Rasulullah SAW dan wali-wali, orang-orang yang menziarahi kubur dan sebagainya dengan dakwaan orang yang melakukan pekerjaan tersebut bertauhid dengan tauhid rububiah sahaja tetapi tidak tidak bertauhid dengan tauhid uluhiah.

Mereka menyamakan tauhid yang dimiliki oleh orang-orang yang melakukan pekerjaan ini sama dengan orang musyrikin yang menjadikan berhala sebagai sampingan mereka dengan Allah.

Apakah pernah ketika Rasulullah SAW berdakwah, Baginda SAW mengatakan kepada orang yang memeluk Islam kamu telah mempunyai tauhid rububiah tetapi masih belum memiliki tauhid uluhiah?

Apakah boleh kita katakan orang bukan Islam juga mempunyai tauhid seperti orang Islam atau ahli tauhid?

Objektif tauhid Asma’ dan Sifat digembar-gemburkan untuk menyandarkan kepada Allah SAW makna perkataan tangan, mata, bersemayam, ketawa, turun dan sifat penyerupaan yang lain kepada makna yang hakiki yang dikenali di sisi makhluk.

Maha Suci Allah daripada apa yang mereka sifatkan kerana yang demikian itu menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Sehubungan dengan ini, umat Islam diseru agar sama-sama berfikir dan meneliti dengan hati yang lapang dan dada yang terbuka rasional perkara ini.

Kita seharusnya berbangga dengan ramainya bilangan umat Islam dan berusaha menambah bilangan umat Islam tetapi sebaliknya kita sendiri yang mengecilkan lagi kuantiti umat Islam yang semakin hilang kualitinya hanya kerana permasalahan uluhiah dan rububiah yang sengaja ditimbulkan.

Tidak ada suatu perkara yang lebih buruk daripada mengkafirkan orang Islam yang menyebut kalimah tauhid Laa ilaaha illallah dan mentasdiqkannya di dalam hati.

Banyak kemusnahan yang berlaku di negara-negara Islam disebabkan oleh perkara ini. Kita sendiri telah menyaksikan dengan mata kepala kita bagaimana persengketaan umat Islam telah mencetuskan kelemahan dan kemusnahan terhadap negara-negara Islam seperti di Afghanistan, Yaman, Lebanon, Syria, Mesir dan sebagainya.

Semoga persengketaan dan kehancuran ini tidak terjadi di negara kita Malaysia yang tercinta ini. Justeru, sewajarnya pembahagian ini dibentangkan di atas meja perbincangan secara ilmiah dan profesional serta berlandaskan kepada usul kitab dan sunnah.

Ini hanyalah lontaran awal dari hasil penelitian kami yang dirujuk kepada sumber-sumber yang sahih dan tokoh-tokoh ulama yang berkeahlian. Insya-Allah, penerangan lanjut mengenai tauhid ini akan dikeluarkan pada keluaran akan datang.

Bahan-bahan yang bakal dipersembahkan banyak merujuk kepada kitab penulisan Imam al Haramain al ‘Allamah Ibnu al ‘Arabi al Tabbani bertajuk Bara’ah al Asy’ariyyin. Ia telah diringkaskan oleh al Allamah Prof. Dr. Isa ibn Abdullah Mani’ al Himyari, Mantan Pengarah Jabatan Waqaf dan Hal Ehwal Islam Dubai di dalam kitabnya yang bertajuk ‘al Fath al Mubin fi Bara’at al Muwahhidin min ‘Aqaid al Musyabbihin.

Siri Persoalan Tauhid Tiga Serangkai Oleh Panel Penyelidikan Yayasan Sofa, Negeri Sembilan


Siri Persoalan Tauhid Tiga Serangkai Oleh Panel Penyelidikan Yayasan Sofa, Negeri Sembilan

sepertimana yang disiarkan oleh Utusan Malaysia 30 Nov 2009

MINGGU ini kita menyambung kembali persoalan tauhid tiga serangkai yang telah pun diberikan lontaran awal pada dua minggu lepas. Sebelum soalan pertama dilontarkan mengenai tauhid tiga serangkai atau tauhid tiga bahagian yang diformulasikan atau direka oleh Ibnu Taimiyyah ini,

sebaiknya kita melihat dahulu secara ringkas definisi yang diberikan kepada ketiga-tiga tauhid ini.

Tauhid rububiah didefinisikan dengan makna mengesakan Allah pada ciptaan, pemerintahan, takdir, pentadbiran dan perbuatan-Nya serta dalam memberikan suatu kesan.

Manakala tauhid uluhiah didefinisikan dengan makna mengesakan Allah dalam hal peribadatan tanpa mengambil seorang manusia pun bersama Allah sebagai sembahan.

Tauhid Asma’ dan Sifat pula didefinisikan dengan makna mengesakan Allah pada apa yang dinamakan dan disifatkan dengan diri-Nya, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab-Nya atau yang didapati daripada lidah nabi-Nya yang telah menetapkan dengan apa yang telah ditetapkan bagi diri-Nya.

Dalam membincangkan pembahagian ini, maka perkara utama yang perlu dipersoalkan dan bincangkan ialah adakah pembahagian ini telah dinaskan oleh syarak dan terdapat dalil-dalil yang menunjukkan ke atasnya? Adakah pembahagian ini merupakan perkara yang disyariatkan ataupun perkara baru yang dicipta (bidaah)?

Persoalan ini, mengandungi beberapa jawapan:

Jawapan Pertama

Ibnu Taimiyyah yang merupakan pereka pembahagian tauhid ini mendakwa dirinya bermazhab Hanbali.

Namun Imam Ahmad ibnu Hanbal r.a. sendiri, yang dikatakan menjadi tempat sandaran bagi orang-orang yang melakukan pembahagian tauhid bidaah ini, tidak pernah menyatakan bahawa tauhid itu mempunyai beberapa bahagian; tauhid rububiah, tauhid uluhiah dan tauhid asma’ dan sifat.

Beliau juga tidak pernah menyatakan bahawa sesiapa yang tidak mengetahui tauhid uluhiah, tidak dikira makrifatnya tentang tauhid rububiah kerana tauhid rububiah ini telah diketahui oleh orang musyrikin.

Sesungguhnya akidah Imam Ahmad ibn Hanbal r.a telah disusun di dalam kitab-kitab karangan pengikutnya. Misalnya, di dalam kitab biografinya yang ditulis oleh Ibnu Jauzi dan lain-lainnya, tidak terdapat langsung pembahagian tauhid rekaan ini. Maka dari manakah Ibnu Taimiyyah mengambil tauhid ini?

Jawapan Kedua

Tidak berkata walau seorang daripada Sahabat-sahabat Nabi r.a: “Sesungguhnya tauhid itu ialah tauhid rububiah dan tauhid uluhiah, dan sekiranya seseorang tidak mengetahui tentang tauhid uluhiah, maka tidak dikira makrifahnya tentang tauhid rububiyyah kerana tauhid rububiah ini telah diketahui oleh orang musyrikin”.

Justeru, saya mencabar kepada setiap orang yang mempunyai ilmu yang mendalam, supaya menaqalkan kepada kami pembahagian yang diada-adakan ini daripada sahabat-sahabat Nabi r.a, sekalipun dengan mengemukakan satu riwayat yang lemah.

Jawapan Ketiga

Tidak terdapat dalam sunnah Nabi SAW yang luas dan menjadi penjelas kepada kitab Allah, sama ada dalam kitab-kitab hadis sahih, sunan-sunan, musnad-musnad dan mu’jam-mu’jam yang menyebut bahawa Nabi SAW pernah bersabda dan mengajar sahabat-sahabatnya, bahawa tauhid itu terbahagi kepada tauhid uluhiah dan juga rububiah yang telah diketahui oleh orang musyrik.

Sekiranya berkumpul jin dan manusia bersama-sama mereka untuk menetapkan bahawa pembahagian ini adalah datang daripada Nabi SAW dengan isnadnya, sekalipun dengan isnad yang lemah, nescaya mereka tidak akan mampu untuk mendatangkannya walaupun dengan satu jalan.

Jawapan Keempat

Telah tercatat dalam sunnah yang banyak, bahawa dalam dakwah Rasulullah SAW mengajak manusia kepada Allah, Baginda SAW menyeru mereka ke arah penyaksian kalimah syahadah: Tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah. Baginda SAW juga mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala.

Di antara hadis yang paling masyhur menyebut tentang perkara ini ialah hadis Muaz ibnu Jabal r.a. Ketika beliau diutuskan oleh Nabi SAW ke Yaman, Baginda SAW bersabda kepadanya: Serulah mereka kepada penyaksian “Bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah”. Sekiranya mereka mentaatinya, maka hendaklah kamu khabarkan kepada mereka bahawa diwajibkan ke atas mereka solat lima waktu sehari semalam. (riwayat al-Bukhari dalam Sahihnya)

Diriwayatkan oleh pengarang kitab Sunan dan Ibnu Hibban, bahawa seorang Arab Badawi memberitahu Rasulullah SAW bahawa dia telah melihat anak bulan. Lantas Rasulullah SAW memerintahkan supaya berpuasa dan Baginda SAW tidak menyoalnya melainkan tentang pengakuannya terhadap kalimah syahadah. (diriwayatkan oleh Abu Daud, al Nasaei, al Tirmizi dan lain-lain)

Sekiranya tauhid itu terbahagi kepada tiga bahagian sebagaimana yang mereka perkatakan, maka sudah tentulah Nabi SAW menyeru sekelian manusia kepada tauhid uluhiah yang tidak mereka ketahui dan bukannya tauhid rububiah kerana mereka telah mengetahuinya.

Demikian juga, perlulah Baginda SAW bersabda kepada Muaz r.a, “Serulah mereka kepada tauhid uluhiah,” dan Baginda SAW bertanya terlebih dahulu kepada orang Arab Badawi yang melihat anak bulan Ramadan, “Adakah kamu mengetahui tentang tauhid uluhiah dan perbezaan di antara tauhid ini dengan tauhid rububiah, dan adakah kamu mengetahui tauhid asma’ dan sifat?”

Jawapan Kelima

Di dalam kitab Allah yang ternyata tidak dicemari dengan kebatilan, tidak membezakan di antara tauhid uluhiah dan tauhid rububiah.

Begitu juga tidak dikatakan kepada mereka: Sesiapa yang tidak mengetahui tauhid uluhiah tidak dikira imannya, bahkan dia adalah lebih kafir daripada Firaun dan Haman. Tetapi Allah SWT memerintahkan dengan kalimah tauhid secara mutlak sebagaimana firman Allah SWT kepada Nabi-Nya dalam surah Muhammad ayat 19: Ketahuilah, bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah. Begitu jugalah dengan keseluruhan ayat tauhid yang disebut di dalam al-Quran.

Sekiranya kamu kehendaki, maka bacalah surah al-Ikhlas yang menyamai sepertiga al-Quran. Adakah kamu mendapati di dalamnya ayat yang membezakan di antara uluhiah dan rububiah sebagaimana yang mereka sangkakan?

Jawapan Keenam

Melalui pembahagian yang direka ini, memberi kefahaman kepada kita, seolah-olah Allah masih belum lagi menyempurnakan agama-Nya. Kemudian, datang seseorang yang kononnya untuk menyempurnakan agama Allah yang masih lagi mempunyai kekurangan dan menjelaskan tentang tauhid dan pembahagiannya kepada manusia pada kurun ke-7 Hijrah.

Pada kurun ini, lahirnya pembahagian tauhid uluhiah, rububiah, asma’ dan sifat yang dicetuskan oleh Ibnu Taimiyyah (661- 724 H). Seolah-olah semua umat tidak mengetahui tentang apa yang diperkenalkan oleh pemuka-pemuka pembahagian tauhid rekaan ini.

Selepas kita mengetahui jawapan daripada soalan pertama ini, yakinlah kita dengan sempurna bahawa tauhid ini tidak mempunyai sumber yang sah daripada al-Quran dan hadis.

Ia menunjukkan bahawa pembahagian ini hanyalah rekaan semata-mata. Persoalan kedua akan dikemukakan pada minggu hadapan, insya-Allah.

****************************************

Tajuk sebelum ini dalam Siri Persoalan Tauhid Tiga Serangkai Oleh Panel Penyelidikan Yayasan Sofa, Negeri Sembilan

Ulasan Jawapan Institut Al-Qayyim Terhadap Tulisan Tauhid 3 Serangkai Yayasan Sofa leave a comment » Artikel ini adalah ulasan Dr Asmadi Mohamed Naim kepada jawapan Institut Al-Qayyim terhadap tulisan Tauhid Tiga Serangkai oleh Yayasan Sofa yang disiarkan dalam Utusan Malaysia


Ulasan Jawapan Institut Al-Qayyim Terhadap Tulisan Tauhid 3 Serangkai Yayasan Sofa

leave a comment »

Artikel ini adalah ulasan Dr Asmadi Mohamed Naim kepada jawapan Institut Al-Qayyim terhadap tulisan Tauhid Tiga Serangkai oleh Yayasan Sofa yang disiarkan dalam Utusan Malaysia

**************************

Saya mendapat kiriman jawapan Institut Al Qayyim terhadap artikel Yayasan Sofa. Saya siarkan di sini untuk penelitian pembaca. Saya masukkan komen saya pada artikel tersebut (berwarna) dalam keadaan saya belum membaca kesahan teks rujukan asalnya berbahasa Arab. Saya memberi komen bukan mewakili Yayasan Sofa, sebaliknya dari pengamatan saya semata-mata. Selamat membaca dengan hati yang terbuka.

Jawapan Institut Al Qayyim Terhadap Artikel Yayasan Sofa

Tulisan ini merupakan jawapan kepada artikel yang disiarkan di dalam akhbar Mingguan Malaysia bertarikh 29/11/09 [sebenarnya 30 Nov 2009 Utusan Malaysia hari Isnin, bukan 29 Nov - AKO] oleh Panel Penyelidik Yayasan Sofa, Negeri Sembilan bertajuk: Tauhid tiga serangkai disyariatkan di dalam Islam?. Setelah membaca dan memahami artikel tersebut, disimpulkan ia berlegar kepada satu persoalan utama iaitulah dakwaan kononnya pembahagian tauhid kepada tiga bahagian: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid al-Asma’ wa al-Sifat dimulakan oleh Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah R.H. dan pembahagian ini tidak dikenali di zaman awal Islam. Benarkan dakwaan ini?

Bagi sesiapa yang mempelajari akidah yang bersumberkan al-Quran, al-Sunnah dan pemahaman generasi al-Salaf al-Soleh, pasti akan memperakui sesungguhnya dakwaan ini amat jauh untuk dinilai sebagai suatu hasil penyelidikan ilmiah. Sebaliknya ia lebih kepada bukti kedangkalan dan kecetekan ilmu yang berpunca dari amalan taklid membuta tuli. Lebih malang kedangkalan ini disertai keegoan yang parah sehingga berani mencabar sesiapa yang dapat membuktikan pembahagian tauhid kepada tiga bahagian telah ada sebelum kurun ke tujuh hijrah lagi.

(Komen Dr Asmadi: Datangkan hujah dulu sebelum membuat tuduhan orang lain dangkal, cetek dan taklid membabi buta. Ini merupakan metode ‘memaki’ yang tidak baik bagi suatu bicara ilmu)

Alangkah baik jika sebelum mencabar sesiapa, Panel Penyelidik Yayasan Sofa bertindak rajin sedikit, dengan membelek kitab-kitab tafsir yang mu’tabar di sisi Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah yang ditulis sebelum kelahiran Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah. Cukup sekadar dengan Tafsir al-Imam al-Tobari (meninggal 310H). Pasti dengan merujuk kepada kitab tafsir ini sahaja akan terjawab segala kekaburan dan tidak tahu. Tetapi sayang Panel Penyelidik Yayasan Sofa tidak melakukan perkara ini melainkan bertaklid kepada beberapa penulis sahaja. Untuk itu tulisan ini ditulis, supaya ia dapat mengambil tempat seperti seorang yang celik membimbing seorang buta menyeberangi jalan, agar selamat sampai ke seberang sana.

Maka tulisan ini memberi tumpuan dalam membuktikan pembahagian tauhid kepada tiga bahagian telah ada di zaman awal umat Islam sebelum Ibn Taimiyyah R.H. Bahkan telah dinukilkan di dalam kitab-kitab tafsir beberapa riwayat daripada para sahabat Nabi S.A.W., para Tabi’ien dan para Atba’ al-Tabi’ien umat Islam.

Tujuan Pembahagian Ilmu Islam

Pembahagian mana-mana bidang ilmu Islam adalah suatu yang diterima di sisi para ulama Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah, bahkan diterima oleh orang-orang yang berakal sejak zaman berzaman. Ia bertujuan memudahkan proses pembelajaran dan kefahaman terhadap nas-nas (teks) syarak, demikian juga agar gambaran umum terhasil sebelum sesuatu bidang dipelajari. Contoh mudah dalam hal ini, al-Imam al-Syafie telah menyusun ilmu Usul di dalam ilmu Fiqh Islami. Hasilnya pembahagian ini diterima oleh para ulama selepas beliau.

(Komen Dr Asmadi: Alhamdulillah Usul Fiqh diiktiraf semula sebagai satu cara pentafsiran teks al-Quran dan sunnah. Justeru, pentafsiran al-Quran dan sunnah tanpa ilmu Usul Fiqh adalah pentafsiran mengikut akal masing-masing. Seseorang itu bukan mujtahid sekiranya tidak belajar dan menguasai Usul Fiqh).

Kaedah pembelajaran yang tersusun dengan pembahagiannya tidak pernah terdapat di zaman Nabi S.A.W., bahkan pembahagian ilmu kepada ilmu aqidah, fiqh dan akhlak juga tidak terdapat di zaman Nabi S.A.W., sama halnya dengan penyusunan ilmu Mustalah al-Hadith, Ulum al-Tafsir, Usul al-Fiqh dan semua bidang ilmu syariah tidak pernah disusun, dibahagi dan diasingkan mengikut pembahagian-pembahagian seperti yang ada pada hari ini. Tidak pula bermakna ilmu-ilmu ini merupakan rekaan, bid’ah dan tokok-tambah dalam agama. Sebaliknya ia hanyalah kaedah untuk memudahkan proses pembelajaran dan pemahaman. Lalu tidak berlebihan jika dikatakan teramat jahil orang yang mendakwa pembahagian-pembahagian ilmu ini sebagai bid’ah. Kerana itu masyhur satu kaedah di sisi ulama usul yang disebut sebagai la masyahah fi al-Istilah yang bermaksud tiada pertikaian terhadap pengistilahan jika kandungan atau maksudnya benar.

(Komen Dr Asmadi: Pembahagian ilmu-ilmu ini adalah bidaah sebab ia adalah sesuatu yang baru. Setiap yang baru itu bidaah (Kull muhdasatin bid’ah). Satu perkara bidaah dalam mempelajari ilmu Islam. Walaupun begitu ia adalah bidaah yang mahmudah (terpuji), yang sepakat ulama membenarkan untuk memudahkan pengajian Syariah. Saya agak hairan kenapa dinafikan ianya bidaah (sesuatu yang baru)dengan mengklasifikasikannya bukan bidaah? Kenapa pula dikatakan seorang itu amat jahil apabila dikatakan penyusunan ilmu-ilmu ini bidaah? Atas dasar itulah ulama membahagikan bidaah kepada bidaah yang keji dan bidaah yang terpuji. Jahilkah Imam al-Izz bila beliau memasukkan penyusunan ilmu tersebut kepada ilmu fiqh, tauhid, ilmu hadis sebagai bidaah hasanah (bidaah terpuji).

Bahkan pembahagian Imam al-Izz bin Abdul Salam amat sesuai dengan pemahaman bidaah. Penyusunan ilmu sedemikian beliau kelaskan dalam bidaah yang wajib. Pembinaan binaan atas kubur, beliau katakan sebagai bidaah yang haram (tetapi tidak menyesatkan). Senang untuk masyarakat faham. Manakala, bidaah dalam aqidah, baru beliau sesatkan.

Lihat kitab ulama Imam al-Izz bin Abd al-Salam iaitu Qawaid al-Ahkam).

Pembahagian tauhid di kalangan generasi awal umat islam

Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah R.H. bukanlah individu pertama yang bertanggungjawab mereka-reka pembahagian tauhid kepada tiga bahagian. Sebaliknya pembahagian ini telah wujud lebih awal lagi. Perkara ini dapat ditelaah dari kitab-kitab karangan ulama yang awal. Ibn Taimiyyah yang hidup pada kurun ke tujuh hanya berperanan menghidupkan semula penekanan kepada tiga usur penting di dalam tauhid. Di bawah ini disenaraikan beberapa bukti yang menunjukkan pembahagian tauhid telah ada sebelum kelahiran Ibn Taimiyyah R.H. lagi:

Pertama: Al-Imam Abu Abdillah, Ubaidullah ibn Muhammad ibn Battah al-‘Ukbariy (meninggal tahun 387H) berkata: “…dan demikian itu, bahawa asas keimanan kepada Allah yang wajib ke atas makhluk beriktikad dengannya dalam menetapkan keimanan terhadapNya adalah tiga perkara (bahagian). Pertama: Keyakinan seorang hamba terhadap rabbaniyyah (Rububiyyah) Allah, agar keyakinan ini membezakan dia dengan mazhab golongan al-Ta’til yang tidak menetapkan adanya (tuhan) yang maha pencipta. Kedua: keyakinan seorang hamba terhadap wahdaniyyah (keesaan) Allah, agar keyakinan ini membezakan dia dengan mazhab golongan musyrik, yang mengakui adanya pencipta (Allah), tetapi mereka mensyirikanNya dengan yang lain di dalam ibadah. Ketiga: Keyakinan seorang hamba terhadap Allah yang bersifat dengan sifat-sifat yang layak bagiNya seperti al-‘Ilmu (maha mengetahui), al-Qudrah (Maha berkuasa), al-Hikmah (maha bijaksana) dan semua sifat yang Dia (Allah) telah sifatkan diriNya di dalam kitabNya … (oleh itu) kita akan dapati Allah ta’ala telah mengarahkan hamba-hambanya dengan menyeru mereka untuk beri’tiqad kepada setiap dari tiga pembahagian ini dan beriman dengannya.” (al-Ibanah ‘an Syariah al-Firqah al-Najiah wa Mujabanah al-Firaq al-Mazmumah, Oleh Ibn Battah, hal. 693-694).

(Komen Dr Asmadi: Jawapan ini nampak canggih tetapi tidak jujur. Terpaksa memasukkan perkataan ‘rububiah’ dalam kurungan untuk buktikan Ibn Battah sokong Ibn Taimiyyah. Cuba pembaca buang perkataan dalam kurungan tersebut dan baca: Pertama: Rabbaniah, kedua: Wahdaniyyah, ketiga: Sifat-sifat Allah SWT.

Pertama Rabaniyyah Allah. Saya kena periksa teks bahasa Arab kitab ini, sebab terjemahan mengelirukan iaitu “agar keyakinan ini membezakan dia dengan mazhab golongan al-Ta’til yang tidak menetapkan adanya (tuhan) yang maha pencipta”. Golongan Ta’til sebenarnya mengatakan adanya tuhan tetapi menafikan Sifat-sifat Allah SWT! Ini membuktikan mempelajari Rabbaniyah yang dimaksudkan ialah meyakini Allah SWT mempunyai segala sifat-sifat ketuhanan (rangkuman rububiah dan uluhiah sekaligus).

Pada pandangan Ahlussunnah, rububuyah dan uluhiyah adalah tidak terpisah (saling melazimi) dan ia termasuk pandangan Ibn Battah, bahkan perkataan ‘ilah’ merangkumi rububiyah dan uluhiyyah. Sebagai contoh, ayat 24, Surah al-Nazi’at, bermaksud: “(Firaun berkata) Aku tuhanmu (Rabb) yang maha tinggi”. Istilah Rabb yang didakwa oleh firaun meliputi pengakuannya ketuhanannya (rububiah) dan juga uluhiah (layak disembah). Demikian juga perjanjian ruh dengan Allah SWT dalam Surah al-A’raf, ayat 172 bermaksud: “Bukankan aku Rabbmu (tuhanmu), Ruh berkata: Benar, kami bersaksi”. Ruh bersaksi Allah tuhannya dalam bentuk rububiah dan uluhiyahnya secara serentak. Ruh bukan hanya bersaksi atau bertauhid rububiyyah sahaja!

Kedua Wahdaniyyah Allah SWT (Ke-Esaan Allah). Setelah meyakini Allah SWT mempunyai sifat-sifat kesempurnaan kekuasaan dalam ‘rabbaniyah’ tadi (rububiyyah dan uluhiyyah), maka tidak boleh pula mensyirikkan Allah.

dan Ketiga: Keyakinan pada sifat-sifat yang layak untuk Allah SWT. Jadi, mempelajari sifat-sifat Allah SWT (inilah hujah sifat 20!) termasuk dalam akidah Ahlusunnah Wal jamaah. Masalahnya, bila kami gunakan kata-kata Ibn Battah ini untuk menunjukkan golongan Salaf juga bersetuju mengkaji sifat-sifat Allah SWT, golongan ini menolak pula hujah ini!

Jadi, kata-kata Ibn Battah ini bukannya menyokong pembahagian tauhid Ibn Taimiyyah).

Perkataan Ibn Battah ini amat jelas menunjukkan pembahagian tauhid kepada tiga telah wujud dan diketahui oleh para ulama yang hidup sekitar dua ratus tahun sebelum kelahiran Ibn Taimiyyah. Bahkan perkara yang lebih penting untuk diberi tumpuan di sini bahawa perbezaan di antara tauhid rububiyyah dan uluhiyyah telah disebut juga oleh para sahabat Nabi S.A.W. antara mereka:

(Komen Dr. Asmadi: Penjelasan Ibn Battah berbeza dengan Ibn Taymiyyah. Saya belum sempat periksa pandangannya mengenai pengesaan Allah SWT dari tempat dan masa. Bila saya dapat buku tu nanti, saya akan perkemaskan komen saya. Nanti saya buktikan pandangannya tentang Tauhid Sifat bila saya mendapat buku ini).

Kedua: Firman Allah yang bermaksud: “Dan kebanyakan mereka tidaklah beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mensyirikkanNya.” (Yusuf: 106).

Kata ‘Ikrimah R.A. (sahabat Nabi S.A.W.): “Kamu bertanya kepada mereka (orang-orang musyrik): Siapa yang menciptakan mereka? siapa yang menciptakan langit dan bumi? Pasti mereka akan menjawab: Allah. Demikian itulah iman mereka kepada Allah (iman kepada rububiyyah Allah), sedangkan mereka menyembah selain daripada Allah (syirik dalam uluhiyyah Allah).”

(Komen Dr Asmadi: Sekali lagi, penjawab terpaksa memasukkan dalam kurungan perkataan ‘rububiah’ dan ‘uluhiah’ bagi membawa kefahaman pembaca kepada kefahamannya. Saya syorkan pembaca membaca terjemahan ini sekali lagi tanpa perkataan dalam kurungan.

Firman Allah yang bermaksud: “Dan kebanyakan mereka tidaklah beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mensyirikkanNya.” (Yusuf: 106).

Kata ‘Ikrimah R.A. (sahabat Nabi S.A.W.): “Kamu bertanya kepada mereka (orang-orang musyrik): Siapa yang menciptakan mereka? siapa yang menciptakan langit dan bumi? Pasti mereka akan menjawab: Allah. Demikian itulah iman mereka kepada Allah, sedangkan mereka menyembah selain daripada Allah.”

Nilai sendiri, adakah ada tauhid rububiah dan tauhid uluhiah? Sedangkan ayat Surah Yusof itu jelas mengatakan mereka sebenarnya tidak beriman. Adakah Ikrimah RA kemudian mengatakan: ‘Orang-orang Musyrik hanya beriman dengan tauhid rububiah?

Ketiga: Ibn ‘Abbas R.A. berkata: “diantara keimanan mereka (orang-orang musyrik), apabila ditanya kepada mereka: siapa yang menciptakan langit, bumi dan gunung-ganang? Mereka akan menjawab: Allah. Sedangkan mereka mensyirikkan Allah (dalam uluhiyyahNya).”

(Komen Dr Asmadi: Baca terjemahan ayat ini tanpa perkataan dalam kurungan:

Ibn ‘Abbas R.A. berkata: “di antara keimanan mereka (orang-orang musyrik), apabila ditanya kepada mereka: siapa yang menciptakan langit, bumi dan gunung-ganang? Mereka akan menjawab: Allah. Sedangkan mereka mensyirikkan Allah.”

Buat penilaian sendiri. Ada ke Ibn Abbas sebut tauhid uluhiyyah?.

Keempat: Qatadah R.H. berkata: “Iman mereka ini, sesungguhnya kamu tidak berjumpa dengan salah seorang daripada mereka, melainkan dia memberitahu kepada kamu bahawa Allah adalah tuhannya (rabb), Dialah yang mencipta dan memberi rezeki kepadanya (rububiyyah), sedangkan dia melakukan syirik di dalam ibadah (uluhiyyah).”

(Komen Dr Asmadi: Baca sekali lagi tanpa ada tambahan dalam kurungan:

Qatadah R.H. berkata: “Iman mereka ini, sesungguhnya kamu tidak berjumpa dengan salah seorang daripada mereka, melainkan dia memberitahu kepada kamu bahawa Allah adalah tuhannya (rabb), Dialah yang mencipta dan memberi rezeki kepadanya, sedangkan dia melakukan syirik di dalam ibadah.”

Buat penilaian sendiri. Ada ke Qatadah sebut tauhid uluhiyyah?.

Kelima: Mujahid R.H. (meninggal tahun 103 H) seorang Tabi’ie yang masyhur berkata: “Keimanan mereka dengan perkataan mereka: “Allah yang menciptakan kami, memberi rezeki dan mematikan kami.” Ini adalah keimanan (rububiyyah) mereka yang beserta kesyirikan di dalam ibadah (uluhiyyah) kepada selain Allah.” (Lihat tafsir al-Imam Ibn Jarir al-Tobari (meninggal 310H), surah Yusuf ayat 106)

(Komen Dr Asmadi: Baca sekali lagi tanpa ada tambahan dalam kurungan:

Mujahid R.H. (meninggal tahun 103 H) seorang Tabi’ie yang masyhur berkata: “Keimanan mereka dengan perkataan mereka: “Allah yang menciptakan kami, memberi rezeki dan mematikan kami.” Ini adalah keimanan mereka yang beserta kesyirikan di dalam ibadah kepada selain Allah.”

Buat penilaian sendiri. Ada ke Mujahid sebut tauhid uluhiyyah? Jadi bukanlah Imam Ibn Jarir al-Tobari mengatakan demikian, cuma beliau menukilkan pandangan sahabat yang bukan juga mengatakan secara jelas ‘orang-orang musyrik adalah ahli tauhid rububiah, sebaliknya musyrik dalam golongan orang-orang yang tak beriman).

Dirasakan bukti-bukti ini sahaja sudah cukup menunjukkan pembahagian tauhid kepada Rububiyyah, Uluhiyyah dan asma’ wa sifat bukan dimulakan oleh Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah R.H. Sebaliknya ia telah diketahui di kalangan umat Islam yang awal bahkan di sisi para sahabat Nabi S.A.W.. Sebagai tambahan di bawah ini disebut beberapa rujukan lain dari para ulama secara ringkas:

1. Kitab al-Tauhid wa Ma’rifah Asma’ Allah azza wa jall wa sifatih ‘ala Ittifaq wa al-Tafarrud oleh al-Imam al-Hafidz Abi ‘Abdillah, Muhammad ibn Ishak ibn Yahya ibn Mundih yang meninggal pada tahun 395 Hijrah. (Jilid 1: halaman 61-116, jilid 2: halaman 14-208, jilid 3: halaman 7 hingga penghujung kitab )

2. Lihat juga perkataan al-Imam al-Qadhi Abi Yusuf Ya’qub ibn Ibrahim ibn Habib al-Kufi, murid dan sahabat kepada al-Imam Abu Hanifah (pemuka Mazhab Hanafi). Beliau meninggal pada tahun 182 Hijrah. Perkataannya telah dinukilkan oleh al-Imam al-Hafidz Abi ‘Abdillah, Muhammad ibn Ishak ibn Yahya ibn Mundih (meninggal tahun 395H) di dalam kitabnya al-Tauhid wa Ma’rifah Asma’ Allah azza wa jall wa sifatih ‘ala Ittifaq wa al-Tafarrud, jilid 3: halaman 304-306.

3. Kitab al-Fiqh al-Absat, oleh al-Imam Abu Hanifah, al-Nu’man ibn Thabith yang meninggal pada tahun 150 Hijrah, halaman 51. Ketika beliau menyebut: “Dan Allah itu diseru dari atas bukan dari bawah (isyarat kepada tauhid al-Asma’ wa al-Sifat), kerana bawah bukan daripada al-Rububiyyah dan al-Uluhiyyah sesuatupun.”

(Komen Dr Asmadi: Kena semak keseluruhan kitab-kitab ini adakah mentafsirkan sebagaimana Tauhid 3 serangkai ibn Taimiyyah. Mengikut maklumat sahabat saya yang biasa membelek kitab Imam Abu Hanifah: Fiqh al-Absat (sahabat ini sedang menyelia tesis PhD pelajarnya yg menggunakan kitab ini), kitab ini menjadi asas kepada aliran Maturidi oleh Imam Abu Mansur al-Maturidi kerana beliau seorang yang bermazhab Hanafi. Kalau betul maklumat ini nanti (saya minta beliau menyemak), sekali lagi pembaca tertipu dengan nama-nama kitab ulama Salaf yang dikatakan seolah-olah menyokong Ibn Taimiyyah).

Agama melarang taklid buta

Al-Quran dan al-Sunnah melarang kita tertaklid membuta tuli kepada sesiapapun melainkan kepada Nabi S.A.W., samada Ibn Taimiyyah atau sesiapa sahaja, pandangan mereka perlu dirujuk kepada al-Quran dan al-Sunnah, diambil apa yang bertepatan dengan dua rujukan ini dan ditinggalkan yang lainnya. Untuk mengenal pasti pendapat yang lebih bertepatan dengan al-Quran dan al-Sunnah, pemahaman para sahabat dan para ulama generasi awal islam perlu dirujuk. Maka individu-individu yang memakai gelaran agama seperti ustaz, panel penyelidik dan seumpamanya perlulah merajinkan diri mengkaji dan memahami setiap persoalan yang hendak dibicarakan, sebelum berani membuat sesuatu kesimpulan. Sikap malas dan ‘taklid buta’ perlu dijauhi, jika tidak, ada baiknya kita mendiamkan diri sahaja, agar kebodohan dan malas diri sendiri tidak diketahui ramai dan menyusahkan orang lain.

(Komen Dr Asmadi: Betul, tidak boleh taklid buta pada persoalan akidah. Sebab itu saya mengharap, ada hadis-hadis yang jelas berkaitan dengan pembahagian ini dan keyakinan-keyakinan di dalamnya. Contohnya ada dalil jelas yang mengatakan orang-orang musyrik beriman dengan ‘iman rububiah’ tetapi tidak beriman dengan iman ‘uluhiah’. Malangnya, tidak ada pun dalil yang benar-benar menyebut perkara itu secara jelas. Orang-orang awam yang tidak mampu membaca kitab-kitab Arab tersebut akan mudah tertipu dengan hujah-hujah tersebut.

Kalau mengikut metode pandangan ini, persoalan berzikir, berdoa berkumpulan adalah bidaah yang sesat sebab tiada dalil ’sahih’ dan qat’ie mengenainya walaupun al-Quran dan sunnah sarat dengan saranan suruh berdoa dan berzikir. Bagaimana pula boleh diterima penghuraian akidah 3 serangkai itu, tanpa dalil-dalil sahih dari al-sunnah sendiri? Celarukan dan tidak adil cara berfikir sedemikian? Hujah- hujah yang digunakan di atas pun, bukannya menyokong pandangan Ibn Taimiyyah!

Saya semakin yakin yang orang-orang yang bertaklid dengan Sheikh Ibn Taimiyyah tidak mempunyai dalil-dalil dari al-Quran dan hadis. Mereka terpaksa mengulang-ulang hujah Ibn Taimiyyah dan memasukkan perkataan ‘rububiah’ dan ‘uluhiah’ dalam kata-kata ulama silam!

Wallahu a’lam. Semoga kita baca ulasan ini dengan fikiran yang terbuka. Saya tidak mahu menuduh dangkal, cetek dan seumpamanya. Cuma saya masih tertunggu-tunggu hujah ’sahih’ dan nyata dari al-Quran dan al-Sunnah.

Epistemologi Ahlis-Sunnah Wal-Jama’ah dan Kepentingannya Dalam Pembinaan Tamadun


Epistemologi Ahlis-Sunnah Wal-Jama’ah dan Kepentingannya Dalam Pembinaan Tamadun

Pendahuluan

bullet

Yang dimaksudkan dengan “epistemology” atau faham ilmu, atau falsafah ilmu ialah teori tentang ilmu pengetahuan, keadaannya, dasar-dasarnya, batasan-batasannya, dan kesahihannya.
bullet

Yang dimaksudkan ilmu itu – antaranya pada al-Baqillani rh dalam at-Tamhidnya pada bahagian awalnya – ialah mengenali apa yang dimaklumi itu mengikut keadaan hakikatnya yang sebenarnya. (“ma’rifatul-ma’lum bima huwa bihi”).
bullet

Para ‘ulama usul al-din Ahlis-Sunnah mentarafkan peringkat mengenali itu sebagai peringkat tertinggi, iaitu mengenali apa yang diketahui dengan sebenarnya, dengan yakin berdasarkan kepada dalil. Ianya melebihi sangkaan yang kuat (zann), syak (sama banyak antara yang ya atau tidak), sangkaan yang lemah (waham), kejahilan semata (al-jahl), dan jahil yang bersusun (jahil al-murakkab), iaitu tidak disedari iaya jahil, disangkanya dirinya mengetahui sebenarnya. Ianya mesti dengan dalil dan yakin; tanpa dalil dan yakin tidak dipanggil ilmu atau ma’rifah.
bullet

Yang dimaksudkan Ahlis-Sunnah wal-Jamaah ialah ajaran dan amalan yang berasal daripada Nabi s.a.w. dan para Sahabatnya sebagaimana yang ternyata daripada hadith yang menyebut umat Islam akan berpecah kepada 73 golongan, yang selamat hanya satu, iaitu mereka yang dipanggil sebagai jemaah yang selamat dan benar, yang berpegang kepada dasar hidup nabi dan para Sahabatnya, mereka itulah Ahlis-Sunnah wal-Jamaah.
bullet

Dasar dan amalan inilah yang kemudiannya berkembang di kalangan para ulama Ahlis-Sunnah dalam pelbagai disiplin ilmu, yang dihuraikan oleh tokoh-tokoh dalam bidang tafsir Quran, qiraat, hadith dan cawangan-cawangannya, usul al-din, fiqh, usul al-fiqh, akhlak dan tasawwuf, termasuk falsafahnya, demikian seterusnya dengan pelbagai cawangan dan disiplin ilmu, antaranya sebagaimana yang dihuraikan dalam “al-Muqaddimah” oleh ‘Abd al-Rahman ibn Khaldun rh antara lainnya. (c.f. Osman Bakar, The Classification of Knowledge).
bullet

‘Abd al-Qahir al-Baghdadi rh membahagikan Ahlis-Sunnah wal-Jamaah dalam bahagian yang kemudian dalam kitabnya al-Farq bainal-Firaq kepada beberapa bahagian mengikut disiplin ilmu dalam epistemologi Ahlis-Sunnah wal-jamaah seperti: ilmu al-kalam atau usul al-din, ilmu tafsir Quran dan qiraat, ilmu hadith dan cawangan-cawangannya, ilmu fiqh dan ahli-ahlinya (termasuk usul al-fiqhnya), ilmu sastera dan nahu sarafnya, ilmu lughahnya, ilmu tasawwuf dan para ahlinya. Termasuk ke dalam golongan mereka itu orang awam yang mengikut panduan ulama Ahlis-Sunnah wal-jamaah dan juga mereka yang menjaga sempadan negeri-negeri Ahlis-Sunnah wal-Jamaah.

Cawangan-Cawangan Ilmu Ahlis-Sunnah Dan Ciri-Cirinya:

1. Ilmu Tafsir:

bullet

Berdasarkan kepada panduan-panduan ayat-ayat Quran
bullet

Panduan hadith-hadith
bullet

Huraian-huraian para ulama Ahlis-Sunnah yang muktabar dalam bidangnya seperti al-Baidawi, al-Nasafi, al-Jalalain, al-Khazin, al-Baghwi, Fakhrul-razi dan seterusnya; sampailah kepada para mufassirin zaman kemudian.

2. Ilmu Hadith:

bullet

Berdasarkan ilmu-ilmu hadith oleh para imam yang diakui seperti para pengumpul “kutub sittah” dan lainnya dan para pensyarah kitab-kitab mereka.
bullet

Huraian para ulama tentang mustalah al-hadith.
bullet

Huraian para ulama tentang “al-jarh wa ta’dil“.
bullet

Huraian para ulama tentang sejarah perkembangan hadith.

3. Ilmu usul al-din:

bullet

Berdasarkan kepada Quran, Sunnah, dan ijma’.
bullet

Berdasarkan kepada huraian para ulama Ahlis-Sunnah yang muktabar dalam bidang ini seperti Imam Abul-Hasan al-Ash’ari, al-Maturidi, al-Baghdadi, al-Baqillani, al-Nasafi, dan seterusnya dalam memberi huraian tentang Tuhan, para nabi, malaikat, kitab samawi, akhirat, dan qadha dan qadar.
bullet

Juga berdasarkan kepada huraian mereka yang menolak Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, Murji’ah, Khawarij, Batiniah, dan Syiah atau Rafidah.
bullet

Semuanya perlu diketahui dengan jelas dan simpati supaya akidah Ahlis-Sunnah dijadikan pegangan dan dihayati dan yang lain-lain dijadikan sempadan dan ditolak, samaada dalam bentuk lama atau baharu, klasik atau moden.
bullet

Yang moden yang perlu difahami dan ditolak seperti materialisme, sekularisme, dekonstruksinisme, pasca-modernisme dan seterusnya, iaitu mana-mana yang berlawanan dengan ciri-ciri pegangan Ahlis-Sunnah wal-jama’ah.
bullet

Mana-mana tulisan moden yang boleh membantu dalam memahami akidah ini boleh dimanafaatkan seperti tulisan-tulisan Dr. Zandani, juga pemikir-pemikir Barat seperti Fritjof Chapra antaranya dengan The Tao of Physicsnya antara lainnya.
bullet

Tulisan Dr. Iqbal seperti The Reconstruction of Religious Thought in Islam juga perlu difahami dengan jelas dan penuh simpati serta manafaat daripadanya perlu didapati, walaupun mungkin dalam beberapa perkara tentang pemikirannya kita berbeza dengannya.
bullet

Cabaran-cabaran terhadap pemikiran dan akidah Ahlis-Sunnah dalam penulisan semasa – termasuk apa yang ada dalam internet – perlu diberi respons yang tepat oleh para ulama dan sarjana Muslim dengan kerjasama mereka yang berwenang.
bullet

Nusantara atau Dunia Melayu Muslim mesti dikekalkan akidah Ahlis-Sunnah wal-jamaahnya dengan ciri-cirinya demi untuk menjaga kesahihan akidahnya dan juga kestabilan intelektuil dan rohaninya sebagai asas yang kukuh bagi pembinaan tamadun dan budaya di rantau ini (selain daripada mengambil kira dan memanafaatkan perkembangan-perkembangan terbaharu dalam ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk ICT).
bullet

Perlu dihadapi dengan cara berkesan fenomena pihak-pihak yang tertarik dengan pemikiran Syiah sehingga dianggap perlu menggantikan pemikiran dan akidah Ahlis-Sunnah di Dunia Melayu.
bullet

Juga perlu dihadapi dengan berkesan fenomena Kristianisasi dan yang sepertinya.

4. Ilmu Fiqh:

bullet

Ilmu berkenaan dengan detail-detail hukum Syara’ dalam Islam berdasarkan kepada Quran, Sunnah, Ijma’ mereka yang muktabar, dan Qias mereka yang berwenang. Juga istihsan, istislah, istishab dan seterusnya.
bullet

Berdasarkan kepada mazhab-mazhab yang diakui dalam Ahlis-Sunnah wal-Jamaah, dan kalau di Nusantara mazhab Imam Syafi’I rd dengan tambahan-tambahan dalam bentuk fatwa-fatwa dan keputusan-keputusan baharu yang diperlukan berdasarkan kepada kaedah-kaedah mazhab yang diakui.
bullet

Ini demi untuk menjaga kesahihan dalam perkembangan dan pengamalan hukum serta keseragaman dalam perlaksanaan hukum dan kesenangan dalam menguruskan kehidupan kolektif umat di rantau ini.
bullet

Perlu dihadapi fenomena pemikiran dan pemahaman tentang hukum yang terbebas daripada mazhab yang muktabar (aliran “al-lamadhhabiyyah”) kononnya kerana hendak “kembali kepada Quran dan Sunnah” sahaja, atau kerana “hendak menghapuskan sarang labah-labah yang berabad-abad itu” (the web of the centuries) dan sebagainya.
bullet

Perlu dihadapi fenomena memberi fatwa atau pendapat secara tidak mengikut adab dan ketertiban sebagaimana yang dihuraikan oleh para ulama muktabar tentang fatwa dan membuat keputusan hukum (‘istinbat’), mengeluarkan pendapat sendiri-sendiri, atau mengikut apa yang dipanggil sebagai ulama “haraki” dan ditolaknya yang “tidak haraki” sampai terjejas ciri-ciri sahih keputusan hukum dalam Ahlis-Sunnah wal-jamaah (c.f. teguran al-Hudaibi terhadap almarhum Maududi dalam hubungan dengan istilahnya yang empat yang menyalahi ijma’ Ahlis-Sunnah wal-jamaah; demikian pula teguran yang dibuat dalam hubungan dengan pemikiran almarhum Syed Qutb rh dengan penuh penghormatan kita kepada beliau yang sangat banyak berjasa itu).
bullet

Perlu dihadapi fenomena yang bercanggah dengan dasar “bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak mengetahui” yang tertingginya merujuk kepada para mujtahidin sebenarnya;
bullet

Juga fenomena yang bercanggah dengan pengajaran dalam hadith:

الدين النصيحة…لأئمة المسلمين…

Keceriaan yang murni dan sungguh-sungguh dalam hubungan dengan para ulama dan para pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat sekaligus dengan mengamalkan adab-adab dan cara-cara berinteraksi dengan mereka sebagaimana yang ada dalam teks-teks Ahlis-Sunnah wal-jamaah.

5. Ilmu Akhlak dan Tasawwuf:

bullet

Keperluan kepada usaha merujuk dan mengambil panduan daripada sistem ilmu tasawwuf yang muktabar sebagaimana yang ada dalam Ahlis-Sunnah wal-jamaah seperti Imam al-Ghazali rd dan al-Qushairi rh serta al-Junaid al-Baghdadi rh dan lainnya serta teks-teks mereka dan perjalanan hidup mereka.
bullet

Keperluan mengelak daripada ciri-ciri yang tidak wajar dalam kefahaman sufiah dan amalan-amalannya, apa lagi yang bercanggah dengan hukum Syara’ dan ciri-ciri Batiniah yang sesat dan menyesatkan yang muncul atas nama tasawwuf atau ilmu hakikat yang palsu dan juga keperluan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul berkaitan dengannya.
bullet

Keperluan mengembalikan umat kepada “makarim al-akhlak” dengan pemusatan kepada sifat-sifat yang mulia dan utama serta mengikis sifat-sifat yang sebaliknya melalui ilmu pengetahuan yang berkenaan dan latihan-latihan akhlak dan adab amaliah dalam kehidupan harian.
bullet

Keperluan untuk menghalang dengan pelbagai cara yang mungkin melalui undang-undang, pendidikan, dan kawalan masyarakat, serta media peribadi-peribadi yang sesat daripada menyesatkan orang ramai melalui dakwaan-dakwaan palsu tentang kemampuan memberi kepimpinan rohaniah yang tinggi.

Beberapa Segi Epistemologi Sunni:

Antaranya ini boleh dilihat pada bab kelima al-Farq Bainal-Firaq: antara dasar-dasar atau “usul”nya ialah:

Rukun Yang Pertama

bullet

Yang disepakati di kalangan mereka rukun pertamanya mengithbatkan hakikat-hakikat dan ilmu-ilmu yang mereka ijma’kan tetapnya ilmu-ilmu itu dengan makna-makna yang ada pada para ulama dan dianggap sesat mereka yang menafikan ilmu dan lain-lain sifat (a’rad) seperti yang berlaku pada golongan “Sophists” (ini boleh terkena pada pemikiran pascamodernisme) yang menafikan ilmu dan hakikat-hakikat benda-benda yang ada. Demikian pula sesatnya mereka yang menganggap semua pegangan dan kepercayaan sebagai sah walaupun yang saling berlawanan dan bercanggahan.
bullet

Ulama ahli Sunnah membahagikan ilmu manusia kepada yang bersifat badihiah, yang hissi, dan istidlali – mereka yang menafikan ilmu yang bersifat badihi dan hissi – melalui pengamatan pancaindera – sebagai golongan degil.
bullet

Mereka yang menafikan ilmu dari tilikan akal (al-nazar) dan istidlali (dengan mengambil dalil pemikiran), kalau ianya seperti golongan Sumniyah yang mengingkari penilikan akal dalam ilmu akliah ia kafir mulhid, seperti golongan dahriah atau materialist, yang berpegang kepada sediakalanya alam, penafian adanya Tuhan Pencipta alam, berserta dengan fahaman membatalkan semua agama-agama (dan ini juga menyentuh pemikiran pascamodernisme sekarang).
bullet

Kalau orang demikian berpegang kepada tilikan akal dalam ilmu akliah dan menolak kias dalam cawangan hukum Syara’ seperti mazhab Zahiriah, itu tidak membawa kepada kekufuran.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan pancaindera yang mengesani perkara-perkara zahir yang boleh dikesani olehnya (al-mahsusat) ialah pemandangan mata bagi mengesani apa yang boleh dilihat, perasa yang mengesani seperti rasa makanan, penciuman bagi mengesani bau, sentuhan bagi mengesani panas dan sejuk, basah dan kering, sifat lembut dan kasar.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan apa-apa yang dicapai melalui pancaindera ini berupa sebagai makna-makna (al-ma’ani) yang berdiri dengan alat-alat pancaindera itu. (Ilmu yang berpunca daripada pengesanan melalui pancaindera dan tilikan akal boleh diperpanjangkan dengan perlaksanaan kaedah saintifik, penyelidikan, dan pemikiran serta rumusan ilmu pengetahuan dan alat-alat kelengkapan yang diperlukan zaman sekarang sampailah kepada ICT dan seterusnya).
bullet

Mereka mengajarkan bahawa khabar berita yang mutawatir – yang sampai melalui punca yang terlalu banyak yang tidak memungkinkan salahnya – adalah jalan ilmu yang daruri – tidak boleh tidak – yang sah bila cukup syarat-syaratnya pada mereka. Termasuk ke dalam contoh ini ialah pengetahun kita tentang para nabi dan raja-raja sebelum kita dalam sejarah. Adapun sahnya penegasan tentang pangkat kenabian para anbiya itu maka itu sah melalui hujah-hujah nazariah atau tilikan akal. Maka dikirakan kafir mereka yang mengingkari ilmu dari kaedah atau jalan riwayat mutawatir.
bullet

Mereka memperincikan ciri-ciri riwayat yang mutawatir, yang mustafid, dan yang bersifat ahad, yang terakhir dengan periwayat seorang atau terlalu sedikit.
bullet

Berita ahad pada Ahlis-Sunnah bila sahih sandarannya dan matannya tidak mustahil pada akal, maka mesti diamalkan ajarannya. Dengan kaedah ini para ulama fiqh mensabitkan kebanyakan hukum Syariat dalam ibadat, mu’amalat, dan lain-lain bab haram dan halal.
bullet

Mereka menganggap sesat golongan-golongan yang menggugurkan wajib beramal dengan riwayat ahad seperti golongan Syiah Rafidah, Khawarij, dan lain-lain golongan yang mengikut hawa nafsu mereka.
bullet

Khabar mustafid adalah di tengah-tengah antara mutawatir dan ahad – mesti berilmu dengannya dan mesti beramal dengannya. Termasuk di bawah kaedah ini ialah ilmu tentang beberapa ma’jizat Nabi s.a.w. seperti terbelah bulan, bertasbihnya anak batu, meratapnya pelepah tamar, cukupnya makanan sedikit bagi orang ramai dan seterusnya.
bullet

Khabar mustafid banyak terdapat dalam hukum Syara’ seperti nisab zakat, had khamar, ilmu tentang menyapu dua kasut panjang, hukum rejam, dan yang sepertinya yang disepakati ulama fiqh tentang penerimaan terhadapnya; dianggap sesat mereka yang menyalahi mereka dalam hal ini seperti golongan Khawarij, yang mengingkari rejam.
bullet

Dan dikirakan kafir mereka yang mengingkari ru’ya atau memandang Allah di Syurga, Kolam nabi di akhirat, syafa’ah dan azab kubur.
bullet

Sabitnya Quran, zahirnya, dan mu’jizatnya yang menyebabkan ianya tidak boleh ditentang itu melalui riwayat mutawatir yang menjadikannya ilmu daruri.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Allah mentaklifkan para hambaNya mencapai ma’rifat terhadapNya, dan mereka diwajibkan tentangnya, juga mereka disuruh berma’rifat dalam hubungan dengan RasulNya, dan KitabNya, serta beramal dengan apa yang ditunjukkan oleh Kitab dan Sunnah nabiNya.
bullet

Dianggap kafir mereka yang menegaskan bahawa Allah tidak menyuruh ma’rifat seseorang itu, seperti yang diperpegangi oleh Thumamah, dan al-Jahiz, dan segolongan daripada Syiah Rafidah.
bullet

Mereka bersepakat bahawa usul Hukum Syariat ialah Quran, Sunnah, dan Ijma’ golongan Salaf.
bullet

Mereka anggap kafir pihak yang menegaskan – seperti golongan Syiah Rafidah – bahawa tidak ada hujah sekarang ini pada Quran dan Sunnah kerana pada dakwaan mereka para Sahabat telah mengubah sebahagian dari Quran itu dan melakukan “tahrif” pada setengah daripadanya.
bullet

Mereka anggap kafir golongan Khawarij yang menolak semua hadith-hadith Sunan yang dinukilkan oleh para periwayatnya oleh kerana mereka mengatakan para penukil hadith itu – termasuk Sahabat – menjadi kafir.
bullet

Mereka menganggap kafir al-Nazzam yang menolak hujah ijma’ dan hujah mutawatir, dan yang berpegang kepada harus berlakunya persepakatan umat Islam atas kesesatan dan kemungkinan berlaku pembohongan di kalangan mereka yang terlibat dalam riwayat yang mutawatir.

Tentang Rukun Yang Kedua.

bullet

Tentang baharunya alam ini, yang mereka sepakati ialah alam itu ialah sekelian yang selain dari Allah.
bullet

Maka sekelian yang lain dari Allah dan sifat-sifatNya yang azali adalah makhluk yang diciptakanNya.
bullet

Pencipta alam bukan makhluk, bukan dicipta, bukan dari jenis alam, bukan dari jenis sesuatu bahagian atau juzu’ alam.
bullet

Mereka bersepakat alam ini terdiri dari zat dan sifat (jauhar dan ‘arad).
bullet

Mereka mengajarkan tiap jauhar – iaitu atom – tidak boleh dibahagi (Sekarang ini ianya boleh dibahagi- proton, neutron, dan sebagainya, dengan entiti-entiti baharu seperti “quarks” dan seterusnya dalam fizik quantum).
bullet

Mereka mengajarkan adanya para malaikat, jin, dan syaitan-syaitan daripada makhluk-makhluk dalam alam.
bullet

Mereka aggapkan kafir mereka yang mengingkari ini semua seperti golongan ahli falsafah dan puak Batiniah.
bullet

Mereka menganggapkan sesat golongan yang mengajarkan fahaman serba-dua (al-thanawiyah) iaitu jisim terdiri daripada nur atau cahaya, dan zulmah atau kegelapan; yang baik daripada nur, yang jahat daripada zulmah.
bullet

Mereka bersepakat tentang baharunya ‘arad pada semua jisim-jisim, dan mereka menganggap tiap-tiap ‘arad itu baharu pada tempatnya ‘arad itu tidak berdiri sendirinya.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat tentang fananya seluruh alam ini dan mereka mengajarkan kekalnya syurga dan neraka, syurga dengan ni’matnya dan neraka dengan azabnya melalui jalan Syara’.
bullet

Mereka menganggap kafir golongan Jahmiah yang mengajarkan syurga dan neraka itu binasa.
bullet

Mereka menganggap kafir Abul-Hudhail yang berpendapat akan terputusnya ni’mat syurga dan azab neraka;

Rukun Ketiga Berkenaan Dengan Pencipta Alam.

bullet

Semua peristiwa yang berlaku mesti ada yang melakukannya dan yang menjadikannya.
bullet

Ahlis-Sunnah menganggap kafir Thumamah dan pengikutnya dari golongan Qadariah yang mengajarkan bahawa perbuatan-perbuatan itu timbul sendiri – al-mutawallidah – tanpa pembuatnya. Mereka mengajarkan Pencipta alam hanya menjadikan jisim-jism dan ‘arad sahaja, bukan perbuatan-perbuatan.
bullet

Mereka menganggap kafir Ma’mar dan para pengikutnya dari golongan Qadariah yang mengajarkan Allah tidak menciptakan sesuatupun daripada ‘arad-‘arad yakni sifat-sifat yang ada pada jisim-jisim. Ia hanya menjadikan jisim-jisim sahaja. Jisim-jisimlah yang menjadikan ‘arad-‘arad sendirinya.
bullet

Golongan pelampau atau ghulat dari kalangan Syiah Rafidah mengajarkan bahawa ‘Ali adalah jauhar makhluk, yang baharu dijadikan, kemudian ia menjadi Tuhan Pencipta Alam dengan meresap masuk – hulul – roh Tuhan ke dalamnya. Mereka ini mengajarkan Tuhan tidak ada kesudahan dan hadNya.
bullet

Hasyim bin Hakam al-Rafidi mengajarkan Tuhan yang disembahnya tujuh jengkal dengan jengkalnya sendiri.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan mustahil Tuhan itu ada rupa bentuk dan anggota, khilaf bagi golongan ghulat Rafidah dan para pengikut Daud al-Hawari yang mengajarkan bahawa Tuhan ada, mempunyai rupa bentuk seperti rupa manusia.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat mengajarkan bahawa Tuhan tidak dikandung ruang atau tempat, dan tidak berlalu atasNya perjalanan masa; ini berlawanan dengan pegangan kaum Syihamiyah dan Karramiyah yang mengajarkan bahawa Tuhan bersentuh dengan ‘Arasy.
bullet

Dinukilkan oleh Ahlis-Sunnah bahawa baginda ‘Ali rd menyataan bahawa Allah menjadikan ‘Arasy bagi menzahirkan QudratNya, bukan bagi menjadi tempat untuk ZatNya (izharan li-Qudratihi la makanan li Dhatihi). Katanya lagi: Telah ada Ia dan tiada tempat (bagiNya), dan Ia sekarang sebagaimana telah adaNya dahulu.
bullet

Ahlis-Sunnah menafikan adanya kecelaan, kesahan, dan kesakitan pada Tuhan. Mereka menafikan gerak dan diam padaNya. Ini berlawanan dengan Syiah Rafidah yang mengajarkan bahawa tempatNya baharu menjadi daripada gerakNya.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Allah Maha Kaya tidak memerlukan pertolongan makhlukNya, dan Ia tidak mendapat manafaat daripada makhlukNya untuk DiriNya, dan Ia tidak menolak kemudaratan dariNya melalui makhlukNya. Ini berlawanan dengan dakwaan para Majusi yang mengajarkan bahawa Allah menjadikan para malaikat untuk menolak kesakitan daripada Syaitan terhadapNya.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Pencipta Alam adalah Esa. Ini berlawanan dengan Majusi yang mengajarkan ada dua yang kadim, iaitu Nur dan Zulmah.
bullet

Ini juga berlawanan dengan Rafidah yang mengajarkan bahawa Allah menyerahkan tadbiran alam kepada ‘Ali, ialah Pencipta Yang Kedua (al-Khaliq al-Thani).

Berkenaan Dengan Rukun Yang Keempat.

bullet

Berkenaan Dengan Sifat-Sifat Allah: IlmuNya, QudratNya, HayatNya, IradatNya, Sama’Nya, BasarNya, dan KalamNya, yang semuanya Sifat-Sifat Yang Azali dan Kekal.
bullet

Mu’tazilah menafikan semua Sifat-Sifat Azali bagi Allah: mereka mengajarkan tidak ada bagi Allah sifat Qudrat, Ilmu, Hayat, Basar, dan tidak ada PencapaianNya bagi semua yang boleh didengar.Mereka mensabitkan bagiNya kalam yang baharu.
bullet

Kata Ahlis-Sunnah: menafikan sifat bermakna menafikan apa yang disifatkan, sebagaimana menafikan perbuatan bermakna menafikan pembuat.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat Kuasa Allah berlaku atas semua yang ditakdirkan, dengan QudratNya yang satu. Dengan Qudrat yang satu berlaku semua yang ditakdirkan.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Ilmu Allah adalah satu dengan Ilmu itulah Ia mengetahui semua maklumat secara terperinci tanpa pancaindera, cara badihiah, dan mengambil dalil.
bullet

Kaum Rafidah di kalangan Syiah mengajarkan Allah tidak mengetahui sesuatu sebelum jadinya.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Sifat Basar dan Sama’ Allah meliputi semua yang boleh dilihat dan didengar dan Allah berterusan melihat DiriNya dan Mendengar KalamNya.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Allah boleh dilihat oleh orang mukmin di akhirat. Mereka berpendapat harus melihatNya dalam tiap-tiap hal dan bagi tiap-tiap yang hidup melalui jalan akal. Dari mereka mengajarkan wajib orang mu’min melihatnya secara khusus di akhirat melalui jalan khabar dalam nas. Ini berlawanan dengan pendapat Qadariah dan Jahmiyah yang mengajarkan mustahil Ianya boleh dilihat.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat bahawa Kehendak Allah – Iradat dan Masyi’ahNya – tertakluk atas segala perkara.
bullet

Mereka mengajarkan bahawa tidak ada yang berlaku dalam alam melainkan dengan KehendakNya, apa yang dikehendakiNya jadi, apa yang tidak dikehendakiNya, tidak menjadi.
bullet

Golongan Qadariah Basrah berpendapat ada Allah kehendaki apa yang tidak menjadi, dan ada yang menjadi apa yang tidak dikehendakiNya.
bullet

Ahlis-Sunnah bersepakat Hayat Tuhan tanpa roh dan makanan; dan semua arwah adalah makhluk. Ini berlawanan dengan Nasrani yang mendakwa sediakalanya bapa, anak dan roh (dalam tiga oknum mereka).
bullet

Mereka bersepakat bahawa kalamullah adalah SifatNya yang azali, dan itu bukan makhluk, bukan baharu.

Rukun Yang Kelima Berkenaan Dengan Nama-Nama Allah.

bullet

Nama-Nama Allah pada Ahlis-Sunnah adalah perkara tauqif, iaitu samaada ianya diambil daripada al-Quran atau Sunnah yang sahih atau ijma’ umat tentangnya; tidak dibolehkan qias tentangnya.
bullet

Berlawanan dengan pihak seperti Mu’tazilah Basrah yang membolehkan qias. Al-Jubba’I misalnya menyesatkan bila ia memberi nama Muti’ (yang taat) kepada Allah melalui jalan qias kerana katanya Allah memberi kehendak hambaNya.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan tentang adanya Sunnah yang menyebut nama Tuhyan sebanyak sembilan puluh sembilan, dan sesiapa yang membilang-bilangnya masuk syurga. Maksudnya bukan hanya menyebut dan membilang tetapi mempunyai ilmu tentangnya dan beriktikad tentang makna-maknanya.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa Nama-Nama Tuhan ada tiga bahagian: sebahagian yang menunjukkan ZatNya, seperti al-Wahid (Yang Esa), al-Ghani (Yang Maha Kaya), al-Awwal (Yang Kadim tanpa permulaan), al-Akhir (Yang Kekal tanpa kesudahan), al-Jalil (Yang Maha Hebat), al-Jamil (Yang Maha Indah), dan lain-lain yang Ia berhak bersifat dengannya.
bullet

Sebahagian lagi yang memaksudkan Sifat-SifatNya yang azali yang bersekali dengan ZatNya seperti al-Hayy (Yang Maha Hidup), al-Qadir (Yang Maha Berkuasa), al-‘Alim (YangMaha Mengetahui), al-Murid (Yang Maha Berkehendak), as-Sami’ (Yang Maha Mendengar), al-Basir (Yang Maha Melihat), dan lain-lain Nama daripada Sifat-Sifat Yang berdiri dengan ZatNya.
bullet

Sebahagian lagi Nama-Nama yang timbul daripada perbuatan-perbuatanNya seperti al-Khaliq (Yang menjadikan alam), ar-Razig (Yang Maha Mengurnia rezeki), al-‘Adil (Yang Maha Adil), dan yang sepertinya.
bullet

Bagi golongan pascamodernis yang menolah naratif agung- akidah seperti ini dalam agama – dan golongan materialis, ini semua tertolak sebagai bahan-bahan tanpa makna yang tidak perlu diambil kira. Ini perlu diberi respons dan perlu dihadapi dengan berkesan).

Tentang Rukun Yang Keenam.

bullet

Tentang Keadilan Ilahi dan Hikmat KebijaksanaanNya. Mereka mengajarkan bahawa Allah menjadikan jisim-jisim dan ‘arad-arad yang baiknya dan yang buruknya semua sekali (kalau sekarang boleh dikatakan Ia menjadikan semua atom-atom, neutron-neutron, proton, elektron, quark-quark, serta lain-lainnya seperti yang ada ini semua, samaada dalam bentuk gelombang atau zarrah, dengan sifat-sifatnya semua sekali).
bullet

Bahawa Allah menjadikan usaha para hambaNya, tidak ada yang menjadikannya selain daripada Allah. Ini berlawanan dengan golongan Qadariah yang menegaskan Allah tidak menjadikan sesuatupun daripada usaha para hambaNya, dan berlawanan dengan golongan Jahmiyah yang mengajarkan bahawa hamba tidak melakukan usaha dan tidak berkuasa atas usaha mereka.
bullet

Pada Ahlis-Sunnah sesiapa yang berpegang kepada ajaran bahawa para hamba menjadikan usaha mereka, ia Qadariyah, syirik dengan Tuhannya, kerana mendakwa para hamba menjadikan seperti Tuhan mennjadikan ‘arad-‘arad seperti gerak-gerak dan diam dalam ilmu dan iradat, kata-kata dan suara.
bullet

Dan – mereka mengajarkan – sesiapa yang menegaskan bahawa hamba tidak ada upaya untuk berusaha, ia tidak melakukan amal, serta tidak melakukan usaha, maka ia Jabariyah. Sesiapa yang berpegang kepada ajaran bahawa hamba berusaha bagi amalnya dan Allah pencipta usahanya, maka ia Ahlis-Sunnah.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa hidayah adalah dari Allah dari dua segi: iaitu segi menerangkan yang benar dan menyeru kepadanya, serta membentangkan hujah-hujah dan dalil untuknya. Dari segi in maka sah dinisbahkan hidayah kepada para Rasul a.s.s dan da’I kepada agama Allah kerana mereka memberi panduan yang benar kepada Allah. Ini penafsiran terhadap ayat yang bermaksud “Sesungguhnya tuan hamba menyeru kepada Jalan Yang Lurus” (Surah al-Shura: ayat 52).
bullet

Segi keduanya: hidayah pertunjuk Allah terhadap para hambaNya dalam erti menjadikan bimbingan hidayat dalam hati para hamba sebagaimana yang ada dalam ayat yang bermaksud “Maka sesiapa yang Allah kehendaki untuk memberi hidayat kepadanya, ia membukakan dadanya bagi menerima agama Islam, dan sesiapa yang Ia kehendaki supaya dibiarkan dalam kesesatan Ia menjadikan dadanya sempit…” (Surah al-An’am: ayat 126). Hidayat dalam aspek ini hanya Allah sahaja yang berkuasa melakukannya.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa sesiapa yang mati maka itu kerana ajalnya, dan Allah Maha Kuasa untuk memanjangkan umurnya.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajar tentang rezeki iaitu sesiapa yang makan atau meminum sesuatu itu rezekinya, samaada halal atau haram, itu berlawanan dengan golongan Qadariah yang menegaskan bahawa manusia kadang-kadang makan apa yang bukan rezeki baginya.

Tentang Rukun Yang Ketujuh Berkenaan Dengan Kenabian dan Kerasulan.

bullet

Mereka mengajarkan hakikat adanya kenabian dan kerasulan serta mereka menegaskan kebenaran adanya para Rasul a.s.s yang diutuskan Allah kepada para hambaNya. Ini berlawanan dengan ajaran Brahminisme (juga golongan materialis dan pascamodernis) yang menafikan itu walaupun mereka percaya kepada Tuhan Yang menjadikan alam.
bullet

Ahlis-Sunnah membezakan antara Rasul dan Nabi. Nabi ialah setiap orang yang turun wahyu kepadanya dari Allah melalui malaikat dan ia diperkuatkan dengan mu’jizat-mu’jizat yang menyalahi adat. Rasul ia sesiapa yang bersifat dengan sifat-sifat tersebut serta dikhaskan baginya syariat yang baharu, ataupun atau ia datang memansukhkan sebahagian daripada syariat yang terdahulu daripadanya.
bullet

Ahlis-Sunnah menganggapkan kafir orang yang mengaku nabi samaada sebelum Islam seperti Zardasyt, dan Mazdak dan sebagainya, dan yang selepas Islam seperti Musailamah al-Kazzab, Sajah, dan seterusnya.
bullet

Ahlis-Sunnah menganggap kafir golongan yang menisbahkan kenabian bagi imam-imam atau mengaku mereka itu Tuhan seperti golongan al-Bayaniah, al-Mansuriah, al-Khattabiyah, dan yang menjalani perjalanan mereka. (Termasuk ke dalam kategori ini golongan-golongan sesat yang mengaku Tuhan dalam diri mereka, atau pemimpin mereka menerima wahyu daripada Jibril, atau pemimpin mereka mi’raj, bersemayam atas ‘Arasy dan seterusnya, termasuk juga mereka yang mengaku adanya imam-imam maksum).
bullet

Mereka mengajarkan: para Nabi a.s.s lebih afdhal daripada para malaikat yang berlawanan dengan pendapat al-Husain bin al-Fadl berserta dengan kebanyakan daripada golongan Qadariah yang mengajarkan malaikat lebih utama daripada para Rasul a.s.s.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa para Nabi lebih afdal daripada aulia, ini berlawanan dengan mereka yang berpendapat para aulia lebih afdal daripada anbia.
bullet

Mereka mengajarkan para nabi maksum iaitu bersih daripada dosa. Ini berlawanan dengan pegangan golongan Hisyamiah daripada firkah Syiah Rafidah yang berpegang kepada pendapat para nabi boleh berdosa tetapi mereka mengajarkan bahawa para imam itu maksum bersih daripada dosa.

Rukun Yang Kelapan, Tentang Mu’jizat Dan Karamah.

bullet

Mereka mengajarkan bahawa mu’jizat ialah perkara zahir yang menyalahi adat timbul pada seseorang nabi dalam menghadapi kaumnya dan kaumnya lemah untuk menghadapinya, dan ini membenarkan dakwaannya sebagai nabi; maka wajib ditaati nabi yang demikian.
bullet

Mereka mengajarkan harus zahirnya kekeramatan dari para aulia yang menunjukkan benarnya hal mereka itu.
bullet

Golongan Qadariah mengingkari adanya karmah aulia kerana mereka tidak mendapati orang yang mempunyai karamah dalam golongan mereka.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan Quran ada mu’jizatnya dalam bentuk susunannya; ini berlawanan dengan pendapat Qdariah, seperti an-Nazzam, yang menyatakan bahawa tidak ada mu’jizat dalam susunan sistem al-Quran.
bullet

Mereka mengajarkan ada mu’jizat Nabi Muhammad s.a.w. dalam bentuk terbelahnya bulan, bertasbihnya anak batu di tangannya, keluarnya air di celah-celah jarinya, memadainya makanan sedikit untuk orang yang sedemikian ramai, dan yang sepertinya. Golongan Qadariah seperti al-Nazzam mengingkari yang demikian itu.

Berkenaan Dengan Rukun Kesembilan Tentang Syariat Islam Dan Rukun-Rukunnya.

bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa Islam terdiri daripada lima rukun, iaitu syahadah, perlaksanaan sembahyang lima waktu, pembayaran zakat, puasa Ramadhan, dan ibadat haji ke Baitullahil-Haram.
bullet

Mereka mengajarkan sesiapa yang menggugurkan sesuatu rukun yang wajib daripada yang lima ini dan mentakwilkannya seperti yang dilakukan oleh golongan al-Mansuriah, dan al-Janahiah dari golongan ghulat Syiah Rafidah, maka ia kafir. (Ini sama seperti setengah golongan sesat yang menggugurkan wajib sembahyang kononnya kerana makam rohani yang tinggi yang dicapai oleh mereka).
bullet

Mereka mengajarkan sembahyang lima waktu, dan mereka menganggap kafir orang yang menggugurkan setengah daripadanya, seperti Musalamah al-Kazzab yang menggugurkan wajibnya sembahyang Subuh dan Maghrib; ia menggugurkannya itu sebagai mahar bagi perkahwinannya dengan isterinya Sajah yang juga mengaku nabi; maka ia menjadi kafir mulhid. (Ini sama dalam setengah perkara dengan golongan semasa yang mengajarkan sembahyang itu bukan lima waktu, dan caranya bukan seperti yang biasa diamalkan Ahlis-Sunnah, kerana golongan ini mahu berpegang kepada Quran sahaja mengikut tafsiran sendiri bukannya mengikut sistem ilmu atau epistemologi Sunni).
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan wajib sembahyang Jumaat dan mereka menganggap kafir golongan Khawarij dan Syiah Rafidah yang mengajarkan tidak ada sembahyang Jumuat sehingga zahir imam mereka yang mereka sedang nanti-nantikan. (Maka tidak benar ajaran yang membolehkan orang-orang bersuluk tidak sembahyang Jumaat dengan alasan bersuluk, kerana dikatakan penyakit hati yang memerlukan suluk lebih besar daripada penyakit badaniah yang membolehkan orang mukallaf meninggalkan sembahyang Jumaat).
bullet

Ahlis-Sunnah mewajibkan zakat emas dan perak, wang, lembu kerbau, biji-bijian, makanan utama seperti tamar dan seterusnya, dan sesiapa yang mengatakan tidak wajib zakat dalam perkara-perkara tersebut, ia menjadi kafiir. Dijauhkan Allah.
bullet

Mereka mengajarkan wajib puasa pada bulan Ramadhan bila masuk bulan Ramadhan dengan ru’yah.
bullet

Mereka anggapkan sesat Rafidah yang berpuasa sebelum kelihatan anak bulan sehari dan berbuka sehari sebelum dibolehkan berbuka.
bullet

Mereka mengajarkan wajib menunaikan haji sekali seumur hidup bila seseorang itu ada kemampuan melakukannya dan aman jalannya.
bullet

Mereka menganggap kafir golongan yang mengatakan tidak wajib ibadat haji seperti golongan Batiniah. Tetapi mereka tidak menganggap kafir pihak yang mengatakan umrah tidak wajib kerana ada khilaf antara imam-imam tentang wajibnya.
bullet

Mereka mengajarkan syarat-syarat sah sembahyang yang terdiri daripada menutup aurat, masuk waktunya, mengadap kiblat, setakat yang mungkin.
bullet

Sesiapa yang menggugurkan syarat-syarat ini atau sesuatu daripadanya walhal itu mungkin dilakukan maka ia kafir.
bullet

Mereka mengajarkan bahawa jihad menghadapi para seteru Islam adalah wajib sehingga mereka tunduk dalam Islam, atau menunaikan jizyah.
bullet

Mereka mengajarkan harus berjual beli dan haram riba.
bullet

Mereka menganggap sesat golongan yang mengharuskan riba kesemuanya.
bullet

Mereka mengharuskan nikah dan mengharamkan zina; mereka menganggapkan kafir golongan al-Mu’badiyah dan al-Mahmarah dan al-Khurramiyah yang mengharuskan zina. (Ini menyentuh golongan yang mengamalkan ‘nikah batin’ dalam kalangan golongan sesat yang mengajarkan ‘ilmu hakikat’).
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan wajib dilaksanakan hukum-hukum had atas zina, perbuatan meminum arak, mencuri, dan menuduh zina.
bullet

Mereka anggap kafir golongan yang mengatakan tidak wajib had kerana minum arak, dan hukum rejam kerana zina seperti golongan Khawarij.
bullet

Mereka mengajarkan bahawa punca-punca Syariah ialah al-Quran, Sunnah dan Ijma’ Salaf.
bullet

Mereka anggap kafir golongan Khawarij yang menolak hujah-hujah ijma’ dan sunah-sunah, juga mereka anggap kafir golongan Syiah Rafidah yang mengajarkan tidak ada hujah dalam semua perkara tersebut. Yang menjadi hujah hanya ajaran imam ghaib yang mereka sedang nanti-nantikan.

Rukun Yang Kesepuluh Suruh dan Tegah Dalam Syara’.

bullet

Mereka mengajarkan bahawa perbuatan orang-orang mukallaf terbahagi kepada lima bahagian, iaitu yang wajib, haram, sunat, makruh, dan harus. (Diikuti dengan definisi-definisinya).

Rukun Kesebelas Berkenaan Dengan Hilangnya Para hamba dan hukum mereka di Akhirat.

bullet

Mereka mengajarkan Allah berkuasa membinasakan seluruh alam dan membinasakan setengah jisim dan mengekalkan yang lainnya.
bullet

Mereka mengajarkan bahawa Allah akan mengembalikan semula hayat manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang mati di dunia, ini berlawanan dengan golongan yang mengatakan bahawa Allah menghidupkan semula manusia sahaja tidak yang lain-lainnya.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa Syurga dan Neraka adalah makhluk yang dijadikan, berlawanan dengan pendapat golongan yang mengatakan bahawa kedua-duanyua bukan makhluk.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa ni’mat Syurga kekal dan azab Neraka kekal atas ahli-ahlinya yang terdiri daripada mereka yang tidak membawa iman dan yang munafik. Ini berlawanan dengan pegangan mereka yang mengatakan bahawa Syurga dan Neraka tidak kekal, akan fana.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan yang kekal dalam neraka ialah mereka yang tidak membawa iman, berlawanan dengan pendapat Khawarij dan Qadariah yang mengajarkan kekal di dalamnya tiap-tiap orang yang masuk ke dalamnya.
bullet

Mereka mengajarkan golongan Qadariah dan Khawarij – yang telah dijelaskan sifat-sifatnya – kekal dalam Neraka. Dijauhkan Allah.
bullet

Mereka mengajarkan tetap ada soal dalam kubur dan ada fitnah dan azab di dalamnya bagi mereka yang berkenaan. Mereka memutuskan bahawa mereka yang mengingkari azab kubur akan diazabkan di dalamnya.
bullet

Mereka mengajarkan adanya Kolam Nabi, Sirat, dan Mizan.
bullet

Mereka mengajarkan adanya syafaat dari Nabi s.a.w. dan daripada mereka yang salih dari umatnya bagi mereka yang berdosa di kalangan Muslimin dan orang yang ada sebesar zarah iman dalam kalbunya. Mereka yang mengingkari syafaat tidak akan mendapat syafaat.

Rukun Kedua Belas Berkenaan Dengan Kilafah dan Imamah.

bullet

Imamah, atau khilafah wajib atas umat Islam supaya pihaknya menjalankan hukum dan amanah-amanah, menjaga dan menguatkan kubu-kubu pertahanan, serta menghantar tentera jihad, membahagi-bahagikan fay’ – iaitu harta yang didapati bukan melalui peperangan, dan menyelesaikan masalah penzaliman ke atas mereka yang dizalimi.
bullet

Diikuti dengan syarat-syarat imamah: ilmu, keadilan, bangsa Quraisy.

Rukun Ketiga Belas Berkenaan dengan Iman, Islam.

bullet

Mereka mengajarkan asal iman ialah ma’rifah, tasdiq (pembenaran) dengan hati.
bullet

Mereka mengajarkan wajib taat dalam perkara yang wajib dan sunat dalam perkara yang sunat.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan keimanan tidak hilang dengan berlakunya dosa, tetapi hilang dengan berlakunya kekufuran. Dijauhkan Allah. Orang yang berdosa dia mu’min, bukan kafir, walaupun ia menjadi fasik kerana dosanya.
bullet

Ahli Sunnah mengajarkan tidak halal membunuh orang mu’min melainkan kerana salah suatu daripada yang tiga: murtad, zina selepas kahwin, atau hukum qisas kerana orang itu membunuh orang.
bullet

Ini berlawanan dengan golongan Khawarij yang mengharuskan bunuh tiap-tiap orang yang melakukan maksiat.

Rukun Keempat Belas Berkenaan Dengan Para Wali dan Imam-Imam.

bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan para malaikat maksum daripada semua dosa berdasarkan ayat yang bermaksud: ”Mereka tidak derhaka terhadap Allah tentang perkara yang diperintahkan kepada mereka dan mereka lakukan apa yang disuruh” (Surah at-Tahrim: ayat 6).
bullet

Kebanyakan mereka dalam Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa para nabi a.s.s. melebihi kedudukan para malaikat, berlainan daripada mereka yang menyatakan bahawa para malaikat melebihi kedudukan para nabi. Pendapat ini menyebabkan pegangan bahawa malaikat Zabaniah penjaga Neraka itu melebihi kedudukan ulul-‘azmi di kalangan para rasul.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan: para nabi melebihi para wali, ini berlawanan dengan golongan Karramiah yang mengajarkan para wali melebihi nabi.
bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan: keutamaan sepuluh orang Sahabat yang diputuskan oleh Nabi bahawa mereka ahli syurga terdiri daripada empat khalifah, kemudian Talhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, dan ‘Abd al-rahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah. Allah meredhai mereka.
bullet

Mereka mengajarkan: terutamanya mereka yang menjadi ahli perang Badar berserta dengan Nabi dan diputuskan bahawa mereka ahli Syurga (Ini semua berlawanan dengan golongan yang mengkritik dan mencela para sahabat terdiri daripada golongan Syiah Rafidah dan lainnya, dan juga pengarang-pengarang moden yang suka mengkritik para Sahabat dan melanggar adab-adab dalam hubungan dengan mereka, yang pembelaan tentang mereka itu banyak dibuat oleh Qadi ‘Iyad rh dalam kitabnya al-Shifa).

Rukun Yang Kelima Belas Berkenaan Dengan Hukum Tentang Para Musuh Islam.

bullet

Ahlis-Sunnah mengajarkan: Para musuhnya ada dua: yang sebelum Islam dan yang lahir zaman Islam dan yang menunjukkan secara zahirnya mereka Orang Islam.
bullet

Mereka yang sebelum Islam terdiri daripada pelbagai golongan: para penyembah berhala dan patung;
bullet

Yang mengikut aliran hululiah yang mengajarkan roh Tuhan masuk meresap dalam bentuk-bentuk yang cantik; para penyembah matahari, bulan, bintang-bintang semuanya atau setengah daripadanya;
bullet

Yang menyembah malaikat dan memanggilnya sebagai anak-anak perempuan Allah; yang menyembah Syaitan (menyentuh “satanic cult” sekarang); menyembah lembu; menyembah api;
bullet

Pada Ahlis-Sunnah mereka yang menyembah berhala, manusia, dan malaikat, bintang, api, dan sebagainya haram berkahwin dengan wanita mereka.
bullet

Tentang jizyah boleh diterima daripada Ahlil-Kitab dan mereka yang ada sesuatu kitab seperti Ahlil-Kitab.
bullet

Mereka yang tidak membawa iman sebelum Islam: golongan “sophist” – as-sufista’iyah – yang mengingkari adanya hakikat ilmu, termasuk golongan al-Sumniyah yang mengajarkan alam ini kadim, dan mereka mengingkari tilikan akal dan pengambilan dalil dalam pemikiran, dengan dakwaan bahawa tidak ada yang boleh diketahui melainkan yang melalui pancaindera sahaja.
bullet

Termasuk golongan Materialist klasik – dahriyah – yang mengajarkan alam ini kadim.
bullet

Termasuk golongan yang mengajarkan kadim benda awal alam (hayula al-‘alam)
bullet

Termasuk golongan ahli falsafah yang mengajar alam ini kadim dan mereka menolak adanya Tuhan Maha Pencipta; antara, mereka ialah Pythagoras. (Antara ahli sains moden tidak sedikit yang materialist dan menolak adanya Tuhan dan alam rohani).
bullet

Muslimin bersepakat bahawa semua golongan tersebut tidak boleh dimakan sembelihan mereka dan wanita mereka tidak boleh dikahwini oleh Muslimin. (Diikuti dengan pendetailan hukum tentang jizyah dari mereka, perkahwinan dengan wanita mereka dan sebagainya).
bullet

Tentang mereka yang tidak membawa iman dalam daulah Islam dan berselindung dengan zahir Islam mereka, dan memperdaya Muslimin secara rahasia: mereka ialah golongan Syiah ghulat rafidah al-Sababiah, al-Bayaniyah, al-Muqanna’iyyah, al-Mansuriah, al-janahiah, al-Khattabiyah, dan lainnya yang berpegang kepada mazhab hulul dan batiniah; juga mereka yang berpegang kepada tanasukh al-arwah – berpindah-pindahnya roh masuk ke dalam badan manusia – terdiri daripada para pengikut ibn Abil-Auja’ juga mereka yang mengikut ajaran Ahmad bin Ha’it dari golongan Mu’tazilah.
bullet

Juga termasuk: mereka yang berpegang kepada ajaran Yazidiah dari golongan Khawarij yang menegaskan bahawa Syariat Islam menjadi mansukh dengan adanya nabi dari golongan orang bukan Arab. Demikian seterusnya. (Termasuk ke dalam golongan ini mereka yang mendakwa Syariat Islam “tergantung” kerana Imam Mahadi belum datang; maka diharuskan oleh mereka itu zina, arak, dan sebagainya). Golongan ini semua tidak halal dimakan sembelihan mereka dan wanita mereka tidak boleh dikahwini oleh Muslimin.
bullet

Ringkasnya Ahlis-Sunnah mengajarkan bahawa orang-orang yang menunjukkan amalan dan pegangannya dalam Ahlis-Sunnah ialah mereka yang bebas daripada amalan-amalan dan pegangan-pegangan golongan-golongan yang terkeluar daripada Islam, dan yang terdiri daripada mereka yang mengikut hawa nafsu, walaupun mereka dinisbahkan kepada Islam seperti Qadariah, Murjiah, Syiah Rafidah, Khawarij, Jahmiah, Najjariah dan Mujassimah.

Keperluan Kepada Ilmu-Ilmu Islam Lainnya:

bullet

Keperluan menyuburkan pendidikan melibatkan disiplin-disiplin ilmu Islam lainnya yang difikirkan perlu demi untuk membangun umat dan budaya dalam rangka pegangan dan amalan serta nilai-nilai dalam Ahlis-Sunnah wal-Jamaah
bullet

Keperluan kepada ilmu-ilmu lainnya diberikan perspektifnya mengikut epistemologi Ahlis-Sunnah dan faham alamnya (iaitu Islamisasi ilmu-ilmu sebagaimana yang dihuraikan oleh almarhum Prof. Ismail al-Faruqi).

Keperluan Nusantara atau Dunia Melayu Kepada Empat Wacana Agung Sunni:

Secara ringkasnya Dunia Melayu Sunni sehingga kini ditentukan sifat-sifatnya oleh beberapa ciri pokok:
#

* Akidahnya Ahlis-Sunnah wal-Jamaah berdasarkan kepada ajaran Imam Abul-Hasan al-Asy’ari rd – walaupun sekarang ada pihak yang mencabarnya dan hendak menggantikannya dengan sesuatu yang lain dengan pelbagai alasan bidaah dan sebagainya – ini perlu diteruskan dengan tambahan-tambahan seperlunya samaada dalam hubungan dengan fahaman-fahaman klasik dan tradisional yang tidak benar atau aliran-aliran baharu moden yang perlu diberi huraiannya dalam perspektif.

#

Dari segi kefahaman tentang Hukum Syara’ dan perlaksanaannya ianya berpandukan kepada mazhab Syafi’i. Ini perlu diteruskan dengan tambahan-tambahan seperlunya yang terdiri daripada keputusan-keputusan atau fatwa-fatwa baharu yang diperlukan kerana perkembangan masa dan budaya.
#

Dari segi kerohanian dan akhlak rantau ini dipandukan oleh huraian-huraian Imam al-Ghazali rd, khususnya mengikut ajarannya yang ada dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din nya. Kepentingannya sedemikian rupa sehingga bila ditanya kepada almarhum Syaikh Muhammad ‘Abduh tentang buku yang terbaik untuk panduan generasi muda dalam bidang akhlah dan kerohanian maka dijawabnya kitab itu ialah kitab Ihya’ karangan Imam al-Ghazali rd. Maka kitab itu diringkaskan oleh al-Qasimi rh dalam buku Ma’izatul-Mu’mininnya. Ini perlu diteruskan dengan tambahan-tambahan seperlunya dalam menghadapi masalah-masalah lama atau baharu.
#

Keempatnya, sangat ingin mengulangi usul saya, bahawa saya sangat berhasrat sedalam-dalamnya supaya wacana agung ibn Khaldun rh dalam kitabnya al-Muqaddimah – yang ada terjemahan Inggerisnya oleh Franz Rosenthal dan terjemahan Melayunya yang diselenggarakan oleh DBP – dijadikan wacana agung yang memberi panduan dalam perkembangunan intelektuil dan budaya Dunia Melayu di Nusantara. Ianya paling penting untuk pemerkasaan budaya dan tamadun apa lagi dalam menghadapi cabaran budaya ilmu, maklumat dan globalisasi sebagaimana yang dialami sekarang ini.

Epistemologi Sunni Dan Pembinaan Tamadun:

bullet

Peradaban yang hendak diteruskan pembinaannya ini ialah peradaban yang dipandukan oleh ajaran Islam aliran Ahlis-Sunnah wal-jamaah di kalangan manusia Dunia Melayu.
bullet

Ianya dengan mengambil kira faham alam Sunni – dengan huraian tentang Tuhannya, alamnya, manusianya, alam dengan isinya, termasuk alam sekitar dalam erti ekologi yang dibicarakan sekarang.
bullet

Dengan mengambil kira epistemologinya – dengan takrifnya, punca-puncanya, batasan-batasannya, bidang-bidangnya, kaedah-kaedahnya, matlamat-matlamatnya, samaada matlamat terakhir atau matlamat terdekat.
bullet

Mengambil kira aksiologi atau falsafah dan huraiannya tentang nilai-nilai unggul dan utamanya dan apa yang sebaliknya, serta cara-cara pemupukan yang utama dan pengikisan yang sebaliknya.
bullet

Mengambil kira sistem ilmu tradisionalnya, termasuk yang ada di Dunia Melayu, dan perkembangan-perkembangan ilmu terkini dalam sains dan teknologi, termasuk ICTnya, bioteknologinya (setakat yang difikirkan perlu).
bullet

Mengambil perhatian terhadap persoalan-persoalan ilmu yang timbul akibat perkembangan-perkembangan terkini dalam teknologi dan sains antaranya seperti yang disebutkan oleh Naisbitt dalam bukunya High Tech High Touch.
bullet

Memberi perhatian kepada pendaulatan Bahasa Melayu di rantau ini sebagai bahasa perantaraan dan bahasa budaya tinggi dan bahasa peradaban, selain daripada mengakui penggunaan bahasa Inggeris untuk bidang ilmu dan hubungan antara bangsa yang diperlukan.
bullet

Memberi perhatian seberatnya terhadap persoalan membina dan menguatkan budaya berfikir dan budaya ilmu tinggi yang tergabung dengan hidup moral dan rohani sewajarnya demi untuk pemerkasaan budaya dan tamadun.
bullet

Mengambil langkah-langkah yang sewajarnya bagi memupuk kesedaran dan penerimaan terhadap gagasan perpaduan dan kerjasama bangsa Melayu dalam rangka membentuk kesepaduan sosial (al-‘asabiyah dalam takrif Ibn Khaldun rh) sebagai syarat dalam menjayakan budaya dan tamadun yang kuat dalam membentuk kehidupan bernegara dalam rantau dan negara yang di dalamnya terdapat pelbagai kaum dan budaya dalam membina tamadun bersama.

Wallahu a’lam.

Muhammad ‘Uthman El-Muhammady

Kg Kasar

17000 Pasir Mas

Kelantan

Ahli Sunnah, Wahhabiyyah dalam perbandingan kerangka peradaban


Ahli Sunnah, Wahhabiyyah dalam perbandingan kerangka peradaban

leave a comment »
Oleh Muhammad Uthman El-Muhammady

Tafsiran Sunni menyeluruh, terbuka mengikut batasan prinsip rohani serta intelektual

SELEPAS melihat perbandingan Ahli Sunnah Wal Jamaah dengan Wahabi mengenai akidah, kerohanian dan ibadatnya, juga aspek hukum dan akhlaknya, minggu ini rencana ini bertumpu kepada pengamatan ringkas kerangka peradaban. Bagi memahami ajaran Ahli Sunnah dan perbandingannya dengan Wahabi dalam aspek ini, kita boleh bermula dengan beberapa kenyataan.

Antaranya, peradaban pada matlamat terakhirnya dalam ajaran agama adalah untuk menjadi alam yang mana kebesaran Tuhan dan kalimah-Nya terserlah; justeru kitab suci al-Quran menyatakan (maksudnya); “Dialah Tuhan yang menjadikan tujuh lapis langit dan bumi demikian juga, turun perintah di kalangan semua itu supaya kamu mengetahui bahawa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan bahawa Allah meliputi segala-galanya dengan ilmu-Nya’� (al-Talaq:12).

Begitu juga ayat (bermaksud): “Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadat kepada-Ku /menyembah-Ku” (al-Dhariyat: 56); dan bermaksud “Bertasbih kepada Allah segala yang ada di langit dan di bumi Raja yang Maha Suci, Maha Tinggi dalam kekuasaan lagi Maha Bijaksana” (al-Jumuah:1) dan yang sepertinya

Maka alam ini dijadikan untuk merealisasikan kebesaran dan kalam-Nya. Dan manusia dijadikan khalifah-Nya di bumi dengan diajarkan nama benda dengan khasiat dan kelebihan seperti dihuraikan oleh Imam Fakhr al-Din al-Razi dalam Tafsir al-Kabir dan al-Baidhawi dalam tafsirnya. Huraiannya dilanjutkan dalam hasyiahnya oleh Syaikh Zadeh. Dan manusia membina peradaban dengan mengimarahkan hidup di bumi.

Ahli Sunnah dan Wahabi ada beberapa titik pertemuan dalam hal ini. Bagaimanapun tafsiran Sunni adalah luas dan mencakupi sedangkan tafsiran Wahabi terbatas, sempit dan tidak kelihatan membuka ruang yang memadai untuk perkembangan tamadun. Ini terbukti dalam sejarahnya yang bermula di Najd itu.

Satu lagi kenyataan � bahawa agama sekurang-kurangnya boleh difahami pada beberapa peringkat; pertama ia wahyu dan nubuwwah (dengan pemahaman mengenai al-Quran dan hadis); kemudian agama seperti yang dihuraikan dalam teks yang menyatakan secara terperinci ilmu yang berpunca daripada wahyu dan nubuwaah itu, dan pemahaman manusia mengenai itu semua.

Tahap berikutnya adalah apabila agama diamalkan umat manusia dalam kumpulan ramai atau masyarakat dan di sinilah timbul tamadun atau peradaban. Tafsiran Sunni menyeluruh dan terbuka dalam batasan prinsip rohani dan intelektual, tafsiran Wahabi sangat terbatas dan terhad.

Berhubung peradaban, kita boleh ajukan pertanyaan � tidakkah peradaban ‘khaira ummatin’ di Madinah itu Ahli Sunnah sifatnya? (‘ma ‘ana ‘alaihi wa ashabi’, ‘mengikut cara hidupku dan sahabatku’ seperti yang ada dalam hadis)? Kita jawab, ya Ahli Sunnah. Tidakkah peradaban di Damsyik itu Ahli Sunnah? Begitu juga di Baghdad, Andalusia, Istanbul, di Melaka, Samudera Pasai dan Aceh itu Sunni?

Peradaban ini dalam kerangka Ahli Sunnah yang menjadi alam yang di dalamnya ada kebesaran Tuhan dan kalam-Nya. Ya, memang ada kelemahannya kerana dunia ini bukan jannatul-firdaus, tetapi inilah alam manusiawi yang di dalamnya terjelma kebesaran Ilahi dan kalam-Nya dengan cara yang sebaik-baiknya sebelum kemunculan alam yang kekal abadi itu.

Dan alam manusiawi yang kita sebut sebagai peradaban itu muncul dalam kerangka kefahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah, bukan Khawarij, Batiniyyah dan lainnya (sudah tentu bukan Wahabi sebab ia hanya muncul pada abad ke-18). Golongan lain boleh berada dan berfungsi di dalam peradaban Sunni itu sebab kerangka ini sangat toleran dan bertasamuh.

Ini terbukti dalam sejarah hampir 15 abad itu; kerangka lain jelas tidak mempunyai sifat-sifat yang ada padanya. Ia adalah kerangka ‘menengah’ yang menjadi corak bagi umat ini. Maka peradaban dalam kerangka inilah yang kita perlu teruskan dan semarakkan lagi kejayaannya.

Tidakkah kalangan sahabat dan Tabiin serta generasi yang diakui berikutnya, Ahli Sunnah semuanya? Tidakkah al-Juwaini pengikut Ahli Sunnah? Begitu juga Al-Baqillani, Al-Ghazali, Fakhr al-Din al-Razi, al-Sanusi dan Salah al-Din al-Ayyubi? Dan da’i terkenal al-syahid Hasan al-Banna adalah pengikut Ahli Sunnah? Dan Said Nursi di Turki itu Ahli Sunnah?

Ringkasnya mereka dan ramai yang lain adalah pengikut Ahli Sunnah Wal Jamaah, termasuk imam mazhab dan pengikut mereka; mereka di dunia Melayu adalah Ahli Sunnah dan pengikut Imam al-Asy’ari. Teks usul al-din di dunia Melayu adalah teks memaparkan aliran Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Apakah kerangka itu? Sekadar menyebut beberapa unsur kerangka yang dicirikan oleh elemen pokok seperti: Tauhid dengan huraiannya yang mencakupi semua perkara, daripada tauhid mengenai Tuhan, kehidupan manusia, diri manusia, masyarakat dan umat. Tauhid semacam ini tidak ada dalam Wahabi.

Bagi tauhid dalam pemahaman ilmu dan tamadun, kenabian dengan kedudukannya sebagai punca ilmu pengetahuan, panduan mengenai ilmu pengetahuan, panduan hidup bertamadun dan masyarakat. Pemahaman luas mengenai sunnah begini tidak ada dalam Wahabi. Bicaranya hal sunnah � bidaah, talqin, kenduri arwah, qunut, maulidurrasul, melawat kubur, tawassul, zikir beramai-ramai, berzanji, menyebut ’sayyidina’ dan yang sepertinya yang diselesaikan lebih 50 tahun lalu di Malaya (nama sebelum Malaysia).

Sukar untuk dimengertikan bagaimana ada pihak menganggap bicara seperti ini bicara pembangunan umat atau bicara mengajak kepada keluasan dan kematangan berfikir. Adakah intelektual sebegini yang hendak dikembangkan? Ini sukar dipertahankan.

Hidup dunia dan akhirat diberikan perspektif yang betul secara integrasi tidak terpisah-pisah antara keduanya, dengan itu tidak ada sekularisme dalam erti falsafah di dalamnya; demikian pula yang lain-lain yang sepertinya.

Kemuliaan ilmu pengetahuan dan kemajuannya serta pengembangannya � yang berfaedah dijayakan dan berbahaya tidak dijayakan. Epistemologi atau huraian falsafah ilmu pengetahuan yang luas sebegini tidak ada dalam Wahabi, ia sebaliknya didominasi oleh haram-halal, sunnah-bidaah, hidayah-dalalah dalam pembahagian simplistik itu.

Huraian falsafah tidak ada tempat di dalamnya. Pernah berlaku pada satu seminar atau mesyuarat, apabila terdengar kata ‘falsafah’ seorang pengikut fahaman itu mengeluarkan pertanyaan � bagaimana ini? Falsafah tidak ada dalam Islam (yang ada hanya al-Quran dan Sunnah); mantik tidak ada tempat di dalamnya; astronomi tidak ada tempat di dalamnya (sebab itu berlaku peristiwa puasa terpaksa diqada sebab berlaku kesilapan melihat anak bulan di sebuah negeri, akibat mereka menolak astronomi dan aplikasinya).

Kedudukan yang wajar antara agama, wahyu dan ilmu pengetahuan ada dalam sejarah Sunni. Ini tidak ada dalam Wahabi yang bermula dengan penolakan beberapa elemen teknologi dan pengetahuannya seperti yang ada dalam sejarah gerakan itu. Kedudukan sepadu antara ilmu akli dan nakli jelas misalnya dalam Kashshaf Istilahat al-Funun oleh al-Tahanawi dan yang sepertinya.

Kedudukan yang harmoni antara seni dan sains serta teknologi jelas dalam sejarah Sunni; antaranya tercatat dalam Introduction to the History of Science oleh G Sarton jilid 3; Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimahnya membuat beberapa rumusan mengenai perkembangan intelektual ini; hanya ada berlaku sedikit gangguan dalam sejarah tentang bidang ini. Dalam kerangka Wahabi, asal perkembangan begini tidak ada; ia hanya timbul kemudian dalam sejarahnya. Islamisasi ilmu dalam kerangka epistemologi Asya’irah dalam Ahli Sunnah sudah berlaku dalam alam Ahli Sunnah; dalam Wahabi ia hanya baru mula untuk berlaku.

Hubungan harmoni individu, keluarga dan masyarakat dengan adab dan peraturannya. Wahabi mempunyai ciri yang sangat malang dari segi adab dan akhlak terutama hubungannya dengan ulil amri yang menyayat hati; penolakan tasauf menjadikan jiwanya keras dan kasar, kecuali dalam kalangan mereka yang terkesan dengan pengaruh kerohanian Ahli Sunnah.

Kedudukan sepadu dan terarah dalam hubungan antara ulil amri dan umat umumnya, jelas dalam Ahli Sunnah; dalam kalangan Wahabi ia banyak menunjukkan konflik sebab ajarannya dari asal sememangnya sedemikian.

Bagi kedudukan epistemologi Asyariah dalam Ahli Sunnah (termasuk Maturidiyyah) membabitkan hubungan dengan pemikiran moden dan pasca moden pula, kerangka Ahli Sunnah paling perkasa dan utuh mengemudi manusia menghadapi pemikiran moden dan pasca moden; nampaknya tidak ada yang lain dalam dunia ini yang sepertinya. Wahabi langsung tidak boleh dibandingkan dengannya; ia seperti kanak-kanak baru mumaiyiz berbanding dengan hakim yang penuh bijaksana.

Budaya ‘al-din al-nasihah’ yang berkesan dan menyeluruh dalam Ahli Sunnah, bukan budaya ‘anti-establishment;’ dalam Wahabi nampaknya yang ada adalah budaya ‘anti-establishment’ daripada awal lagi. Kemajuan duniawi sebagai suasana untuk pembentukan hidup membina peribadi manusia berdasarkan ‘budaya uswatun hasanah’ bukan budaya ’selebriti’ (walaupun selebriti dalam perspektifnya yang betul dibenarkan).

Bagi kesedaran mengenai kedudukan hubungan harmoni di kalangan bangsa dan kaum serta agama, panduan Sunni memadai dalam hal ini; panduan intelektual dan rohaniah Wahabi tidak memadai.

Demikianlah secara ringkasnya perbincangan mengenai ajaran Ahli Sunnah dalam perspektif pembangunan ummah Islamiah dan elemen penting dalam pembinaannya berbanding pandangan Wahabi. Dengan itu maka pemikiran Sunni dalam bidang ini perlu diteruskan di Malaysia dan dunia Melayu dengan membuat perincian dalam bahagian yang memerlukannya, dengan pembetulan dan penambahan di mana yang diperlukan serta langkah praktikal. Ini berserta penyusunan langkah jangka pendek dan jangka panjang bagi menjayakannya. Dan intelektualiti cara Wahhabi mesti dijauhi bagi mengelak malapetaka intelektual, rohani dan tamadun berlaku di sini. Na’udhu billahi min dhalik! Moga-moga Allah menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, amin. Wallahu a’lam.

disiarkan Berita Minggu 5 Disember 2009 – http://www.bharian.com.my/