Peranan Ahlul Bait di Nusantara dan sekitarnya


Peranan Ahlul Bait di Nusantara dan sekitarnya

Ditulis oleh waskita di/pada April 25, 2008

Dalam pelajaran sejarah Indonesia, sering kita dengar bahwa salah satu kelompok yang banyak mendakwahkan Islam di Nusantara adalah wali songo. Namun jarang kita dengar bahwa sebagian walisongo itu adalah keturunan ahlul bait.

Berikut ini beberapa orang walisongo yang termasuk dalam ahlul bait.

* Maulana Malik Ibrahim
* Maulana Rahmatullah (Sunan Ampel
* Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang)
* Maulana Syarifuddin Hasyim (Sunan Drajat)
* Raden Paku (Sunan Giri)
* Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

sebagai contoh, silsilah dari Maulana Malik Ibrahim adalah sebagai berikut: Maulana Malik Ibrahim ibnu Barokat Zainul-Alam ibni Jamaluddin Al-Hussein (Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal ibnui Abdullah ibnu Abdul Malik ibnu Alawi Amal Al Faqih ibni Muhammad Shahib Mirbath ibni Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirulah ibnu Isa Al Rumi ibni Muhammad Naqib ibnu Ali al Uraidhi ibni Jaafar Sadiq ibni Muhammad Al Baqir ibni ALi Zainal Abidin ibni Al Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW

Selain sebagai walisongo yang menyebarkan agama Islam, peranan ahlul bait adalah di pemerintahan kesultanan. Berikut ini adalah kesultanan Islam Indonesia yang pernah berada di tangan ahlul-bait Rasulullah SAW:

* Kesultanan Aceh
* Kesultanan Deli
* kesultanan Palembang
* Kesultanan Bintoro Demak
* Kesultanan Cirebon
* Kesultanan Banten
* Kesultanan Pontianak
* Kesultanan Ternate
* Sunan Pakubuwono di Surakarta

Peran ahlul bait di kesultanan Filipina :

* Kesultanan Sulu (sekarang di Filipina)
* Kesultanan Mindanao/Maguindanao

Peran ahlul bait di kesultanan Melayu :

* Kesultanan Brunei
* Raja-raja Perlis (semenanjung Malaysia)
* Raja Kelantan, Patani dan Champa
* Negeri Sembilan
* Kesultanan Johor-Pahang
* Kesultanan Terengganu
* Raja-raja Riau
* Kesultanan Selangor
* Kesultanan Perak
* Kesultanan Kedah

Kalau kita perhatikan, sebenarnya banyak ahlul bait yang ada di nusantara, baik sebagai ulama seperti walisongo, sebagai penguasa kesultanan, maupun sebagai orang biasa.

Banyaknya keturunan Rasulullah SAW di daerah nusantara ini sejalan dengan hadis berikut: “Kami ahlul bait telah Allah SWT pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran sepeninggalanku kelak sehingga datangnya suatu kaum dari sebelah timur yang membawa bersama mereka panji-panji hitam ….“.

Dari hadis ini, ada kesempatan bagi kawasan Melayu ini sebagai awal kebangkitan Islam kedua, di tengah keadaan dunia yang sudah sangat rusak hari ini. Adanya ahlul bait yang berperan di nusantara nampaknya bukanlah sesuatu yang kebetulan.

PENGEMBARAAN DA’WAH SYED HUSEIN KE SELURUH NUSANTARA


Legenda Para Aulia Aceh: Dari Pasai Menaklukkan Jawa-Hindu Majapahit
Jam 1:40 AM 0 komentar
Bumi Aceh sangat terkenal dengan bumi para auliya. Dari anakanak sampai artis seperti Raflypun senantiasa mendendangkan keutamaan bumi Serambi Mekkah ini sebagai tanah para wali yang diberkahi. Namun tidak banyak di antara orang-orang Aceh sendiri yang dapat menyebutkan nama-nama para wali yang telah berperan mengembangkan Islam sehingga menjadikan Aceh sebagai bangsa maju dan besar, sehingga menjadi
pelopor dalam dakwah Islamiyah. Ironisnya, ada di antara auliya yang berasal dari tanah Aceh, namun tidak dikenal oleh bangsa asalnya, namun sangat terkenal di tanah Jawa.

Misalnya Wali Sembilan, auliya sikureung, yang di tanah Jawa sangat terkenal dengan sebutan Wali Songo. Mereka adalah para tokoh penggerak Islamisasi di Nusantara yang telah berperan aktif dalam pendirian Kerajaan Demak, sebagai Kerajaan Islam pertama yang telah mengakhiri riwayat kegemilangan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit, simbol kemegahan masyarakat Hindu Jawa. Disamping itu mereka juga telah mendirikan Kerajaan Islam dari Pattani, Champa, Kelantan, Brunei, Sulu, Mindanao, Pontianak, Banten, Makassar sampai Maluku dan Fak-Fak Papua. Namun tidak banyak yang mengetahui, dari manakah asal para auliya ini dan dimanakah pusat gerakan mereka dalam mengislamisasikan Nusantara. Sampai sekarang banyak para peneliti, baik yang Muslim dan non Muslim berbeda pendapat tentang asal-usul mereka. Ada yang menyatakan mereka berasal dari negeri Cina, Turki, Bukhara (Rusia) dan lain-lainnya sehingga menimbulkan kekeliruan sejarah yang berdampak buruk pada kebenaran sejarah Islam yang sepatutnya menjadi teladan dan pengajaran generasi masa kini.

Maka untuk meluruskan kekeliruan tersebut, diperlukan sebuah penelitian menyeluruh terhadap peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sejarah para wali ini. Wali Sembilan Awal Wali Sembilan awal, adalah para wali yang telah berperan menggerakkan dakwah Islamiyah terutama sebelum lahirnya gerakan Wali Sembilan (Wali Songo) yang terkenal di tanah Jawa. Menurut sejarahnya, para wali ini sangat berperan dalam mendorong lahirnya gerakan dakwah Islamiyah yang telah melahirkan gerakan Wali Songo. Boleh dikatakan bahwa wali sembilan awal ini pelopor dan peristis terbentuknya gerakan yang nantinya dikenal dengan Wali Songo. Bahkan mereka adalah kakek, bapak atau guru daripada Wali Songo yang telah berhasil mendirikan Kerajaan Islam Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri Kerajaan Hindu Majapahit. Di tanah Jawa memang sejarah mereka tidak banyak beredar sehingga nama mereka tidak dikenal luas, kecuali beberapa orang seperti Sayyid Jamaluddin al-Husein dan Maulana Malik Ibrahim. Tapi di Champa, Pattani, Kelantan dan Semenanjung Malaya nama mereka sangat terkenal, bahkan keturunan mereka sampai
sekarang menjadi Sultan di Malaysia. Karena dalam tulisan ini hanya membahas peranan para wali di sekitar Kerajaan Pasai dan yang berperan atau berhubungan dengan gerakan Wali Songo di tanah Jawa, maka penulis hanya membatasinya dengan tokoh-tokoh yang hidup disekitar Pasai dan memiliki peranan langsung dengan Wali Songo. Menurut penelitian penulis, mereka yang dapat dikategorikan sebagai Wali Sembilan Awal adalah: (1).Sayyid Jamaluddin Syah Jalal, (2).Sayyid Qamaruddin Syah Jalal, (3).Sayyid Majduddin Syah Jalal, (4).Sayyid Tsanauddin Syah Jalal, (5).Maulana Malik Ibrahim, (6).Maulana Sayyid Ibrahim Say-
Legenda Para Aulia Aceh: Dari Pasai Menaklukkan Jawa-Hindu Majapahit yid Jamaluddin, (7).Sayyid Wan Abdullah Sayyid Jamaluddin (Wan Bo/Raja Champa), (8).Sayyid Ali Nurul Alam Sayyid Jamaluddin (Raja Kelantan), (9). Sultan Malik Al-Zahir II (Sultan Pasai). Martin Van Bruinessen telah memetik tulisan Sayyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad, dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren ..“Putra Syah Ahmad, Jamaluddin dan saudara- saudaranya (wali no 1 sd no 6) konon telah mengembara ke Asia Tenggara….. Jamaluddin sendiri pertamanya menjejakkan kakinya ke Aceh (Pasai) dan Kamboja, Pattani kemudian belayar ke Semarang dan
menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jawa, hingga akhirnya melanjutkan pengembaraannya ke Pulau Bugis, di mana dia meninggal.” (al-Haddad 1403 :8-11). Diriwayatkan pula anaknya, Sayyid Ibrahim (wali no 6) ditinggalkan di Aceh (Pasai) untuk mendidik masyarakat dalam ilmu keislaman.

Kemudian, Sayyid Jamaluddin ke Majapahit, selanjutnya ke negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”. Inilah tokoh utama Wali Sembilan Awal, atau yang menjadi jalan lahirnya Wali Sembilan atau Wali Songo yang terkenal di tanah Jawa. Sayyid Syah Ahmad atau ayahanda Sayyid Jamaluddin adalah seorang Gubernur di zaman Maharaja India dari Kesultanan Delhi yang bernama Sultan Muhammad Taghlug yang memerintah pada tahun 1325- 1351. Beliau adalah keturunan dari Sayyid Ahmad Isa Al-Muhajir dari jalur Sayyid Abdul
Malik Alawi yang lahir di kota Qasam, Hadramaut yang berhijrah ke India dan mendapat kedudukan terhormat di Kesultanan Islam India masa itu. Pada pertengahan abad 14 M, anak Sayyid Syah Ahmad yang bernama Sayyid Jamaluddin Al-Hussein meninggalkan India untuk mengembangkan dakwah Islamiyah ke sebelah timur, menuju Kerajaan Islam Pasai yang telah berkembang menjadi pusat Islamisasi Nusantara dan telah menggantikan peranan Bagdad yang hancur lebur akibat penyerangan tentara bar-bar Mongolia.

Adapun silsilah lengkap Sayyid Jamaluddin adalah : Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bini Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.

Rombongan Sayyid Jamaluddin tiba di Kerajaan Islam Pasai diperkirakan pada zaman pemerintahan Sultan Malik al-Zahir II antara tahun 1360an M. Pada masa inilah masa-masa puncak kegemilangan Kerajaan Islam Pasai yang terkenal ke seluruh penjuru dunia sebagai Kerajaan Samodra yang berpusat di Pasai. Kegemilangnnya Kerajaan Samodra telah mempengaruhi nama dari pulau tempat Kerajaan Islam ini, Sumatera, (Samodra-Samotra(arab)-Sumatera( eropa). Rombongan para Sayyid dari Kerajaan Islam Tughlug India ini mendapat sambutan dan penghormatan besar di Kerajaan Islam Pasai, karena mereka adalah para Ulama dan Maulana yang menjadi guru pengajaran Islam. Apalagi Sultan Malik al- Zahir II dan ayahandanya, Sultan Malik al- Zahir atau kakeknya Sultan Malik al-Saleh adalah keturunan dari para Sultan Perlak (Maulana Abdul Aziz Syah) dan Raja Jeumpa (Syahir Nawi-Shahriansyah Salman) yang kedua-dunya bertemu pada jalur Ja’far Shadiq, cucu dari Sayyidina Hussein bin Fatimah binti Rasulullah saw.

Menurut catatan Ibn Batutah dalam Rihlah Ibnu Batutah, jilid II, hal. 185-187 dan 209-210, Sultan Malik al-Zahir II, yang memerintah Kerajaan Pasai pada waktu itu, adalah seorang sultan yang saleh lagi sangat taat kepada agama dan sangat gemar mengadakan pertemuan ilmiah, dengan para ulama untuk berdiskusi tentang
masalah-masalah agama. Setiap hari jum’at ia pergi ke masjid dengan berjalan kaki. Ibnu Batutah juga menyebutkan sejumlah ulama menjadi pembesar istana, antara lain: Amir Daulasa dari Delhi, Qadi Amir Said dari Shiraz dan ahli hukum Tajudin dari Isfahan. Pengamatannya menyimpulkan bahwa pada saat itu, Kerajaan Pasai dalam kemakmuran dan kedamaian yang luar biasa. Hal ini dibuktikan ketika Sultan mengadakan acara pernikahan putra beliau yang menggambarkan kebesaran dan kemewahan istana Kerajaan Pasai.

Itulah sebabnya mengapa rombongan Sayyid Jamaluddin dan Maulana Malik Ibrahim mendapat sambutan dan penghormatan luar biasa oleh Sultan dan para petinggi Kerajaan Pasai. Karena memang sebelumnya hubungan antara Pasai dengan Delhi, sebagai negeri asal rombongan Sayyid Jamaluddin, sudah terhubung rapat yang dibuktikan dengan adanya ulama besar dari Delhi di Kerajaan Pasai, Maulana Amir Daulasa sebagaimana disebutkan Ibnu Batutah. Mungkin saja kedatangan Sayyid Jamaluddin merupakan sebuah kelanjutan muhibbah antara Pasai dan Delhi. Maka tidak mengherankan apabila Sayyid Jamaluddin memilih Pasai sebagai tujuannya, karena kebesaran Pasai sudah menjadi legenda di Kerajaan Delhi.

Sebagaimana kedudukan Maulana Amir Daulasa pada Kerajaan Pasai, maka tidak diragukan bahwa Sayyid Jamaluddin dengan rombongannya, termasuk Grand Master gerakan Wali Songo di tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim, juga mendapat kedudukan terhormat di Kerajaan Pasai. Mereka telah menjadi tokoh-tokoh utama dan sentral yang mempengaruhi kebijakan Kerajaan Islam Pasai, khususnya pada zaman pemerintahan Sultan Malik al-Zahir II, atau penggantinya Sultan Zainal Abidin dan Sultan Salahuddin. Peranan mereka bukan hanya sebagai tokoh agama saja, tapi juga mengurusi masalah-masalah politik internasional, membangun jaringan politik internasional yang menghubungkan antara dunia Arab, Parsia, India, Cina dengan
dunia Islam Nusantara yang berpusat di Kerajaan Islam Pasai. Di antara fokus mereka adalah mengembangkan kekuasaan Kerajaan Islam Pasai ke seluruh Nusantara agar menjadi patron bagi Kerajaan Islam di seluruh Nusantara. Karena dengan semakin besarnya kekuasaan dan wilayah Kerajaan Pasai akan mempermudah gerakan Islamisasi Nusantara, termasuk startegi jitu untuk meredam perkembangan Kerajaan Budha Thailand di sebelah barat dan Kerajaan Hindu Majapahit di sebelah timur.

Sayyid Jamaluddin menikah dengan salah seorang puteri di Kerajaan Pasai yang dikenal dengan ”Putri Jeumpa”, yang juga saudara ipar dari Sultan Malik al-Zahir II, Sultan Pasai. Jadi Sayyid Jamaluddin dengan Sultan Malik al-Zahir II sepengambilan (biras). Pernikahan Sayyid Jamaluddin ini melahirkan putera yang bernama Sayyid Ibrahim al-Akbar (bukan Maulana Malik Ibrahim). Selanjutnya Sayyid Ibrahim mendapat pendidikan dari Maulana dan Ulama Kerajaan Pasai. Beliau menikah dengan kerabat bangsawan Kerajaan Pasai, yang dikenal dengan julukan ”Putri Jeumpa” bernama Candra Wulan. Puteri inilah bersaudara dengan ”Puteri Jeumpa” dari kerabat Kerajaan Pasai yang terkenal bernama Darwati (Dwarawati) yang menjadi Maha Ratu dari Raden Brawijaya V dari Kerajaan Jawa-Majapahit. Perkawinan Sayyid Ibrahim dengan Putri Candra Wulan telah melahirkan dua orang putera yang menjadi Ulama besar, yaitu Maulana Sayyid Ishaq yang menjadi Ulama dan penasihat utama Sultan Pasai di zaman Sultan Zainal Abidin dan Sultan Salahuddin, dan beliau juga sekaligus ayahanda dari Raden Paku atau Sunan Giri, anggota Wali Songo. Putra yang lain adalah Maulana Sayyid Rahmatullah yang di tanah Jawa terkenal dengan Raden Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel yang menjadi pemimpin utama Wali Songo di tanah Jawa. Beliau lahir pada tahun 1381 M di lingkungan istana Kerajaan Pasai.

Setelah mempersiapkan diri dengan berbagai perlengkapan dakwah di Kerajaan Islam Pasai, maka berangkatlah ke arah barat, Sayyid Jamaluddin Syah Jalal bersama beberapa Maulana untuk mengislamkan negeri Siam (Thailand), Cina Kecil dan Semenanjung Melayu. Beliau berhasil mengislamkan beberapa kawasan seperti Champa, Senggora, Pattani, Kelantan, Kedah dan sekitarnya. Kemudian beliau mendirikan Kerajaan Islam di Champa dan mengangkat anaknya bernama Wan Bo atau Wan Abdullah menjadi Sultan Champa pertama. Selanjutnya beliau mendirikan Kerajaan Islam di Pattani dan Kelantan. Walaupun secara politik beliau tidak dapat menaklukkan Kerajaan Budha Siam (Thailand) yang memiliki kekuatan besar, namun beliau telah meletakkan dasardasar dakwah Islamiyah di wilayah tersebut.

Di Kelantan Sayyid Jamaluddin menikah dan memiliki putra bernama Sayyid Ali Nurul Alam. Sementara Sayyid Ali Nurul Alam memiliki dua orang putera yang menjadi Sultan, yaitu Syarif Hidayatullah yang dibesarkan di Pasai dan menjadi Sultan Kerajaan Islam Banten-Jawa Barat pertama dan Sultan Ba’abullah yang menjadi Sultan Ternate-Maluku. Selanjutnya Sayyid Jamaluddin berangkat ke Majapahit mendukung perjuangan Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu mengembangkan dakwah. Setelah beberapa lama beliau ke negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”.

Oleh: Al-Ustadz Dr. Hilmy Bakar

SULTAN-SULTAN AHLI BAIT DI NUSANTARA


Pengasas kesultanan Ahlul Bait di Brunei

Syarif ‘Ali ibn Syarif Ajlan ibn Syarif Rumaithah ibn Sharif Muhammad Abu Nu’may ibnu Syarif Abu Sa’ad Al-Hassan ibnu Syarif ‘Ali Al-Akbar ibnu Syarif Qitadah ibnu Syarif Idris ibnu Syarif Muta’in ibnu Syarif Abdul Karim ibnu Syarif Isa ibnu Syarif al-Hussein ibnu Syarif Sulaiman ibnu Syarif ‘Ali ibnu Syarif Abdullah ibnu Syarif Abu Ja’afar Muhammad ibnu Syarif Abdullah Al-Akbar ibnu Syarif Muhammad At-Thaer ibnu Syarif Musa Ath-Thani ibnu Syarif Abdullah Asy-Saleh ibnu Musa Al-Jaun Abdul Hasan ibnu Abdullah Al-Muhudh ibnu Syarif Hassan Al-Muthanna ibnu Sayyidina Hassan As-Sibti ibnu Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW .

Pengasas kesultanan Ahlul Bait di Perlis

Sayyid Ahmad ibni Sayyid Hussin ibni Sayyid Abdullah ibni Sayyid Aqil ibni Sayyid Abdullah ibni Sayyid Muhammad ibni Sayyid Salim ibni Sayyid Ahmad ibni Sayyid Abdul Rahman ibni Sayyid Ali ibni Sayyid Muhammad ibni Sayyid Hassan Al-Muallim ibni Sayyid Muhammad ibni Sayyid Hassan ibni Sayyid Ali ibni Muhammad Fakeh Al- Maqdam ibni Ali ibni Muhammad Sahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Al-Naqib ibni ‘Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni ‘Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW

Pengasas kesultanan Ahlul Bait di Pontianak

Sayyid Abdul Rahman Al-Qadri ibni Sayyid Hussin ibni Sayyid Ahmad ibni Sayyid Hussein ibni Sayyid Muhammad ibni Sayyid Salim ibni Sayyid Aqil ibni Sayyid Abdullah ibni Sayyid Muhammad ibni Sayyid Salim ibni Sayyid Ahmad ibni Sayyid Abdul Rahman ibni Sayyid Ali ibni Sayyid Muhammad ibni Sayyid HassanAl-Muallim ibni Sayyid Muhammad ibni Sayyid Hassan ibni Sayyid Ali ibni Muhammad Fakeh Al-Maqdam ibni Ali ibni Muhammad Sahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Al-Naqib ibni Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni MuhammadBaqir ibni Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.

Pengasas kesultanan Ahlul Bait di Kelantan dan Pattani (Thailand) lama

Sultan Adiluddin ibni Nik Jamaluddin ibni Wan Abul Muzaffar ibni Sultan Abu Abdullah (Wan Bo) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqih ibni Muhammad Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni ‘Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW .

Pengasas kesultanan Ahlul Bait di Kelantan moden

Long Baha ibni Wan Daim ibni Nik Mustapha (Po Rome) ibni Wan Abul Muzaffar ibni Sultan Abu Abdullah (Wan Bo) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin al-Husain ( Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqi h ibni Muhammad Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni ‘Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni ‘Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.

Pengasas kesultanan Ahlul Bait di Champa

Sultan Abu Abdullah (Wan Bo) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin Al-Husain ( Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqih ibni Muhammas Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni ‘Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni ‘Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW .

Pengasas kesultanan Ahlul Bait di Maguindanao

“ Syarif Muhammad Kebungsuwan ibni Syarif Ali Zainal Abidin ibni Sayyid Abdullah ibni Sayyid Muhammad ibni Sayyid Ali ibni Sayyid Abdullah ibni Sayyid Alawi Amal Al-Faqih ibni Sayyid Muhammad Shahib Mirbath ibni Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni Ali al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW”.

Pengasas kesultanan Ahlul Bait di Sulu

“ Sayyid Abu Bakar ibni Syarif Ali Zainal Abidin ibni Sayyid Muhammad ibni Sayyid Ali ibni Sayyid Abdullah ibni Sayyid Alwi ibni Sayid Muhammad Shahib Mirbath ibni Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW “.

Pengasas kesultanan Ahlul Bait di Banten dan Cirebon

Syarif Hidayatullah ibni Abdullah (Umdatuddin) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin Al-Hussein ( Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqih ibni Muhammad Shahib Mirbath ibni Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW

Salasilah Tun Habib Abdul Majid, bapa kesultanan Pahang, Terengganu & Johor (serta Riau dan Selangor dari sebelah cundanya Tengku Mandak)

Tun Habib Abdul Majid ibni Maharaja Sri Diraja ibni Ali Zainal Abidin ibni Abdullah ibni Syeikh ibni Abdullah ibni Syeikh ibni Abdullah ibni Abu Bakar As-Syukran ibni Abdul Rahman As Saqaf ibni Muhammad Mauli Ad Dawilah ibni Ali ibni Alwi ibni Muhammad Faqih Al Muqaddam ibni Ali ibni Sayyid Muhammad Mirbath ibni Ali Khlaiq Khasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawiy ibni Ubaidillah ibni Ahmad al-Muhajir ibni Isa ar-Rumi ibni Muhammad an-Naqib ibni Ali al-Uraidhi ibni Jaafar Sadiq ibni Muhammad Baqir ibni Ali Zainal Abidin ibni Sayyidina al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW
Wallahu a’lam..

KELUARGA BESAR SYED HUSEIN DI NUSANTARA


Di Malaysia ataupun di Indonesia sering kita jumpai orang bergelar ‘habib’, ’syarif’, ’syarifah’, gelar ini umumnya diberikan kepada orang-orang keturunan Nabi Muhammad SAW. Ada beberapa hadis dari Rasulullah tentang ahlul bait ini. Silakan dilihat di : http:

Dalam pelajaran sejarah Indonesia, sering kita dengar bahwa salah satu kelompok yang banyak mendakwahkan Islam di Nusantara adalah wali songo. Namun jarang kita dengar bahwa sebagian walisongo itu adalah keturunan ahlul bait.
Berikut ini beberapa orang walisongo yang termasuk dalam ahlul bait.

Maulana Malik Ibrahim
Maulana Rahmatullah (Sunan Ampel
Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang)
Maulana Syarifuddin Hasyim (Sunan Drajat)
Raden Paku (Sunan Giri)
Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

sebagai contoh, silsilah dari Maulana Malik Ibrahim adalah sebagai berikut: Maulana Malik Ibrahim ibnu Barokat Zainul-Alam ibni Jamaluddin Al-Hussein (Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal ibnui Abdullah ibnu Abdul Malik ibnu Alawi Amal Al Faqih ibni Muhammad Shahib Mirbath ibni Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirulah ibnu Isa Al Rumi ibni Muhammad Naqib ibnu Ali al Uraidhi ibni Jaafar Sadiq ibni Muhammad Al Baqir ibni ALi Zainal Abidin ibni Al Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW
Selain sebagai walisongo yang menyebarkan agama Islam, peranan ahlul bait adalah di pemerintahan kesultanan. Berikut ini adalah kesultanan Islam Indonesia yang pernah berada di tangan ahlul-bait Rasulullah SAW:

Kesultanan Aceh
Kesultanan Deli
kesultanan Palembang
Kesultanan Bintoro Demak
Kesultanan Cirebon
Kesultanan Banten
Kesultanan Pontianak
Kesultanan Ternate
Sunan Pakubuwono di Surakarta

Peran ahlul bait di kesultanan Filipina :

Kesultanan Sulu (sekarang di Filipina)
Kesultanan Mindanao/Maguindanao

Peran ahlul bait di kesultanan Melayu :

Kesultanan Brunei
Raja-raja Perlis (semenanjung Malaysia)
Raja Kelantan, Patani dan Champa
Negeri Sembilan
Kesultanan Johor-Pahang
Kesultanan Terengganu
Raja-raja Riau
Kesultanan Selangor
Kesultanan Perak
Kesultanan Kedah

Kalau kita perhatikan, sebenarnya banyak ahlul bait yang ada di nusantara, baik sebagai ulama seperti walisongo, sebagai penguasa kesultanan, maupun sebagai orang biasa.
Banyaknya keturunan Rasulullah SAW di daerah nusantara ini sejalan dengan hadis berikut: “Kami ahlul bait telah Allah SWT pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran sepeninggalanku kelak sehingga datangnya suatu kaum dari sebelah timur yang membawa bersama mereka panji-panji hitam ….“.
Dari hadis ini, ada kesempatan bagi kawasan Melayu ini sebagai awal kebangkitan Islam kedua, di tengah keadaan dunia yang sudah sangat rosak….

Umat Islam musti menghormati serta membantu ahlul bait
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadis: “Empat golongan yang akan memperolehi syafaatku pada hari Kiamat: orang yang menghormati keturunanku, orang yang memenuhi keperluan mereka, orang yang berusaha membantu urusan mereka pada saat diperlukan, dan orang yang mencintai mereka dengan hati dan lidahnya.”
At-Tharabani mengemukakan hadis dari Abdullah ibnu Umar RA yang mengatakan: “Allah SWT menetapkan 3 ‘hurumat’ (hal-hal yang wajib dihormati dan tidak boleh dilanggar). Barangsiapa menjaga baik-baik 3 hurumat itu, Allah akan menjaga urusan agamanya dan keduniaannya. Dan barangsiapa tidak mengindahkannya, Allah tidak akan mengindahkan sesuatu baginya. Para sahabat bertanya, Apa 3 hurumat itu ya Rasulullah ? Baginda menjawab: hurumatul Islam, hurumatku dan hurumat kerabatku.”

Menjaga hubungan ahlul bait dan jangan membenci mereka
Abu Said Al Khudri RA berkata telah bersabda Rasulullah SAW “Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaaanNya, sesungguhnya seseorang tidak membenci kami, ahlul bait melainkan Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka” (HR Al Hakim)
gat rusak hari ini. Adanya ahlul bait yang berperan di nusantara nampaknya bukanlah sesuatu yang kebetulan.
//kawansejati.ee.itb.ac.id/hadis-tentang-ahlul-bait

Keturunan Nik, Wan, Tuan, Che, Tengku Kelantan-Patani dan Terengganu Berasal Dari Syed Hussein Jamadil Kubra???


Artikel Dari Sebuah Forum: KETURUNAN NIK,WAN,TUAN, CHE, TENGKU KELANTAN BERASAL DARI SYED HUSIEN JAMADIL KUBRA???
Ini plak misteri mencari Sayyid Hussein Jamadil Kubra (www.forum.cari.com/)

WonBin:
Beliau adalah tokoh yang terpenting di Nusantara. Terlalu penting sehingga nama beliau DIPADAMKAN oleh British dan DIPADAMKAN DARIPADABUKU SEJARAH DI SEKOLAH.

1. Sayyid Hussein Jamadil Kubra dikatakan sebagai datuk kepada Wali Songo.

2. Adik beliau merupakan Adi Putera, Guru Hang Tuah.

3. Keturunan beliau ialah Sultan Brunei sekarang.

4. Keturunan beliau adalah Sultan Kelantan sekarang.

5. Beliau dikaitkan dengan pembinaan Masjid Kampung Laut.

6. Keturunan beliau di Kelantan memakai gelaran Tengku, Nik dan Wan.

7. Beliau ketua Wali 7.

8. Beliau menetap agak lama di Kelantan sebelum meneruskan misi dakwah bersama-sama Wali Songo di Jawa. Bukit Panau di Tanah Merah Kelantan merupakan tempat pertapaan beliau dan tempat Wali Songo berkumpul sebelum ke Jawa.

WonBin:
WALI 7

Saiyid Hussein Jamadil Kubra dari keturunan Saiyid al-Alawiyah (bertemu hingga kepada Saiyidina Hussein cucu Rasulullah s.a.w.) anak dari bekas seorang gabenor kepada Sultan Muhammad Tugluq (Kesultanan Delhi) yang kemudian berkuasa di wilayah Deccan (India Selatan); telah sampai di Kelantan kira-kira pada tahun 1349 Masihi besama adiknya Saiyid Thana’uddin atau Syekh Saman (anak murid kepada Ibnu Hajar). Sudah menjadi takdair bahawa keturunan Rasulallah dizalimi, ditindas, dibunuh dan merantau meninggalkan Kota Mekah untuk menyelamatkan diri masing-masing.

Sepanjang misi dakwahnya Saiyid Husein sempat mengawini tiga puteri keluarga Diraja Empayar Chermin (Kelantan Purba) yang sewaktu itu ibu kotanya bernama ‘Jiddah’ terletak 3 batu dari Bukit Panau. Kota tersebut telah terbenam ke dalam bumi dan ditenggelami oleh air, kini dikenali sebagai Danau Tok Uban.

Anak sulong beliau, Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) merupakan pelopor dan ketua Wali Songo. Maulana Malik Ibrahim merupakan anak Saiyid Husein hasil perkahwinan dengan Puteri Linang Cahaya (adik kepada Cik Wan Kembang). Siapa sangka bahawa Wali Songo adalah anak buah (anak saudara) Cik Wan Kembang yang tersohor di Kelantan itu.

Salah seorang anak beliau, dihantar untuk berdakwah ke Borneo dan diangkat menjadi Sultan di Brunei bergelar Sultan Berkat yang merupakan nenek moyang raja-raja Brunei sekarang. Inilah jawapan kepada Misteri kenapa Sultan Brunei telah membina sebuah masjid yang cantikdan besar di gigi tasik Danau Tok Uban, sedangkan tempat ini ‘tersorok’ dan orang kelantan sendiri ramai yang tidak tahu kewujudan tasik yangagak luas sayup mata memandang.

Shaik Thanauddin pula menetap di Bukit Panau (Tanah Merah, Kelantan) sebagai tempat pertapaannya yang mana di sinilah Laksamana Hang Tuah datang untuk berguru semasa usia awal remaja sekitar tahun 1400. Pada zaman dahulu kala, Bukit Panau merupakan landmark bagi pelaut antarabangsa kerana bentuknya yang unik seperti piramid itu dapat dilihat dari laut ketika berada di perairan Laut China Selatan. Pada zaman dahulu, Bukit Panau diakses melalui Sungai Kelantan yang cuma disebelahnya. Kapal-kapal mudah sahaja melalui Sungai Kelantan yang luas itu. Inilah perkampungan Wali Songo dan tempat di mana mereka merancang dakwah di Tanah Jawa. jangan keliru, sebenarnya Bukit Panau ini bersebelahan sahaja dengan tasik Danau Tok Uban dan Masjid Sultan Brunei. Anjung Masjid Sultan Brunei di Tasik Danau Tok Uban di Pasir Mas Kelantan.

Semua informasi yang disampaikan oleh Wonbin ini agak menarik tetapi terlalu banyak informasi yang perlu dikaji selidik. Masalahnya data sejarah kita tak lengkap, hanyalah melalui cerita lisan. Kalau adapun penulisan seharusnya dalam tulisan jawi dan penulisannya tidak boleh sewenang-wenangnya diambil tanpa dikaji asal-usul naskah tersebut. Mungkin ini semua boleh terlerai jika diperincikan dan dibuat satu kajian perbandingan dengan sejarah di Jawa dan juga tulisan Arab dan China. Sudah tentulah sejarah2 sebegini tidak disimpan oleh pihak kolonial, kalau tidak pastinya sudah ditimbulkan oleh Mubin Sheppard dan Richard Winsteadt.

Selain Kota Salor, Kota Jelasin dan Puteri Saadong, aku juga terpanggil untuk mencari hubungan Puteri Saadong dengan kerajaan Perak. Negeri Perak sebenarnya telah wujud pada zaman pra sejarah lagi. Kota Tampan di Lenggong merupakan satu-satunya kawasan yang terbukti wujudnya Zaman Batu Lama di Tanah Melayu. Bertolak dari tarikh antara 4 ratus hingga 8 ribu tahun sebelum masihi, Negeri Perak telah mengalami evolusi dari masa ke masa.
Kesan peninggalan sejarah zaman batu ini terbukti dengan jumpaan alat-alat batu dan fosif-fosil manusia dikenali dengan nama ‘Perak Man’.Negeri Perak merentasi Zaman Hoabinhian seterusnya Zaman Batu Baru dan Zaman Logam, yang dapat dibuktikan dengan jumpaan-jumpaan tertentu.Ini disusuli pula dengan zaman Hindu/Buddha yang dijangkakan berlaku serentak dengan lain-lain kawasan di Tanah Melayu.

Selepas zaman ini, alam persejarahan Negeri Perak telah maju setapak lagi dengan wujudnya kerajaan-kerajaan tempatan seperti Manjung di Daerah Dinding dan Beruas (wujud setelah Manjung luput). Begitu juga beberapa kerajaan lagi di Perak Tengah dan Ulu seperti Tun Saban dan Raja Reman(Reman ini asalnya adalah sebahagian daripada Kerajaan Pattani Besar sbelum ianya berpecah-pecah). Serentak dengan itu Islam mula bertapak kukuh di negeri ini.Titik sejarah Negeri Perak sebenarnya bermula dengan penabalan Sultan Muzaffar Syah l yang berketurunan dari Sultan Mahmud Syah Melaka pada tahun l528. Walaupun zaman Kesultanan Negeri Perak telah muncul tetapi kuasa-kuasa tempatan masih diakui berkuasa. Corak pemerintahan yang dijalankan adalah urutan dari sistem feudal di Melaka yang berdemokrasi.

Negeri Perak lebih dikenali setelah kekayaan buminya diketahui iaitu ekoran dari penemuan bijih timah di Larut pada tahun l848 oleh Long Jaafar. Di kelantan dan Pattani juga mempunyai keturunan raja-raja yang memakai gelaran yang sama sehingalah Raja Kelantan di zaman Kelantan moden Long Yunus. Pendekata ini tidak mustahil. Apalagi bila Pattani dikatakan terhubung dengan Perak dan kedah dan adanya Sunga Petani yang seharusnya dipanggil Sungai Pattani, merujuk kepada sejarah.

Kota Jelasin terletak kira-kira 4.8 kilometer dari Bandar Kota Bharu. Kota ini terkenal semasa di bawah pemerintahan Cik Siti Wan Kembang dari tahun 1548 sehingga 1580. Kota Jelasin dibuka pada tahun 1663 dan dibina dengan kayu-kayu tebal serta diukir dengan baiknya oleh tukang-tukang ukir yang masyhur. Kubu-kubu pertahanan dibina berhampiran dengan kota tersebut. Parit-parit digali dengan dalamnya serta timbunan tanah yang tebal dibuat sebagai benteng pertahanan.
Semasa pemerintahan Puteri Saadong, kota ini bertambah maju dan kota ini dijadikan sebagai kubu pertahanan negeri Kelantan daripada serangan dan ancaman luar. Mengikut sejarah, Kota Jelasin pernah diserang oleh Raja Siam disebabkan iri hati dengan kemajuan Kota Jelasin. Akhirnya, Kota Jelasin binasa dan Puteri Saadong juga menghilangkan diri. Semenjak itu berita daripada Puteri Saadong tidak diketahui dan keadaan Kota Jelasin semakin kucar-kacir tanpa pemerintah.

Kini Kota Jelasin hanya dikenali dengan nama Kota sahaja. Kesan peninggalan kota lama itu hampir lenyap kerana kurang perhatian untuk memeliharanya dan kawasan sekitar kota tersebut kini ditumbuhi belukar.

RAJA ABDULLAH (1663-1671)
Makam Raja Abdullah yang terletak di Kampung Padang Halban, Kota Bharu.
Raja Abdullah adalah suami kepada Puteri Saadong

Raja Abdullah adalah putera kepada Raja Bahar. Baginda telah dikahwinkan dengan sepupunya Puteri Saadong, Puteri kepada Raja Loyor oleh Paduka Cik Siti Wan Kembang. Perkahwinan ini adalah untuk mengelakkan angkara dari Raja Siam yang juga berhasrat untuk memperisterikan Puteri Saadong.

Selepas istiadat perkahwinan tersebut, Paduka Cik Siti Wan Kembang telah menabalkan Raja Abdullah menerajui Kota Tegayung. Perkahwinan ini juga secara tidak langsung telah menamatkan sejarah pemerintahan di Jembal. Kemudiannya Cik Siti Wan Kembang telah meninggalkan Kota Tegayung. Kota yang baru ini dinamakan Kota Jelasin (sekarang Kampung Kota, Kota Bharu). Kota Jelasin juga kemudiannya diserahkan kepada Raja Abdullah dan Puteri Saadong.

Pemerintahan Raja Abdullah dan Puteri Saadong tidak lagi berpusat di Jembal tetapi di Kota Jelasin. Besar kemungkinan kuasa pemerintahan Raja Abdullah ini meliputi kerajaan Jembal. Andaian ini berdasarkan kepada keadaan di Jembal yang tidak mempunyai pemerintah selepas kemangkatan Raja Loyor dalam tahun 1663.

Dalam tahun 1671 baginda Raja Abdullah telah mangkat. Baginda dikatakan mati ditikam oleh isteri baginda Tuan Puteri Saadong dengan penyucuk sanggul dalam satu pergaduhan di Kota Mahligai. Pergaduhan ini berpunca daripada sikap marah Tuan Puteri Saadong terhadap suaminya Raja Abdullah yang tidak setia terhadap janji.

Baginda Raja Abdullah telah dimakamkan di Padang Halban, dalam daerah Melor kira-kira 17 km dari bandar Kota Bharu.
BUKIT MARAK, PERINGAT, KOTA BHARU
Pemandangan di sekitar Bukit Marak :
Tempat ini dipercayai merupakan tempat istirehat lagenda Puteri Saadong.
Di sebelah kirinya ialah Sekolah Menengah Bukit Marak..
Batu-batu timbul yang menarik terdapat di Bukit Marak
yang sering dikunjungi oleh pelawat-pelawat
dan ahli-ahli kaji sejarah.

Bukit Marak terletak kira-kira 20 km daripada bandar Kota Bharu. Menurut sejarah, Cik Siti Wan Kembang, pernah bersemayam di sini sewaktu Pengkalan Datu menjadi pelabuhan yang penting sekitar tahun 1605.

Bukit Marak juga menjadi tempat bersemayam Puteri Saadong selepas kemangkatan suaminya Raja Abdullah dalam tahun 1761M. Kota Mahligai yang menjadi pusat pemerintahan pada masa itu telah diserahkan kepada Raja Abdul Rahim yang ditabal menggantikan Raja Abdillah.

Semasa berada di Bukit Marak, Puteri Saadong amat disayangi oleh rakyat jelata kerana kemurahan hati baginda. Baginda sering menjadi tempat rakyat jelata meluahkan perasaan terhadap kezaliman yang dilakukan oleh Raja Abdul Rahim. Peristiwa ini membuat baginda sering berdukacita dan akhirnya menyebabkan baginda memencilkan diri ke Gunung Ayam.

Hingga kini kesan-kesan peninggalan Tuan Puteri Saadong di Bukit Marak masih lagi dapat dilihatnya. Antaranya kesan-kesan istana tempat baginda bersemayam dan bahagian bawahnya pula terdapat satu kawasan yang dipercayai tanah perkuburan pengikut-pengikut baginda.
Daripada maklumat yang didapati ternyata Kota Salor mempunyai dua cerita yang berbeza, satunya ia diserang oleh Siam dan satu lagi ianya diserang oleh Sultan Muhamad Mulut Merah, iaitu Sultan Muhamad II, bapa kepada Long Ghafar. Kedua-duanya merujuk kepada abad yang berbeza, mungkin juga kedua-dua peristiwa tersebut terjadi pada zaman yang berbeza, tetapi pada zaman Sultan Muhamad II Kota tersebut lenyap atau dilenyapkan kerana kekuasaannya serta usahanya menghapuskan raja-raja kecil yang ada diseluruh negeri.

(Brikut petikan dari: http://pkrjk.blogspot.com/2007/07/sejarah-kerabat-raja-jembal-kelantan.html)

JEMBAL DALAM LIPATAN SEJARAH

Pengenalan
•Negeri Kelantan terletak di pesisir Pantai Timur Semenanjung.
•Menjadi tumpuan pedagang berulang alik dari timur dan barat.
•Kedudukannya yang strategik, menyebabkan wujudnya kerajaan yang besar di situ yang
mengawal aliran perdagangan dan politiknya.
•Salah sebuah kerajaan yang masyhur di abad ke 17 dan 18 ialah Kerajaan Jembal.

Sejarah Awal Kelantan

•Sejarah awal Kelantan sukar dikesan.
•Ada pendapat mengatakan Kelantan sudah wujud diabad yang pertama lagi dengan panggilan ‘Medang Kemulan’.
•Dalam abad ke 5, Kelantan dikenali dengan nama’Kalatana’ atau ‘Tanah Kala’.
•Catatan Shen Yao (414 – 512) ada menyebut negeri ‘Ho-lo-tan’ atau ‘Kou-lo-tan’.

Kelantan Abad Ke 15

•Tahun 1411 Kelantan diperintah oleh Raja Kumar (Islam).
•Menjalinkan hubungan dengan negeri Cina.
•Sultan Iskandar memerintah sehingga tahun 1465.
•Tahun 1465 Sultan Mansur menggantikan ayahyandanya yang mangkat.
•Tahun 1477, Kelantan diserang oleh Melaka di bawah Sultan Mahmud Syah.
•Sultan Mahmud Syah akhirnya berkahwin dengan puteri Sultan Mansur.
•Tahun 1526 Raja Gombak menggantikan Sultan Mansur.

Kelahiran Cik Siti Wan Kembang

•Cucu Raja Gombak iaitu Raja Ahmad berkahwin dengan Cik Banun Puteri Sri Nara D’Raja iaitu
sepupu Raja Hussin.
•Baginda dikurniakan seorang puteri bernama Cik Wan Kembang.
•Sultan Ahmad mangkat ketika Cik Wan Kembang berusia 4 tahun.
•Raja Hussin dari Johor dilantik sebagi pemangku raja.

Kerajaan Cik Siti Wan Kembang

•Tahun 1610, Raja Hussin mangkat.
•Cik Wan Kembang ditabal menjadi raja.
•Pusat Pentadbiran di Gunung Cinta Wangsa, Ulu Kelantan.
•Kerajaan Cik Wan Kembang sangat masyhur.
•Ramai pedagang datang berniaga, termasuk dari Arab.
•Orang-orang Arab memanggil baginda dengan panggilan ‘Paduka Cik Siti’.
•Dari situ baginda lebih dikenali dengan nama ‘Cik Siti Wan Kembang’.

Asal-usul Kerajaan Jembal

•Kerajaan Jembal diasaskan oleh Raja Besar.
•Raja Besar dikatakan dari keturunan Raja Bersiung yang memerintah Kedah abad 14.
•Raja Besar dan pengikut-pengikutnya mencari tempat yang sesuai untuk dijadikan negeri.
•Baginda mendirikan sebuah kota di tepi sungai Babong, di Pulau Melaka.
•Di situ terdapat satu pokok ‘jambu jembal’ yang besar.
•Lalu baginda menamakan tempat itu ‘JEMBAL’.

Pertabalan Raja Sakti

•Tahun 1638, Raja Besar menabalkan Raja Sakti sebagai penggantinya.
•Raja Sakti dikurniakan 7 orang anak iaitu;
~ Raja Adiluddin (Raja Loyar)
~ Raja Bahar (Raja Udang)
~ Raja Omar (Raja Ekok)
~ Raja Sungai
~ Puteri Sayu Bari
~ Puteri Unang Melor
~ Puteri Cempaka Bongsu

Kelantan Di Bawah Raja Loyar

•Tahun 1649 Raja Loyar ditabalkan sebagai raja memerintah Jembal.
•Raja Bahar dilantik sebagai Bendahara.
•Raja Omar sebagai Raja Muda.
•Raja Sungai sebagai Temenggong.
•Raja Loyar sangat dikasihi oleh rakyatnya.
•Baginda dikatakan mempunyai sifat kesaktian dengan berdarah putih, tulang tunggal, bulu
roma songsang, lelangit hitam, lidah fasih dan air liur masin.

Hubungan Dengan Kerajaan Cik Siti Wan Kembang

•Di bawah Raja Loyar, kerajaan Jembal bertambah maju dan makmur.
•Hubungan dengan kerajaan Cik Siti Wan Kembang adalah baik.
•Raja Loyar mempunyai 2 orang cahaya mata, iaitu seorang putera (meninggal) dan seorang
puteri bernama Puteri Mariam.
•Puteri Mariam lebih dikenali sebagi Puteri Saadong.
•Cik Siti Wan Kembang telah mengambil Puteri Saadong sebagai anak angkat.
•Puteri Saadong dihadiahkan dua ekor anak kijang untuk dijadikan mainan.
•Hingga sekarang gambar 2 ekor kijang dijadikan lambang kebesaran Kerajaan Negeri Kelantan.

Perkahwinan Puteri Saadong dengan Raja Abdullah

•Puteri Saadong termasyhur dengan kecantikannya.
•Raja Prasat Thong dari Siam menghantar utusan untuk meminang Puteri Saadong.
•Namun pinangan itu ditolak.
•Puteri Saadong lalu dikahwinkan dengan sepupunya Raja Abdullah.
•Raja Abdullah telah mendirikan sebuah kota yang dinamakan ‘Kota Jelasin’ (Kg. Kota
sekarang).
•Cik Siti Wan Kembang, Raja Abdullah dan Puteri Saadong telah membuka penempatan baru di Kg. Chetok yang dikenali sebagi ‘Tanah Serendah Sekebun Bunga’.
•Di sini Cik Siti Wan Kembang gering, lalu dibawa ke Gunung Cinta Wangsa dan meninggal di
sana.
•Setelah itu seluruh Kelantan diperintah oleh Raja Loyar.

Peperangan Dengan Angkatan Siam

•Raja Siam marah di atas perkahwinan Puteri Saadong dengan Raja Abdullah.
•Baginda menghantar angkatan menyerang Kota Jelasin.
•Raja Abdullah berundur ke Melor dan membina ‘Kota Mahligai’ di sana.
•Angkatan Siam mara pula ke Melor.
•Kerana sayangkan nyawa rakyat, Puteri Saadong menyerah diri dan dibawa ke Ayudhiya.

Kemangkatan Raja Loyar

•Ketika Puteri Saadong berada di Siam, ayahanda Raja Loyar telah mangkat.
•Jenazah banginda dimakamkan di Jembal iaitu bersebelahan SMK Raja Sakti sekarang.
•Adinda baginda Raja Omar ditabal menjadi raja dengan gelaran Sultan Omar

Puteri Saadong Berangkat Pulang

•Setelah kembali dari Siam, Puteri Saadong mendapati ayahandanya telah mangkat.
•Puteri Saadong terus ke Kota Mahligai.
•Sepeninggalan Puteri Saadong, Raja Abdullah telah berkahwin dengan anak pembesar negeri.
•Satu pertengkaran telah berlaku.
•Raja Abdullah mangkat setelah tertikam penyucuk sanggul Puteri Saadong.
•Jenazah baginda dimakamkan di Kampung Padang Halban, dekat Melor.

Pemerintahan Raja Abdul Rahim

•Tahun 1671, Raja Abdul Rahim, adinda Raja Abdullah, dilantik memerintah di Kota Mahligai.
•Puteri Saadong berpindah ke Bukit Marak.
•Pemerintahan Raja Abdul Rahim sangat zalim.
•Ramai rakyat datang mengadu kepada Puteri Saadong.
•Tahun 1673, Puteri Saadong berpindah ke Gunung Ayam untuk mengasingkan diri.

Kemangkatan Raja Abdul Rahim

•Raja Omar dari Jembal menghantar anaknya Raja Kecil Sulong untuk menyelesaikan masalah
di Kota Mahligai.
•Salah seorang pengikut Raja Kecil Sulong berjaya menikam Raja Abdul Rahim di tepi Tasik
Lelayang Mandi.
•Baginda mangkat di situ.

Kegemilangan Kelantan Di Bawah Sultan Omar

•Kelantan amat maju di bawah Sultan Omar.
•Baginda dapat menyatukan Kelantan di bawah satu pentadbiran.
•Baginda membuat lawatan ke seluruh jajahan negeri.
•Membuka satu kawasan tanaman padi yang luas di Padang Jembal, Bachok.
•Mengadakan hubungan dengan negara luar seperti Pattani, China dan Jawa.
•Juga dengan negeri jiran seperti Terengganu.
•Baginda dikurniakan 5 orang putera puteri; Raja Kecil Sulong, Raja Pah, Raja Sakti III, Raja Ngah dan Raja Nah.

Kedatangan Anak Raja Pattani

•Tahun 1686, tiga orang anak Datu Pengkalan Tua, Raja Pattani datang mengadap Sultan Omar.
•Mereka ialah;
~ Tuan Sulong (Long Sulong)
~ Tuan Senik (Long Senik)
~ Tuan Besar (Long Bahar)
•Long Bahar dikahwinkan dengan anakanda baginda, Raja Pah.
•Yang lain dikahwinkan anak pembesar negeri.
•Sultan Omar membina Kota Senang yang kemudiannya diserah kepada Raja Pah dan suaminya.

Sultan Omar Mangkat

•Sultan Omar memerintah selama 46 tahun.
•Baginda mangkat pada tahun 1721
•Jenazah baginda dimakamkan berhampiran Kota Seneng.
•Sekarang dikenali sebagai Kg Senenag.
•Belindan makam baginda dipercayai didatangkan dari Negeri Cina.

Raja Kecil Sulong

•Sultan Omar diganti oleh anakanda baginda Raja Kecil Sulong.
•Raja Kecil Sulong membina sebuah kota yang dinamakan ‘Kota Teras’.
•Kota ini diperbuat daripada teras kayu tembesu.
•Baginda memerintah 5 tahun sahaja.
•Mangkat pada tahun 1725 dalam usia yang muda.

Peranan Raja Pah

•Putera Raja Kecil Sulong yang bernama Raja Abdul Rahman masih kecil.
•Raja Pah telah mempengaruhi pembesar negeri supaya suaminya Tuan Besar / Long Bahar dilantik menjadi Sultan.
•Dengan itu tertolaklah hak Raja Abdul Rahman.
•Long Bahar telah berpindah dari Kota Seneng ke Kota Jembal.
•Apabila Long Bahar mangkat, anakanda baginda Long Sulaiman dilantik memerintah Kelantan.
•Dari keturunan Long Sulaiman inilah datangnya salasilah kesultanan Kelantan hari ini.

Jembal Hari Ini

•Nama Jembal kekal sehingga tahun 1922 sahaja.
•Tempat itu telah berubah kepada nama Kedai Lalat dengan secara tidak dirancang.
•Pekan tersebut dikunjungi oleh ramai penjual dan pembeli dalam masa yang singkat sahaja (*seperti lalat).
•Kerana itu pekan ini dinamakan Kedai Lalat.
•Suasana itu kekal hingga ke hari ini.

Usaha Mempertabatkan Keturunan Jembal

•Keturunan Jembal tersebar di seluruh negeri Kelantan.
•Terdapat juga di Kedah, Perak, Pahang, Terengganu dan lain-lain negeri.
•Mereka memakai berbagai gelaran; Raja, Tengku, Ku, Tuan dan Nik.
•Ada juga yang mengugurkan gelaran nama itu.
•Tahun 1991, PKRJK ditubuhkan bagi mempertabatkan dan menyatukan semula anak cucu Raja Jembal.
•AJK membuat lawatan dan memberi penerangan di merata tempat dan ceruk rantau bagi merealisasikan usaha murni ini.
•PKRJK juga telah berjaya mengembalikan nama pekan kecil ini dan daerah sekitarnya kepada ‘KOTA JEMBAL’.

WALI SONGO DARI KETURUNAN KELANTAN


Sayyid Hussain Jamadil Kubra adalah tokoh yang kerap disebut namanya ketika membicarakan tentang keturunan Nik dan Wan di kepulauan Melayu.
Salasilah beliau adalah Sayyid Hussain bin Sayyid Ahmad Shah Jalal al-Khan bin Sayyid Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik al-Azhamat Khan bin Sayyid Alawi bin Sayyid Muhammad Sahib al-Mirbat bin Sayyid Ali Khali’ Qasam bin Sayyid Alawi bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alawi bin Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad al-Muhajir bin Sayyid Isa al-Rumi bin Sayyid Muhammad al-Naqib bin Sayyid Ali al-Uraidhi bin Imam Jaafar al-Sadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam Ali Zainul Abidin bin Sayyidina Hussain bin Sayyidah Fatimah al-Zahra binti Sayyidina Muhammad Rasulullah. Ini adalah berdasarkan salsilah Tok Pulau Manis
Menurut salasilah tersebut, Sayyid Hussain Jamadil Kubra mempunyai tiga orang putera iaitu Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ibrahim Akbar dan Sayyid Ali Nurul Alam.
Dari keturunan Maulana Malik Ibrahim dan Sayyid Ali Nurul Alam lah lahirnya para Wali Songo seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Darajat, Sunan Kudus dan Sunan Muria.
Saya tertarik juga dengan salasilah waliyullah Tok Pulau Manis di atas kerana disebut bahawa dari keturunan Sayyid Ali Nurul Alam lah lahirnya Wan Demali, Wan Hussein Telok Manok, Wan Senik, Wan Biru dan lain-lain.
wasalam selesai masalah……

KETURUNAN MELAYU BERASAL DARI NABI IBRAHIM DENGAN SITI QANTURA


God Most Gracious Most Merciful ..
I seek refuge with the name of God from Satan the outcast (Satan the stoned)..

“No mystery enjoyment when opened secretly”

מחכים לנו במסיבה חיכו! SALAM..

Any matters raised, I would like to say that the Islamic Empire ruled for years 500n was actually Islam that killed my ancestor, namely Saidina Hussain rd. (Grandson of the Prophet Muhammad SAW) in Karbala until the descent I had to hide in Iran (Persian Zoroaster-)-Hadramaut 1110M-1150M (Allawiyyin-Suffiyyah) and finally to Gujarati [(Delhi Sultanate-Sultan Ahmad Jalal AlAkhbar 1250M-1300M (Zoroastarian+Monghul)] and goes to East (Malay Monarchy>Zoroastarian+Monghul+Malay [(the children/offspring of Prophet Abraham-Yunnan) Abraham + Siti Qantura=MELAYU], before the arrival of armed Kesultan Delhi.

90-91. And Aaron indeed had said to them beforehand: “O my people! You are being tried in this, and verily, your Lord is the Most Beneficent, so follow me and obey my order. They said: “We will not stop worshipping it (i.e. the calf), until Moses returns to us.”

A history, Before the arrival of armed Sultanates Delhi. Then The Sultanate get 14 offspring of siblings and 7 (Known as Wali 7) to the East [(Federated Malay-Monarchy (YM Syed Hussein JamadilKubra AlAkhbar Nusantara 1350M-)] and 7 more people (Syed Hussain the oldest) living in the continent of India (India-Pakistan-Afghanistan), two streams of Islam distinguishes this continent with the Islamic Middle East or Islamic Modern hybrids or Islamic or any name in Islam, but conditions still have 73 Islamic groups, but split up Resurrection.

Ahlulbayt for hunting and is killed by the Muslims themselves who do not like the direction that God’s love in Ahlulbayt. Then Ahlulbayt killed and hated until now. Because Islam is the belief that elected caliph of Ahlulbayt. Those murderers saidinal Hussein rd (Grandson of the Prophet Muhammad ) this is the Hadith that rotate (Words by Prophet Muhammad SAW) and said it was the basis of Islam. This problem should be resolved by me as .. err .. Mr.ZORRO la! hahaha.. the Last ZORRO.. Wakakaaa zaaPP___zZ.

3:33 Allah chose Adam, Noah, Abraham Family (Ahlulbayt) and Imran Family (Jews and Christian) than from other nations in his day; as a descendant of a descendant of the other. “

O you who believe! Be you helpers (in the Cause) of God as said ‘Iesa (Jesus), son of Maryam (Mary), to Al­Hawârriyûn (the disciples):

“Who are my helpers in the Cause of my Lord?”

Al­Hawârîeen (the disciples) said: “We are Allâh’s (Rabbi) helpers” (i.e. we will strive in His Cause!).

Then a group of the Children of Israel believed and a group disbelieved. So We gave power to those who believed against their enemies, and they became the uppermost.

Verily, those who believe in God and in His Messengers, and those who are Jews, and the Sabians, and the Christians, and the Magians, and those who worship others besides God, truly, my Lord will judge between them on the Day of Resurrection. Verily! My Lord is Witness over all things.

And hold fast, all of you together, to the Rope of God, and be not divided among yourselves, and remember God favour on you, for you were enemies one to another but He joined your hearts together, so that, by His Grace, you became brethren, and you were on the brink of a pit of Fire, and He saved you from it. Thus God makes His proofs, evidences, verses, lessons, signs, revelations, etc., clear to you, that you may be guided.

note: Zoroastrianism was the state religion in Persia under the Sassanian dynasty (3rd-7th century AD), but an Islamic invasion in 642 resulted in the persecution and emigration of believers. Isolated groups survived there, but the focus of emigration was Gujerat, India 1200M (ancestor of the Sultanate of Malay Rulers in the Nusantara (Southeast Asia-The latest Nation) where the new cult flourished due to Hindu toleration. There Zoroastrians became known as Parsees (from the Persia- Parsi, ‘Persian’ & Malaysian). Characteristic religious practices include the preservation of the sacred fire, and disposal of the dead by exposure on ‘towers of silence’.

‘Do not you proud and come to me with humility; If you (really) LOVE God, then follow me, God will LOVE you and forgive you your sins. And I have come to you with a SIGN FROM YOUR LORD, so fear God and OBEY ME! Truly Allah (God) is my Lord and your Lord. Therefore submit to HIM! This is A STRAIGHT PATH; That my Lord has forgiven me, and made me of the honoured ones! I possess no power of benefit or hurt to myself except as Allâh wills. If I had the knowledge of the unseen, I should have secured for myself an abundance of wealth, and no evil should have touched me. I am but a warner, and a bringer of glad tidings unto people who believe.”

And hold fast, all of you together, to the Rope of God, and be not divided among yourselves, and remember God favour on you, for you were enemies one to another but He joined your hearts together, so that, by His Grace, you became brethren, and you were on the brink of a pit of Fire, and He saved you from it. Thus God makes His proofs, evidences, verses, lessons, signs, revelations, etc., clear to you, that you may be guided.

From The Last ZORRO with Love, smile peace & harmony..

Keturunan Raja Kelantan Dari….Allahu Akbar!!


Uzbek Kings And Kelantan Royals
The royal house of Kelantan is known to have intermarried with Chinese royalty and Champa royalty from Vietnam.

It also intermarried with Uzbek (Mongol) royalty of India.

Specifically the Tughluq dynasty which ruled India from Delhi for a decade from 1321 and its relative noble families, all of them from Attila The Hun’s Uzbek royals in Uzbekistan.

The Kelantan royals received their Uzbek (Mongol) infusion courtesy of nobles and royals of the Madurai Sultanate, an offshoot of the Tughluq Sultanate.

The Madurai Sultanate controlled part of Tamil Country (Tamil Nadu) from 1335-1378.

The founder of the Madurai Sultanate was Jalaluddin Ahsan Khan who was also the father-in-law of Moroccan Arab traveller and historian Ibnu Battuta.

One of the nobles of the Madurai Sultanate was Syed Hussein Jamadil Kubra. He was a Sufi Muslim missionary and he went to Kelantan.

There he married into Kelantan royalty and from him came eight of the Nine Saints (Wali Songo) who brought Islam to Java, Borneo and the Bugis Lands (Sulawesi, Maluku and Tenggara Islands).

Sultan Ismail Petra of Kelantan is descended from Syed Hussein Jamadil Kubra, via Puteri Selindung Bulan, the daughter of Sultan Baki Shah and the wife of Syed Hussein.

So is Chief Minister of Kelantan Datuk Nik Aziz Nik Mat, former Finance Minister Tengku Razaleigh Hamzah, former Foreign Minister Tengku Ahmad Rithauddeen, writer and activist Dzulkarnain Taib, the Perak royal house (part-Johor royal and part-Kelantan royal), the Terengganu royal house (part-Pahang royal and part-Kelantan royal), Sarawak Chief Minister Tan Sri Abdul Taib Mahmud, former Sarawak State Governor Tun Abdul Rahman Yaakub, former Proton (Malaysian National Car Company) CEO Tengku Mahaleel Tengku Ariff and his son drift king Tengku Djan Ley Tengku Mahaleel.

Uzbeks and Kazakhs, like the Mongols of Mongolia, are a mix of Pashtun (Afghan, which is Parsee and Punjabi mixed), Armenian (also called Kurdish) and Tibetan (also called Burmese).

TUAN TABAL-PENYEBAR THARIQAT AHMADIYAH PERTAMA DI NUSANTARA


TUAN TABAL

PENYEBAR THARIQAT AHMADIYAH PERTAMA DI NUSANTARA
Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH

Hubungan Syeikh Wan Ali bin Abdur Rahman al-Kalantani dengan Tuan Tabal yang diriwayatkan sebagai saudara ipar dalam Ruangan Agama, Utusan Malaysia, Isnin, 13 September 2004/28 Rejab 1425H, masih dirasakan perlu diberi keterangan lanjut. Oleh itu pada terbitan kali ini dipilih judul mengenai ulama yang berasal dari Tabal itu. Nama sebenarnya ialah Haji Abdus Shamad bin Muhammad Saleh Tabal al-Fathani al-Kalantani. Sebelum bergelar Tuan Tabal beliau juga pernah digelar Tuan Kutan. Oleh sebab semua tulisan yang meriwayatkan Tuan Tabal sebelum ini tidak pernah menyebut bahawa beliau adalah beripar dengan Syeikh Wan Ali Kalantani, maka sebelum meneruskan riwayat ini dirasakan perlu menulis perbandingan di bawah ini. Para penulis Kelantan selama ini menyebut bahawa isteri Tuan Tabal itu bernama Wan Tsum atau Wan Kaltsum anak Tok Semian. Maklumat daripada keluarga ini di Terengganu menyebut bahawa Tok Semian adalah nama gelar kepada Haji Abdur Rahman. Apabila kita teliti maklumat ini, maka salasilah yang diperoleh dari Terengganu ada benarnya, kerana ayah Syeikh Wan Ali Kutan dan Wan Kaltsum, adiknya memang bernama Abdur Rahman. Cuma ayah Abdur Rahman di sini bernama Abdul Ghafur, sedangkan ayah Abdur Rahman pada konteks isteri Tuan Tabal sebelum ini dikatakan bernama Lebai Muda. Kemungkinan Lebai Muda di sini adalah nama gelar juga bagi Abdur Ghafur pada konteks datuk kepada Syeikh Wan Ali Kutan dan saudaranya Wan Kaltsum tersebut. Penulis meyakini maklumat versi Terengganu ini, namun walau bagaimana pun penelitian tetap masih perlu dijalankan tanpa hentinya.
KELAHIRAN DAN PENDIDIKAN
Ada pertikaian pendapat tentang tahun kelahiran Tuan Tabal. Yang pertama mengatakan bahawa beliau lahir tahun 1816 Masihi, dan pendapat yang kedua menyebut tahun 1840 Masihi. Nik Abdul Aziz bin Haji Nik Hassan dalam buku Sejarah Perkembangan Ulama Kelantan menentukan bahawa Tuan Tabal lahir pada tahun 1840 Masihi, yang diikuti oleh Hamdan Hassan dalam bukunya Tarekat Ahmadiyah di Malaysia Suatu Analisa Fakta Secara Ilmiah (DBP, 1990, hlm.72). Disebabkan ada dua pendapat di atas, maka penulis masih ragu dengan kedua-dua tahun yang disebutkan itu. Kedua-dua tahun yang disebutkan penulis-penulis lain tidak menyebutkan tahun Arabiyahnya. Padahal pada zaman itu tidak ada ulama kita mencatatkan tahun kelahiran dan tahun wafat menggunakan tahun Masihi. Pemindahan dari tahun Arabiyah kepada tahun Masihi sering terjadi kekeliruan, sebagai contoh Nik Abdul Aziz dalam buku yang sama tersebut di atas (lihat hlm. 99) menyebut bahawa Syeikh Ahmad al-Fathani lahir tahun 1872, padahal hanya salah menyalinnya sahaja daripada tulisan penulis dalam majalah Dian bil. 49, 1972, yang penulis tulis tahun 1272 Hijrah bukan 1872 Masihi.Tulisan terawal Tuan Tabal ialah Munabbihul Ghafilin yang beliau selesaikan dalam tahun 1285 Hijrah yang jika dijadikan tahun Masihi lebih kurang tahun 1868 Masihi, bererti ketika itu Tuan Tabal baru berusia 28 tahun. Kitab yang tersebut itu walaupun nipis sahaja, namun mencorakkan falsafah mistik peringkat tinggi, yang menurut tradisi ulama dunia Melayu, ilmu tasawuf semacam itu tidak pernah ditulis oleh orang-orang yang berumur 28 tahun. Walaupun mereka menguasai ilmu tasawuf, namun mereka lebih suka menulis ilmu-ilmu yang bercorak zahir saja. Oleh sebab hal-hal yang tersebut di atas tahun 1840 Masihi itu perlu penyelidikan lebih lanjut.Setelah memperoleh ilmu di Patani, Tuan Tabal melanjutkan pelajarannya ke Mekah. Oleh sebab ilmu Arabiyah beliau kurang kemas sewaktu di Patani, beliau diperintah oleh gurunya Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki memperdalam ilmu-ilmu Arabiyah itu daripada Syeikh Ahmad al-Fathani, walaupun Syeikh Ahmad al-Fathani sendiri jauh lebih muda daripada Tuan Tabal. Tuan Tabal lebih muda sedikit umurnya daripada Syeikh Muhammad Zain al-Fathani, ayah kepada Syeikh Ahmad al-Fathani.Mengenai Tuan Tabal belajar kepada Syeikh Ahmad al-Fathani itu sangat masyhur diceritakan oleh guru-guru pondok. Juga telah dirakamkan berupa tulisan oleh beberapa orang di antaranya Muhammad Uthman El-Muhammady, Hamdan Hassan (dalam buku yang sama di atas) dan lain-lain. Namun demikian tulisan Hamdan Hassan mengenai kepulangan Tuan Tabal dari Mekah sebelum tahun 1860 Masihi (lihat hlm. 74) masih meragukan. Sebab, dalam tahun 1860 Masihi itu Syeikh Ahmad al-Fathani baru berumur 4 tahun, jadi dalam tahun berapakah Tuan Tabal belajar kepada Syeikh Ahmad al-Fathani ? Sebab itu mahu tidak mahu kita terpaksa memilih salah satu daripada dua, iaitu Tuan Tabal benar pernah belajar kepada Syeikh Ahmad al-Fathani jauh sesudah tahun 1860 Masihi, atau Tuan Tabal tidak pernah belajar kepada Syeikh Ahmad al-Fathani kerana ketika beliau turun dari Mekah pada tahun 1860 Masihi, Syeikh al-Fathani masih kanak-kanak.
Penulis tetap masih berpegang kepada cerita yang mutawatir bahawa Tuan Tabal memang pernah belajar kepada Syeikh Ahmad al-Fathani, namun yang perlu penelitian ialah tahun-tahun yang bersangkutan dengan Tuan Tabal kerana masih banyak yang diragui. Ada pun tahun-tahun yang melibatkan Syeikh Ahmad al-Fathani mulai lahir, aktiviti kepelbagaian dalam kehidupan dan tarikh wafat semuanya cukup jelas kerana dokumen mengenai beliau memang tercatat secara teratur. Dalam waktu yang sama Tuan Tabal, Syeikh Wan Ali Kutan dan Syeikh Ahmad al-Fathani menerima Thariqat Ahmadiyah daripada Sidi Syeikh Ibrahim ar-Rasyidi. Sidi Syeikh Ibrahim ar-Rasyidi adalah murid kepada Sidi Ahmad Idris, iaitu daripadanya dinisbahkan Thariqat Ahmadiyah yang tersebut. Oleh sebab Tuan Tabal pulang ke Kelantan sedangkan Syeikh Wan Ali Kutan dan Syeikh Ahmad al-Fathani tetap tinggal di Mekah, maka dipercayai Tuan Tabal adalah orang pertama menyebarkan thariqat tersebut di Kelantan dan sekitarnya, atau tempat-tempat lain di Nusantara.Sampai artikel ini ditulis memang belum diketahui orang lain yang lebih awal menyebarkan thariqat itu di dunia Melayu, bagaimanapun penyebaran yang dilakukan oleh Tuan Tabal tidaklah secara besar-besaran seperti yang dilakukan oleh Syeikh Muhammad Sa’id Negeri Sembilan yang muncul agak terkebelakang sedikit daripada Tuan Tabal.
AKTIVITI
Maklumat mengenai Tuan Tabal, pengamal Thariqat Ahmadiyah yang tersebut dapat disemak daripada surat Raja Kelantan ibnu Sultan Muhammad kepada Syeikh Ahmad al-Fathani tarikh 14 Ramadan 1323 Hijrah, tertulis,”… orang yang dahulu beberapa banyak terima Thariqat Rasyidi, seperti Tuan Haji Abdus Shamad Tabal …” Dipercayai beliau telah mengajar thariqat yang tersebut terutama kepada anak-anak beliau. Bagaimanapun pengajaran Thariqat Ahmadiyah yang disebarkan oleh Tuan Tabal bukanlah merupakan pengajian asas. Pengajian yang asas dan pemantapan beliau mula mengajarnya di kampung Kutan, Kelantan, selanjutnya pindah ke Terengganu. Di antara muridnya di Terengganu ialah Bentara Guru Haji Wan Saleh, iaituDato’ Bentara Guru Mufti Terengganu. Selanjutnya beliau mengajar pondok di kampung Tempoyak Tabal. Setelah berpindah ke Kota Bharu, Kelantan, pengajaran dan dakwah lebih dipergiatkan lagi. Beliau telah berhasil membangun sebuah surau tempat beribadat dan mendidik umat di Lorong Semian.
PENULISAN
Karya Tuan Tabal yang telah ditemui ialah:
1. Munabbihul Ghafilin, diselesaikan hari Sabtu, 2 Muharam 1285 Hijrah/ 1868 Masihi. Kandungannya membicarakan tasawuf, merupakan petikan daripada kitab Ihya Ulumid Din dan Masyariqul Anwar. Naskhah yang dicetak berasal daripada salinan anak beliau, Nik Abdullah pada hari Sabtu, 29 Syaaban 1320 Hijrah.
2. Jalalul Qulub bi Zikrillah, diselesaikan pada waktu Zuhur, hari Rabu, 18 Muharam 1287 Hijrah/1870 Masihi. Kandungannya juga mengenai tasawuf. Cetakan pertama oleh Majlis Ugama Islam Kelantan, 29 Zulhijjah 1254 Hijrah/ 1935 Masihi. Cetakan yang kedua, Mathba’ah al-Kamaliyah, Kota Bharu, Kelantan. Diberi kata pendahuluan oleh Tuan Guru Haji Nik Daud bin Ahmad Jambu, di Bukit Rahmah Tanah Merah, Kelantan.
3. Kifayatul `Awam fima Yajibu `alaihim min Umuril Islam, diselesaikan 14 Safar 1295 Hijrah/1878 Masihi. Manuskrip kitab ini telah penulis miliki pada 3 Syawal 1411 Hijrah, dihadiahkan oleh salah seorang keturunan Tuan Guru Haji Ahmad bin Abdul Manan (ulama Kelantan murid Syeikh Ahmad al-Fathani). Manuskrip tersebut tidak lengkap dan merupakan salinan yang dilakukan pada akhir bulan Syawal 1321 Hijrah/1903 Masihi. Selain manuskrip penulis juga memiliki cetakan batu yang diperoleh di Senggora (1991). Tempat dan tarikh cetakan tiada tersebut dalam cetakan huruf batu tersebut.
4. Mun-yatu Ahlil Auwab fi Bayanit Taubah, oleh sebab saya tidak dapat merujuk kitab asli, maka tidak dapat memastikan yang mana sebenarnya judul yang betul, apakah seperti yang penulis tulis itu atau yang satu lagi tertulis “… al-Awbah …” bukan “ … Auwab …”. Tertulis Auwab berdasarkan senarai tulisan tangan yang penulis peroleh daripada salah seorang keturunan Tuan Tabal, dalam senarai Nik Abdul Aziz juga sama demikian. Yang menulis al-Awbah ditulis oleh beberapa penulis termasuk Hamdan Hassan (lihat hlm. 238). Daripada senarai Hamdan Hassan diperoleh maklumat bahawa kitab ini pernah diterbitkan oleh Mustafa Press, Kota Bharu (tanpa tahun).
5. Bab Harap, dicetak oleh Mathba’ah al-Kamaliyah, Kota Bharu, 1359 Hijrah/ 1940 Masihi.
6. Bidayatu Ta’limil `Awam fi Tarafi min Arkanil Islam, tanpa menyebut tarikh. Pernah dicetak oleh Mathba’ah al-Miriyah, Mekah, 1323 Hijrah/1906 Masihi. Cetakan kelima oleh Mathba’ah al-Kamaliyah, Kota Bharu.
7. Manhatul Qaribil Mujib wa Mughnir Raghibin fit Taqrib, diselesaikan pada Jumaat, 10 Zulhijjah 1300 Hijrah/1882 Masihi. Kandungan kitab ini ialah usuluddin, fikah dan tasawuf. Tetapi yang terpenting ialah fikah. Cetakan yang kedua oleh Mathba’ah al-Kamaliyah, Kota Bharu, 1354 Hijrah/ 1935 Masihi. Kitab ini adalah karya Tuan Tabal yang paling tebal, 327 halaman menurut ukuran model kitab-kitab Melayu/Jawi.
8. Mun-yatul Muridin fi Ba’dhi Ausafi Saiyidil Mursalin, kitab ini tidak sempat diselesaikan kerana beliau meninggal dunia. Kitab ini pernah diterbitkan oleh Mathba’ah al-Kamaliyah, Kota Bharu, 1345 Hijrah/1926 Masihi.
Beberapa orang anak dan keturunan Tuan Tabal yang menjadi ulama, di antaranya Mufti Haji Wan Muhammad, Mufti Haji Wan Musa dan lain-lain akan dibicarakan dalam siri-siri berikutnya.

posted by Abang Bosa | 11:12 PM
1 Comments:

Blogger hishamj said…

Asmalkm Abang Bosa

Saya tertarik dengan tulisan Abg mengenai moyang saya Tuan Tabal.Ya, saya adalah keturunan Tuan Tabal, berasal dari Kampung Tok Semian, Kota Bharu Kelantan. Saya ada memiliki satu family tree (salsilah) yang telah di buat oleh arwah bapa saudara saya Tuan Hj Nik Ismail b Hj Nik Abdul Rahman. FT ini menunjukkan keturunan anak cucu Tuan Tabal. Kalau Abg Bosa berminat boleh hubungi saya di hishamj@streamyx.com

Sekian
Cicit Muit Tuan Tabal