Bab IV: Tafakkur Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi


[slideshow]“]Mawar Merah Di Angkasa RayaBAB IV TAFAKKUR MENURUT IMAM FAQRUDDIN AR-RAZI

Imam Ar-Razi menafsiran ayat-ayat yang terdapat padanya ayat Tafakkur dalam Kitab Tafsir Al-Kabir adalah seperti berikut; Firman Allah dalam surat Al-‘An’am ayat 50:

50. Katakanlah (Wahai Muhammad); “Aku tidak mengatakan kepada kamu (bahawa) perbendaharaan Allah ada di sisiKu, dan Aku pula tidak mengetahui perkara-perkara Yang ghaib; Aku juga tidak mengatakan kepada kamu bahawasanya Aku ini malaikat, Aku tidak menurut melainkan apa Yang diwahyukan kepadaku”. Bertanyalah (kepada mereka): “Adakah sama orang Yang buta Dengan orang Yang celik? tidakkah kamu mahu berfikir?” Dalam ayat ini terdapat beberapa masalah: (Masalah yang pertama) ketahuilah oleh kamu bahawasanya ayat ini adalah sambungan dari ayat sebelumnya yaitu firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 37 yang berbunyi:

37. dan mereka (golongan kafir musyrik) berkata: “Alangkah eloknya kalau diturunkan kepada Muhammad satu mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah wahai Muhammad bagi mereka itu (kaum kamu) sesungguhnya aku di utuskan membawa berita gembira (bagi mereka yang ingin percaya dan taat) dan berita ancaman (bagi mereka yang ingkar terhadap ayat-ayatnya).dan bukanlah aku seorang yang akan membuat hukum setelah hukum Allah, padahal telah memerintah Allah Taala akan daku menafikan diriku dari tiga perkara, pertamanya firman Allah Taala:

50. Katakanlah (Wahai Muhammad); “Aku tidak mengatakan kepada kamu (bahawa) perbendaharaan Allah ada di sisiKu , Ketahuilah oleh kamu, bahawanya kaum (Quraisy), mereka itu berkata bagi Rasullalah, “jika benar kamu ini seorang Pesuruh dari sisi Allah, maka pintailah dari Allah supaya diluaskan kami segala nikmat dunia dan kebaikannya, dan dibuka ke atas kami segala pintu kesenangannya, maka firman Allah:

Maka dialah Allah yang berkuasa memberi pemerintahan kepada sesiapa yang dia kehendaki, dan meninggikan (mengangkat) sesiapa yang dia kehendaki, dan merendahkan (menjatuhkan) sesiapa yang dia kehendaki, segala kebaikan disisinya jua bukan di tangan aku. Dan kalimat Khazaain adalah jamak bagi kalimah khazanah, ia berarti nama bagi tempat yang di khususkan untuk menyimpan sesuatu. Dan keduanya firman Allah Taala:



“dan Aku pula tidak mengetahui perkara-perkara Yang ghaib” Dan maknanya, bahawanya kaum mereka berkata, jika kamu benar benar seorang Rasul yang telah di utuskan dari sisi Allah maka pasti kamu bisa memberitau akan kami dari apa apa yang akan berlaku di masa hadapan dari segala kebaikan dan kemudharatan, sehingga kami bisa memperolehi kebaikan itu dan dapat mengelak dari kemudharatan itu. Maka firman Allah Taala:

“Dan mengapakah mereka itu masih menuntut dari aku permintaan yang begini?” Kesimpulannya, mereka yang berada pada tingkat pertama yaitu menuntut dari Rasulalah harta yang banyak dan kebaikan yang luas, makala mereka yang berada pada tingkatan yang kedua mereka meminta dari Rasullalah perkabaran-perkabaran yang gaib, sehingga luas pengetahuan mereka terhadap perkara gaib, nanti bisa memgambil faidah dan menolak memudaratan juga kerosakan. Ketiganya firman Allah Taala:

“Dan tidak pernah aku mengatakan bahwa aku ini seorang malaikat” Dan maknanya sesungguhnya kaum Qurisy, mereka itu berkata kepada Rasullalah: (Rasul apakah ini? Memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?) berkawin dan bercampur dengan manusia? Maka firman Allah Taala: Katakanlah bagi mereka itu ya Muhammad, sesungguhnya aku bukanlah seseorang dari kalangan malaikat. Dan firman Allah :

“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”. Dan zahir ayat ini menunjukkan atas bahawasanya Rasullalah tidak berbuat sesuatu melaiankan mendapat wahyu dari Allah terlebih dahulu, dan ini menjadi hujjah diatas dua hukum; Pertama : sesungguhnaya nas ini, menjadi bukti bahwa Rasullalah tidak pernah sekali-kali akan mengadakan suatu hukum pun melainkan atas suruhan wahyu dari Allah Taala, bahkan sampai kepada apa-apa yang beliau ijtihadkan atau beliau hukumkan adalah berpunca, (berlandas, berasaskan) wahyu Allah Taala, ini di kuatkan dengan hujah, firman Allah:

3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. 4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Kedua : Bahawasanya Ahli Qiyas berpendapat bahwa telah tetap dengan nas ini, bahwa Rasullalah SAW tidak sekali-kali pernah melakukan suatu jua pun melainkan turunnya wahyu dari Allah terlebih dahulu, maka tetaplah bahwa tidak harus bagi seseorang jua pun dari umatnya bahwa melakukan sesuatu, melainkan dengan nas wahyu yang turun keatas Rasullalah, kerena firman Allah Taala: فاتبعوه “Maka wajiblah kamu menuruti Rasullalah” Kemudian hujah tadi dikuatkan dengan firman Allah:

Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Dan demikian itu kerena melakukan perbuatan tanpa pertunjuk wahyu, adalah sama bandingannya dengan perbuatan orang yang buta. Dan melakukan perbuatan yang berlandaskan pertunjuk wahyu, sama bandingannya dengan perbuatan orang yang celik. Kemudian firman Allah Taala :

“tidakkah kamu mahu berfikir?” Dan yang dikehendaki ayat ini ialah, peringatan awas bahawasanya wajib keatas semua orang yang berakal mengetahui perbedaan di antara dua bab ini (perkara ini), dan bahawasanya ia tidak akan pernah lupa dari mengenal Allah. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah, ayat 79; و

219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[segala minuman yang memabukkan ] dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” Dalam Menafsirkan ayat 190, surat Ali ‘Imram, Imam Faqruddin mendatang beberapa hadist tentang tafakkur antaranya ialah: Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a bahwa saiyidatina Aisyah berkata : “pada suatu malam Rasullalah bangun dan solat setelah berwudhu’, beliau SAW tidak meninggalkan tempat solatnya sambil menangis sehingga terdengar suara azan saiyidina Bilal RA,untuk solat subuh. Aku bertanya kepadanya, Wahai Rasullalah SAW, kenapa engkau menangis? padahal Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah lalu mau pun yang akan datang. Beliau SAW menjawab, “tidak bisakah aku menjadi hamba yang bersyukur? dan kenapa aku tidak berbuat demikian? sedangkan pada malam ini telah turun ayat padaku:

190. Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pada pertukaran malam dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan, dan keluasan rahmat Allah) bagi orang-orang Yang berakal; 191. (Iaitu) orang-orang Yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini Dengan sia-sia, Maha suci engkau, maka peliharalah Kami dari azab neraka. Selanjutnya Rasulallah bersabda, : ويل لمن قرأها ولم يفكر فيها Maksudnya : “Celakalah bagi orang yang membacanya (ayat ini) dan tidak memikirkannya.” HR Ibnu Hibban Dari saidina Ali Karramallahu wajhahu, bahwa Rasullalah saw apabila beliau bangun dari tidur pada tengah malam, beliau bersiwak dan berwudu’ kemudian beliau memandang kearah langit lalu beliau membaca ayat;

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, Allah Taala telah menyebut langit terlebih dahulu baru bumi, kerena pada langit terdapat lebih banyak keajaiban-keajaiban sebagai tanda dan bukti kebesaran dan keagungan Allah Taala. Ketahuilah bahwa setiap kali Allah Taala menyebut bukti-bukti ketuhananNya dan kekuasaanNya serta kepandaianNya, sering kali Allah menghubungkan dengan ketetapanNya sebagai pentadbir Alam ini, Allah menyebut selepas dari itu dengan sifat-sifat kehambaan manusia, yaitulah senantiasa ingat kepada Allah Talaa, berpikir tentang penciptaan langit dan bumi. Kata Imam Faqruddin Ar-Razi, bahwa yang dimaksudkan dengan sifat kehambaan itu ialah, membenarkan dengan hati, ikrar dengan lidah, dan beramal dengan anggota tubuh badan. Firman Allah Taala:

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Ayat ini memberi isyarat sifat Ubudiah lisan (lidah) , 

Ayat ini pula memberi isyarat kepada sifat Ubudiah anggota tubuh badan,

Manakala ayat ini pula memberi isyarat kepada sifat Ubudiah hati dan ruh, dan manusia itu tidak dikenal sebagai manusia melainkan dengan keseluruhan tadi, apabila manusia tengelam dalam mengingati Allah, tetap dengan bersyukur, dan mabuk dalam berpikir, niscaya adalah ia telah tenggelam dalam kesemua juzuz sifat Ubudiah. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 266;

266. Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur (yang seumpama syurga) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, Kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. Berkata Imam Faqruddin Ar-Razi, bahwa Allah senantiasa menyebut syurga dengan tiga sifat, pertama dalam syurga terdapat buah kurma dan anggur, dan bukanlah kerena tidak terdapat buah-buahan yang lain akan tetapi kerena Allah mendahului dan mengkhususkan kedua deagan sebutan disebabkan keduanya semulia-mulia dan sebagus-bagus buahan yang apabila dilihat pada pohonnya. Sifat yang kedua ialah dalam syurga terdapat sungai-sungai yang mengalir dibawahnya, dan ini tidak syak lagi menjadi sebab bagi bertambah keelokan dan keindahan syurga itu. Sifat yang ketiga ialah didalam syurga terdapat kebun buah-buahan dan inilah dia kemuncak keelokan syurga. Adakah manusia mau sebuah kebun seumpama syurga lalu mengusahakan sebuah kebun seupama syurga, sampai satu masa manusia tesebut telah tua, manakala anaknya masih lagi kecil untuk berusaha meneruskan usaha ayahnya, suatu hari datang hembusan angin yang membawa percikan api lalu menyambar kebun yang diusahakan manusia tadi sepantas kilat, dan jadilah usaha manusia tadi abu yang hilang ditiup angin. Firman Allah;

Demikian ini menerangkan Allah kepada kamu sebagai satu tanda, yakni sebagaimana menerangkan Allah bagi kamu ayat-ayatnya juga tanda-tandanya dalam bab ini, supaya kamu jadi takut dan menggemarkan kamu dalam melakukan ibadat, demikianlah juga Allah menerangkan bagi kamu tanda dan bukti pada segala urusan agamaNya semoga kamu memikirkannya. Kata Imam, bahwa lafal la’ alla di sini adalah li tarajji ( moga-moga,mudah-mudahan) dan ini tidak layak bagi Allah. Bahwa kolompok mu’tazilah telah berpegang dengan ayat ini sebagai hujah mereka bahwa Allah Taala berkehendak semua orang dengan beriman. Dan kami bahaskan banyak kali dalam kitab kami. Firman Allah dalam surat Al-‘Araf ayat 176;

176. Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Berkata Ibnu Abbas, Ibnu Masud dan mujahid rahimakumullah: diturunkan ayat ini untuk menerangkan kisah Bal ‘am Baura’, kerena nabi musa telah bekehendak menakluki sebuah negeri, dengan peperangan yang penduduknya merupakan kaum yang tidak beriman, maka penduduk negeri itu apabila mengetahui bahwa musa mau menyerang, mereka telah meminta si Bal am Baura’ dengan mendoakan keatas musa dan kaumnya, dan adalah Bal am ini sangat mustajab doanya, kerena beliau selalu menyebut satu ismu ‘Azhom yang bisa memakbulkan doa, setelah dipujuk si Bal’am setuju mendoakan Musa dan kaumnya, sehingga Musa dan kaumnya sesat di gurun Tih selama 40 tahun, lalu musa mengadu pada Allah, “ ya Allah, dengan sebab dosa apakah yang kami lakukan sehingga kami sesat di gurun Tih ini?, firman Allah pada Musa, dengan sebab doa Bal’am, pinta Musa pada Allah, sebagaimana mustajab doa beliau keatas aku, maka dengarlah doaku keatasnya, kemudian berdoa Musa dengan dicabut Allah ismu ‘Azhom dan juga keimanannya, maka makbul doa Musa. Yang dimaksud kisah dalam ayat ini ialah kisah orang kafir dan orang yang mendustakan para Utusan Allah. Semoga mereka berpikir, yakni mereka mengambil pengajaran. Firman Allah dalam surat Yunus ayat 24,

24. Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya Karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu Telah Sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[683], dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya[684], tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di waktu malam atau siang, lalu kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (kami) kepada orang-orang berfikir. [683] Maksudnya: bumi yang indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya Telah menghijau dengan tanam-tanamannya. [684] Maksudnya: dapat memetik hasilnya. Kata Imam Faqruddin Ar-Razi, demikian itu kami sebutkan salah satu daripadanya, kerena dengan banyak menyebut perkara tersebut akan menjadi sebab kuatnya keyakinan yang mewajibkan perginya syak dan syubhah. Firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 3;

3. Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan[765], Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. [765] yang dimaksud berpasang-pasangan, ialah jantan dan betina, pahit dan manis, putih dan hitam, besar kecil dan sebagainya. Kata Imam Faqruddin Ar-Razi, Allah Taala banyak kali menyebut dalil-dalil samawiyah, pada ayat ini pula Allah menyebut pula dalil-dalil Ardhiyah yang menunjukkan kewujudan Allah, firman Allah:

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah menjadikan bumi ini luas terbentang, dengan bahwa Allah menjadikan bumi ini dengan kedar yang tertentu. Dan juga menjadi hujjah bahwa bumi ini tidaklah bulat seperti yang dipegang sesetengah orang. Diatas bumi yang terbentang ini Allah menjadikan bukit bukau, bahwa kewujudan bukit ini juga merupakan salah satu dalil kewujudan Allah yang maha pencipta alam ini. Dan dengan sebab wujudnya bukit –bukau itu terbentuknya sungai-sungai diatas muka bumi ini. Dan setengah dalil yang disebut dalam ayat di atas ialah keajaiban penciptaan tumbuh-tumbuhan, dan perkara ini di isyaratkan Allah dalam ayat:

 Dan antara dalil kewujudan Allah Taala yang ditujukan ayat diatas ialah adanya kejadian siang dan malam. Ketahuilah banyak kali ketika menyebutkan dalil-dalil perkara yang maujudat dalam alam ini dengan lafal:

Atau lafal yang semakna dengannya, dan sebabnya ialah kerena ahli filosof sering kali menetapkan apa yang berlaku dibumi ini adalah kesan daripada perubahan yang berlaku pada orbit bintang-bintang. Kata Imam Faqruddin, “tidak harus bagi seseorang ber’tiqad bahwa apa-apa yang berlaku di bumi ini adalah kesan dengan perubahan yang berlaku di bintang-bintang. Firman Allah Taala dalam surat Al-Nahl ayat 10-11:

10. Dia-lah, yang Telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. 11. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Kata Imam Faqruddin Ar-Razi, sebaik-baik dari jenis fizik dalam alam ini selepas manusia dan hewan ialah tumbuh-tumbuhan, tetakala Allah menegaskan dalil diatas keberadaan Allah yang maha pencipta ialah keajaiban hewan, ketahuilah bahwa air yang turunkan Allah dari langit itu digelar air hujan, dan bahwa air hujan itu diturunkan Allah dari awan atau langit, sebagaimana yang telah kami bahaskan dalam karangan kami sebelum ini, dan natijahnya, air hujan itu mempunyai dua faedah, pertama sebagai minuman untuk manusia dan makhluk yang hidup, inilah maksud dengan firman Allah:

. Kedua Allah jadikan air sebagai sebab berlangsungnya pembesaran tumbuh-tumbuhan, inilah yang dimaksudkan dalam ayat:

Kemudian Allah menyebut dalil diatas keberadaanNya dengan keajaiban tumbuh-tumbuhan, Allah menyuruh manusia memikirkan tumbuh-tumbuhan kerena pada keajaiban penciptaan tumbuh-tumbuhan akan mengenalkan manusia pada yang maha pencipta Alam ini. Adapun firman Allah :

Pada ayat ini punya beberapa pembahasan, yaitu tumbuh-tumbuhan yang ditumbuhkan Allah Taala mempunyai dua faedah: pertama sebagai makanan bagi hewan-hewan ternak, inilah yang dimaksudkan ayat:

Dan adalah tumbuhan itu Allah jadikan sebagai makanan untuk umat manusia, dan inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah:

Sebagai kesimpulannya bahwa Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang senantiasa bergantung kepada makanan, dan makanan yang bersumber dari hewan itu adalah terlebih baik dari makanan yang bersumber dari tumbuhan. Allah akhiri ayat ini dengan lafal :

Kerena penjelasan ayat ini menunjukkan bukti bahwa adanya Allah yang maha pencipta Alam ini. Ada satu kolompok yang berpendapat: kami tidak terima bahwa Allahlah yang telah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, bahkan tumbuh-tumbuhan tersebut tumbuh membesar disebabkan unsur-unsur alam yang empat, yaitu tanah, air, api dan angin, kemudian membesar dibantukan matahari, bulan dan bintang, dan apabila kita ketahui persoalan ini, maka kenapakah kita tidak mendirikan suatu dalil yang kokoh lagi sempurna, diatas tanggapan yang salah ini? Bahkan metode berpikir dan memerhatikan itu merupakan satu-satunya jalan yang menjaga keyakinan. Maka sebab itu Allah mengkhatamkan ayat ini dengan lafal:

Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 43- 44 yang berbunyi:

43. Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui, 44. Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan, [828] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab. [829] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran. Kata Imam Faqruddin Ar-Razi, dalam pembahasan ayat ini terdapat beberapa masalah, pertama; ketahuilah oleh kamu bahwa ayat yang diturunkan sebagai jawaban terhadap orang yang mengingkari kenabian Rasullalah saw, mereka berkata, “adakah Allah yang yang maha Tinggi itu mengutuskan Rasulnya dari salah seorang manusia yang sejenis dengan kami”?, bahkan kalau benar Allah mau mengutuskan Rasul kepada kami niscaya dia dari jenis Malaikat. Masalah yang kedua: ayat ini menunjukan bahwa tidak akan pernah ada Rasul itu dari kalangan perempuan, juga tidak akan pernah ada malaikat sebagai Rasul yang diutus untuk umat manusia. Kalau pun ada zahirnya firman Allah:

1. Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ayat ini menunjukkan bahwa malaikat itu sebagai utusan Allah Taala kepada seluruh Malaikat yang lain. Berkata Al-Khodi, “telah beranggapan Abu Ali Al-Jubba’i bahwa tidak pernah diutuskan kepada para Nabi as, melaikan dia haruslah seorang malaikat yang sudah pun menjelma dengan rupa seorang manusia”, kemudian berkata Al-Khodi : “mudah-mudahan maksud malaikat yang diutuskan kepada para Nabi as itu degan rupa manusia ialah, dengan hadirnya orang banyak dari kalangan umat nabi nabi tersebut, maka pada masa ini malaikat haruslah di atas rupa seorang lelaki, sebagaimana telah diriwayatkan bahwa Jibril pernah hadir dalam majlis Rasullalah dengan rupa dahlah Al-Kalabiyyi dan rupa Suraqah, dan sesungguhnya kami katakan yang demikian itu kerena sudah maklum keadaan mailaikat bahwa ketika menyampaikan risalah dari Allah Taala kepada Rasul sesunggunya kekal diatas rupa mereka yang asli, dan telah diriwayatkan bahwa Nabi saw, telah melihat Jibril as, dengan rupanya yang asli sebanyak dua kali, dan kerena inilah ditakwilkan firman Allah Taala:

13. Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, Allah mengikuti ayat ini dengan:

Kata Imam Faqruddin Ar-Razi, pada penafsiran ayat ini ada beberapa masalah, masalah yang pertama: pada maksud Ahlul Zikr ialah beberapa makna, pertama: kata Ibnu Abbas r.a.h, yang dimaksudkan ialah Ahlul Taurat, dan maksud Zikr ialah kitab Taurat, dan alasan pandangan ini ialah firman Allah Taala:

105. Dan sungguh Telah kami tulis didalam Zabur[973] sesudah Al-Zikr, bahwasanya bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. [973] yang dimaksud dengan Zabur di sini ialah seluruh Kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya. sebahagian ahli tafsir mengartikan dengan Kitab yang diturunkan kepada nabi Daud a.s. dengan demikian Adz Dzikr artinya adalah Kitab Taurat. Kedua : kata Al-Zujjaj, “tanyailah kamu kepada ahli kitab yang mengetahui mereka akan makna kitab Allah Taala, kerena mereka itu mengetahui bahawasanya para nabi a.s, kesemuanya dari kalangan manusia. Yang ketiga : maksud Ahli Zikr ialah mereka yang mengetahui sejarah orang-orang yang terdahulu , apabila mengetahui dengan sesuatu maka dia telah seseorang yang ingat (al-Zakir) akan sesuatu itu, keempat : berkata Al-Zujjaj, “tanyai olehmu akan orang-orang yang ingat akan ilmu, dan orang yang benar-benar Ahli”. Masalah yang kedua: telah berselisih pendapat dikalangan manusia adakah harus seorang Mujtahid itu bertaqlid dengan seorang Mujtahid yang lain?, setengah mereka yang menyatakan dengan keharusan beralasan dengan ayat tadi, dan berhujjah : “ tetakala tiadalah bagi seorang mujtahidin itu alim, niscaya wajiblah dia merujuk kepada Mujtahidin yang terlebih Alim lagi darinya, kerena firman Allah:

Dan firman Allah Taala:

Pada penafsiran ayat ini ada beberapa masalah, Pertama : bahwa dikatakan, Al-Zikr dengan makna Al-‘Ilmi, takdirnya, “ tanyailah olehmu akan Ahli Zikr dengan keterangan-keterangan dan Zubr, jikalau kamu itu tidak mengetahui. Kedua : bahawa adalah takdirnya: jikalau kamu tidak mengetahui dengan keterangan-keterangan dan Zubr, maka tanyailah olehmu akan Ahli Zikr. Kemudian firman Allah Taala: 

Kata Imam Faqruddin, dalam penafsiran ayat ini ada beberapa masalah, masalah yang pertama: maka zahir nas ini ialah bahwa al-Quran adalah mujmal keseluruhan ayatnya, dan diatas makna inilah, berkata setengah ulama, “apabila berlaku pertantangan antara quran dan hadist, maka haruslah mendahulukan hadist, kerena Quran itu mujmal ( Umum), dan alasan yang mendokong pendapat ini firman Allah tadi, dan hadis suatu penjelasan Quran, dan Al-Mubin didahulukan dari al-Mujmal. Dan dijawab, al-Quran itu setengahnya Muhkam dan setengahnya Mutashabih, dan yang Muhkam itu wajiblah keadaanya jelas, dan tetaplah tidak kesemua al-quran itu Mujmal. Masalah yang kedua : zahir ayat ini menunjukkan bahwa Rasullalah itu adalah Al-Mubin (penerang) bagi setiap apa yang Allah wahyukan keatas setiap Mukallaf, beliaulah Rasullalah yang mengajarkan kita semua bahawa Al-Qias tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Dijawab dari persoalan ini, bahwa Nabi saw, tetakala Rasul menyatakan bahwa Al-Qias merupakan sebagai hujjah, maka sesiapa yang merujuk kepada penjelasan hukum dengan metode Al-Qias, adalah yang demikian itu sebenarnya merupakan merujuk kepada penjelasan Rasullalah. Firman Allah Taala dalam surat An-Nahl ayat 68:

68. Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, 69. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang Telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. Ketahuilah olehmu bahawasanya, Allah Taala telah menerangkan melalui wahyunya akan dikeluarkan susu itu untuk minuman manusia dari binatang ternak, Allah mengeluarkan gula dan rezeki yang baik itu dari buah kurma dan anggur, dan demikian juga Allah akan mengeluarkan madu dari lebah-lebah. Kata Imam Faqruddin Ar-Razi, pada penafsiran ayat ini ada beberapa masalah, masalah pertama: firman Allah:

 Dikatakan, wa hiya/ wa uhiya maknanya Al-Ilham, dan apa yang dimaksudkan dengan Al-Ilham ialah pada diri lebah-lebah itu suatu pekerjaan yang amat menakjubkan manusia, yang mana perkerjaan yang di luar kemampuan manusia yang berakal, penjelasannya bermacam-macam: pertama; bahawa lebah-lebah telah membina tempat tinggal mereka terbentuk dari bentuk yang amat unik dan sama kedar ukurannya, orang yang pintar dari bangsa manusia mana pun tidak mungkin mampu membina sebuah binaan yang seumpama tempat tinggal lebah-lebah jika tanpa menggunakan alatan. Kedua bagi lebah-lebah itu satu Ratu, yang tubuhnya lebuh besar dari yang lain, yang berperan sebagai kepada ketua bagi yang lainnya, mereka berkhidmat dan membawa sang Ratu ketika mereka terbang dan ini juga setengah dari keajaiban kejadian Tuhan. Ketiga : jika mereka mau pergian, mereka kan pergi secara berkolompok meninggalkan sarangnya, jika mereka mau kembali semula ke sarang mereka ,mereka akan membuat suatu bunyi seolah mereka memukul gendang dan hal yang demikian tidaklah berlaku melainkan dengan perantaraan wahyu dari Allah Taala, dan yaitu diatas jalan ilham yang dikarunia Allah Taala, firman Allah Taala:



Ketahuilah kamu bahawa wahyu itu sesunguhnya datang kepada para NabiNya, dan kepada para RasulNya, kerena firman Allah: 51. Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir[1347] atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. [1347] Di belakang tabir artinya ialah seorang dapat mendengar kalam Ilahi akan tetapi dia tidak dapat melihat-Nya seperti yang terjadi kepada nabi Musa a.s. Dan wahyu itu juga dikaruniakan kepada wali-walinya dan manusia dengan makna ilham, firman Allah Taala: 111. Dan (ingatlah), ketika Aku wahyukan (ilhamkan) kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku”. mereka menjawab: kami Telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”. dan firman Allah Taala: 7. Dan kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, Karena Sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari para rasul. Masalah kedua: berkata Az-Zujjaj, “harus dikatakan dinamai serangga lebah itu sebagai An-Nahl (memberi) kerena memberi Allah Taala kepada manusia madu yang dikeluarkan dari perut para lebah. Berkata Ulama yang lain: “lebah itu panggilan lebah jantan atau pun betina”. Firman Allah Taala: 68. Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, Kata Imam Faqruddin Ar-Razi: “ketahulah olehmu bahawasanya lebah itu terbahagi kepada dua kolompok, kolompok yang pertama, yang membuat sarangnya di pohon-pohon hutan dan batuan bukit-bukau, kolompok ini terasing dari lingkungan manusia. Kolompok kedua, kolompok yang membuat sarang di kediaman-kediaman manusia, mereka tidak asing dengan kehadiran manusia. Dan ini yang dikehendaki dengan firman Allah diatas”. Zahir dari firman Allah diatas suatu suruhan (amr), sesungguhnya telah berselisih pendapat manusia mengenainya, setengah manusia berpendapat, “ bisa dikatakan bahwa hewan lebah itu mempunyai akal”, dan bisa dikatakan bahwa Allah mewahyukan kepada para lebah ini suruhan dan larangan. Telah berkata setengah yang lain, “ demikian itu bukanlah suatu suruhan, akan tetapi yang dimaksudkan ialah Allah memkaruniakan satu tabiat kepada para lebah. Allah Taala telah mengilham kepada para lebah terbang mencari saripati bunga-bunga dan daun-daun kayu, mereka makannya dan dari perut (mulut) para lebah keluar apa yang dipanggil madu. Setiap sesuatu yang keluar dari dalam badan akan dipanggil keluar dari perut. Ketahuilah oleh mu bahwa Allah Taala telah mensifatkan madu itu dengan tiga sifat, pertama : madu sebagai minuman buat manusia, kedua: madi mempunyai berbagai warna, yakni ada yang warna putih, merah, dan kekuningan, bergantung kepada lingkungan fizik tempat tinggal para lebah itu. Ketiga keadaaan madu sebagai penyembuh terhadap penyakit manusia, ini telah terbukti sebagai sifat spesialis madu adalah penyembuh penyakit manusia. Telah memperkuat hujah ini oleh hadis Rasullalah yang berbunyi: sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri r.a, bahawasanya telah datang kepada Rasullalah s.a.w, dan dia berkata, “sesungguhnya sedaraku telah ditimpa penyakit perut”, maka sabda Rasullalah s.a.w, “beri dia minum madu”, maka dia pulang, kemudia datang lagi, maka katanya kepada Rasullalah saw, “sesungguhnya aku telah beri dia minum madu dan tidak berkurangan sedikit pun penyakitnya”, pergi dan beri dia minum madu lagi, kemudian dia pergi memberi sedaranya minum madu, maka seolah-olah sedaranya itu telah kehilangan akalnya (kerena sakitnya yang bersangatan), sabda Rasulallah saw, benarlah firman Allah, dan bohonglah perut sedaramu”. Yakni pada firman Allah Taala: dan pada madu itu penyembuh bagi penyakit manusia, dan demikian itu sahlah penyembuh itu merupakan sifat madu. Kemudia Allah Taala mengkhatam ayat ini dengan firmannya:

Ketahuilah bahawa dikhususkan lebah dengan ilmu yang halus, dan pengetahuan yang mengkagumkan, seperti membina sarang yang unik, dan semua keadaan yang telah kami sebutkan diatas. Kualitas madu pula bergantung kepada jenis pohon kayu dan dedaun. Bahwa Allah telah menciptakan makhluk yang memberi manfaat di ruangan udara, kemudian Allah menumbuhkan pepohon kayu, dan kemudian Allah mengilhamkan para lebah untuk berkumpul selepas berterbangan, dan diatas tiap-tiap yang demikian itu suatu perkara yang menakjubkan yang menjadi bukti bahwa Allah yang maha Mengetahui telah mentadbir alam semesta dengan bijaksana dan kebaikan buat umat manusia seluruhnya. Firman Allah Taala dalam surat Ar-Rum ayat 8 :

8. Dan Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. Kata Imam Faqruddin Ar-Razi,”bahwa pada diri setiap manusia itu, jika mereka memikirkan mengenainya, mereka akan menemukan bukti dan tanda wahdaniyah (keesaan Allah Taala), dan mereka akan membenarkan kebenaran hari Qiyamat, adapun bukti keesaan Allah itu, bahwa Allah telah menciptakan manusia itu dengan seelok-elok kejadian. Firman Allah Taala dalam surat Ar-Rum ayat 21:

21. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Kata imam Faqruddin Ar-Razi, tidaklah asal dijadikan wanita itu untuk ibadat, tetapi kami berpendapat bahwa Allah jadikan wanita itu sebagai salah satu dari nikmat-nikmat yang Allah karuniakan untuk kami kaum lelaki, mereka dijadikan untuk kita semata-mata, dan ditaklifkan mereka sebagai menyempurnakan nikmat kepada kita. Dan dijadikan wanita dari juzu’ bagian tubuh manusia. Dengan maksud Hawa dijadikan dari bagian tubuh Adam. Firman Allah Taala: supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Kerena jenis yang sama itu tidak pernah akan tenteram selamanya jika bersama. Inilah antara hikmah Allah menjadikan manusia berpasang-pasangan. Allah jadikan rasa kasih –sayang ketika bersama pasangan dan rahmat dengan karuniaan anak. Firman Allah Taala,

Yang dimaksudkan ialah pada penciptaaan isteri-isteri merupakan tanda-tanda kebesaran Allah Taala. dijadikan kasih sayang juga merupakan tanda-tanda kebesaran Allah Taala. Firman Allah Taala dalam surat Saba’ ayat 46:

46. Katakanlah: “Sesungguhnya Aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; Kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras[1244]. Kata Imam Faqruddin Ar-Razi: “Allah Taala telah menyebutkan usul yang tiga, dalam ayat ini setelah menyebut dalil-dalil keesaanNya, maka firmanNya:

Ayat ini mengisyaratkan kepada Tauhid, dan firman Allah Taala:

Dan ayat ini pula mengisyaratkan kepada Ar-Risalah, firman Allah Taala:

Manakala ayat ini mengisyaratkan kepada hari Akhirat. Kata Imam Faqruddin Ar-Razi, maksud dari firman Allah:

Yakni mengetahui mereka itu (manusia) dengan asal dan tauhid dan tidak perlu lagi memikirkan dan mengamati selepas jelas dan terang, kemudian memikir mereka dengan apa yang telah aku sebutkan Risalah dan Hasyr. Kerena perkara ini memerlukan kepada berpikir terlebih dahulu. Dan menjelaskan dari apa yang mereka pikirkan yaitu merupakan suruhan nabi s.a.w. Firman Allah Taala dalam surat Al-Jatsiyah ayat 13:

13. Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. Kata Imam Faqruddin Ar-Razi, yakni jikalau Allah menetapkan langit dan bumi sebagai jirim yang satu, niscaya bagaimanakah akan berhasilnya manafaat dari keduanya?. Kerena jikalau di taqdirkan bumi dan langit ini bersatu satu jirim niscaya tidak akan berhasil manfaatnya. Dan jikalau ditaqdirkan langit dan bumi itu terdiri dari emas dan perak keseluruhanya niscaya tidak memberi apa-apa manfaat. Dan pada firmanNya :

Bermakna bahwa Allah telah memudahkan keadaan sesuatu dilangit dan bumi untuk manfaat dan kegunaan seluruh umat manusia, yakni Allah memudahkan bagi kegunaan makhluk-makhluknya.

4 responses to “Bab IV: Tafakkur Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s