Prof Dr Ali Jum’ah : Hukum Bertawassul Dan Dalil-dalil Sahih Bab 2


Prof Dr Ali Jum’ah : Hukum Bertawassul Dan Dalil-dalil Sahih Bab 2
Dimasukkan oleh IbnuNafis
Dari:http://pondokhabib.wordpress.com
Label: Soal Jawab Ibadah
3. Hadith pergi ke masjid untuk melaksanakan solat. Diriwayatkan dari Saidina Abu Sa’id Al Khudri radiyaLLahu ‘anhu dari Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam bersabda; Siapa yang mengucapkan ketika keluar untuk melaksanakan solat:

“Ya ALlah, aku memohon kepadaMu dengan hak orang-orang yang memohon atas Mu dan dengan hak langkah-langkahku; bahawa sesungguhnya aku tidak keluar dengan keangkuhan, sombong, riya’ (minta dilihat), mahupun sum’ah (minta disebut). Aku keluar kerana takut terhadap kemurkaanMu dan mengharapkan redha-Mu. Aku memohon kepada-Mu untuk menyelamatkan diriku daripada api neraka dan mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, ya ALlah.”

“Pastilah ALLah subahanahu wa ta’ala mewakilkan 70 ribu malaikat yang memohonkan keampunan untuknya dan ALlah subahanu wa ta’ala menghadap kepadanya dengan Wajah-Nya sampai dia selesai dari solatnya.”

(Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, vol 3, hlm 21; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, vol 1, hlm 256; Ibnu Khuzaimah, vol 17, hlm 18; Thobrani, Al Mu’jam Al Kabir, vol 2, hlm 990; Ibnu Sani, Amal Al Yaum wa Al Lailah, hlm 4; Baihaqi, Ad da’awat Al Kabir, hlm 47; Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, vol 10, hlm 211 dan 212; Abu Nu’aim Fadhl bin Dukain, diambil oleh Ibnu Hajar di dalam Amali al Adzkar, vol 1, hlmn 273; dan dikemukakan oleh Al Mundziri di dalam At Targhib wa At Tarhib, vol 1, hlm 135)

Ini adalah hadith Sohih; dinyatakan sohih oleh Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani (Ibnu Hajar, Amali al Adzkar, vol I, hlm 272), Al Hafizh Al Iraqi (Al Hafizh al Iraqi, Takhrij Ahadith al Ihya, vol I, hlm 291), Abu Hasan Al Maqdisi guru Al Mundziri (Al Mundziri, At Targhib wa At Tarhib, vol 3, hlmn 273), Al Hafizh Ad Dumyathi (Al Hafizh Al Dumyathi, Al Matjar Al Rabih fi Tsawab Al Amal Ash Shalih, hlm 471 dan 472) dan al Hafizh Al Baghawi (Al Hafizh Al Baghawi, Mishbab Az Zujajat, vol I, hlm 99).

Dan hadith ini adalah dalil yang menunjukkan bolehnya bertawassul kepada ALlah subahanahu wa ta’ala di dalam doa dengan amal soleh, iaitu berjalannya orang yang berwudhuk untuk melaksanakan solat, dan dengan hak orang-orang yang memohon kepada ALlah subahanahu wa ta’ala.

4. HAdith Saidina Anas radiyaLLahu ‘anhu yang berkaitan dengan kematian Fatimah binti Asad, ibu Saidina Ali radiyaLlahu ‘anhu ini adalah sebuah hadith yang panjang. Pada bahagian akhirnya, disebutkan… dan dia berkata
“ALlah subahanahu wa ta’ala yang menghidupkan dan mematikan, sedangkan Dia Maha Hidup, tidak pernah mati. Ampunilah ibuku, Fatimah binti Asad dan bimbing dia untuk menyampaikan hujahnya (menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat di kubur), serta luaskan baginya pintu masuknya, dengan hak Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelumnya. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyayang daripada para penyayang,”

(Hadith Riwayat Thobrani, Al Mu’jam al Awsath, vol I hlm 68,; Thobrani Al Mu’jam Al Kabir, vol 24, hlm 351; Al Ashfihani, Hilyah Al Awliya, vol 3, hlm 21; dan disebutkan oleh al Haithami di dalam Majma’ Al Zawaid, vol 9, hlm 257)

Hadith ini disahkan oleh Ibnu Hibban dan juga Al Hakim di dalam kitab Al Awsath wa Al Kabir, Al Allamah Ibnu Hajar pula menyatakan di dalam Kitab Al Jawhar al Munazzam bahawa ia mempunyai sanad yang baik.

Terdapat kritikan terhadap sanad hadith ini yang menjadi perselisihan para ahli hadith tentang tokoh-tokoh periwayatnya. Hal ini disebabkan, di dalam mata rantai sanad terdapat Rauh bin Shalah. Ibnu Hibban menyatakan (Rauh bin Shalah) orang yang thiqah (terpercaya), sedangkan Ibnu Jauzi memasukkannya ke dalam kelompok orang-orang yang tidak diketahui identitinya.

Oleh itu, terdapat perselisihan pendapat tentang kesohehan dan kelemahan hadith ini. Terutamanya berkenaan status marfu’ sanadnya hingga Nabi SallaLLahu ‘alaihi wasallam. Namun makna yang terkandung di dalamnya sohih dan menguatkan hadith-hadith yang sebelumnya.

5. Hadith “Bantulah wahai para hamba ALLah subhanahu wa ta’ala” Diriwayatkan dari Saidina Ibnu Abbas radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“sesungguhnya ALLah subahanahu wa ta’ala mempunyai para malaikat di bumi selain para malaikah hafazhah. Mereka menulis setiap apa yang terjatuh dari pangkal pohon. Maka, jika salah seorang kalian tertimpa kesulitan (tersesat jalan) di tengah hutan, hendaklah ia menyeru: “Bantulah, wahai para hamba ALLah subahanahu wa ta’ala…

(Hadith riwayat Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, vol 6 hlm 91; Baihaqi, Syu’ab Al Iman, vol I hlm 183; dan disebutkan oleh Al Haithami di dalam kitab Majma’ Az Zawaid, vol 1, hlm 132).

Al Hafizh Al Haithami memberikan pendapat (pandangan) terhadap sanadnya. “Hadith ini telah diriwayatkan oleh Thobrani dan para tokoh periwayatnya adalah orang-orang thiqah (terpercaya).
(Al Haithami, Majma’ az Zawaid, vol 10, 132)

Dalam hadith ini terdapat dalil yang menunjukkan tentang meminta pertolongan kepada makhluk-makhluk yang tidak boleh kita lihat, seperti para malaikat. ALLah subahanahu wa ta’ala menjadikan mereka SEBAB dalam membantu kita dan kita boleh bertawassul dengan mereka kepada Tuhan kita dalam mencapai tujuan. Tidaklah jauh jika nak dibandingkan dengan para malaikat ini roh-roh orang yang soleh, kerana roh-roh mereka adalah jasad-jasad nurani yang tetap ada di alamnya sendiri.

Dikirim dalam Tawassul

4 responses to “Prof Dr Ali Jum’ah : Hukum Bertawassul Dan Dalil-dalil Sahih Bab 2

  1. salam pd yg dihormati,
    tidak kah tawassul itu bolih membawa pd syrik pd allah? Kita hanya bollh memohon terus pd allah dan tidak pd selain nya? Rasul saw ada sabda bahawa kita hanya memohon pertolong terus pd allah dan juga nabi saw melarang kita memohon pd beliau setelah wafat nanti? Saya binggong dlm hal ni kalau2 jatoh kpd syirik.

    • assalamualaikum tuan dimuliakan, anda belum mengerti apa itu hakikat tawassul seperti kami fahami, bahkan ianya anjuran Allah dalam Qur’an…jika ia mmbawa kepada syrik maka kenapa ia di anjurkan Allah?Surah Al-Maidah : ayat 35
      Firman Allah: Wahai orang-orang yang beriman (mukmin) ! Bertakwalah kepada Allah dan CARILAH WASILAH (jalan) untuk mendekatkan (taqorrub) diri kepada-Nya, dan Berjihadlah (berjuanglah) dijalan-Nya, AGAR KAMU BERUNTUNG…
      nah….itu nas harus bertawassul, lalu nas apa yang mengharamkannya?…dalam bertawassul kita hanya minta kepada Allah jua, tiada yang lain….salah satu cara bertassul ialah SOLAT….bahkan ia anjuran Allah juga…”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat”. (AlBaqarah: 153)Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan solat…doa bertawassul dengan solat dan sabar bukan bermakna kita minta kepada solat atau sabar…permintaan tidak lain dan tidak bukan hanya semata mata kepada Allah tetapi melalui kaedah/jalan solat dan bersabar….tak mungkin ia akan membawa kepada syirik..harap anda teliti nas sohih dari tuan mufti Egypt itu…wassalam..

      • boleh ke tolong beri penjelasan mengenai Fatwa Syaikhul Azhar yang juga mantan Mufti Mesir Syaikh Hasan Ma’mun:

        “Bertawassul dengan maqam-maqam dan juga orang mati adalah salah satu perangkap syirik dan ia adalah dari amalan orang jahiliyah”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s