Hikmah Perlunya Berguru


dipetik dari: http://pondokhabib.wordpress.com/

Firman Allah ta’ala: سَنُقْرِئُكَ فَلاَ تَنسَىٰ Kami sentiasa menjadikan engkau (wahai Muhammad) dapat membaca (Al-Quran yang diturunkan kepadamu dengan perantaraan jibril),sehingga engkau (menghafaznya dan) tidak lupa. ~Surah Al-’Ala:6. Cuba kita renungkan Adab yang Allah mahu ajarkan kepada hambaNya dalam menuntut ilmu… Pada zaman sekarang ini,ramai yang mengambil ringan akan bertalaqi ilmu dengan guru.Ada yang merasakan cukup dengan banyak pembacaan tanpa perlu menadah kitab dengan guru. Dalam ayat itu sendiri… Allah beritahu kepada Rasulullah bahwa ayat Al-Quran itu akan dibacakan oleh Jibrail kepada Rasulullah sehingga beliau tidak lupa. Dan inilah diantara rahsia mengapa seseorang itu perlu mengambil ilmu dari mulut guru itu sendiri.Agar TIDAK LUPA.Subhanallah… Sering disaat kita perlukan sesuatu maklumat,selalunya kita akan lebih ingat ilmu yang kita dengar dari mulut guru kita,walau kita tidak mencatit,berbanding dari bahan2 bacaan yang kita baca. Biasanya,Ilmu yang kita perolehi dari guru kita itu…. Kita lebih mengamalkannya… Kita lebih memahami makna yang tersirat … Kita lebih yakin untuk menyampaikannya… Kita lebih menghayatinya… Kata sheikh Iwad Al-Manqush:”Ilmu (maklumat )ada di buku2,tetapi rahsia ilmu itu ada di dada para ulama.” Kerana itu,ramai yang belajar ilmu tetapi tidak merasai zauq ilmu tersebut kerana tidak mengambil melalui ahlinya. Bagaimana lagi jika kita mengambil ilmu itu dari mereka yang mempunyai silsilah hingga sampai kepada Rasulullah sollahu ‘alaihi wasallam???? “Kita bertalaqi dengan Syuyukh yang bersanad adalah untuk merasakan kesinambungan yang menyambungkan kita kepada Rasulullah sollahu ‘alaihi wasallam.”~Al-Habib Umar Ibn Hafidz. Ada yang merasakan ‘buat apa datang kuliah,lecturer cakap sume ade dalam buku,tiada maklumat tambahan’. Tanpa disedari,perasaan2 sebegini seperti ‘rase boleh baca sendiri tanpa guru’ sebenarnya punca dari penyakit Sombong.Kerana dia tidak mampu merendahkan dirinya dihadapan orang mukmin.Sebelum belajar lagi sudah ada penyakit ‘sombong’ itu,jadi bagaimanalah diri itu mahu dapatkan cahaya ilmu. 2 golongan yang tidak mempelajari ilmu: Orang yang sombong dan orang yang malu. Sebenarnya kita bertalaqi bukan semata2 kita mahukan apa yang guru kita sampaikan.Kita,kalau mengharap pada manusia memang akan selalu kecewa kerana kita mengharapkan guru itu memberi 1 maklumat baru yang belum diketahui oleh diri kita. Ketika menziarahi Ustaz Afandi Ahmad (guru AlQuran alfaqir di Singapore) yang datang ke Mesir untuk bertalaqi Al-Quran ,sedang alfaqir waktu itu tahun 2,ditanya satu persatu apa yang paling suka di Mesir ini dan apa yang tak puas hati… Alfaqir pun mengadu: ‘saya rase tak puas(cukup) dengan apa yang saya dapat di kuliah’. Akhirnya,giliran Ustaz memberi komen atas setiap luahan kami itu… Jawapan bagi aduan saya: “Redha dengan sikit yang kita perolehi…insya Allah ada barakahnya ya.” Ini bukan bermakna supaya ‘mudah rasa cukup’ dengan kuliah tanpa perlu talaqi di luar.Maksud disini,Redha dengan apa yang kita perolehi dari guru kita. Walau pada zahirnya apa yang disampaikan seolah-olah kita ‘sudah tahu’…tapi yang kita mahukan sebenarnya adalah kefahaman yang Allah berikan di kemudian hari. Contoh,apabila tiba masanya untuk kita memberi,tiada orang untuk dirujuk misalan,curahan kefahaman2 sebeginilah yang kita harapkan untuk memahamkan kita akan bahan rujukan yang kita sedang baca secara sendirian.Dan itu akan diperolehi berkat kesabaran kita dalam menimba ilmu dihadapan guru 1 ketika dulu… Kata guru kami Sheikh Iwad Al-Manqush (ahli Hadis): الأرزاق و الفتوحات تأتي على حسب موعدها Fath (pembukaan dalam kefahaman) dan rezki datang mengikut waktu yg dijanjikan. Diceritakan kepada kami ketika membaca kitab ‘الجامع لأخلاق الراوي و آداب السامع’ Beliau dulu ketika mula2 belajar,membaca matan2 mustalah hadis di depan guru,selama 4 tahun tidak faham apa2.Katanya :’Yang dasyatnya hingga tidak tahu bezakan antara apa itu hadis sohih dan hadis syaz.Kemudian selepas 4 tahun itu,Allah berikan saya kefahaman seolah-olah saya ketika itu menjadi orang yang begitu berbeza dari sebelumnya.Maka seseorang itu hendaklah bersabar.Kerana rezki dan pembukaan dalam kefahaman itu akan datang pada waktunya.’ ٍSubhanallah… Kita ini tak sabarkan?!Sume nak cepat.Tak beradab dengan Allah dan ilmu! Ampunkan dosa2 kami Ya ALLAH… Ya Allah,tenangkan kami akan segala yang Engkau telah tetapkan buat diri kami… Dikirim dalam Umum | Label: amalan, guru, rahsia

Dikala Masing-Masing Mengaku Ikut Kebenaran Ulama Mana Yang Benar Sebenarnya


jawabannya ialah Ulama Ahlu Bait Nabi, ini adalah kerana sabit dengan hadis :

Dari Zaid Bin Arqam r.a. katanya: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: “Sesungguhnya aku meninggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat, selagi kamu berpegang padanya kamu tidak akan sesat sepeninggalan aku, yang satu lebih besar dair yang lain; Kitab Allah yang merupakan tali yang terhulur menjunam dari langit ke bumi dan itrahku (keturunan) dari Ahli Baitku, keduanya tidak akan berpisah sehingga datang padaku di Telaga Haudh, maka perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhdap keduanya itu”, diriwayatkan oleh Muslim, Tirmizi dan

Ahmad.

Cara Mendapatkan Ilmu Laduni Menurut Alqur’an dan Sunnah


Cara Mendapatkan Ilmu Laduni Menurut Alqur’an dan Sunnah

Abu Haidar

Alumni Madrasah Darussa’adah – Gunung Terang – Bandar Lampung

www.salafytobat.wordpress.com

link : http://www.darulfatwa.org.au

Bismillah….

Sebelum membaca artikel ini, mari luruskan dahulu yaqin kita kepada Allah….

Bahwa Makhluq ini tidak kuasa, tapi Allah yang maha kuasa!

Belajar (menuntut ilmu) diwajibkan untuk semua muslimin dan muslimat (hadits).

Tapi Hakikatnya ilmu dtang dari Allah bukan dari Belajar. Begitu pula rezeki datang bukan dari kerja kita.!

Kita Belajar karena perintah Allah dan Sunnah Nabi.

Jika Allah kehendaki, dengan belajar – Allah berikan ilmu

Jika Allah kehendaki, dengan belajar – tapi Allah tidak berikan ilmu

Jika Allah kehendaki, tanpa belajar pun – Allah berikan ilmu

Laailaha illallah

Belajar itu makhluq, Allah yang kuasa

+++++++++++++++++++++++++++++++++

Ilmu laduni /ilmu mauhub merupakan salah satu ilmu yang harus dimilki oleh orang yang ingin menjadi ahli tafsir alqur’an. Disamping harus mengusai 14 cabang ilmu lainnya seperti ilmu lughah, nahwu, saraf, balaghah, isytiqoqo, ilmu alma’ani, badi’, bayan, fiqh, aqidah, asbabunuzul, nasikh mansukh, ilmu qiraat, ilmu hadits, usul fiqah ( hukum-hukum furu’) dan ilmu mauhub ( fadhilah alqur’an, syaikh maulana zakariyya).

Ilmu ini adalah karunia khusus dari Allah swt.

A. Dalil-dalil ayat Al-qur’an tentang ilmu laduni/mauhub

1.       “Dan Takutlah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kalian“ (Qs. Al baqarah ayat 282)

2.        “Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami (berjihad dan mendakwahkan agama) maka akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami (jalan-jalan petunjuk). Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang ihsan (muhsinin) (QS Al’ankabut [69] ayat 69).

3.         “Katakanlah  (hai Muhammad Saw.)  Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan (QS Thaha [10] ayat 113).

4.       “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. “(QS. Al-qashash [28], ayat 7).

5.        “Dan kami telah ajarkan kepadanya (Nabi khidhir) dari sisi Kami suatu ilmu”. (Al Kahfi: 65).

B. Hadits-hadits tentang ilmu mauhub/laduni

1.        Hadits Bukhari -Muslim :

Dahulu ada beberapa orang dari umat-umat sebelum kamu yang diberi ilham. Kalaulah ada satu orang dari umatku yang diberi ilham pastilah orang itu Umar.” (Muttafaqun ‘alaihi)

2.        Hadits At Tirmidzi :

“Ini bukan bisikan-bisikan syaithan, tapi ilmu laduni ini merubah firasat seorang mukmin, bukankah firasat seorang mukmin itu benar? Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin. Karena dengannya ia melihat cahaya Allah”. (H.R At Tirmidzi).

3.        Hadits riwayat Ali bin Abi Thalib Ra:

Ilmu batin merupakan salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, dan salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya”.

4.        Hadits riwayat Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam kitab Al-Hilyah :

Nabi Muhammad Saw. bersabda yang maksudnya : “Barangsiapa mengikhlashkan dirinya kepada Allah (dalam beribadah) selama 40 hari maka akan zhahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”. (HR. Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam alhilyah).

5.        Hadits riwayat Imam Ahmad Dalam kitab  al-hikam

Nabi SAW bersabda :” Barangsiapa Yang Mengamalkan Ilmu Yang Ia Ketahui Maka Allah Akan Memberikan Kepadanya Ilmu Yang Belum Ia Ketahui”.

Imam Ahmad bin Hanbal ra. Bertemu dengan Ahmad bin Abi Hawari, maka Ahmad bin Hanbal ra. “Ceritakanlah kepada kami apa-apa yang pernah kau dapati dari gurumu Abu Sulaiman ra. “. Jawab Ibnu Hawari : “Bacalah subhanallah tanpa kekaguman”.Setelah dibaca oleh Ahmad bin Hanbal ra. : “Subhanallah” Maka berkata Abil Hawari ra. : “Aku telah mendengar bahwa Abu Sulaiman berkata : “ Apabila jiwa manusia benar-benar berjanji akan meninggalkan semua dosa, nescaya akan terbang kea lam malakut (di langit), kemudian kembali membawa berbagai ilmu hikmah tanpa berhajat pada guru”. Imam Ahmad Bin Hanbal ra. Setelah mendengar keterangan itu langsung ia bangkit bangun/berdiri dan duduk ditempatnya berulang tiga kali, lalu berkata : “Belum pernah aku mendengar keterangan serupa ini sejak aku masuk islam”. Ia sungguh puas dan sangat gembira menerima keterangan itu, kemudian ia membaca hadits tadi.

(Tarjamah Kitab Alhikam Syaikh Ibnu Athoillah, H Salim Bahreisy, Victory Agencie, Kuala Lumpur, 2001, pp 33-34., Hadits ini juga tertulis di Fadhilah alqu’an penjelasan hadith ke 18, hal 25-27, Syaikh Maulana Zakariyya, era ilmu kuala lumpur)

6.       Dalam hadits majmu (Himpunan) hadist qudsy

Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu (ummat Muhammad Saw.), yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai hilm (kemurahan hati) dan ‘ilm [1].” Isa bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa hilm dan ‘ilm?” Allah menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilmKu dan ‘ilmKu.”

7.        Dalam hadits qudsy (Kitab Futuh Mishr wa Akhbaruha, Ibn ‘Abd al-Hakam  wafat 257 H).

Allah mewahyukan kepada Isa As. untuk mengirimkan pendakwah ke para raja di dunia. Dia mengirimkan para muridnya. Murid-muridnya yang dikirim ke wilayah yang dekat menyanggupinya, tetapi yang dikirim ke tempat yang jauh berkeberatan untuk pergi dan berkata: “Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa dari penduduk yang engkau mengirimkan aku kepadanya.” Isa As. berkata: “Ya Allah, aku telah memerintahkan murid-muridku apa yang Kau perintahkan, tetapi mereka tidak menurut.” Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengatasi masalahmu ini.” Maka Allah membuat para murid Isa bisa berbicara dalam bahasa tempat tujuan mereka diutus

Perkara ini telah dijelaskan oleh sayyidina ‘ali ra. saat beliau menjawab pertanyaan orang ramai, “apakah beliau telah mendapatkan ilmu khusus atau wasiat khusus dari Rasulullah saw. yang hanya diberikan kepada beliau dan tidak kepada orang lain?”

Hazrat ‘ali ra. menjawab :” Demi Tuhan yang telah menciptakan surga dan jiwa-jiwa, aku tidak pernah mendapat apa-apa selain daripada ilmu yang Allah berikan kepada seseorang untuk memahami alqur’an!”

ibnu abi dunya rah. berkata bahwa pengetahuan daripada Al-quran dan apa-apa yang didapati daripada alqu’an begitu luas daripada alqur’an. Seorang pentafsir harus mengetahui 15 cabang ilmu yg disebutkan diatas. Tafsiran orang yang tidak mahir dalam ilmu-ilmu ini adalah termasuk tafsiran bil-rakyi (tafsir menurut fikiran sendiri) yang hal ini DILARANG OLEH SYARA’. Para sahabat ra. mendapat ilmu bahasa arab secara tabii dan ilmu-ilmu lain mereka dapati langsung dari ilmu kenabian (nabi SAW).

Nabi SAW bersabda :” Barang siapa yang berfatwa dalam masalah agama, tanpa ada ilmu maka baginya laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya ” (HR. Imam suyuti).

Jadi Ilmu laduni = ilmu dari Allah asbab hasil amal...karena Allah telah tunjukan cara mendapatkannya pada kita.

C. Cara mendapatkan ilmu dari Allah Swt.

ilmu laduni dan cara/jalan untuk mendapatkannya didalam ALQU’AN DAN HADITS :

1. Belajar

Termasuk bertanya dengan para ulama. Hendaknya belajar dengan guru mursyid yang menjaga dzikir dan sunnah Nabi Muhammad SAW.

2. TAKUT KEPADA ALLAH

kitab alhikam, syaikh ibnu athoillah alasykandary (kepala madrasah alazhar-asyarif abad 7 hijriah) menyebutkan nukilan ayat dari alqur’anulkarim :

“wataqullaha wayu’alimukumullah” (Qs. Al baqarah ayat 282)

artinya : “Takutlah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kalian(Qs. Al baqarah ayat 282)

Sifat takut/tunduk/patuh hanya kepada Allah, sangatlah mulia. Bukan saja ilmu laduni yang Allah beri tapi Allah akan tundukan semua makhluq padanya bahkan para malaikatpun akan berkhidmad dan senantiasa membantunya (atas izin Allah), sebagai mana maksud dari haidts nabi SAW :

Nabi saw bersbda : “man khofa minallahi khofahu kulla syai waman khofa ghoirallah khofa min kulli syai”

artinya : “Barang siapa yang takutnya hanya kpd Allah maka Smua makhuq akan takut/tunduk padanya. Barangsiapa takut/tunduknya kpd selain Allah maka semua makhluq akan (menjadi asbab) ketakutan baginya

Lihatlah kisah-kisah salafushalih kita, bagaimana pasukan dakwah sahabat berjalan diatas air melintasi sungai tigris irak, pasukan dakwah sahabat yang berjalan melintasi laut merah, mu’adz bin jabal ra shalat 2 rekaat maka gunung batu yang besar terbelah dua-membuka jalan untuknya, para sahabat terkemuka boleh mendengarkan dzikir benda-benda mati (roti dan mangkuk) .

Abu dzar alghifary ra. atas perintah khalifah umar ra., beliau ditugaskan utk memasukan kembali lahar gunung berapi yang sudah keluar dari kawahnya. maka atas izin Allah, lahar panas tsb masuk kembali ke kawah gunung tsb (hayatushabat).

Abdullah atthoyar ra. boleh terbang seprti malaikat yang punya sayap, maka ketika ditanya oleh rasulullah, apa yang menjadi asbab Allah berikan karomah tersebut, maka beliau menjawab ” saya pun tidak tahu, tapi mungkin karena aku dari sebelum saya masuk islam sampai sekarng pun saya tidak pernah minum khamr, …dst”.

3. MENGAMALKAN ILMU YANG DIKETAHUI

sebuah hadits  menyebutkan bahwa nabi muhammad saw bersabda :

“man ‘amila bimaa ‘alima waratshullahu ‘ilma maa lam ya’lam”

Artinya : Nabi SAW bersabda :” BARANGSIAPA YANG MENGAMALKAN ILMU YANG IA KETAHUI MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KEPADANYA ILMU YANG BELUM IA KETAHUI”

4. TIDAK MENCINTAI DUNIA

‘alammah suyuti rah. berkata :“kamu menganggap bahwa ilmu mauhub adalah diluar kemampuan manusia. Namun hakikatnya bukanlah demikian, bahkan cara untuk menghasilkan ilmu ini adalah dengan beberapa asbab. Melalui ini Allah swt. telah menjanjikan ilmu tersebut. Asbab-asbab itu adalah seperti : beramal dengan ilmu yang diketahui, tidak mencintai dunia dan lain-lain….”

Sebagaimana dalam sebuah hadits, bahwa Nabi SAW bersabda yang artinya : “Barang siapa yang zuhud pada dunia (tidak cinta dunia), maka akan Allah berikan kepadanya ilmu tanpa Belajar” (Fadhilatushaqat).

5. Berdoa

Semua itu datang bagi Allah, maka Rasulullah mencontohkan kepada kita agar senantiasa berdoa agar diberikan ilmu dan hidayah dari Allah swt. Sebagaimana dalam al-qur’an disebutkan :

“Wa qul rabbi zidnii ilma“

Artinya : Allah Swt. Berfirman : “Katakanlah  (hai Muhammad Saw.)  Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS Thaha [10] ayat 113)

Untuk menumbuhkan rasa takut pada Allah dengan dzikir

Untuk menumbuhkan zuhud pada Allah dengan mujahadah

Sedangkan Doa akan diterima jika kita ikhlash…..

Untuk itu kita harus belajar dan dibimbing oleh guru-guru yang mursyid.

6. Berdakwah

ika kita berdakwah (amr bil ma’ruf wa nahya ‘anil munkar) atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran maka Allah akan berikan kepada kita ‘ilm wa hilm (’ilmu dan kelembutan hati) langsung dari qudrat Allah swt. Sebagaimana Dalam surat al-‘ankabut ayat terakhir :

“Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami (berjihad dan mendakwahkan agama) maka akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang ihsan (muhsinin) (QS Al’ankabut [69] ayat 69).

Lafadz “ subulana” atau “jalan-jalan kami” bermakna juga “jalan-jalan petunjuk dari Allah” atau “jalan-jalan hidayah (ilmu-ilmu islam yang haq)”.

Sebagaimana juga dalam hadits qudsi (kurang lebih maknanya) tatkala Allah menceritakan keutamaan umat akhir zaman kepada Nabi isa as.,

Dari Abu Darda Ra. berkata : “Aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabada, “Sesungguhnya Allah Swt berfirman kepada Isa As. : “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu (ummat Muhammad Saw.), yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai hilm (kemurahan/kemurahan  hati) dan ‘ilm (ilmu) .” Isa bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa hilm dan ‘ilm?” Allah menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilmKu dan ‘ilmu-Ku.” [HR. Hakim. Katanya Hadits ini shahihmenurut syarat Bukhary, tetapi ia tidak meriwayatkannya, sedangkan adzahaby menyepakatinya”. I/348]

Keterangan : Hadits ini juga terdapat pada Muntakhab hadits SyaikhulHadits Maulana Yusuf, Hadits No. 27,  Bab ikhlash dan Juga terdapat pada kitab Ucapan Nabi Isa as dalam kisah-kisah literature umat islam, Tarif Khalidi.

Mengenai kisah dakwah kaum hawariyyin (pengikut Nabi Isa as.) :

–          Allah mewahyukan kepada Isa As. untuk mengirimkan pendakwah ke para raja di dunia. Dia mengirimkan para muridnya. Murid-muridnya yang dikirim ke wilayah yang dekat menyanggupinya, tetapi yang dikirim ke tempat yang jauh berkeberatan untuk pergi dan berkata: “Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa dari penduduk yang engkau mengirimkan aku kepadanya.” Isa berkata: “Ya Allah, aku telah memerintahkan murid-muridku apa yang Kau perintahkan, tetapi mereka tidak menurut.” Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengatasi masalahmu ini.” Maka Allah membuat para murid Isa bisa berbicara dalam bahasa tempat tujuan mereka diutus. (Kitab Futuh Mishr wa Akhbaruha, Ibn ‘Abd al-Hakam  wafat 257 H).

ilmu laduniadalah karunia khusus/khas bagi hambanya, terlebih bagi mereka yang telah ma’rifat. Orang yang telah ma’rifat akan mendapatkan segala-galanya karena tidak ada keinginan dunia dalam hatinya.

Nabi SAW bersabda : “man wajadallah wajada kulla syai, man faqadallah faqada kulla syai”

artinya : Barang siapa kenal kepada Allah maka ia akan mendapatkan segala-galanya

Barang siapa yang kehilangan Allah (tidak kenal Allah) maka ia kehilangan segala-galanya.”

( Kumpulan Khutbah jum’at romo kyai).

Dalam kitab kimiyai saadat, bahwa ada tiga jenis manusia yang tiadak akan bisa memahami alqur’an :

– Pertama : Seorang yang tidak memahami bahasa arab

-Kedua : Orang yang berkekalan dengan dosa-dosa besar dan bid’ah. Ini karena dosa dan amalan bid’ah itu akan menghitamkan hatinya yg menyebabkan dia tidak mampu memahami alqur’an.

_ketiga : Orang yang yakin hanya terhadap makna-makna dhahir saja dalam hal-hal aqidah (mengambil makna dhohir dari ayat/hadits mutasyabihat, aqidahnya bermasalah: mu’tazillah, mujasimmah dsb). Perasaanya tidak dapat menerima apabila dia membaca ayat alqu’an yang bertentangan dengan keyakinannya itu. Orang yang demikian tidak akan bisa memahami alqur’an.

“Ya Allah Peliharalah kami daripada mereka!”

Rujukan :

Al hikam, ibnu athoillah alasykanadary

Buletin Islam Al Ilmu Edisi 31/II/I/1425. (Buletin sesat wahaby)

Fadhilah alqu’an penjelasan hadith ke 18, hal 25-27, Syaikh Maulana Zakariyya, era ilmu kuala lumpur.

Kumpulan Khutbah Jum’at romo kyai, ponpes alfatah -temboro, magetan jawa timur.

Muntakhob ahadits, syaikh sa’ad, Pustaka ramadhan , Bandung.

Lampiran Hadits-hadits Pendukung:

1. Nasihat imam syafei :

Dar al-Jil Diwan (Beirut 1974) p.34

Dar al-Kutub al-`Ilmiyya (Beirut 1986) p.48

<!–[endif]–>

Artinya :

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح

فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح

Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.

Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?

[Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

sayang bait dari diwan ini telah dihilangkan oleh wahaby laknatullah dalam kitab diwan safei yg dicetak oleh percetakan wahaby…..

2. Nashihat IMAM MALIK RA:

و من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق
من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق
و من جمع بينهما فقد تخقق

“ dia yang sedang Tasawwuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawwuf rusaklah dia . hanya dia siapa memadukan keduannya terjamin benar .

Hikmah kisah Hassan basri rah. dan Rabi’atul-Adawiyyah rah.

Hassan Basri rah. berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi’atul-Adawiyyah berkata, “Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia’ Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?” Rabi’atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi’atul-Adawiyyah berkata, “Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah.”

Amalan Bulan Rejab


“Bersabda Rasulullah SAW : “ Sesungguhnya di surga ada sungai yang disebut dengan rajab (isinya) lebih putih dari pada susu, dan lebih manis dari pada madu. Barangsiapa yang berpuasa sunnah satu hari pada bulan Rajab akan diberi minum oleh Allah dari sungai tersebut.” (HR. Imam Baihaqi)

Adapun puasa sunnah pada bula Rajab banyak hadits-hadits Rasulullah SAW yang menganjurkan untuk melakukannya karena mempunyai nilai pahala ganda.

Diriwayatkan oleh Tsauban bahwa ia pada suatu ketika berjalan bersama Rasul saw melewati suatu kuburan di mana Rasulullah saw berhenti sejenak dan menagis ter-sedu2. ” Kenapa enkau menangis ya Rasulullah?” tanya Tsauban, lalu Rasulullah bersabda : “Aku berdoa untuk mereka yang sedang disiksa kuburnya maka diringankanlah siksanya oleh Allah. Coba mereka berpuasa satu hari dan tidak tidur satu malam dalam bulan Rajab, mereka tidak akan disiksa dalam kuburnya.

Dan bulan Rajab adalah bulan taubah, seorang ulama’ ahli hadits Al-Imam Muhammad bin Abdullah Al Jardani Rohimahullah menerangkan dalam kitab hadits Misbahud-dholam bahwa : “Diterangkan dalam kitab-kitab
Allah yang terdahulu, orang yang membaca :

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَتُبْ عَليَّ ٧٠ ×

Dibaca 70 x setiap ba’da isya’ atau waktu pagi dan sore bulan Rajab,

“Orang tersebut akan terhindar dari siksaan api neraka (dosa-dosanya diampuni oleh Allah)”

AMALAN-AMALAN DI BULAN RAJAB

Di surga ada danau yang bernama Rajab. Airnya putih melebihi putihnya air susu, manis melebihi manisnya madu dan dinginnya melebihi salju. Barang siapa puasa sehari di bulan Rajab kelak Allah akan memberikan minuman daridanau Rajab. (Al-Hadits)

Dari Abi Hurairah berkata ; Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wassalama bersabda ; “ Barang siapa puasa pada tanggal 27 Rajab Allah mencatatnya sebagaimana orang puasa 60 bulan”.

Dan ada awal hari bulan Rajab malaikat jibril turun kepada Nabi dengan risalah untuk isra’ bersama Nabi. Nabi bersabda “Ingat bulan Rajab adalah bulannya Allah, barang siapa puasa sehari dibulan Rajab dengan iman dan keikhlasan, maka akan mendapatkan keridhoan-Nya.”(Al-Hadits)

Barang siapa membaca

رَبِّ اغْفِرْ لي وَارْحَمَنِْي ُوتُبْ عَلَيَّ ٧٠ ×

Setiap ba’da isya’ malam bulan Rajab, maka tidak akan tersentuh kulitnya oleh api neraka (Al-Hadits)

Barang siapa membaca

أحْمَدُ رَسُولُ الله محمّدُ رَسُولُ الله ٣٥×

Dibaca diantara dua khutbah hari Jum’at Akhir bulan Rojab, maka
dimudahkan rizqinya dan dicukupi segala kebutuhanya (Qaul Ulama’)

http://blog.its.ac.id/syafii/

Apabila Habib Umar Di Tuduh Ulama Palsu


Menghina ulama di kalangan Ahlulbait di lakukan oleh golongan2 yang melampaui batas……………

Beberapa hari lalu seorang sahabat menceritakan kepada saya tentang adanya seorang Ustaz yang juga ahli politik yang memperjuangkan Islam di dalam ceramahnya menuduh Habib Umar adalah ULAMA PALSU kerana TIDAK BERJUANG. Ustaz ini bolehlah dikatakan bertitle ulama kerana kemampuannya mengajar dengan kitab-kitab masyhur seperti Hidayatus Salikin karangan al-Alamah Syeikh Abdus Samad al-Falimbani rahimahullahu taala. Kitab ini adalah huraian daripada kitab Bidayatul Hidayah, iaitu ringkasan kitab Ihya Ulumuddin karangan Hujjatul Islam Imam al-Ghazali rahimahullahu taala dan kitab-kitab lain yang mana pengarang kitab ini bukan sahaja Ulama Sufi Nusantara yang masyhur malahan seorang pengembang tarikat tasawwuf (tarikat Samaniah). Walaupun pejuang-pejuang Islam sekarang (setengahnya) sangat Alergi bila disebut Tarikat Tasawwuf namun kitab karangan ulama-ulama tersebut masih dibaca. Samalah juga orang di Terengganu yang selalu membanggakan sejarah negeri Terengganu yang diperintah secara Islam selama 25 tahun di zaman raja nya Sultan Zainal Abidin III dan di bawah ulama besar Terengganu Sayyid Abdul Rahman Al ‘Idrus (Tok Ku Paloh). Sultan Zainal Abidin III adalah seorang yang alim dan banyak perkara perundangan negeri dan hukum agama merujuk kepada Tok Ku Paloh. Tok Ku Paloh pula adalah seorang Ulama Sufi, ahli Tariqah pengembang beberapa tarikat seperti Naqsyabandiyyah, Shatariyyah dan Ratib al Haddad. Begitu juga dengan sahabat serta murid beliau yakni Hj Abdul Rahman Limbong yang di beri mandat oleh Tok Ku Paloh untuk berhadapan dengan saki baki Salibiyyah yang datang ke Terengganu dalam misi menjajah. Bukan tidak ada ulama-ulama lain dalam negeri Terengganu, tapi bagi Tok Ku Paloh hanya Haji Abdul Rahman sahaja yang mampu menghadapi kuasa kuffar tersebut. Haji Abdul Rahman Limbong yang selalu di bangga-banggakan oleh beberapa tokoh politik yang mendakwa berjuang Islam hanya kenal hasil perjuangan Haji Abdul Rahman Limbong sahaja, tapi tidak mengenali intipati yang menjadi perkara pokok, yang menjadi tunjang kekuatan serta dasar pegangan yang jazam kepada Haji Abdul Rahman sendiri. Haji Abdul Rahman juga adalah ahli sufi yang mengamalkan tarikat Samaniyyah yang mana sanadnya bersambung kepada Shiekh Abdul Somad Al Palembani, kepada Shiekh Muhammad Saman, seterusnya sampai kepada Rasulullah. Beliau juga adalah seorang pedagang. Saya tidak berhajat memanjangkan kisah ulama-ulama ini namun cuba layari laman web ini http://ulama-nusantara.blogspot.com/ . Apa yang hendak saya utarakan di sini adalah sebahagian besar ulama-ulama terdahulu yang berjuang menyebarkan Islam sehingga sampai kepada kita hari ini adalah dari tokoh-tokoh ulama tasawuf yang memilih kehidupan Sufiyyah mengikut disiplin dan manhaj Rasulullah.

Orang mengenali Ikhwanul Muslimin yang diasaskan oleh Hassan Al Banna sebagai badan yang memperjuangkan Islam di Mesir. Namun berapa ramai yang mengetahui apakah yang menjadi tapak asas yang menjadi kekuatan Ikhwan pada permulaan kewujudannya. Berapa orang yang mengetahui bahawa Ustaz Hassan Al Banna adalah seorang yang terdidik dengan jalan sufi. “Jam’iyyah As-Suluk wal Akhlak” dan “Jama’ah An-Nahyu Al-Munkar” adalah menjadi landasan awal sebelum terbentuknya Ikhwanul Muslimin dan beliau juga memiliki hubungan yang erat dengan harakah sufiyyah yang pada saat itu marak tersebar di berbagai pelosok daerah dan kota di Mesir.

Mungkin ada di kalangan anda yang sudah mengenali Habib Umar. Beliau adalah seorang ulama dan pendakwah yang gigih. berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Salasilah keturunan nya sampai kepada Imam Hussein cucu kepada Rasulullah s.a.w. Ayahanda beliau Habib Muhammad bin salim adalah seorang mufti Kota Tarim juga seorang pendakwah dan pejuang agama. Pernah memikul senjata melawan komunis Yaman. Sekarang tidak diketahui samada hidup atau mati setelah diculik oleh komunis.

Seperti tradisi ulama-ulama silam yang tersohor, Habib Umar sejak remajanya telah mampu menghafaz Al Quran. Di bidang hadis pula dikatakan beliau mampu menghafaz lebih dari 100,000 hadis beserta sanad dan matan hadisnya sekali. Pernah sekali semasa majlis Daurah yang di adakan di Kuala Lumpur beliau membaca dan menghuraikan kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghazali tanpa dengan ketiadaan kitab di hadapannya, seolah-olah karangan Al Imam Ghazali itu berada dalam dadanya. Kelayakan bagi seseorang imam mujtahid seperti imam Maliki, Syafei dan lainnya dalam menghafaz hadis jumlahnya mencapai lebih dari 600,000 hadis. Tapi orang sekarang Hadis Arba’in (hadis 40) susunan Imam Nawawi pun belum tentu dapat hafaz sudah rasa pandai dan alim dan hentam ulama yang tak sebulu dengan mereka.

Islam menganjurkan sifat berbaik sangka sesama saudara Islam. Kita tidak boleh mendakwa kumpulan kita sahaja yang memperjuangkan Islam. Ada perkara yang tidak mampu kita lakukan tapi dapat dipraktikkan oleh NGO Islam lain. Ada golongan yang tak berpolitik namun memberi undi kepada parti Islam kerana menyedari kewajipan menyokong di atas nama perjuangan Islam. Mereka ada alasan mengapa tidak mencampuri kaedah berpolitik sekarang dan seharusnya kita menghormati pendapat mereka. Kita juga perlu muhasabah diri dan selalu bertanya pada diri kita sendiri apakah yang kita bawa sekarang ini ada kesinambungan dengan apa yang Rasullallah bawa. Rasulullah menyampai risalah dakwah bukan dengan kehendak atau pemikirannya sendiri melainkan dengan wahyu Allah. Rasulullah tidak menyampaikan ideologi tapi menyampaikan wahyu. Rasulullah bersabda ‘Aku, para sahabatku dan orang yang ada pada sahabatku yakni Al Jamaah (Ahlisunnah Wal Jamaah) yang masuk syurga’, tapi ahli politik sekarang kata tak apa, apa-apa fahaman pun samada ahlisunnah ke, wahabi ke, Syiah ke, DAP ke asalkan beri undi untuk memenangkan Islam. Politik Rasulullah adalah politik wahyu. Wahyu dibangsakan kepada nabi dan rasul manakala Ilham Rabbani dibangsakan kepada Wali-wali Allah. Wahyu sudah putus setelah berakhirnya era nabi-nabi, namun ilmu yang dibangsakan kepada wahyu yakni ilham masih tidak putus. Pemimpin yang memimpin kaumnya diakhir zaman ini yang mendapat warid atau ilham dari Allah adalah lebih terpimpin, ampuh dan selamat dari pemimpin yang bergantung kepada kekuatan ilmu atau kealimannya dan fikiran sendiri. Dan Allah taala itu tidak miskin dari mengadakan pemimpin pewaris ilmu wahyu yang ditugaskan menjaga ugamanya. Mereka ini telah pun disebut dalam hadis-hadis nabi. Mereka datang dan pergi silih berganti membawa kemenangan Islam menumpaskan kuasa kuffar. Islam menang dan manusia cepat lupa serta leka dengan kemenangan, kemudian Allah menjatuhkan umat yang lalai dan leka. Allah memberi pula kerajaan kepada kuasa kuffar. Umat Islam sedar setelah ditindas dan ingin kembali kepada kebenaran. Allah mengadakan seorang pemimpin yang membawa umat kepada kebenaran dan memenangkan kembali Islam. Begitulah silih berganti sehinggalah Allah menzahirkan Imam Mahadi seperti yang tersebut di dalam hadis-hadis sahih. Rasulullah tidak perlu bergantung kepada orang -orang kafir untuk memberi kemenangan kepada Parti Rasulullah. Kalau tentera Rasulullah hanya ada 313 orang dengan kelengkapan peperangan yang serba doif, manakala tentera musuh berjumlah 3,000 orang dengan kelengkapan perang yang canggih, atas perintah wahyu Allah Rasulullah pergi berperang jua. Rasulullah bergantung hanya kepada Allah dan tak perlu pertolongan makhluk-makhluk kafir. Namun parti Islam hari ini berijtihad perlu jua kepada undi orang kafir untuk memenangkan Islam. Maka terpaksalah bertoleransi dengan orang kafir bagi kepentingan bersama. Jadi terserahlah samada kita nak berjuang ikut kaedah tauhid Rasulullah atau ikut kepakaran dan keilmuan kita. Wallahu a’lam.

Dari sudut mana ustaz politik ini mengukur Habib Umar ulama palsu dengan alasan tidak berjuang. Dan dengan ukuran apa atau dengan penilaian apa pula ustaz ini menilai erti perjuangan. Apakah perjuangan itu ialah dengan kita mendaftar diri dalam satu pertubuhan politik dan kalau orang yang tak berpolitik itu di’cop’kan tidak berjuang. Cepat melabelkan seseorang adalah satu sikap buruk bagi seseorang pejuang politik sekarang. Ini adalah satu penyakit yang kalau tak ditangani oleh pemimpin-pemimpin atasan akan menjadi lebih parah. Tapi kalau pemimpin atasan pun bersikap yang serupa itu lagi parah. Apabila Habib Umar dijemput ke Malaysia di atas tiket pemimpin UMNO maka segelintir ahli dan pemimpin PAS memandang serong dan terus meng’cop’ Habib Umar adalah ‘Proksi UMNO’. inilah satu kesilapan besar pendakwah-pendakwah kita. Andai kata pemimpin MCA menjemput Habib Umar berceramah kerana ingin mendengar mengenai Islam adakah kita akan cop Habib Umar Proksi MCA?. Kalau DAP menjemput pemimpin PAS di dalam majlis-majlis DAP, kita tak boleh kata bahawa PAS proksi DAP atau PAS ikut telunjuk DAP, jawapannya senang saja ia itu untuk memberi kefahaman mengenai Islam yang sangat adil kepada orang-orang kafir dalam DAP. Alhamdulillah berkat usaha gigih dari kalangan pemimpin-pemimpin PAS sekarang DAP sudah tidak alergi lagi pada PAS. Cumanya tak boleh lagi disebut mengenai Negara Islam kerana DAP masih lagi alergi dengan ungkapan itu.

Persoalannya apakah PAS akan rugi bila UMNO menjemput Habib Umar datang ke Malaysia?. Saya berpendapat PAS tidak rugi apa-apa, malahan memberi kelebihan kepada PAS sebagai parti yang memperjuangkan Islam. Samalah seperti UMNO menjemput Dr Yusoff Qardawi ke Malaysia sebenarnya tidak menguntungkan UMNO malahan memberi kelebihan kepada PAS. Begitu jua kebanyakan guru-guru pondok tidak memihak kepada PAS atau UMNO untuk mengajar ilmu ugama. Kalau PAS tak betul tak boleh dibiarkan mesti ditegur dan bila ditegur jangan pula kata kumpulan si anu tidak pro PAS. Dalam menyampaikan ilmu ugama semua berhak menerima ilmu Islam samada PAS atau UMNO. Kalau orang PAS susah nak merapati orang UMNO maka NGO Islam lain boleh bergaul dengan orang UMNO,mudah-mudahan orang UMNO yang dah Islam lebih cenderung lagi kepada Pemerintahan Islam atau terus menyokong PAS. Jadi bila sesebuah pondok menjemput mufti atau kakitangan Jabatan Agama Negeri untuk meresmikan sesuatu majlis janganlah kita melatah dan terus cop pondok itu pro UMNO. Bersangka baiklah sesama jemaah Islam kerana orang pun akan bersangka baik bila kita menjemput kafir DAP dalam majlis kita. Bagi Habib Umar siapa saja yang menjemput beliau maka beliau akan datang dengan membawa mesej LAAILAAHA ILLALLAH MUHAMMADURRASULULLAH. Kita juga dapati apabila pemimpin UMNO membawa Habib Umar ke Malaysia yang hadir pada majlis tersebut bukannya orang-orang UMNO tapi golongan berketayap putih yakni orang-orang PAS, NGO Islam dan pelajar-pelajar pondok. Manakala orang UMNO lebih gemar kepada konsert-konsert. Jadi bila kita berburuk sangka kepada Habib Umar atau mana-mana ulama bebas lain itu adalah satu kerugian yang besar.

Habib Umar bukan sahaja diperleceh oleh sebilangan pemimpin-pemimpin Islam di negara kita. Beliau juga difitnah dengan berbagai-bagai tuduhan di negaranya sendiri. Golongan yang cenderung kepada fahaman wahabiah di Yaman termasuk pelajar-pelajar Malaysia di Sana’ah Yaman menuduh Habib Umar pengamal ajaran sesat, pembid’ah dan penyembah kubur. Bumi Yaman adalah bumi Ambia dan Aulia. Banyak makam-makam perkuburan nabi-nabi dan wali-wali Allah terdapat di sana. Banyak pula hadis-hadis nabi yang mengharuskan menziarah kubur dan mengajar adab-adab menziarah perkuburan nabi-nabi dan wali-wali Allah serta mengambil berkat daripada mereka. Kalau kita tak mahu ziarah kubur-kubur nabi pun tak apa tapi jangan pula kita tuduh orang yang menziarah kubur itu pergi menyembah kubur. Takkan tak tahu nak bezakan tuhan dengan kubur. Kubur itu makhluk, kayu batu itu bukan tuhan. Orang yang mati dalam kubur juga makhluk Allah. Makhluk tak boleh memberi bekas, samada orang mati atau orang hidup sekalipun pada hakikatnya tidak memberi apa-apa manafaat melainkan Allah. Namun kita wajib percaya dengan firman Allah yang menyebut bahawa Nabi-nabi dan Wali-wali Allah dan orang yang mati pada jalan Allah mereka itu hidup di dalam kubur mereka dan Allah memberkati mereka. Masalah samada boleh atau tak boleh kita mengambil barkah daripada mereka sudah pun dibahaskan oleh ulama-ulama muktabar sejak berkurun lalu. Kalau kita merasa Islam berjaya dan tertegak kerana usaha dan ikhtiar serta pengorbanan kita maka syirik juga hukumnya kerana tiada sandaran kepada Allah.

Akhir sekali marilah kita kembali kepada jalan yang telah digariskan oleh pemimpin Agong kita Saiyidina Wa Habibina Muhammad s.a.w dan jalan orang-orang yang telah Allah berikan petunjuk. Perbaikilah diri kita sendiri bagi menguntungkan dan memantapkan perjuangan Islam. Anggaplah semua orang Islam itu bersaudara dan penuhilah hak-hak saudara kita walaupun mereka tidak sealiran fahaman politik dengan kita. Selalulah berdoa dan buatlah sembahyang hajat supaya Allah memberi petunjuk kepada seluruh umat Islam dan menyatukan hati-hati seluruh umat dibawah satu payung dan bukan berdoa untuk melaknat mereka. Nabi sendiri dalam misi dakwahnya dihalang dengan berbagai-bagai cara yang zalim, dibaling dengan batu hingga berdarah, dihalangi jalan nabi dengan duri, dipersenda dengan meletak belulang binatang semasa nabi bersembahyang dan berbagai lagi, sehinggakan para malaikat ingin membalas perbuatan kafir Quraish dengan mengangkat gunung ingin dihempas ke atas kafir Quraish namun nabi tak benarkan malah berkata dan berdoa supaya ada zuriat dari kalangan umat yang derhaka itu mendapat petunjuk.

Wallahu a’lam

http://tibbilqulub.wordpress.com/2010/06/22/apabila-habib-umar-al-hafidz-di-tuduh-ulama-palsu/

Sejarah Ringkas Kaum Mujassimah


Kaum musyabbihah ertinya kaum yang menyerupakan. Kaum musyabbihah digelari kaum musybih (menyerupakan) kerana mereka menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka mengatakan bahawa Allah bertangan, berkaki, bertubuh seperti manusia.

Ada juga orang yang menamakan kaum ini dengan “kaum mujassimah”, yakni kaum yang mengisbatkan tubuh kerana mereka mengisbatkan tubuh bagi Allah. Mereka mengatakan Allah bertubuh terdiri daripada darah, daging, bermuka, bermata, bertangan, berkaki bahkan ada yang mengatakan bahawa Allah itu mempunyai alat kelamin dan kelaminnya itu laki-laki. (lihat syarah nahjul Balaghah juzuk iii, hal. 255).

Ada juga orang yang menamakan mereka dengan “kaum hasyawiyah”.

Hasyawiyah ertinya percakapan kosong, percakapan di luar batas, percakapan hina-dina. Jadi, mereka itu adalah kaum “bercakap kosong”.

Kebanyakan kaum musyabbihah atau mujassimah ini berasal dari orang-orang yang bermazhab Hanbali, tetapi Imam Ahmad bin Hanbal tidak berkeyakinan dan tidak beraqidah sebagaimana mereka.

Imam-imam dan guru-guru besar kaum musyabbihah di antaranya adalah;

1) Abu Abdillah bin Hamad bin ‘Ali al-Bogdadi al-Warraq (meninggal 403H). beliau ini pengarang kitab usuluddin yang bernama “syarah usluddin”, di mana dihuraikan banyak tentang tashbih, yakni keserupaan Allah dengan makhluk.

2) Qadhi Abu Ja’la Muhammad bin Hussein bin Khalaf bin Farra’ al-Hanbali (meninggal 458H). beliau ini banyak mengarang kitab usuluddin yang banyak memperkatakan tentang tashbih. Ada ulama’ mengatakan bahawa : “aib yang dibuat oleh Abu Ja’la ini tidak dapat dibersihkan dengan air sebanyak air laut sekalipun”.

3) Abu Hassan Ali bin Ubaidillah bin Nashar az-Zugwani al-Hanbali (meninggal 527H). beliau pengarang sebuah buku usuluddin yang bernama “al-Idah”, di mana banyak menerangkan soal tashbih dan taklim.

4) Ja’ad bin Dirhan.

5) Bayan bin Ismail.

6) Muhammad bin Kiram (meninggal 256H).

7) Hisyam al-Juwaliqi.

8) Yunus bin Abdirrahman.

9) ‘Ali bin Mansur.

*Nombor (6) sampai (9) ini memfatwakan bahawa Allah itu bertempat, dan tempatnya di atas, boleh ditunjuk dengan telunjuk ke atas.

10) Muaz al-Anbari yang memfatwakan bahawa Allah lelaki.

11) Daud al-Jawarihi yang memfatwakan bahawa Allah itu mempunyai anggota serupa dengan anggota manusia seluruhnya.

12) Dan ramai lagi.

Seorang ulama’ Islam daripada kaum ahlussunnah wal jamaah bernama Jamaluddin Ibnu al-Jauzi al-Hanbali (ini bukan Ibnul Qayyim al-Jauzi) telah mengarang sebuah kitab untuk menolak fahaman kaum musyabbihah ini yang diberi nama “Daf’u Syubahit Tashbih war Rad ‘alal Mujassimah” (penolak syubhah tashbih dan penentang kaum mujassimah).
Diolah bahasa oleh al-Faqir daripada kitab i’tiqad ahlusunnah wal jamaah oleh Kiyai Haji Sirajuddin Abbas.
http://al-amindaud.blogspot.com