WAJIB BACA SEMUANYA!!! TASAWWUF & TAREQAT OLEH: HABIB ALI AL-JUFRI


Habib Ali Al Jufri

Habib Ali Al Jufri


Ada Yang Tidak Senang Kepada Tasawwuf Dan Tareqat. Kedua-Duanya Dibenci Terus. Seboleh-Bolehnya Hendak Dikuburkan, Dihilangkan Dari Hati Umat Islam. Memang Ada Tareqat Yang Tersasar Dari Landasan (Melanggar Panduan Al-Quran Dan As-Sunnah), Namun Ada Tareqat Yang Muktabar Dan Diiktiraf Oleh Alim Ulamak. Kepada Mereka Yang Memusuhi Tasawwuf, Amat Sukar Sekali Untuk Menghapuskannya Dari Umat Islam. Kerana Sebagaimana Yang Dijelaskan Oleh Habib Ali Al Jufri – Walaupun Ada Yang Mempergunakan Kalam Ibnu Taimiyyah Untuk Mengecam Ahli Sufi, Beliau Tetap Memuji Tasawwuf Dan Merasa Terhormat Dirinya Memiliki Hubungan Sanad Dengan Imam Abdul Qadir Al Jailani. Ibnu Qayyim Yang Sering Dijadikan Peluru Untuk Menembak Ahli Sufi, Malah Menulis Tiga Jilid Kitab Tentang Tasawwuf Iaitu Madarij Al-Salikin Fi Syarh Manazil Sa’irin. Imam Ahmad Bin Hanbal Menulis Kitab Al-Zuhd. Imam Hafiz Az-Zahabi Menulis Siyar A’lam An-Nubala’ Yang Bukan Hanya Mendedahkan Biografi Imam Hadith Tetapi Juga Para Imam Besar Tasawwuf Contohnya Ma’ruf Al-Karkhi Begitu Juga Kitab Sifat As-Sofwah Karya Imam Ibn Al-Jauzi. Begitulah Keadaan Para Ulama Hadith Yang Bergelar Al-Hafiz Yang Kadang-Kadang Mereka Tuduh Benar, Kadang-Kadang Salah. Bahkan Ketika Bersangkutan Dengan Aqidah, Mereka Katakan Para Ulamak Salafussoleh Itu Salah Semuanya. Jadi Menurut Mereka, Aqidah Ibnu Al-Jauzi Itu Salah. Aqidah Imam An-Nawawi Itu Salah, Kerana Ia Menulis Sejarah Hidup Guru-Gurunya Yang Meriwayatkan Hadith Sampai Kepada Imam Muslim Dan Menyebut Mereka Sebagai Sufi. Aqidah Imam Az-Zahabi Salah. Aqidah Imam Al-Suyuthi Salah. Demikian Pula Aqidah Imam As-Subki, Imam As-Sakhawi, Imam Ibn Hajar Serta Imam Mazhab Yang Merujuk Kepada Kaum Sufi Dan Memegang Ucapan-Ucapan Mereka Untuk Melembutkan Hati. Jika Mereka Menuduh Kaum Sufi Itu Syirik Dan Sesat, Bererti Mereka Tidak Percaya Kepada Al Quran Dan Hadith Yang Ada Sekarang. Kenapa ? Kerana Seluruh Sanad Dan Rantaian Riwayat Al-Quran Dan Hadith Yang Sampai Kepada Kita Sekarang Penuh Dengan Ahli Sufi. Setiap Periwayatan Bacaan Al-Quran Yang Tujuh (Qira’ah Sab’ah) Atau Yang Sepuluh (Qira’ah ‘Asyarah) Pasti Di Dalamnya Ditemukan Imam Sufi. Sesiapa Yang Boleh Menyemak Sohih Bukhari Dan Sohih Muslim Serta Kitab-Kitab Hadith Yang Lainnya Tanpa Melalui Perawi Yang Bukan Sufi ? Jika Ada Yang Mengatakan (Ahli Sufi) Itu Musyrik, Mereka Kafir, Dan Kita Diam Sahaja. Ini Ertinya Bencana Akan Mengancam Generasi Setelah Kita. Yang Mereka Tahu Tentang Para Sufi Kemudiannya Adalah Bahawa Mereka Kafir Dan Sesat. Sekarang Ini, Kita Seperti Malas Bertindak. Padahal Di Luar Sana, Melalui Khutbah, Kaset, Dan Buku-Buku Berbagai Kebohongan Telah Dihembuskan Sekelompok Orang Yang Tidak Menjaga Ketaqwaan Kepada Allah Ketika Berbicara Tentang Orang-Orang Soleh. Berbagai Tuduhan-Tuduhan Serong Diarahkan Kepada Kaum Sufi. Jika Ini Dibiarkan, Tentu Generasi Setelah Kita Akan Berkesimpulan Bahawa Hadith Dan Al-Quran Yang Mereka Terima Tidak Dapat Dipercayai Kerana Diriwayatkan Kaum Sufi Yang Mereka Ketahui Kafir Dan Sesat. ================= Sumber Rujukan:- Kitab Ma’alim Al Suluk Li Al Mar’ah Al Muslimah Karya Habib Ali Al-Jufri Terbitan Dar Al Ma’rifah, Beirut, Cetakan 5, 1428 H/2007M

AKHLAK SEORANG ULAMA TERHADAP YANG MUNYUSAHKAN DAN MEMUSUHINYA


Habib Umar

Habib Umar Bin Hafiz Bersama Gurunya


AKHLAK SEORANG ULAMA TERHADAP YANG MUNYUSAHKAN DAN MEMUSUHINYA

Dikisahkan oleh salah seorang guru kami, al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab di masa penjajahan komunis terhadap Yaman, ada seorang yang bertugas membantu komunis yang sangat jahat kepada beliau. Sengaja selalu menyusahkan al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shihab. Beliau disuruh olehnya menjadi tahanan kota, harus melapor setiap har. Kalau sudah lapor harus tulis dan ambil buku sendiri, semuanya serba dipersulit. Hingga akhirnya si petugas komunis tersebut jatuh sakit parah sampainya akhirnya wafat dan meninggal dunia.

Saudara dari petugas yang membantu komunis berpikir seraya bergumam: “Maunya saya sih yang menshalati jenazahnya adalah al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab, tapi saya tahu nih, saya punya saudara sangat jahat sekali kepada al-Habib Muhammad bin Alwi. Apa al-Habib Muhammad bin Alwi mau?”

Bid’ahkah Membaca Al-Quran untuk Mayyit?


1456538_244771575689059_1859265245_n
Bid’ahkah Membaca Al-Quran untuk Mayyit?
Syekh Hasan Jabar pada kuliahnya di masjid Al-Azhar hari Ahad (8-12-2013) kemarin, memberikan penjelasan yang ciamik perihal bacaan Al-Quran yang dihadiahkan kepada mayyit? Berikut percakapan beliau dengan kami para muridnya. Syekh: Semua orang mati itu dikatakan mayyit kan? Baik yang sudah dikubur maupun yang hendak dikubur? Kami: Iya, Syekh. Syekh: Bukankah Rasulullah melakukan salat Jenazah? Kami: Iya, Rasulullah melakukannya. Syekh: Rakaat pertama saat salat Jenazah, apa yang dibaca? Kami: Surat Al-Fatihah, Syekh. Syekh: Surat Al-Fatihah itu termasuk dari Al-Quran tidak? Kami: Termasuk dari Al-Quran, Syekh. Syekh: Lha iya, Rasulullah Saw. sendiri membacakan Al-Quran kepada mayyit. Kok iya ada sebagian orang yang bangga mengatakan hal itu bidah dan sesat. Justru merekalah yang membidahkan dan menyesatkan Rasulullah. Dan merekalah yang sejatinya melakukan bidah. Beliau menambahkan, “Sebarkan dan sampaikan ini kepada orang lain agar umat kita bisa bersatu lagi dan selamat dari propaganda mereka.” Oleh: Mas Yaqin

Mengapa harus ke Yaman?? – Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad


Mengapa harus ke Yaman?? – Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad
…………………………………………………………………….

Mengapa harus ke Yaman?

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalatul Muawanah mengatakan, ‘Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid’ah, pengobralan hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negerinya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat.

Mengapa Imam al-Muhajir memilih Hadramaut yang terletak di Negara Yaman sebagai tempat hijrah ? Imam al-Muhajir memilih Hadramaut sebagai tempat hijrahnya, kerana beberapa faktor, pertama peristiwa hijrahnya al-Husein dari Madinah ke Kufah, di mana Ibnu Abbas memberikan nasehat kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ketika hendak berangkat ke Kufah. Ibnu Abbas menasihati agar beliau pergi ke Yaman karena di negeri itu para penduduknya menyatakan siap untuk mendukung Imam Husein. Sejarah membuktikan bahwa keturunan Imam Husein sampai saat ini mendapat dukungan di sana.

Kedua, keistimewaan penduduk Yaman yang banyak disebut dalam alquran dan hadits. Allah swt berfirman : Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah maha luas (pemeberian-Nya) lagi maha mengetahui. Dari Jabir, Rasulullah saw ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’. Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah saw, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’. Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’. Ketika Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 27 yang berbunyi : Dan serukanlah kepada umat manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang ke (rumah Tuhan) mu dengan berjalan kaki dan dengan menunggang berbagai jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan yang jauh. Ayat ini turun kepada nabi Ibrahim as, setelah menerima wahyu tersebut beliau pergi menuju Jabal Qubays dan menyeru untuk menunaikan haji. Dan orang pertama yang menjawab dan datang atas seruan Nabi Ibrahim as adalah orang-orang’. Allah swt berfirman dalam surah al-Nashr ayat 2 : ‘Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan beramai-ramai‘. Berkata Shadiq Hasan Khan dalam tafsirnya dari Ikrimah dan Muqatil, ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan manusia pada ayat itu adalah orang-orang Yaman, mereka berdatangan kepada Rasulullah untuk menjadi kaum mu’minin dengan jumlah tujuh ratus orang’. Dari Ibnu Abbas berkata : Nabi kita ketika berada di Madinah berkata, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang bantuan Allah swt dan kemenangannya dan telah datang ahlu Yaman. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw : Siapakah ahlu Yaman itu ? Rasulullah saw menjawab : Suatu kaum yang suci hatinya dan lembut perangainya. Iman pada ahlu Yaman, kepahaman pada ahlu Yaman dan hikmah pada ahli Yaman’. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math’am dari Rasulullah saw berkata, ‘Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi’. Dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, ‘Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini’. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu’ dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah saw, ‘Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan Imam al-Muhajir hijrah ke Yaman dikarenakan masyarakat Yaman mempunyai hati yang suci dan tabiat yang lembut serta bumi yang penuh dengan keberkahan, sehingga Rasulullah saw memerintahkan hijrah ke negeri Yaman jika telah terjadi fitnah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi saw bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’.

Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi saw bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’.

Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’.

Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah saw, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi saw : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’.

Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencitaiku, sesiapa yang membenci mereka bererti telah membenciku’.

Berzikir Berdiri Sesat seperti kata puak Salafi Wahabi, sebenarnya punya sandaran yang kuat dari Qur’an Hadis.


dinaqal dari nota : FB Abdul Muhaimin Yusoff berbagi foto Mat Taiko.
Patut seorang muslim kena faham dan tahu..sila baca
Ada seorang menulis di Facebook-nya …. Zikir beramai-ramai dengan suara yang nyaring adalah bida’ah yang sesat kerana Rasulullah SAW TIDAK PERNAH MELAKUKANNYA.

BENARKAH ?

Jadi apakah dalil dibawah ini BUKAN dari Rasulullah SAW ?

DALIL PERTAMA :

Firman Allah Ta’ala:

ْمُكِبْوُنُج َىلَعّو اًدْوُعُقّو اًماَيِق َلا اوُرُكْذاَف َةَلّصلا ُمُتْيَضَق اَذِإَف

“Maka jika engkau telah menunaikan solat, berzikirlah kepada  ALLAH dengan keadaan BERDIRI, DUDUK dan BERBARING”. (an-Nisaa’: 103)

Ulasan : Ini sebagai dalil zikir itu boleh saja dilakukan dalam apa jua keadaan selama mana tidak melanggar batas syariat dan dalam keadaan yang tidak senonoh.

DALIL KEDUA :

Diriwayatkan dalam SAHIH MUSLIM:
َ
ىلَع َناَك ِةَبْوُتْكَمْلا َنِم ُساّنلا ُفِرَصْنَي َنْيِح ِرْكّذلاِب ِتْوّصلا َعْفَر ّنَأ هَرَبْخََأ ٍساّبَع ِنْبا ِنَعُهُتْعِمـَس اَذِإ َكِلاَذِب اْوُفَرَصْنا اَذَإ ُمَلْعَأ ُتْنُك ٍساّبَع ُنْبا َلاَق َلاَق ُهّنأ م.ص ّيِبّنلا ِدْهَع

Dari Ibnu ’Abbas Ra. berkata: “bahwasanya zikir dengan SUARA KERAS setelah selesai solat wajib ADALAH BIASA PADA MASA Rasulullah SAW”. Kata Ibnu ’Abbas, “Aku segera tahu bahawa mereka telah selesai solat, kalau suara mereka membaca zikir telah kedengaran”. [Lihat Sahih Muslim I, Bab Solat.] 

Ulasan : 
1.	Zikir dengan suara yang keras sudah berlaku sejak zaman Rasulullah SAW.
2.	Kerana itu Ibnu Abbas dapat tahu sama ada Jemaah muslimin sudah selesai solat.


DALIL KETIGA :

Hal yang sama juga diungkapkan oleh IMAM BUKHARI dalam SAHIH-nya (lihat: Sahih al Bukhari hal: 109, Juz I)]

ْيِدْبَع ّنَظ َدْنِع انَأ :َلاَعَت ُلا ُلْوُقَي :م.ص ِلا ُلْوُسَر َلاَق :َلاَق ض.ر َةَرْيَرُه ْيِبَأ ِنْبا ْنَعُهُتْرَكَذ ٍإَلَم ْيِف ْيِنَرَكَذ ْنِإَو ْيِسْفَن ْيِف ُهُتْرَكَذِهِسْفَن ْيِف ْيِنَرَكَذ ْنِإَف ,ْيِنَرَكَذ اَذِإ ُهَعَم انَأَو ,ْيِب{يراخبلا هاور} ْمُهْنّم ٌرْيَخ ٍإَلَم ْيِف

“Dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ALLAH berfirman: ‘AKU bergantung kepada prasangka hamba KU kepada-KU, dan AKU menyertainya ketika mereka berzikir. Apabila mereka menyebut-KU di dalam dirinya, maka AKU sebut dirinya didalam diri-KU. Apabila mereka menyebut-KU DI TEMPAT YANG RAMAI, maka AKU sebut mereka di tempat yang lebih ramai dari itu”.

Ulasan : 

1. As-Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani Rhm. mengatakan bahwa hadiss ini menunjukkan bahAwa menyebut di tempat keramaian itu (fil-Mala-i) tidak lain adalah berzikir jahar (dengan suara keras), agar seluruh orang-orang yang ada di sekitarnya mendengar apa yang mereka sebutkan (dari zikirnya itu). [Abwabul Faraj, Pen. AlHaramain, tth., hal. 366]

2. Habib Ali bin Hasan al Aththas dalam Kitabnya Al Qirthas juga mengungkapkan hadis diatas untuk mendukung dalil zikir dengan jahar. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa tanda syukur adalah memperjelas sesuatu dan tanda kufur adalah menyembunyikannya.Dan itulah yang dimaksud dengan ‘zikrullah’ dengan mengeraskan suaranya danmenyebar luaskannya.  [Terj. Al-Qirthas, Darul Ulum Press, 2003, hal. 190]

3.	Syekhul Hadits, Maulana Zakaria Khandalawimengatakan, ‘Sebahagian orangmengatakan bahwa zikir jahar (zikir dengan mengeraskkan suara) adalah termasukbid’ah dan perbuatan yang tiada dibolehkan). Pendapat ini adalah menunjukkan bahwapengetahuan mereka itu di dalam hadits adalah SANGAT TIPIS. Maulana Abdul HayyRahimahullahu Ta’ala mengarang sebuah risalah yang berjudul ‘Shabahatul Fikri’. Beliau menukil di dalam risalahnya itu sebanyak 50 HADIS YANG MENJADI DASAR DALIL bahawa ZIKIR JAHAR ITU DISUNNAHKAN. [Fadhilat zikir, Muh Zakariya Khandalawi. Terj. HM. Yaqoob Ansari, PenangMalaysia, hal 72]

4.	Bukti zikir secara berjemaah diharuskan berdasarkan hadis SAHIH BUKHARI dan MUSLIM.


DALIL KEEMPAT : 

Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, tarafnya SAHIH. Daripada Abu Hurairah seterusnya sabda Rasulullah SAW: 

Sesungguhnya Malaikat-malaikat mencari ahli zikir, jika mereka bertemu sekumpulan yang berzikir mengingati ALLAH mereka akan mengajak yang lain ikut bersama dan mengembangkan sayap mereka ke langit, dan apabila mereka, ahli berzikir bersurai, semua malaikat naik ke langit dan ALLAH bertanya (dan DIA lebih mengetahui akan hal mereka) Dari mana datangnya kamu?

 Malaikat menjawab: Kami datang dari sekumpulan hamba-hamba MU di bumi yang bertasbih, bertakbir dan bertahlil. 

ALLAH berfirman: Adakah mereka dapat melihatKU? 

Malaikat menjawab: Tidak. 

ALLAH berfirman: Jikalau mereka dapat melihat KU?

Malaikat menjawab: Akan lebih bersungguh-sungguh pujian dan tasbih mereka....

Maka ALLAH berfirman: Saksikanlah bahawasanya AKU telah mengampuni mereka. 

Berkata seorang Malaikat: Si Fulan bukan dari kalangan mereka dia hanya datang untuk sesuatu hajat, 

ALLAH berfirman: Mereka kaum yang tidak merugikan teman mereka.

 
Ulasan : 

Hadith ini menujukkan kelebihan:
(a) Duduk berzikir beramai-ramai

(b) Bolehnya Zikir dilakukan secara jahar, jika tidak, maka tidak ada ertinya mereka duduk beramai-ramai dengan berzikir.



DALIL KELIMA :

Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad, Muslim, Turmuzi, An-Nasa'i daripada Muawiyah ra. Rasulullah SAW menemui sekumpulan sahabat dan bertanya: Mengapa kamu semua berkumpul? Sahabat menjawab: Kami duduk berzikir mengingati Allah dan bertahmid bersukur atas petunjuk dan Hidayat Islam. Rasulullah SAW kemudian bersabda: Apakah benar kamu duduk untuk berzikir sahaja? Sahabat menjawab: Sungguh kami tidak duduk berkumpul melainkan untuk berzikir: Rasulullah SAW bersabda: Aku datang bukan untuk menyalahkan kamu, tetapi Jibril datang kepadaku membawa berita yang Allah swt menurunkan malaikat mengelilingi kamu. (Muslim, Ahmad, Tirmizi, An Nasa’i)

Ulasan : 
1.	Bukti keharusan berzikir secara berjemaah dan secara jahar.
2.	Apakah sahabat-sahabat Rasulullah SAW itu ahli bida’ah yang sesat kerana mengamalkan zikir berjemaah dan jahar ?
3.	Apakah para malaikat mengelilingi ahli bida’ah yang sesat kerana berzikir secara berjemaah dan jahar ?


DALIL KEENAM :

Daripada Abi Saeed Al Khudri ra: Rasulullah saw bersabda: Perbanyakanlah zikir kepada Allah sehingga mereka berkata: Sesungguhnya dia gila. (Hakim, Bayhaqi)

Ulasan : 
1.	Orang yang banyak berzikir akan menyebabkan orang yang jahil dan orang yang hasad dengki melemparkan pelbagai tuduhan, antaranya gila, bida’ah, sesat, syirik.


DALIL KETUJUH :

Ibnu Abbas berkata: Sabda Rasulullah saw: Berzikirlah sehingga orang-orang munafiq mengatakan: Mereka menunjuk-nunjuk. (At TAbarani)

Ulasan : Orang yang menuduh dengan tuduhan yang buruk kepada ahli zikir adalah orang MUNAFIK.


DALIL KELAPAN :


Diriwayatkan daripada Ibnu Jarir dan Thabrani daripada Abdurrahman Bin Sahl: Turun ayat ini kepada Rasulullah saw: "Dan jadikanlah dirimu sentiasa berdamping rapat dengan orang-orang yang beribadat kepada Tuhan mereka" (Surah Al-Kahf ayat 28), ketika baginda berada di dalam rumahnya, dan kemudian beliau keluar dan bertemu SEKUMPULAN yang berzkir dan langsung duduk bersama MEREKA dan bersabda: "Syukur kepada Allah yang menjadikan aku bersama mereka" (Thabarani)

Ulasan : Rasulullah SAW sendiri terlibat dalam Jemaah zikir dalam kumpulan.


Rasanya cukuplah lapan dalil dari hadis-hadis yang SAHIH yang mengharuskan berzikir secara berjemaah dan secara jahar.

Jika dikatakan berzikir secara jahar dan berjemaah itu bida'ah yang sesat, maka Rasulullah SAW, para sahabat radhiyallahuanhum dan Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad dan imam2 periwayat hadis yang lain adalah tergolong ahli bida'ah yang sesat. Na'uzubillah.

Pesanan saya kepada mereka-mereka yang membida'ahkan zikir berjemaah dan jahar dan tidak berlapang dada dengannya. PERGILAH BELAJAR LAGI. Tak rugi menuntut ilmu , dan amat terpuji jika mempunyai RAMAI GURU.

Jangang sampai anda tergolong dalam golongan yang beriman dengan sebahagian ayat2 ALLAH dan anda kufur serta engkar dengan sebahagian ayat2 ALLAH, seperti difirmankan ALLAH SWT sebagai :

"Sesungguhnya orang-orang yang KAFIR kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), MEREKALAH ORANG-ORANG YANG KAFIR SEBENAR-BENARNYA. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan." (QS. an-Nisa: 150-151)
Ada seorang menulis di Facebook-nya …. Zikir beramai-ramai dengan suara yang nyaring adalah bida’ah yang sesat kerana Rasulullah SAW TIDAK PERNAH MELAKUKANNYA. BENARKAH ? Jadi apakah dalil dibawah ini BUKAN dari Rasulullah SAW ? DALIL PERTAMA : Firman Allah Ta’ala: ْمُكِبْوُنُج َىلَعّو اًدْوُعُقّو اًماَيِق َلا اوُرُكْذاَف َةَلّصلا ُمُتْيَضَق اَذِإَف “Maka jika engkau telah menunaikan solat, berzikirlah kepada ALLAH dengan keadaan BERDIRI, DUDUK dan BERBARING”. (an-Nisaa’: 103) Ulasan : Ini sebagai dalil zikir itu boleh saja dilakukan dalam apa jua keadaan selama mana tidak melanggar batas syariat dan dalam keadaan yang tidak senonoh. DALIL KEDUA : Diriwayatkan dalam SAHIH MUSLIM: َ ىلَع َناَك ِةَبْوُتْكَمْلا َنِم ُساّنلا ُفِرَصْنَي َنْيِح ِرْكّذلاِب ِتْوّصلا َعْفَر ّنَأ هَرَبْخََأ ٍساّبَع ِنْبا ِنَعُهُتْعِمـَس اَذِإ َكِلاَذِب اْوُفَرَصْنا اَذَإ ُمَلْعَأ ُتْنُك ٍساّبَع ُنْبا َلاَق َلاَق ُهّنأ م.ص ّيِبّنلا ِدْهَع Dari Ibnu ’Abbas Ra. berkata: “bahwasanya zikir dengan SUARA KERAS setelah selesai solat wajib ADALAH BIASA PADA MASA Rasulullah SAW”. Kata Ibnu ’Abbas, “Aku segera tahu bahawa mereka telah selesai solat, kalau suara mereka membaca zikir telah kedengaran”. [Lihat Sahih Muslim I, Bab Solat.] Ulasan : 1. Zikir dengan suara yang keras sudah berlaku sejak zaman Rasulullah SAW. 2. Kerana itu Ibnu Abbas dapat tahu sama ada Jemaah muslimin sudah selesai solat. DALIL KETIGA : Hal yang sama juga diungkapkan oleh IMAM BUKHARI dalam SAHIH-nya (lihat: Sahih al Bukhari hal: 109, Juz I)] ْيِدْبَع ّنَظ َدْنِع انَأ :َلاَعَت ُلا ُلْوُقَي :م.ص ِلا ُلْوُسَر َلاَق :َلاَق ض.ر َةَرْيَرُه ْيِبَأ ِنْبا ْنَعُهُتْرَكَذ ٍإَلَم ْيِف ْيِنَرَكَذ ْنِإَو ْيِسْفَن ْيِف ُهُتْرَكَذِهِسْفَن ْيِف ْيِنَرَكَذ ْنِإَف ,ْيِنَرَكَذ اَذِإ ُهَعَم انَأَو ,ْيِب{يراخبلا هاور} ْمُهْنّم ٌرْيَخ ٍإَلَم ْيِف “Dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ALLAH berfirman: ‘AKU bergantung kepada prasangka hamba KU kepada-KU, dan AKU menyertainya ketika mereka berzikir. Apabila mereka menyebut-KU di dalam dirinya, maka AKU sebut dirinya didalam diri-KU. Apabila mereka menyebut-KU DI TEMPAT YANG RAMAI, maka AKU sebut mereka di tempat yang lebih ramai dari itu”. Ulasan : 1. As-Sayid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani Rhm. mengatakan bahwa hadiss ini menunjukkan bahAwa menyebut di tempat keramaian itu (fil-Mala-i) tidak lain adalah berzikir jahar (dengan suara keras), agar seluruh orang-orang yang ada di sekitarnya mendengar apa yang mereka sebutkan (dari zikirnya itu). [Abwabul Faraj, Pen. AlHaramain, tth., hal. 366] 2. Habib Ali bin Hasan al Aththas dalam Kitabnya Al Qirthas juga mengungkapkan hadis diatas untuk mendukung dalil zikir dengan jahar. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa tanda syukur adalah memperjelas sesuatu dan tanda kufur adalah menyembunyikannya.Dan itulah yang dimaksud dengan ‘zikrullah’ dengan mengeraskan suaranya danmenyebar luaskannya. [Terj. Al-Qirthas, Darul Ulum Press, 2003, hal. 190] 3. Syekhul Hadits, Maulana Zakaria Khandalawimengatakan, ‘Sebahagian orangmengatakan bahwa zikir jahar (zikir dengan mengeraskkan suara) adalah termasukbid’ah dan perbuatan yang tiada dibolehkan). Pendapat ini adalah menunjukkan bahwapengetahuan mereka itu di dalam hadits adalah SANGAT TIPIS. Maulana Abdul HayyRahimahullahu Ta’ala mengarang sebuah risalah yang berjudul ‘Shabahatul Fikri’. Beliau menukil di dalam risalahnya itu sebanyak 50 HADIS YANG MENJADI DASAR DALIL bahawa ZIKIR JAHAR ITU DISUNNAHKAN. [Fadhilat zikir, Muh Zakariya Khandalawi. Terj. HM. Yaqoob Ansari, PenangMalaysia, hal 72] 4. Bukti zikir secara berjemaah diharuskan berdasarkan hadis SAHIH BUKHARI dan MUSLIM. DALIL KEEMPAT : Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, tarafnya SAHIH. Daripada Abu Hurairah seterusnya sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Malaikat-malaikat mencari ahli zikir, jika mereka bertemu sekumpulan yang berzikir mengingati ALLAH mereka akan mengajak yang lain ikut bersama dan mengembangkan sayap mereka ke langit, dan apabila mereka, ahli berzikir bersurai, semua malaikat naik ke langit dan ALLAH bertanya (dan DIA lebih mengetahui akan hal mereka) Dari mana datangnya kamu? Malaikat menjawab: Kami datang dari sekumpulan hamba-hamba MU di bumi yang bertasbih, bertakbir dan bertahlil. ALLAH berfirman: Adakah mereka dapat melihatKU? Malaikat menjawab: Tidak. ALLAH berfirman: Jikalau mereka dapat melihat KU? Malaikat menjawab: Akan lebih bersungguh-sungguh pujian dan tasbih mereka…. Maka ALLAH berfirman: Saksikanlah bahawasanya AKU telah mengampuni mereka. Berkata seorang Malaikat: Si Fulan bukan dari kalangan mereka dia hanya datang untuk sesuatu hajat, ALLAH berfirman: Mereka kaum yang tidak merugikan teman mereka. Ulasan : Hadith ini menujukkan kelebihan: (a) Duduk berzikir beramai-ramai (b) Bolehnya Zikir dilakukan secara jahar, jika tidak, maka tidak ada ertinya mereka duduk beramai-ramai dengan berzikir. DALIL KELIMA : Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad, Muslim, Turmuzi, An-Nasa’i daripada Muawiyah ra. Rasulullah SAW menemui sekumpulan sahabat dan bertanya: Mengapa kamu semua berkumpul? Sahabat menjawab: Kami duduk berzikir mengingati Allah dan bertahmid bersukur atas petunjuk dan Hidayat Islam. Rasulullah SAW kemudian bersabda: Apakah benar kamu duduk untuk berzikir sahaja? Sahabat menjawab: Sungguh kami tidak duduk berkumpul melainkan untuk berzikir: Rasulullah SAW bersabda: Aku datang bukan untuk menyalahkan kamu, tetapi Jibril datang kepadaku membawa berita yang Allah swt menurunkan malaikat mengelilingi kamu. (Muslim, Ahmad, Tirmizi, An Nasa’i) Ulasan : 1. Bukti keharusan berzikir secara berjemaah dan secara jahar. 2. Apakah sahabat-sahabat Rasulullah SAW itu ahli bida’ah yang sesat kerana mengamalkan zikir berjemaah dan jahar ? 3. Apakah para malaikat mengelilingi ahli bida’ah yang sesat kerana berzikir secara berjemaah dan jahar ? DALIL KEENAM : Daripada Abi Saeed Al Khudri ra: Rasulullah saw bersabda: Perbanyakanlah zikir kepada Allah sehingga mereka berkata: Sesungguhnya dia gila. (Hakim, Bayhaqi) Ulasan : 1. Orang yang banyak berzikir akan menyebabkan orang yang jahil dan orang yang hasad dengki melemparkan pelbagai tuduhan, antaranya gila, bida’ah, sesat, syirik. DALIL KETUJUH : Ibnu Abbas berkata: Sabda Rasulullah saw: Berzikirlah sehingga orang-orang munafiq mengatakan: Mereka menunjuk-nunjuk. (At TAbarani) Ulasan : Orang yang menuduh dengan tuduhan yang buruk kepada ahli zikir adalah orang MUNAFIK. DALIL KELAPAN : Diriwayatkan daripada Ibnu Jarir dan Thabrani daripada Abdurrahman Bin Sahl: Turun ayat ini kepada Rasulullah saw: “Dan jadikanlah dirimu sentiasa berdamping rapat dengan orang-orang yang beribadat kepada Tuhan mereka” (Surah Al-Kahf ayat 28), ketika baginda berada di dalam rumahnya, dan kemudian beliau keluar dan bertemu SEKUMPULAN yang berzkir dan langsung duduk bersama MEREKA dan bersabda: “Syukur kepada Allah yang menjadikan aku bersama mereka” (Thabarani) Ulasan : Rasulullah SAW sendiri terlibat dalam Jemaah zikir dalam kumpulan. Rasanya cukuplah lapan dalil dari hadis-hadis yang SAHIH yang mengharuskan berzikir secara berjemaah dan secara jahar. Jika dikatakan berzikir secara jahar dan berjemaah itu bida’ah yang sesat, maka Rasulullah SAW, para sahabat radhiyallahuanhum dan Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad dan imam2 periwayat hadis yang lain adalah tergolong ahli bida’ah yang sesat. Na’uzubillah. Pesanan saya kepada mereka-mereka yang membida’ahkan zikir berjemaah dan jahar dan tidak berlapang dada dengannya. PERGILAH BELAJAR LAGI. Tak rugi menuntut ilmu , dan amat terpuji jika mempunyai RAMAI GURU. Jangang sampai anda tergolong dalam golongan yang beriman dengan sebahagian ayat2 ALLAH dan anda kufur serta engkar dengan sebahagian ayat2 ALLAH, seperti difirmankan ALLAH SWT sebagai : “Sesungguhnya orang-orang yang KAFIR kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), MEREKALAH ORANG-ORANG YANG KAFIR SEBENAR-BENARNYA. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. an-Nisa: 150-151)