HUKUM LELAKI BERAMBUT PANJANG DALAM ISLAM


HUKUM LELAKI BERAMBUT PANJANG DALAM ISLAM

Harus Tabarruk Dengan Rambut Baginda Saw

Harus Tabarruk Dengan Rambut Baginda Saw

Sesungguhnya memanjangkan rambut adalah sunnah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad rahimahullah taala : memanjangkan rambut itu adalah sunnah, seandainya kita mampu pasti kita sudah memanjangkannya. Akan tetapi hal ini perlu penjagaan dan perhatian.

Ibnu Qayyim dalam kitabnya (Zadul Maad) berkata: Rasulullah tidak diketahui membotak kepala , kecuali dalam ibadah (haji dan umrah).

Sesungguhnya sudah datang hadis-hadis sahih yang menerangkan akan sifat (model) rambut Rasulullah Alaihi as-sholatu was-sallam. Di dalam kitab (Al-Mughni), dikatakan; Dan rambut manusia itu disukai seperti model rambut Nabi Sholallahu alaihi wa sallam, apabila panjang sampai ke bahu, dan apabila pendek sampai ke cuping telinganya. Kalau dipanjangkan tidak apa-apa. Imam Ahmad telah menyatakan seperti itu.

Sesungguhnya memanjangkan rambut itu mesti mempunyai beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya :

1.Ikhlas karena Allah Taala, dan mengikuti petunjuk Rasul, supaya mendapatkan balasan dan pahala.

2.Dalam memanjangkan rambut tersebut, hendaknya tidak menyerupai wanita, sehingga dia melakukan apa yang dilakukan wanita terhadap rambutnya, dari jenis dandanan yang khusus bagi wanita.

3.Dia tidak bermaksud untuk menyerupai ahli kitab ( kristen dan yahudi), atau penyembah berhala, atau orang-orang yang bermaksiat dari kalangan muslimin seperti seniman-seniman dan artis (panyanyi dan pelakon filem), atau orang-orang yang mengikuti langkah mereka, seperti bintang sukan, dalam model potongan rambut mereka serta dandanannya.

4.Membersihkan rambut dan menyisirnya (sikat). Dianjurkan memakai minyak dan wangi-wangian serta membelahnya dari pertengahan kepala. Apabila rambutnya panjang dia menjadikannya berkepang-kepang (anyam/jalin). Adapun berkenaan botak, Syeikh Ibnu Taimiyah telah membahas secara terperinci. Dia membagi pembahasannya menjadi empat bagian. Ringkasan pembahasannya (secara bebas ) :

Apabila botak itu karena melaksanakan haji, umrah, atau untuk keperluan seperti berubat, maka hal ini sudah konsisten dan disyariatkan, berdasarkan Al-Kitab (Al-Quran) dan Sunnah, bahkan tidak ada keraguan dalam pembolehannya.

Adapun selain itu, maka hal tersebut tidak akan keluar dari salah satu, dari dua permasalahan :

Pertama: Dia membotakkanya berdasarkan (beranggapan botak itu) adalah ibadah, (cermin) keagamaan, atau kezuhudan, bukan karena haji atau umrah. Seperti orang menjadikannya botak itu sebagai simbol dari ahli ibadah (orang yang banyak ibadahnya) dan ahli agama. Atau dia menjadikannya sebagai simbol kesempurnaan zuhud dan ibadah.

Maka dalam hal ini, Syeikh Ibnu Taimiyah telah berkata: Membotak kepala adalah bidah yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan bukan pula hal yang wajib atau disukai oleh seorang pun dari pemimpin-pemimpin agama. Tidak pernah diperbuat oleh salah seorang dari sahabat-sahabat dan pengikut mereka yang baik. Juga tidak pernah dilakukan oleh syeikh-syeikh kaum muslimin yang terkenal dengan kezuhudan dan ibadah; baik (mereka) itu dari kalangan sahabat, tabiin, dan tabi tabiin serta orang-orang sesudah mereka. Kedua: Dia membotakkan kepala bukan pada saat ibadah haji atau umrah, dan bukan karena keperluan ( berubat ), serta bukan juga atas dasar mendekatkan ( diri kepada Allah ) dan ritual, dalam masalah ini ulama mempunyai dua pendapat :

Pendapat yang pertama: Karahiyah (dibenci). Pendapat ini adalah mazhab Malik, dan lainnya. Juga salah satu riwayat dari Ahmad. Beliau berkata : Mereka ( ulama ) membenci hal itu ( botak tanpa sebab ). Hujjah orang yang berpendapat dengan pendapat ini adalah bahwa membotakkan kepala adalah syiar (simbol ) ahli bid’ah ( khawarij ). Karena khawarij membotakkan kepala mereka.

Sungguh Nabi shollallahu alaihi wa sallam telah bersabda tentang mereka : Ciri-ciri mereka adalah botak . Sebagaimana sebagian orang khawarij menganggap botak kepala itu merupakan bagian dari kesempurnaan taubat dan ibadah. Di dalam kitab shohih Bukhori dan Muslim disebutkan : sesungguhnya tatkala Nabi shollallahu alaihi wa sallam membagi (harta rampasan perang ) pada tahun fath ( pembebasan Mekah ), dia didatangi seorang laki-laki yang janggotnya lebat lagi ( kapalanya ) botak. Di dalam musnad Imam Ahmad diriwayatkan dari Nabi Shollallahu alaihi wa sallam “Bukan dari golongan kami orang yang membotak kepala” . Ibnu Abbas berkata : Orang membotakkan kepalanya di seluruh negeri adalah syaitan .

Pendapat yang kedua: Mubah ( dibolehkan membotakkan kepala ). Pendapat ini terkenal di kalangan pengikut Abu Hanifah dan Syafii. Juga merupakan riwayat dari Ahmad.

Dalil mereka adalah, apa yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan Nasai, dengan sanad yang sahih sebagaimana yang dikatakan oleh pengarang kitab Al- Muntaqo dari Ibnu Umar, sesungguhnya Nabi shollallahu alaihi wa sallam melihat seorang anak ( bayi ) sebagian kapalanya sudah dibotak dan sebagian yang lain ditanggalkan ( tidak dibotak ), maka dia melarang dari perbuatan tersebut, lantas bersabda “Cukurlah keseluruhannya ( botak merata ) atau biarkan keseluruhannya ( tidak dicukur sama sekali )”. Dan ( juga ) dihadapkan kepada baginda shollallahu alaihi wa sallam anak-anak yang kecil setelah tiga ( hari dari kelahirannya ) lalu membotakkan kepala mereka.

Dan karena Nabi shollallahu alaihi wa sallam melarang dari Qaza. Qaza itu adalah membotak sebagian ( kepala ). Maka hal ini menunjukkan bolehnya membotak secara keseluruhan.

Syaukani rahimahullah berkata di dalam kitab Nail Authoor di waktu dia berbicara tentang hadits yang dicantumkan oleh pengarang Al-Muntaqo tadi : Di dalam hadits tadi terdapat dalil bolehnya membotakkan kepala secara keseluruhannya. Ghazali berkata, Tidak apa-apa ( membotakkan kepala ) bagi siapa menginginkan kebersihan. Dan di dalam hadits itu ( juga ) terdapat bantahan kepada orang yang membencinya ( botak ).

Oleh karena itu tidak ada bagi seorang pun dari kalangan pemuda yang ditimpa penyakit suka menyerupai ( mencontoh ) orang-orang kafir dan fasiq, pada rambut mereka, untuk bertamengkan sunnah. Sesungguhnya hal tersebut adalah sunnah adat kebiasaan, bukan sunnah ibadah. Apalagi kebanyakan dari mereka tidak mencontoh Nabi shollallahu alaihi wa sallam pada apa yang diwajibkan kepada mereka, seperti menggunting kumis dan memelihara janggot.

Artinya : Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya (Surat : 50, ayat : 37 ).

Lelaki ingin menyimpan rambut panjang; tidaklah dilarang agama kerana rambut Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri adakalanya beliau membiarkan panjang hingga ke bahu. Dalam Saheh al-Bukhari, terdapat hadis dari Anas yang menceritakan; “Rambut Rasulullah mencecah dua bahunya” (Saheh al-Bukhari, kitab al-Libas, bab al-Ja’di, hadis no. 5452).

Walau bagaimanapun, hendaklah dipastikan gaya rambut tidak menyerupai orang kafir atau orang-orang fasik kerana Nabi bersabda; “Sesiapa menyerupai suatu kaum, ia dari kalangan mereka” (HR Imam Abu Daud dari Ibnu ‘Umar. Lihat; Sunan Abi Daud, kitab al-Libas, bab Fi Lubsi as-Syuhrah, hadis no. 3512).

Habib Ali Al Jufri

Habib Ali Al Jufri

Iklan

MANAKIB ALAWIYYAH KE-1 ( AL-IMAM AS-SAYYID ABDUL MALIK AZMATKHAN BIN ‘ALWI AMMUL FAQIH)


azmatkhan
Slide1

Oleh: As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini
Majelis Wali Songo
rujukan: https://majeliswalisongo.wordpress.com/

NASAB BELIAU
Sayyid Abdul Malik bin Alawi (Ammil Faqih) bin Muhammd Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alawi Baitu Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shouma’ah bin Alawi Al-Mubtakir bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra’ binti Muhammad Rasuli-Llahi Shalla-Llahu Alaihhi wa-Sallam

TEMPAT DAN TAHUN KELAHIRANNYA
Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Beliau juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat untuk berda’wah sebagaimana kakek beliau, Al-Imam As-Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah.

ORANGTUA AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN
Ayah dari Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan adalah Al-Imam Alawi Ammul Faqih bin Muhammad lahir di Tarim. Beliau adalah seorang ulama besar, pemimpin kaum Arifin, hafal al-Qur’an, selalu menjaga lidahnya dari kata-kata yang tidak bermanfaat, dermawan, cinta kepada fakir miskin dan memuliakannya, banyak senyum. Imam Alwi bin Muhammad dididik oleh ayahnya dan belajar kepada beberapa ulama, di antaranya Syaikh Salim Bafadhal, Sayid Salim bin Basri, Syaikh Ali bin Ibrahim al-Khatib. Beliau wafat pada hari Senin bulan Zulqaidah tahun 613 hijriyah di Tarim dan dimakamkan di perkuburan Zanbal.

Al-Imam ‘Alawi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath, memiliki empat orang anak, yaitu:
1. Abdullah (keturunannya terputus)
2. Ahmad (anaknya Fathimah ibu dari Ali dan Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam),
3. Abdul Malik Azmatkhan keturunannya menyebar di India dan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Asia tenggara yang dikenal dengan nama Azmatkhan (leluhur Wali Songo).
4. Abdurahman, keturunannya keluarga al-Bahasyim, al-Bin Semith, al-Bin Thahir, al-Ba’bud Maghfun, al-Bafaraj, al-Haddad, al-Basuroh, al-Bafaqih, al-Aidid, al-Baiti Auhaj.

ISTRI AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN
Istri dari Imam Abdul Malik Azmatkhan adalah Putri Raja Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, yang bernama Ummu Abdillah.

ANAK-ANAK AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN
Imam Abdul Malik Azmatkhan memiliki 4 anak, 2 laki-laki, dan 2 Perempuan:
1. Sayyid Abdullah Azmatkhan (Leluhur Walisongo)
2. Sayyid Alwi Azmatkhan (Leluhur Azmatkhan India)
3. Syarifah Zainab Azmatkhan (nasabnya terputus)
4. Syarifah Fathimah Azmatkhan (nasabnya terputus)

GELAR – GELAR AL-IMAM AS-SAYYID ABDUL MALIK AZMATKHAN
Menurut As-Sayyid Bahruddin Al-Husaini, menjelaskan bahwa gelar yang disandang oleh As-Sayyid Abdul Malik azmatkhan adalah:
1. Al-Malik Lil Muslimiin = Raja Bagi Kaum Muslimin
2. Al-Malik Min ‘Alawiyyiin = Raja dari Kalangan Keturunan Imam Ali bin Abi Thalib
3. Al-Khalifah Lil Mukminiin = Khalifah bagi Kaum mukmin
4. Al-Mursyid = Mursyid bagi beberapa tarekat
5. An-Naaqib = Pakar dalam Ilmu Nasab
6. Al-Muhaddits = Menghafal Ribuan Hadits
7. Al-Musnid = Memiliki sanad keilmuan dari berbagai ulama’ dan guru
8. Al-Qutub = Wali Qutub pada masanya
9. Al-Wali = Seorang Waliyullah
10. Abu Al-Muluuk = Ayah dan datuk bagi para Raja
11. Abu Al-Awliyaa’ = Ayah dan datuk bagi para Wali Songo
12. Abu Al-Mursyidiin = Ayah dan datuk bagi para Mursyid
13. Syaikhul Islam = Guru Besar Islam
14. Imamul Mujaahidiin = Imam Mujtahid
15. Al-Faqiihul Aqdam = Ahli Fiqih Yang paling utama
16. Al-Mujahid Fii Sabiilillah = Pejuang di Jalan Allah
17. Al-Hafiizhul Qur’an = Penghafal Qur’an
18. Shohibul Karomah = Raja dan Wali Allah yang memiliki Karomah
19. Amirul Mukminin= Pemimpin Pemerintahan Islam (Sumber Data: Kitab Ansabi Wali Songo, karya Sayyid Bahruddin)

NAMA FAM AZMATKHAN DALAM ILMU NASAB
Nama Azmatkhan berasal dari penggabungan dua kata dalam bahasa Urdu. “Azmat” berarti; mulia, terhormat. Dan “Khan” memiliki arti setara seperti Komandan, Pemimpin, atau Penguasa. Nama ini disandangkan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik setelah beliau menjadi menantu bangsawan Nasarabad. Mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” sebagai bangsawan sekaligus penguasa setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan apa yang dialami Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan keturunan Al-Husain putra Fathimah binti Rasulillah SAW, maka mereka menambah kalimat “Azmat” sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang.

KESAKSIAN PARA AHLI NASAB TENTANG FAM AZMATKHAN

KESAKSIAN PERTAMA
Menurut As-Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini (Ulama’ asli Tarim, Hadramaut, Yaman), berkata: “Keluarga Azmatkhan (Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal hadhramaut Yaman gelombang pertama yang masuk di Nusantara dalam rangka penyebaran Islam (Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati keluarga Azmatkhan) Sesuai dengan namanya, yang berarti “Pemimpin dari keluarga Mulia” .

KESAKSIAN KEDUA
Menurut H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini dalam bukunya “Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah”, dia berkata:

“Sayyid Abdul Malik bin Alwi lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia meninggalkan Hadhramaut pergi ke India bersama jama’ah para Sayyid dari kaum Alawiyyin. Di India ia bermukim di Naserabad. Ia mempunyai beberapa orang anak lelaki dan perempuan, di antaranya ialah Sayyid Amir Khan Abdullah bin Sayyid Abdul Malik, lahir di kota Nashr Abad, ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir di sebuah desa dekat Naserabad. Ia anak kedua dari Sayyid Abdul Malik
Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India.
Setelah Sayyid Abdul Malik menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang.
Sayyid Abdul Malik juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke India untuk berda’wah, sebagaimana kakek beliau, Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah
Nama putra Sayyid Abdul Malik adalah “Abdullah”, penulisan “Amir Khan” sebelum “Abdullah” adalah penyebutan gelar yang kurang tepat, adapun yang benar adalah Al-Amir Abdullah Azmatkhan. Al-Amir adalah gelar untuk pejabat wilayah. Sedangkan Azmatkhan adalah marga beliau mengikuti gelar ayahanda. Sebagian orang ada yang menulis “Abdullah Khan”, mungkin ia hanya ingat Khan-nya saja, karena marga “Khan” (tanpa Azmat) memang sangat populer sebagai marga bangsawan di kalangan orang India dan Pakistan. Maka penulisan “Abdullah Khan” itu kurang tepat, karena “Khan” adalah marga bangsawan Pakistan asli, bukan marga beliau yang merupakan pecahan marga Ba’alawi atau Al-Alawi Al-Husaini.
Ada yang berkata bahwa di India mereka juga menulis Al-Khan, namun yang tertulis dalam buku nasab Alawiyyin adalah Azmatkhan, bukan Al-Khan, sehingga penulisan Al-Khan akan menyulitkan pelacakan di buku nasab.
Sayyid Abdullah Azmatkhan pernah menjabat sebagai Pejabat Diplomasi Kerajaan India, beliaupun memanfaatkan jabatan itu untuk menyebarkan Islam ke berbagai negeri. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, persaingan itu tidak lain adalah persaingan didalam memperkenalkan sebuah budaya. Sayyid Abdullah memperkenalkan budaya Islam dan Marcopolo memperkenalkan budaya Barat. Sampai saat ini, sejarah tertua yang kami dapat tentang penyebaran Islam di Cina adalah cerita Sayyid Abdullah ini. Maka bisa jadi beliau adalah penyebar Islam pertama di Cina, sebagaimana beberapa anggota Wali Songo yang masih cucu-cucu beliau adalah orang pertama yang berda’wah di tanah Jawa.
Ia (Sayyid Abdullah) mempunyai anak lelaki bernama Amir Al-Mu’azhzham Syah Maulana Ahmad.” Nama beliau adalah Ahmad, adapun “Al-Amir Al-Mu’azhzham” adalah gelar berbahasa Arab untuk pejabat yang diagungkan, sedangkan “Syah” adalah gelar berbahasa Urdu untuk seorang Raja, bangsawan dan pemimpin, sementara “Maulana” adalah gelar yang dipakai oleh muslimin India untuk seorang Ulama besar.Sayyid Ahmad juga dikenal dengan gelar “Syah Jalaluddin”.
Maulana Ahmad Syah Mu’azhzham adalah seorang besar, Ia diutus oleh Maharaja India ke Asadabad dan kepada Raja Sind untuk pertukaran informasi, kemudian selama kurun waktu tertentu ia diangkat sebagai wazir (menteri). Ia mempunyai banyak anak lelaki. Sebagian dari mereka pergi meninggalkan India, berangkat mengembara. Ada yang ke negeri Cina, Kamboja, Siam (Tailand) dan ada pula yang pergi ke negeri Anam dari Mongolia Dalam (Negeri Mongolia yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan Cina). Mereka lari (?) meninggalkan India untuk menghindari kesewenang-wenangan dan kezhaliman Maharaja India pada waktu terjadi fitnah pada akhir abad ke-7 Hijriah.
Di antara mereka itu yang pertama tiba di Kamboja ialah Sayyid Jamaluddin Al-Husain Amir Syahansyah bin Sayyid Ahmad. Ia pergi meninggalkan India tiga tahun setelah ayahnya wafat. Kepergiannya disertai oleh tiga orang saudaranya, yaitu Syarif Qamaruddin. Konon, dialah yang bergelar ‘Tajul-muluk’. Yang kedua ialah Sayyid Majiduddin dan yang ketiga ialah Sayyid Tsana’uddin.”
Sayyid Jamaluddin Al-Husain oleh sebagian orang Jawa disebut Syekh Jumadil Kubro. Yang pasti nama beliau adalah Husain, sedangkan Jamaluddin adalah gelar atau nama tembahan, sehingga nama beliau juga ditulis “Husain Jamaluddin”. Adapun “Syahansyah” artinya adalah Raja Diraja. Namun kami yakin bahwa gelar Syahansah itu hanyalah pemberian orang yang beliau sendiri tidak tahu, karena Rasulullah SAW melarang pemberian gelar Syahan-syah pada selain Allah.
Sayyid Husain juga memiliki saudara bernama Sulaiman, beliau medirikan sebuah kesultanan di Tailand. Beliau dikenal dengan sebutan Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, barangkali beliau pernah tinggal lama di Baghdad. Nah, Sayyid Husain dan Sayyid Sulaiman inilah nenek moyang daripada keluarga Azmatkhan Indonesia, setidaknya yang kami temukan sampai saat ini.

KESAKSIAN KETIGA

Menurut Sayyid Ali bin Abu Bakar As-Sakran dalam Kitab Nasab yang bernama Al-Jawahir Al-Saniyyah, berkata: “Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih”.

KESAKSIAN KEEMPAT:

Menurut Ad-Dawudi dalam Kitab Umdatut Thalib berkta, “”Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih, dan keturunannya masih ada sampai sekarang ini melalui jalur Walisongo di Jawa”.

KESAKSIAN KELIMA:

Penelitian sayyid Zain bin abdullah alkaf yg dikutip dalam buku khidmatul ‘asyirah karangan Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf; MEMBENARKAN & MEM-VALID-KAN nasab jalur Azmatkhan.

KESAKSIAN KEENAM:

Penelitian Al-Alammah As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Husain Al-Masyhur dalam Kitab Syamsud Zhahirah, yang memvalidkan nasab jalur Azmatkhan.

KESAKSIAN KETUJUH

Kesaksian dari Sayyid Ali bin Ja’far Assegaf Palembang.

Bermula silsilah wali songo ditemukan oleh sayid Ali bin Ja’far Assegaf pada seorang keturunan bangsawan Palembang. Dalam silsilah tersebut tercatat tuan Fakih Jalaluddin yang dimakamkan di Talang Sura pada tanggal 20 Jumadil Awal 1161 hijriyah, tinggal di istana kerajaan Sultan Muhammad Mansur mengajar ilmu ushuluddin dan alquran. Dalam silsilah tersebut tercatat nasab seorang Alawiyin bernama sayid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang mempunyai tujuh anak laki. Di samping itu tercatat pula nasab keturunan raja-raja Palembang yang bergelar pangeran dan raden, nasab Muhammad Ainul Yaqin yang bergelar Sunan Giri.

KESAKSIAN KEDELAPAN:

Penelitian As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri dalam Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif

Keluarga Azmatkhan sejauh ini tercatat memimpin banyak Kesultanan atau Kerajaan di Asia Tenggara. Diantaranya :

1. Kesultanan Nasirabad – India
2. Kesultanan Adipati Bagelen
3. Kesultanan Adipati Bangkalan – Madura (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
4. Kesultanan Adipati Gerbang Hilir
5. Kesultanan Adipati Jayakarta
6. Kesultanan Adipati Manonjaya (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
7. Kesultanan Adipati Pajang
8. Kesultanan Adipati Pakuan (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
9. Kesultanan Adipati Sukapura (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
10. Kesultanan Adipati Sumenep (Sebagian dari Raja-Raja Sumenep adalah Keturunan Azmatkhan dari Jalur Fadhal Ali Al-Murthadha)
11. Kesultanan Adipati Tasikmalaya (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
12. Kesultanan Ampel Denta – Surabaya
13. Kesultanan Banten
14. Kesultanan Campa (Kamboja)
15. Kesultanan Cirebon Larang / Carbon Larang
16. Kesultanan Demak Bintoro (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
17. Kesultanan Giri Kedaton
18. Kesultanan Kacirebonan – Cirebon
19. Kesultanan Kanoman – Cirebon
20. Kesultanan Kasepuhan – Cirebon
21. Kesultanan Kedah – Malaysia (Ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
22. Kesultanan Kelantan – Malaysia
23. Kesultanan Mangkunegaran (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
24. Kesultanan Mataram Islam (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
25. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
26. Kasunanan Surakarta Hadiningrat (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
27. Kesultanan Pakualaman
28. Kesultanan Palembang Darusalam
29. Kesultanan Patani – Thailand
30. Kesultanan Sumedang Larang / Sunda Larang
31. Kesultanan Surabaya (Kelanjutan Kesultanan Ampel Denta)
32. Kesultanan Ternate
33. Keratuan Darah Putih, Lampung
34. Kerajaan Islam Tawang Alun Macan Putih, Banyuwangi
35.

DAFTAR KEPUSTAKAAN (BUKU-BUKU YANG MENJELASKAN) TENTANG AZMATKHAN :

1. Sayyid Ahmad bin Anbah,Umdatuth Thaalib Fii Ansaabi Aali Abi Thaalib
2. Sayyid Aki As-Samhudiy, Jawaahir Al-Aqdaini Fii Ansaabi Abnaai As-Sibthaini
3. Sayyid Abu Thalib Taqiyyuddin An-Naqiibi, Ghaayatu Al-Ikhtishoori Fii Al-buyuutaati Al-‘Alawiyyati Al-Mahfuzhati Min Al-Ghayyaari.
4. As-Sayyid Al-Muhaddits Husain bin Abdurrahman Al-Ahdali, Tuhfatuz Zaman Fii Taariikhi Saadaatil Yamani
5. As-Sayyid Abu Fadhal Muhammad Al-Kazhimi Al-Husaini, An-Nafkhah Al-Anbariyyah Fii Ansaabi Khairil Bariyyah
6. As-Sayyid Dhoomin bin Syadqam, Tuhfatul Azhaari Fii Ansaabi Aal An-Nabiyyi Al-Mukhtaari
7. As-Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Attas, Uquud Al-Almaas
8. Sayyid Jamaluddin Abdullah Al-Jurjaani Al-Husaini, Musyajjarah Al-Mutadhammin Ansaabi Ahlilbaiti Ath-Thaahiri
9. As-Sayyid Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin ‘Amiiduddin Al-Husaini An-Najafiy, Kitab Bahrul Ansaabi
10. As-Sayyid Murtadha Az-Zabiidi, Al-Musyajjir Al-Kasysyaaf Li Ushuulis Saadah Al-Asyraaf
11. As-Sayyid Husain bin Muhammad Ar-Rifaa’i Al-Mishri, Bahrul Ansaabil Muhiith
12. As-Sayyid ‘Ali bin Abi Bakar asy-Syakran, Al-Jawaahir As-Saniyyah Fii Ansaabi Al-Husainiyyah
13. As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur Al-Husaini Al-Hadrami, Kitab Syamsuzh Zhahiirah
14. As-Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff, Khidmah Al-‘Asyiirah Bi Tartiibi wa Talkhiishi Wa Tadzliili Syamsizh Zhahiirah
15. As-Sayyid Dhiyaa’u Syihaab, Ta’liiqaat Mabsuuthah Wa Mufashsholah ‘Alaa Syamsizh Zhahiirah
16. As-Sayyid Umar bin Alawi Al-Kaff, Al-Faraayid Al-Jauhariyyah Fii Tarraajumi Asy-Syaharah Al-‘Alawiyyah
17. As-Sayyid Umar bin Abdurrahman bin Shihabuddin, Syajaratul Alawiyyah
18. As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif
19. As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini, Ansaabi Wali Songo,
20. As-Sayyid Abi Al-Mu’ammar Yahya bin Muhammad bin Al-Qasim Ba’alawi Al-Husaini, Kitab Abnaaul Imam Fii Mishra Was Syaami Al-Hasani Wal Husaini,
21. As-Sayyid Al-Qalqasandiy Al-Hasani, Nihaayatul Urabi Fi Ma’rifati Al-Ansaabi Al-‘Arabi,
22. Al-Imam Abi Sa’di Abdil Karim bin Muhammad bin Mansur At-Tamimiy As-Sam’aaniy, Kitab Al-ansaab
23. Al-Imam Ahmad bin Yahya bin Jabir Al-Balaadiri,Kitabu Al-Jumali Min Ansaabil Asyraaf

Terjemah Kitab Ihya’ul Mayyit fii Fadhilati Ahlul Bait


hqdefault
Tajuk; Terjemah Kitab Ihya’ul Mayyit fii Fadhilati Ahlul Bait

iaitu; 60 Hadits Keutamaan Ahlul Bait Karya Al Imam Jalaluddin As Suyuthi

Muqadimah Terjemah

Segala puji bagi Allah swt, Rabb yang memberi petunjuk dan yang menampakkan kebenaran kepada hambanya. Shalawat keberkahan dan salam atas nabi mushthofa khotamin nabiyyin Muhammad bin ‘Abdullah, serta kepada seluruh keluarga, dzurriyyat dan para sahabatnya.

Allah berfirman : “Sesungguhnya telah datang seorang Rasul dari kaum ( golongan )mu sendiri, berat serasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan ( keimanan dan keselamatan ) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang Mu’min (QS.9:128)”. Dan firman Allah : “Boleh jadi kamu (Muhammad saw)
akan menyengsarakan dirimu sendiri karena mereka tidak beriman (QS.26:3) Dan masih banyak firman Allah swt tentang Muhammad saw serta keutamaan-keutamaannya. Amma ba’du

Apa dan Siapa Ahlul Bait ?

Kata ahlul bait menurut arti bahasa adalah Al Qorib wal ‘Asyirah yaitu family dan keluarga terdekat boleh juga termasuk istri.
Pengertian Ahlul Bayt nabi secara ‘urfan ( umum ) adalah seluruh keluarga dekat termasuk bapa saudara, ibu saudara, anak, anak bapa saudara dan mak saudara serta anak cucu beliau, pengertian itu telah dipergunakan oleh orang-orang sejak masa-masa awal islam hingga sekarang. pengertian kata ahlul bait boleh memiliki pengertian yang berbeda-beda tergantung dari sudut mana kita melihatnya.
Sedangkan pengertian ahlul bait secara sya’riat adalah ‘Ali kwh, Fatimah ra, Syarif Hasan dan Sayyid Husein ra. Pembatasan pengertian hanya kepada mereka tersebut berdasarkan dalil-dalil kontekstual yang cukup tegas dan jelas diantaranya ialah ayat dalam Surah At Tathir, Allah Taala berfirman : “Sesungguhnya Allah swt berkehendak untuk menghilangkan kotoran dari kalian wahai ahlul bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya (QS.33:33) “.
Landasannya :
1. Hadits Riwayat At Turmudzi dari
Sa’ad bin Abi waqqas ra :

“Ketika turun ayat (QS.33:33) ” Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu dan diri kami dan diri kamu.. “Rasulullah saw menanggil ‘Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan dan Husein kemudian beliau bersabda : “Ya Allah, merekalah Ahlul Baitku (keluargaku) “.

2. Hadits riwayat At Turmudzi dari Ummu Salamah

“Ayat : At Tathir (QS.33:33), turun untuk Rasulullah di rumahku ketika aku sedang duduk di depan pintu,
aku bertanya : Ya Rasulullah, bukankah aku juga ahlul baitmu, beliau menjawab : engkau dalam kebaikan,
engkau dari istri-istriku, ketika itu Rasulullah Saw di rumah bersama ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husein kemudian
beliau memasukkah mereka di bawah sorban beliau seraya bersabda : “Ya Allah, merekalah ahlul baItku
maka hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya “.

3. Hadits riwayat Muslim dari Zaid bin ‘Arqom

“Suatu hari Rasul berpidato di hadapan kami dekat danau bernama Khom antara Mekkah dan Madinah, setelah memuji Allah, beliau mulai menasihati kami dan bersabda : “Wahai orang-orang, aku tak ubahnya seorang manusia, mungkin utusan tuhanku akan segera datang memanggilku, ketahuilah bahwa aku meninggalkan pada kalian 2 benda berharga, kitabullah yang mengandung cahaya dan bimbingan maka ambilah kitabullah dan berpegang padanya.. beliau meneruskan : Dan ahlul baItku, aku memperingatkan kalian tentang ahlul baitku, aku memperingatkan kalian tentang ahlul baitku, aku memperingatkan kalian tentang ahlul baitku…”.
perawi hadits bertanya kepada Zaid bin ‘Arqom :
siapakah Ahlul Bait Rasul, adakah istri-istri beliau termasuk ahlul baitnya ?
Zaid menjawab : Tidak, Demi Allah, seorang istri hidup bersama suaminya untuk beberapa waktu dan ketika dicerai, ia akan kembali kepada kaumnya sendiri “.
Dan riwayat ayat At Tathir yang menunjuk pembatasan hanya pada mereka cukup kuat dan banyak diriwayatkan oleh kalangan dan tokoh-tokoh penting ahlussunnah lainnya, diantaranya ;

1. Imam Muslim dalam Shahihnya
2. Imam At Turmudzi dalam kitab shahihnya
3. Al Hakim dalam kitab Al Mustadraknya
4. Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya
5. Imam An Nasa’i dalam kitab khoshaishnya
6. Al Muhib At Thabari dalam Riyadhun Nadhirahnya
7. Al Muttaqi Al Hindi dalam kitab Kanzul ‘Ummalnya
8. Ibnu ‘Abdi Al Bar Al Andalusi dalam Al Isti’abnya
9. Ibnu ‘Atsir Al Jazari dalam Usdul Ghobahnya
10. At Thohawi Al Hanafi dalam kitab Musykil Al Atsarnya
11. Al Haitsami dalam Majma’ul Zawaidnya
12. Ibnu Jarir At Thabari dalam tafsir Jami’ul Bayannya
13. As Suyuthi dalam tafsir Durul Mantsurnya
14. Imam Abu Daud dalam Musnadnya
15. Al Khatib Al Baghdadi dalam kitab tariknya

Jalur jalur riwayat mereka dikutip oleh Sayyid Murtadha Al Husaini Al Fairuz Zabadiy dalam kitab Fadhailul Khamsah min Shihatus Sittah, juz 2 hal. 264-289.
Dari riwayat-riwayat tersebut meski secara bahasa kata ahlul bayt dapat diterapkan atas setiap penghuni rumah seseorang namun secara syari’at Allah swt dan Rasulnya telah membatasi pengertian kata Ahlul Bayt Nabi hanya kepada sejumlah pribadi dari keluarga terdekat beliau yaitu : ‘Ali kwh, Fatimah ra, Hasan ra, Husein ra.
Dengan demikian itulah pengertian kata ahlul bait nabi dalam ayat At Tathir (QS.33:33).

Terjemah Kitab Ihya’ul Mayyit fii Fadhilati Ahlul Bayt Karya : Al Imam Jalaluddin As Suyuthi.

1. Biografi singkat penulis

Nasabnya : Alhafizh Jalaluddin Abul Fadl Abdurrahman bin Abu Bakar bin Muhammad Al Khudhairi As Suyuthi Asy Syafi’i, Mujadid kurun ke9.

Kelahiran dan kehidupannya :

As Suyuthi dilahirkan pada bulan Rajab tahun 849H. Dan ada yang mengatakan bukan pada tahun itu. Ayah
beliau wafat ketika ia baru berusia 5th 7bln”. Oleh karena itu beliau hidup sebagai anak yatim”.
Ia hafal Alqur’an ketika usianya kurang dari 8th, kemudian beliau menghafal kitab ‘Umdatul Ahkam, Minhajun Nüri, Alfiyah Ibnu Malik dan Minhajul Baidhawi. lalu beliau mengajukan hafalannya kepada ulama besar pada masa itu dan merekapun memberi ijazah. Jumlah para syek dan gurunya tidak kurang dari 50orang.

Karya-karyanya : Beliau mengarang lebih dari 500 buah karya tulis. Karya-karyany yang terkenal seperti ;

a. Ad Dürul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur
b. Al Mizhar
c. Al Asybah wan Nazhair
d. Aj Jami’ Ash shoghir
e. Hamul Hawami’ syarh Jam’ul Jawami’
f. Fannul Muhadhoroh fii Akhbar Mishri wal Qohirah
g. Tamamud Dirayah
h. Tafsir Jalalain
i. dll
dan banyak lagi yang tak disebutkan disini.

Beliau juga seorang penyair yang banyak menggubah syair, membuat berbagai tulisan ilmiah serta tulisan-tulisan yang berkaitan dengan hukum-hukum agama.

Wafat Beliau : Ibnu Al Ammad dalam kitabnya Syadzaratudz Dzahab mengatakan : ‘beliau wafat pada malam Jum’at tgl 10 Jumadil Awwal di rumah kediamannya, di desa Raudhatul Miqyas setelah selama 7hari menderita penyakit hebat ditangan kirinya, dalam usia 61thn, kemudian dikebumikan di desa Husy Qushun di luar pintu masuk kota Al Qorofah’.

PERSEMBAHAN

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah dan salam bagi hamba-hambanya yang terpilih.

Risalah kecil ini adalah kumpulan 60 hadits yang saya beri nama ”Ihya’ul Mayyit bifadhalil Ahlul Bayt”.

Al Hafizh Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar Asy Syafi’i As Suyuthi.

HADITS 1
Sa’id bin Manshur dalam kitab susunannya meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair tentang firman Allah SWT dalam ayat ”Katakanlah, aku tidak meminta dari kalian sesuatu upahpun (atas seruanku) kecuali kasih sayang terhadap keluarga” QS.42:23. Ia berkata, yang dimaksud keluarga dalam ayat itu adalah keluarga Rasulullah SAW.

HADITS 2
Ibnu Al Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Murdawaih meriwayatkan dalam kitab tafsir mereka dan At Thobroni dalam Al Mu’jam Al Kabir dari Ibnu ‘Abbas ra berkata: ketika turun ayat ini (QS.42:23) Para shahabat bertanya : wahai Rasulullah, siapakah keluargamu yang wajib atas kita untuk mencintai mereka?
Beliau menjawab: ”Ali, Fatimah dan kedua putra mereka”.

HADITS 3
Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah (QS.42:23) Dan siapa yg mengerjakan kebaikan”, Ia berkata: ”yang dimaksud kebaikan adalah kecintaan kepada keluarga Muhammad saw”.

HADITS 4
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Turmudzi dan Ia menshahihkannya, An Nasa’i dan Al Hakim dari Al Muthalib bin Robi’ah, Ia berkata: bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Demi Allah, iman tidak akan masuk ke dalam hati seorang muslim sehingga ia mencintai kalian (keluarga nabi saw), karena Allah dan karena hubungan keluarga denganku”.

HADITS 5
Diriwayatkan oleh Muslim dan Turmudzi dan An Nasa’i dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah saw bersabda:
”Aku ingatkan kalian tentang ahlul baitku”.

HADITS 6
Diriwayatkan oleh At Turmudzi dan ia menggolongkannya sebagai hadits hasan dan Al Hakim dari Zaid bin Arqom, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: ”Sungguh aku tinggalkan padamu apa yang dapat mencegah kamu dari kesesatan setelah kepergianku, selama kamu berpegang teguh kepadanya; Kitabullah dan
‘Ithrahku (keluargaku) ahlul bait. Keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya berjumpa denganku di Al Haudh. Maka hati-hatilah dengan perlakuanmu atas keduanya sepeninggalku nanti”.

HADITS 7
Diriwayatkan oleh ‘Abdu bin Humaid dalam musnadnya dari Zaid bin Tsabit berkata: Rasulullah bersabda:
”Sungguh aku tinggalkan padamu apa yang dapat mencegah kamu dari kesesatan setelah kepergianku, selama kamu berpegang teguh kepadanya: Kitabullah dan ‘Ithrahku Ahlul Baitku, dan keduanya tidak akan berpisah sehingga datang kepadaku di Al Haudh”.

HADITS 8
Ahmad bin Abu Ya’la meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, sesungguhnya Rasulullah bersabda: ”Aku merasa segera akan dipanggil (Allah swt) dan aku akan memenuhi panggilan itu, maka aku tinggalkan padamu
TSAQOLAINI (2 Pusaka) yaitu: Kitabullah dan ‘Ithrahku. Dan sesungguhnya Allah yang Maha Mengetahui telah berfirman kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah sehingga keduanya datang menjumpaiku di Al Haudh. Oleh karena itu perhatikan bagaimana perlakuanmu atas kedua peninggalanku itu”.

HADITS 9
Diriwayatkan oleh At Turmudzi dan ia menggolongkan hadits ini hasan dan At Thobrani dan Al Hakim dari Ibnu ‘Abbas ra, Ia berkata: Rasulullah bersabda: “Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan-Nya dan cintailah aku karena kecintaan (kamu) kepada Allah serta cintailah ahlul baitku karena kecintaan (kamu) kepadaku”.

HADITS 10
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakar As Shiddiq, Ia berkata: “Peliharalah Muhammad dengan memelihara keluarganya”.

HADITS 11
Diriwayatkan oleh At Thobrani dan Al Hakim dari Ibnu ‘Abbas ra, Ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Wahai bani Abdul Mutholib, aku mohon kepada Allah buat kalian 3 hal, aku memohon dari-Nya agar meneguhkan orang yang bangkit dari kalian, agar ia mengajari yang bodoh dari kalian dan memberi petunjuk bagi yang sesat dan aku memohon dari-Nya agar menjadikan kalian orang-orang dermawan, yang berani dan punya hati belas kasih. Maka sekiranya seseorang berdiri di antara salah satu sudut Ka’bah dan Maqam Ibrahim, lalu ia solat dan puasa, sedangkan ia adalah pembenci keluarga (Ahlul Bait) Muhammad, pasti ia masuk neraka”.

HADITS 12
At Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : “Kebencian kepada bani Hasyim dan Anshor adalah kufur dan membenci orang-orang Arab adalah kemunafikan”.

HADITS 13
Ibnu ‘Adi dalam kitabnya Al Kamil meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa membenci kami Ahlul Bait maka ia adalah munafik”.

HADITS 14
Ibnu Hibban dalam sohih dan Al Hakim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Demi yang jiwaku ditangan-Nya tidak seorang pun membenci kami kecuali akan dimasukkan Allah swt ke neraka”.

HADITS 15
At Thabrani meriwayatkan dari Hasan bin ‘Ali kwh, beliau berkata kepada Mu’awiyah bin Khadij :
“Wahai Mu’awiyah bin Khadij, hati-hatilah dari membenci kami, karena sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : “Tiada seseorangpun yang membenci dan menghasad dengki kami kecuali akan dihalau dari Al Haudh dengan cambuk dari api”.

HADITS 16
Ibnu ‘Adi dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman meriwayatkan dari ‘Ali kwh, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Barangsiapa tidak mengenal hak ‘ithrahku dan anshornya maka ia salah satu dari 3 golongan, munafik atau anak haram atu anak dari hasil tidak suci yaitu ; dikandung oleh ibunya dalam keadaan haid”.

HADITS 17
At Thabrani dalam kitabnya Al Awsath dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Akhirnya ucapan Rasulullah sebelum wafat adalah : “Perlakuan aku sepeninggalku dengan bersikap baik kepada Ahlul Bait”.

HADITS 18
Diriwayatkan oleh At Thabrani dalam Al Awsath dari Hasan bin ‘Ali ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : “Mantapkanlah dirimu pada kecintaan pada kami ahlul bayt sebab barangsiapa menghadap Allah swt sedang ia mencintai kami niscaya ia masuk syurga dengan syafa’at kami. Demi Allah yang diriku / jiwaku berada ditangan-Nya, tidak akan berguna amal seseorang bagi dirinya kecuali bila ia mengetahui hak kami”.

HADITS 19
At Thabrani dalam Al Awsath meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah ra, ia berkata: Rasulullah saw berpidato dihadapan kami, maka aku mendengarnya besabda : “Wahai manusia barangsiapa membenci ahlul baitku, Allah swt akan kumpulkan ia pada hari kiamat sebagai orang yahudi”.

HADITS 20
At Thabrani meriwayatkan dalam Al Awsath dari ‘Abdullah bin Ja’far (bin ‘AlI bin Abi Tholib ra), ia berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda : “Wahai bani Hasyim, aku memohon dari Allah swt untuk kalian, agar ia menjadikan kalian pemberani dan pengasih. Aku memohon agar ia memberikan petunjuk bagi yang tersesat, memberi rasa aman bagi yang ketakutan dan mengenyangkan yang lapar dari kalian. Dan demi jiwaku yang berada ditangan-Nya, tiada beriman seseorang dari mereka sehingga mencintai kamu karena aku, apakah kamu mengharapkan untuk masuk ke dalam syurga dengan syafa’atku lalu bani Mutholib tidak mengharapkanya”.

HADITS 21
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abi Syaibah dan Musaddad dalam musnadnya, Al Hakim, At Turmudzi dalam Nawadirul Ushul, Abu Ya’la dan At Thabrani dari Salamah bin Al Akwa’, ia berkata: Rasulullah saw bersabda :
“Bintang-bintang di langit adalah petunjuk keselamatan bagi penghuni langit dan Ahlul Baitku adalah penyelamat umatku”.

HADITS 22
Al Bazar meriwayatkan dari Abi Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda : “Setelah ku aku tinggalkan padamu 2 perkara. Kalian tidak akan sesat setelah ada keduanya; Kitabullah dan ‘Ithrahku. Keduanya tiada akan berpisah sehingga datang menemuiku di telaga Al Haudh”.

HADITS 23
Al Bazzar meriwayatkan dari ‘Ali bin ‘Abi Thalib kwh, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sungguh aku akan dibawa pergi (wafat) dan telah aku tinggalkan padamu 2 pusaka yang berharga yaitu : Kitabullah dan Ahlul Bait. Dan kamu tidak akan tersesat setelah keduanya”.

HADITS 24
Al Bazzar meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Perumpamaan ahlul baitku ibarat bahtera Nuh, barangsiapa yang ikut berlayar bersamanya dia akan selamat dan barangsiapa yang enggan dan terlambat, dia akan tenggelam”.

HADITS 25
Al Bazzar meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Zubair ra bahwa nabi saw bersabda : “Perumpamaan Ahlul Batku ibarat bahtera Nuh. Barangsiapa berlayar dengannya dia akan selamat dan barangsiapa meninggalkannya dia akan tenggelam”.

HADITS 26
At Thabrani meriwayatkan dari Abu Dzar ra, (ia berkata): aku mendengar Rasulullah saw bersabda :
“Perumpamaan Ahlul Baitku diantara kamu ibarat bahtera Nuh diantara kaumnya. Barangsiapa iku berlayar bersamanya dia akan selamat dan barangsiapa yang enggan dan terlambat dia akan binasa. Dan perumpamaan Ahlul Baitku diantara kamu seperti pintu pengampunan Bani Israil”.

HADITS 27
At Thabrani meriwayatkan dalam Al Awsath dari Abu Sa’id Al Khudri ra (ia berkata) : aku mendengar Rasulullah saw bersabda : “Perumpamaan Ahlul Baitku laksana bahtera Nuh as. Barangsiapa menaikinya dia akan selamat dan barangsiapa meninggalkannya dia akan tenggelam. Dan perumpamaan Ahlul Baytku diantara kamu seperti pintu pengampunan diantara Bani Israil. Barangsiapa memasukinya maka dosa-dosanya akan diampuni”.

HADITS 28
Ibnu Najjar dalam tarikhnya meriwayatkan dari Hasan bin ‘Ali ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda :
“Setiap segala sesuatu mempunyai azas dan azas Islam adalah kecintaan kepada shahabat Rasulullah dan Ahlul Baitnya”.

HADITS 29
At Thabrani meriwayatkan dari ‘Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda : “Setiap putra seorang perempuan bergabung nasabnya kepada ashabahnya (keluarganya dari pihak ayah) kecuali keturunan Fatimah ra, akulah ashabah mereka dan Akulah ayah mereka”.

HADITS 30
At Thabrani meriwayatkan dari Fatimah Az Zahra ra, beliau berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Setiap putra ibu akan bergabung dalam nasabnya kepada ashabahnya kecuali anak-anak Fatimah, Akulah wali mereka dan Akulah ashabah mereka”.

HADITS 31
Al Hakim meriwayatkan dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Setiap putra ibu memiliki ashabah yang mereka dinisbatkan kepadanya kecuali kedua putra Fatimah, Akulah wali mereka dan Aku adalah ashabah mereka”.

HADITS 32
At Thabrani meriwayatkan dalam Al Awsath dari Jabir ra bahwa ia mendengar ‘Umar bin Al Khaththab ra mengatakan kepada orang-orang ketika ia menikah dengan salah seorang putri ‘Ali ra. Tidaklah kalian mengucapkan selamat atasku ? aku mendengar Rasulallah saw bersabda : “Akan terputus pada hari kiamat semua sebab dan nasab (keturunan) kecuali sebabku dan nasab yang bersambung denganku”.

HADITS 33
At Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat kecuali sebab dan nasab yang bersambung denganku”.

HADITS 34
Ibnu ‘Asakir dalam Tarikhnya meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Semua hubungan nasab dan shihr (kerabat sebab hubungan perkawinan) akan terputus pada hari kiamat kecuali nasab dan shihrku”.

HADITS 35
Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan bagi penghuni bumi dari bahaya tenggelam dan Ahlul Baitku adalah penyelamat umatku dari bahaya perselisihan dan perpecahan (dalam urusan-urusan agama). Bila salah satu dari qabilah menyeleweng dan menentang niscaya mereka akan bercerai berai dan menjadi kelompok iblis”.

HADITS 36
Al Hakim meriwayatkan dari Anas ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Tuhanku menjanjikan untuk Ahlul Baitku, barangsiapa dari mereka yang mengakui ke-Esaan (Allah swt) dan menyaksikan bahwa aku telah menyampaikan risalah, ia tidak akan menyiksa mereka”.

HADITS 37
Ibnu Jarir meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu ‘Abbas ra pada firman Allah swt.. :
“Dan kelak tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (QS:93:5), ia berkata : “Diantara kepuasan Muhammad saw adalah agar tidak seorangpun dari Ahlul Baitny masuk kedalam api neraka”.

HADITS 38
Diriwayatkan oleh Al Bazzar, Abu Ya’la, Al ‘Uqaili, At Thabrani dan Ibnu Syahin dalam As Sunnah dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Fatimah telah menjaga dirinya oleh karena itu Allah swt mengharamkan keturunannya atas api neraka”.

HADITS 39
At Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata : Rasulullah saw berkata kepada Fatimah ra :
“Sesungguhnya Allah swt tidak akan menyiksamu dan anak cucumu”.

HADITS 40
At Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits dan ia menggolongkannya hadits ini hasan dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah tinggalkan padamu apa yang mencegah kamu dari kesesatan selama kamu mengambilkya (berpegang teguh dengannya) yaitu ; Kitabullah dan ‘Ithrahku Ahlul Baitku”.

HADITS 41
Al Khatib dalam tarikhnya meriwayatkan dari ‘Ali kwh, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Syafa’atku bagi umatku yakni untuk orang yang mencintai Ahlul Baitku”.

HADITS 42
At Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Pertama orang yang akan aku beri syafa’at dari kalangan umatku adalah Ahlul Baitku”.

HADITS 43
At Thabrani meriwayatkan dari Al Muthalib bin ‘Abdullah bin Hanthab dari ayahnya, ia berkata : Rasulullah saw berpidato dihadapan kami di Juhfah, beliau bersabda : “Bukankah diriku ini lebih utama (berhak) untuk memimpin kamu daripada dirimu sendiri? jawab mereka : benar ya Rasulullah. beliau melanjutkan : kalau begitu aku akan meminta pertanggungan jawabmu tentang 2 hal ; Al Qu’an dan ‘Ithrah-ku”.

HADITS 44
Al Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba Allah pada hari kiamat sebelum ia ditanya (dan menjawab) 4 pertanyaan ; tentang usianya, untuk apa ia menghabiskannya, tentang tubuhnya, bagaimana ia telah menggunakan tenaganya, tentang hartanya, untuk apa dibelanjakan dan dari mana ia mendapatkannya serta tentang kecintaannya kepada kami Ahlul Bait “.

HADITS 45
Ad Dailami meriwayatkan dari ‘Ali kwh, ia berkata : aku mendengar Rasulullah saw bersabda : “Orang pertama yang mendatangiku di Al Haudh adalah Ahlul Baitku “.

HADITS 46
Ad Dailami meriwayatkan dari ‘Ali kwh, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Didiklah putra-putramu atas 3 perkara ; kecintaan kepada nabimu, kecintaan kepada Ahlul Baytnya dan (kecintaan) membaca Al Qu’an. Sesungguhnya pengemban Al Qur’an berada dibawah naungan Allah swt pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan-Nya bersama para Nabi dan para washi’ (orang-orang pilihan)nya “.

HADITS 47
Ad Dailami meriwayatkan dari ‘Ali kwh, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Paling teguhnya kamu di atas shirath (jembatan akhirat) adalah orang yang paling gigih kecintaannya kepada Ahlul Baitku dan shahabat-shahabatku “.

HADITS 48
Ad Dailami meriwayatkan dari ‘Ali kwh, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “4 golongan, akulah pemberi syafa’at bagi mereka di hari kiamat, yaitu ; orang yang menghormati dzurriyat (keturunan)ku, orang yang membantu menutupi kebutuhan mereka, membantu mereka dalam urusan-urusan mereka ketika mereka sangat membutuhkan dan orang yang mencintai mereka dengan hatinya ( yang tulus ) dan dengan kata-katanya “.

HADITS 49
Ad Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id ra, id berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Keras kemurkaan Allah terhadap orang yang menggangguku dengan mengganggu ‘Ithrahku “.

HADITS 50
Ad Dailami meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya Allah swt membenci orang yang makan di atas kekenyangannya, orang yang lalai melaksanakan keta’atan kepada tuhannya, orang yang mencampakkan sunnah nabinya, orang yang meremehkan dzimmah ( tanggung jawab )nya, orang yang membenci ‘ithrah nabinya dan mengganggu tetangganya “.

HADITS 51
Ad Dailami meriwayatkan dari Abu Sa’id ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Ahlul Baitku dan orang-orang anshor adalah orang-orang kepercayaanku dan pengembang rahasia ilmuku. Maka terimalah yang baik dari mereka dan ma’afkanlah yang salah dari mereka “.

HADITS 52
Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Al Hilya dari ‘Utsman bin ‘Affan ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang memberikan kepada salah seorang dari keturunan ‘Abdul Muthalib suatu ( hadiah ) kebaikan lalu ia tidak mampu membalas kebaikannya maka Akulah yang akan membalasnya kelak di hari kiamat “.

HADITS 53
Al Khatib meriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Barangsiapa berbuat kebaikan kepada salah seorang dari keturunan ‘Abdul Muthallib lalu ia tidak mampu membalas kebaikannya di dunia, maka Akulah yang akan membalas kebaikan itu jika ia berjumpa denganku “.

HADITS 54
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari ‘Ali kwh, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang memberikan jasa kepada salah seorang dari Ahlul Baitku, maka Akulah yang akan membalasnya pada hari kiamat “.

HADITS 55
Al Bawardi meriwayatkan dari Abu Sa’id ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Aku akan tinggalkan padamu apa yang dapat mencegah kamu dari kesesatan yaitu kitabullah, ia adalah suatu sebab yang satu ujungnya ditangan Allah swt dan ujung yang lain pada tanganmu dan ‘ithrah ahlul baitku, dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah, sampai bersama-sama mengunjungiku di telaga Al Haudh “.

HADITS 56
Imam Ahmad dan At Thabrani meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Kutinggalkan padamu kedua penggantiku Kitabullah, tali penghubung yang terbentang antara langit dan bumi dan ‘Ithrahku Ahlul Baitku. Sungguh keduanya takkan berpisah sehingga berjumpa denganku di telaga Al Haudh “.

HADITS 57
At Turmudzi, Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman meriwayatkan dari ‘Aisyah ra dari Nabi saw :
“Ada 6 kelompok yang dilaknat Allah swt, aku dan semua Nabi yang doanya dikabulkan. mereka adalah ; orang yang menambah-nambah kitabullah, orang yang mengingkari taqdir Allah, orang yang berkuasa dengan kekerasan lalu memuliakan orang yang dihinakan oleh Allah swt dan menghinakan orang yang dimuliakan oleh Allah swt, orang yang menghalalkan (sesuatu) yang diharamkan oleh Allah swt, orang yang memperlakukan ‘ithrahku dengan perlakuan yang diharamkan oleh Allah swt dan orang yang meninggalkan sunnahku “.

HADITS 58
Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dalam Al Ifrad dan Al Khatib dalam Al Mutaffaq dari ‘Ali ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “7 kelompok yang dilaknat Allah dan dilaknat oleh setiap Nabi yang doanya dikabulkan, mereka adalah ; orang yang menambah-nambah kitabullah, orang yang mengingkari taqdir Allah, orang yang menolak sunnahku dan mengambil yang bid’ah, orang yang memperlakukan ‘ithrahku dengan perlakuan yang diharamkan Allah, orang yang berkuasa dengan kekerasan atas umatku lalu memuliakan yang dihinakan Allah dan menghinakan yang dimuliakan Allah dan orang yang murtad dengan melarikan diri ke
dusun-dusun setelah hijrah ( sebagai ‘Arab baduwi ) “.

HADITS 59
Al Hakim meriwayatkan dalam tarikhnya dan Ad Dailami dari Abu Sa’id ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “3 hal, barangsiapa memeliharanya maka Allah akan memelihara agamanya dan siapa yang mensia-siakannya maka Allah tidak akan memelihara apapun baginya, yaitu ; kehormatan islam, kehormatanku dan kehormatan keluargaku “.

HADITS 60
Ad Dailami meriwayatkan dari ‘Ali kwh, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik maunusia adalah orang-orang ‘Arab, sebaik-baik orang ‘Arab adalah suku quraisy dan sebaik-baik suku Quraisy adalah Bani Hasyim “.

HADITS-HADITS LAINNYA

HADITS 61
Rasullah saw bersabda : “Aku adalah kota (sumber/gudang ) ilmu dan ‘Ali adalah pintunya, maka
barangsiapa yang hendak mencapai kota (sumber/gudang ) ilmu maka datangilah (kota/sumber/gudang ilmu ) dari pintunya “.

HADITS 62
Rasulullah saw bersabda : “Allah swt berfirman : Seandainya bukan karena engkau ( Muhammad ) ,seandainya bukan karena engkau ( Muhammad ) tidak akan Aku ciptakan alam semesta ( ini ) “.

HADITS 63
Rasulullah saw berdo’a ketika menikahkan putrinya (Fatimah Az Zahra ra ) dengan ‘Ali bin Abi Thalib kwh :
“Ya Allah.. semoga Engkau mengumpulkan yg berserak di muka bumi ini dan memberikan keturunan kepada keduanya; keturunan yang baik ( berkualitas ), pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah juga pemberi rasa selamat bagi umat “.

Wassalam !

Khutbah Terakhir Rasulullah Saw


imageshttp://www.youtube.com/watch?v=N2NA9JWt_kQ

Teks Penuh Khutbah terakhir Rasulullah saw pada 8th Zul-Hijjah tahun ke10 Hijrah (bersamaan 9 Mac 632 Masihi) yang disaksikan oleh lebih dari 144,000 umat Islam yang hidup pada hari tersebut.

“Segala puji bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, beristighfar dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung dengan-Nya daripada kejahatan diri dan keburukan amalan kita. Sesiapa yang Allah berikan hidayat kepadanya, maka tidak ada siapa yang boleh menyesatkannya. Sesiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada siapa yang boleh memberikan hidayat kepadanya. Aku menyaksikan bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku menyaksikan bahawa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Aku berpesan kepada kamu supaya mentaati-Nya. Aku membuka khutbahku ini dengan mukaddimah yang baik.

Wahai manusia! Sila dengar apa yang akan aku katakan ini. Aku tidak tahu apakah aku akan dapat bersama kamu semua lagi selepas tahun ini, di tempat ini selamanya.

1. Sesungguhnya darah kamu, harta benda kamu dan kehormatan diri kamu telah terpelihara (diharamkan) sebagaimana diharamkan hari ini, bulan ini dan bandar ini Makkah dan kawasan sekitarnya.

2. Sesiapa yang memegang amanah, maka dia hendaklah mengembalikan amanah tersebut kepada tuan punyanya.

3. Ingatlah! Segala amalan jahiliyyah telah berada di tapak kakimu (iaitu telah dihapuskan).

4. Tuntutan hutang darah di zaman jahiliyyah (sebelum Islam) telah diampunkan. Tuntutan darah pertama yang aku batalkan adalah darah Rabi’ah bin Al-Haris yang disusukan oleh Bani Saad kemudian telah dibunuh oleh Huzail.

5. Riba adalah haram dan aku memulakannya dengan membatalkan riba yang akan diterima oleh Abbas bin Abdul Mutalib. Sesungguhnya ia dihapuskan keseluruhannya.

6. Wahai manusia! Takutilah Allah SWT di dalam urusan yang berkaitan dengan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai amanah daripada Allah SWT dan mereka telah dihalalkan kepada kamu dengan kalimah Allah. Wajib ke atas mereka untuk menjaga kehormatan kamu dan menjaga diri daripada melakukan perbuatan buruk. Jika mereka lakukannya maka kamu berhak untuk menghukum mereka tetapi bukanlah dengan pukulan yang mencederakan. Jika isteri-isteri kamu setia dan jujur terhadapmu, maka wajib ke atas kamu menjaga makan pakai dengan baik.

7. Semua orang mukmin adalah bersaudara, oleh itu tidak halal bagi seorang muslim mengmbil harta orang lain kecuali setelah mendapat kebenaran daripada tuannya.

8. Jangan kamu kembali menjadi kafir selepas pemergianku, di mana sebahagian daripada kamu memerangi sebahagian yang lain. Aku telah tinggalkan untuk kamu suatu panduan, jika kamu berpegang teguh dengan ajarannya, maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya; kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.

9. Wahai manusia! Sesungguhnya tidak ada lagi nabi selepasku dan tidak ada lagi umat selepas kamu. Maka aku menyeru agar kamu menyembah Allah SWT Tuhan kamu dan menunaikan solat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan serta mengeluarkan zakat hartamu dengan kerelaan. Dan kerjakanlah haji ke Rumah Suci Tuhanmu (kaabah), untuk itu kamu akan masuk syurga Tuhanmu.

10. Tuhan kamu adalah Esa, datuk kamu pula adalah satu, kamu semua berasal daripada Adam dan Adam telah dijadikan daripada tanah. Orang yang paling baik di kalangan kamu ialah mereka yang paling bertaqwa kepada Allah. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain kecuali dengan taqwa.

11. Allah SWT telah menetapkan hak menerima pusaka kepada keluarga si mati, oleh itu tidak boleh membuat wasiat kepada penerima pusaka. Sesungguhnya laknat Allah ke atas sesiapa yang mengaku sebagai bapa kepada bukan bapanya yang sebenar, juga laknat dari para malaikat dan seluruh manusia.

12. Kemudian kamu akan disoal tentang aku, maka apa yang akan kamu jawab? Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahawa tuan telah menyampaikan dan menyempurnakan risalahmu.” Baginda lalu mengangkat tangannya ke langit dan menurunkannya ke arah orang ramai sambil berkata, “Ya Allah! Saksikanlah.” Baginda Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali. Orang yang mengulang kembali ucapan Rasulullah SWT dengan kuatnya di Arafah ialah Rabi’ah bin Umaiyyah bin Khalaf ra.

Baginda berkhutbah di atas untanya al-Qaswah. Di sinilah turunnya wahyu mengenai kesempunaan agama Islam.

“Pada hari ini telah disempurnakan bagimu agamamu, dan telah kucukupkan nikmat-ku kepadamu, dan telah kuredhakan Islam itu menjadi agama untukmu. (Al-Maidah ayat 3)

WAJIB BACA SEMUANYA!!! TASAWWUF & TAREQAT OLEH: HABIB ALI AL-JUFRI


Habib Ali Al Jufri

Habib Ali Al Jufri


Ada Yang Tidak Senang Kepada Tasawwuf Dan Tareqat. Kedua-Duanya Dibenci Terus. Seboleh-Bolehnya Hendak Dikuburkan, Dihilangkan Dari Hati Umat Islam. Memang Ada Tareqat Yang Tersasar Dari Landasan (Melanggar Panduan Al-Quran Dan As-Sunnah), Namun Ada Tareqat Yang Muktabar Dan Diiktiraf Oleh Alim Ulamak. Kepada Mereka Yang Memusuhi Tasawwuf, Amat Sukar Sekali Untuk Menghapuskannya Dari Umat Islam. Kerana Sebagaimana Yang Dijelaskan Oleh Habib Ali Al Jufri – Walaupun Ada Yang Mempergunakan Kalam Ibnu Taimiyyah Untuk Mengecam Ahli Sufi, Beliau Tetap Memuji Tasawwuf Dan Merasa Terhormat Dirinya Memiliki Hubungan Sanad Dengan Imam Abdul Qadir Al Jailani. Ibnu Qayyim Yang Sering Dijadikan Peluru Untuk Menembak Ahli Sufi, Malah Menulis Tiga Jilid Kitab Tentang Tasawwuf Iaitu Madarij Al-Salikin Fi Syarh Manazil Sa’irin. Imam Ahmad Bin Hanbal Menulis Kitab Al-Zuhd. Imam Hafiz Az-Zahabi Menulis Siyar A’lam An-Nubala’ Yang Bukan Hanya Mendedahkan Biografi Imam Hadith Tetapi Juga Para Imam Besar Tasawwuf Contohnya Ma’ruf Al-Karkhi Begitu Juga Kitab Sifat As-Sofwah Karya Imam Ibn Al-Jauzi. Begitulah Keadaan Para Ulama Hadith Yang Bergelar Al-Hafiz Yang Kadang-Kadang Mereka Tuduh Benar, Kadang-Kadang Salah. Bahkan Ketika Bersangkutan Dengan Aqidah, Mereka Katakan Para Ulamak Salafussoleh Itu Salah Semuanya. Jadi Menurut Mereka, Aqidah Ibnu Al-Jauzi Itu Salah. Aqidah Imam An-Nawawi Itu Salah, Kerana Ia Menulis Sejarah Hidup Guru-Gurunya Yang Meriwayatkan Hadith Sampai Kepada Imam Muslim Dan Menyebut Mereka Sebagai Sufi. Aqidah Imam Az-Zahabi Salah. Aqidah Imam Al-Suyuthi Salah. Demikian Pula Aqidah Imam As-Subki, Imam As-Sakhawi, Imam Ibn Hajar Serta Imam Mazhab Yang Merujuk Kepada Kaum Sufi Dan Memegang Ucapan-Ucapan Mereka Untuk Melembutkan Hati. Jika Mereka Menuduh Kaum Sufi Itu Syirik Dan Sesat, Bererti Mereka Tidak Percaya Kepada Al Quran Dan Hadith Yang Ada Sekarang. Kenapa ? Kerana Seluruh Sanad Dan Rantaian Riwayat Al-Quran Dan Hadith Yang Sampai Kepada Kita Sekarang Penuh Dengan Ahli Sufi. Setiap Periwayatan Bacaan Al-Quran Yang Tujuh (Qira’ah Sab’ah) Atau Yang Sepuluh (Qira’ah ‘Asyarah) Pasti Di Dalamnya Ditemukan Imam Sufi. Sesiapa Yang Boleh Menyemak Sohih Bukhari Dan Sohih Muslim Serta Kitab-Kitab Hadith Yang Lainnya Tanpa Melalui Perawi Yang Bukan Sufi ? Jika Ada Yang Mengatakan (Ahli Sufi) Itu Musyrik, Mereka Kafir, Dan Kita Diam Sahaja. Ini Ertinya Bencana Akan Mengancam Generasi Setelah Kita. Yang Mereka Tahu Tentang Para Sufi Kemudiannya Adalah Bahawa Mereka Kafir Dan Sesat. Sekarang Ini, Kita Seperti Malas Bertindak. Padahal Di Luar Sana, Melalui Khutbah, Kaset, Dan Buku-Buku Berbagai Kebohongan Telah Dihembuskan Sekelompok Orang Yang Tidak Menjaga Ketaqwaan Kepada Allah Ketika Berbicara Tentang Orang-Orang Soleh. Berbagai Tuduhan-Tuduhan Serong Diarahkan Kepada Kaum Sufi. Jika Ini Dibiarkan, Tentu Generasi Setelah Kita Akan Berkesimpulan Bahawa Hadith Dan Al-Quran Yang Mereka Terima Tidak Dapat Dipercayai Kerana Diriwayatkan Kaum Sufi Yang Mereka Ketahui Kafir Dan Sesat. ================= Sumber Rujukan:- Kitab Ma’alim Al Suluk Li Al Mar’ah Al Muslimah Karya Habib Ali Al-Jufri Terbitan Dar Al Ma’rifah, Beirut, Cetakan 5, 1428 H/2007M

AKHLAK SEORANG ULAMA TERHADAP YANG MUNYUSAHKAN DAN MEMUSUHINYA


Habib Umar

Habib Umar Bin Hafiz Bersama Gurunya


AKHLAK SEORANG ULAMA TERHADAP YANG MUNYUSAHKAN DAN MEMUSUHINYA

Dikisahkan oleh salah seorang guru kami, al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab di masa penjajahan komunis terhadap Yaman, ada seorang yang bertugas membantu komunis yang sangat jahat kepada beliau. Sengaja selalu menyusahkan al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shihab. Beliau disuruh olehnya menjadi tahanan kota, harus melapor setiap har. Kalau sudah lapor harus tulis dan ambil buku sendiri, semuanya serba dipersulit. Hingga akhirnya si petugas komunis tersebut jatuh sakit parah sampainya akhirnya wafat dan meninggal dunia.

Saudara dari petugas yang membantu komunis berpikir seraya bergumam: “Maunya saya sih yang menshalati jenazahnya adalah al-Habib Muhammad bin Alwi bin Shahab, tapi saya tahu nih, saya punya saudara sangat jahat sekali kepada al-Habib Muhammad bin Alwi. Apa al-Habib Muhammad bin Alwi mau?”