Sunan Gunung Jati-Syarif Hidayatullah


Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar.
Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Imam Husain.

Ibunda Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang, seorang putri keturunan Kerajaan Sunda, anak dari Sri Baduga Maharaja, atau dikenal juga sebagai Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan Nyai Subang Larang. Makam dari Nyai Rara Santang bisa kita temui di dalam klenteng di Pasar Bogor, berdekatan dengan pintu masuk Kebun Raya Bogor.
[sunting] Silsilah
.Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan bin
.Sayyid ‘Umadtuddin Abdullah Al-Khan bin
.Sayyid ‘Ali Nuruddin Al-Khan @ ‘Ali Nurul ‘Alam bin
.Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
.Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
.Sayyid Abdullah Al-‘Azhomatu Khan bin
.Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
.Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
.Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)bin
.Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
.Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
.Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
.Sayyid Alawi Awwal bin
.Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
.Ahmad al-Muhajir bin
.Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin
.Sayyid Muhammad An-Naqib bin
.Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
.Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin
.Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
.Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
.Al-Imam Sayyidina Hussain
Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahro binti Muhammad
[sunting] Silsilah dari Raja Pajajaran
.Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah
.Rara Santang (Syarifah Muda’im)
.Prabu Jaya Dewata @ Raden Pamanah Rasa @ Prabu Siliwangi II
.Prabu Dewa Niskala (Raja Galuh/Kawali)
.Niskala Wastu Kancana @ Prabu Siliwangi I
.Prabu Linggabuana @ Prabu Wangi (Raja yang tewas di Bubat)

Ibunda Syarif Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang putri Prabu Siliwangi (dari Nyai Subang Larang) adik Pangeran Walangsungsang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi.
Makam Nyai Rara Santang bisa kita temui di dalam komplek KLENTENG di Pasar Bogor, di sebelah Kebun Raya Bogor.
Pertemuan orang tuanya
Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibunda dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kiyan Santang kakanda dari Rara Santang).
Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayahanda dan kakek beliau datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu.
Pernikahan Rara Santang putri Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah.
Perjalanan Hidup
Proses belajar
Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Mawlana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji untuk umat Islam.
Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayat mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah Uwaknya wafat.
Pernikahan
Memasuki usia dewasa sekitar diantara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Mawlana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.
[sunting] Kesultanan Demak
Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.
Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon.
Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di P. Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya.
Gangguan proses Islamisasi
Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara.
Tentang personaliti dari Syarif Hidayat yang banyak dilukiskan sebagai seorang Ulama kharismatik, dalam beberapa riwayat yang kuat, memiliki peranan penting dalam pengadilan Syekh Siti Jenar pada tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Ia ikut membimbing Ulama berperangai ganjil itu untuk menerima hukuman mati dengan lebih dulu melucuti ilmu kekebalan tubuhnya.
Eksekusi yang dilakukan Sunan Kalijaga akhirnya berjalan baik, dan dengan wafatnya Syekh Siti Jenar, maka salah satu duri dalam daging di Kesultana Demak telah tercabut.
Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan.
Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di P. Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511.
Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di P. Jawa.
Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.
Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya karena praktis Kerajaan Hindu Pakuan tidak memiliki lagi kota pelabuhan di P. Jawa setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam yang telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di Malaka 1521.
Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.
Perebutan pengaruh antara Pakuan-Galuh dengan Cirebon-Banten segera bergeser kembali ke darat. Tetapi Pakuan dan Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah menjadi sulit menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran, Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke dalam pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian Panglima Perangnya.
[sunting] Perundingan Yang Sangat Menentukan
Satu hal yang sangat unik dari personaliti Syarif Hidayat adalah dalam riwayat jatuhnya Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun 1568 hanya setahun sebelum beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayat memberikan 2 opsi.
Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang.
Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar.
Yang menjadi perdebatan para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.
Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.
Bagi para sejarawan beliau adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji.
Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggil beliau dengan nama lengkap Syekh Mawlana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.
sumber: Wikipedia

Peranan Ulama Menentang Penjajah Dengan Ilmu Silat


Oleh: Mohammad Omar, S.Th.I
Tajuk:Peranan Ulama Menentang Penjajah Dengan Ilmu Silat

mat kilau

Mat Kilau Pahlawan Pahang

Mat Kilau (seperti gambar di atas) merupakan murid Ulama Kelantan yang masyhur Tok Botok (Al-Allamah Hj.Usman Bin Senik), mantan pawang diraja Kelantan dan Mufti Pahang pertama di zaman Sultan Wan Ahmad, Tok Botok membuka pondok di Pulau Tawar Pahang, Mat Kilau bersama sahabat seperjuangannya dan Sultan Wan Ahmad sendiri antara santri beliau, di samping mengajarkan kitab dan ilmu agama beliau mengajarkan ilmu hikmat, persilatan, juga ilmu perubatan Islam kepada Mat Kilau dan teman seperjuangan, tokoh yang berasal dari Kg.Gaung Pendik yang dikatakan berketurunan Bugis ini adalah anak murid kepada Tok Bendang Daya I, Panglima Perang Patani yang masyhur itu, beberapa sumber lisan dari cicit Tok Botok mantan Pawang Diraja Kelantan yang masih hidup sekarang ini mendakwa Tok Botok ada hubungan persaudaraan yang rapat dengan Tok Merah dan Tok Cik Mad Diah Kampong Berangan (moyang penulis), penulis kurang jelas antara mereka ini berpangkat apa, tapi penulis pernah mendapat maklumat dari seorang yang sangat tua dan buta di kampong Berangan Tumpat, beliau mengatakan Tok Botok berpangkat bapa saudara kepada Tok Cik Mad Diah dan Tok Merah, cuma yang kurang jelas dari sebelah ibu atau ayah, yang pastinya antara keluarga kami ada pertalian darah, malah penulis punya wajah yang mirip dengan seorang ciut Tok Botok ini yang bernama Kamarul Azman bekas pelajar Pusat Pengajian Pondok Yik, Bachok Kelantan, mungkin dengan sedikit informasi tentang Tok Botok ini penulis dapat menduga aliran ilmu persilatan yang bawa beliau dan di ajarkan di Pahang kerana ada satu aliran yang mashur di kalangan keluarga kami turun temurun, begitu juga dengan ilmu perubatan beliau.

Dipercayai anak-cucu beliau masih ramai di Pahang yang sudah lama terputus hubungan dengan keluarga di Pahang, yang penulis pernah jumpa seorang tua yang merupakan ciut beliau yang tinggal di pekan Golok Pattani, datuk ini punya ramai anak-cucu di Kampong Berangan Stesen Tumpat, Kelantan, termasuk beberapa orang yang menjadi teman penulis semasa di Sekolah dan Pondok. Kepada pembaca yang merasakan punya hubungan dengan tokoh ini terutama yang di Pahang sila hubungi penulis ke : putralegeh78@gmail.com atau telefon bimbit : 0199783381

P/S :kepada pembaca yang punya info tentang tokoh ini sila kemukan untuk dikongsi bersama.

Peranan Ulama Dalam Silat


Mat Kilau murid Ulama Kelantan

Mat Kilau Pahlawan Pahang Murid Ulama Kelantan: Tok Boto'

Peranan ulama dalam silat hanya dapat penulis tonjolkan kepada pemikiran Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan keterlibatan Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani dalam jihad fi sabilillah.
Kedua-dua ulama besar yang sangat terkenal itu dipercayai menggunakan ‘senjata’ qalam untuk mengajar umat Melayu dan juga senjata pedang untuk perjuangan di medan jihad fi sabilillah demi mempertahankan kesucian Islam dan watan daripada penjajah.
Jika kita anggap ilmu silat adalah untuk mempertahankan diri peribadi, jihad pula adalah mempertahankan Islam dan tanah air.
Jadi kedua-dua ulama kita itu adalah lebih agung, kerana banyak jenis silat yang dikuasainya. Yang dimaksudkan di sini ialah:
1-silat menggunakan qalam/pena,
2-silat kalam/lidah,
3-silat menggunakan siasah/politik, dan lain-lain termasuklah
4-silat ketangkasan di medan juang yang sebahagiannya dijadikan sebagai satu cadang seni atau budaya.

Pelajaran silat dalam Kerajaan Pontianak

Tidaklah janggal pada kesempatan ini penulis mulakan petikan mengenai silat yang termaktub dalam sebuah manuskrip “Syair Kerajaan Pontianak”.
Kerajaan Pontianak (Indonesia) memang bukan dalam Malaysia, tetapi adalah sebuah kerajaan Melayu yang didirikan oleh Syarif Abdur Rahman bin Habib Husein al-Qadri yang direstui dan dirasmikan oleh pahlawan Melayu-Bugis, Raja Haji bin Upu Daeng Celak.
Raja Haji pula adalah seorang pahlawan Melayu agung sesudah Hang Tuah, kerana hampir keseluruhan negeri-negeri Melayu pernah dikunjunginya. Akhir riwayat Raja Haji gugur sebagai syahid fi sabilillah di Teluk Ketapang, Melaka.
Syair Kerajaan Pontianak ditulis beberapa tahun setelah berdirinya Kerajaan Melayu-Islam Pontianak, dalam petikan tersebut juga jelas mencerminkan minat dan kesungguhan Sultan Syarif Abdur Rahman bin Habib Husein al-Qadri terhadap seni dan budaya silat. Untuk lebih jelas dan merupakan dokumen sejarah persilatan Melayu, Bab Silat dalam Syair Kerajaan Pontianak penulis sebutkan beberapa petikan awal darinya, iaitu:

Setelah sudah berperi-peri,
baginda berangkat lalu berdiri
Panggilkan Mat Raiyat suruh ke mari,
serta dengan Wan Bakari.
Wan Ahmad, Wan Bakar datanglah sudah,
kepada baginda tunduk menyembah
Dengan segeranya baginda bertitah,
Adalah sedikit hendak diperintah.
Baginda tersenyum seraya berkata,
Jikalau suka rasanya cita
Tuan-tuan yang muda ajarkan kita,
diajarkan silat bermain senjata.
Tuan ajarkan padan-padan,
boleh dilihat usulnya badan
Bagaimana di dalam contoh teladan,
yang mana patut main di medan.

*Tulisan Sheikh Daud Abdullah Al-Fathani mengenai jihad dalam Islam
Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani adalah ulama besar dunia Melayu yang terlibat langsung bersama-sama Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani dalam medan jihad melawan pencerobohan Siam di bumi Patani Darus Salam.
Tulisan-tulisan beliau mengenai hukum jihad telah penulis perkenalkan dalam penulisan-penulisan sebelum ini, di mana jelas menggambarkan bahawa Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani adalah seorang ulama pejuang Islam sebenar dan sejati serta bertanggungjawab terhadap ummah dan watan Melayu daripada segala macam bentuk penjajahan kuffar.
Sebagai tambahan, di sini penulis petik pula pandangan Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani tentang jihad yang beliau tulis dalam kitab Bughyat at-Thullab.
Transliterasi selengkapnya ialah: “Dan setengah daripadanya, perang sabil bagi kuffar, yakni wajib bagi Imam itu pergi perang kepada negeri mereka itu, maka iaitu fardu kifayah dengan ijmak. Atau Naib Imam pergi dengan tentera kerana perang bagi mereka itu.
“Atau diperbaiki akan kota yang antaranya dan antara negeri mereka itu, serta diteguhkan dia, dan ditaruhkan senjatanya, dan orang yang menunggu padanya sekira-kira memadai melawan akan mereka itu. Maka hendaklah diperbuat akan salah suatu daripada keduanya maka gugurlah fardu kifayahnya. Ini jika tiada mereka itu datang kepada negeri kita.
“Maka jika datang ia kepada negeri Islam maka jadilah fardu ain atas tiap-tiap seorang daripada negeri yang ia masuk itu, hingga perempuan dan sahaya orang … ” (Bughyat at-Thullab, jilid 1, hlm. 95).
Ulasan dan pandangan, daripada kalimatnya “Maka jika datang ia kepada negeri Islam … ” dapat kita bandingkan peristiwa penjajahan bangsa Barat-Belanda dan Inggeris di dunia Melayu pada zaman Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dengan peristiwa Amerika, pengganas terbesar dunia, yang telah menjajah Afghanistan dan Iraq.
Sebagaimana telah disebutkan bahawa Belanda dan Inggeris telah menjajah dunia Melayu, perlu pula dinyatakan di sini bahawa Patani juga tidak terlepas daripada dijajah, bukan oleh bangsa Barat tetapi oleh Siam. Semua penjajah yang tersebut adalah bukan agama Islam kerana mereka telah menjajah negeri Islam.
Oleh itu, menurut Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani pada sambungan kalimat di atas bahawa “jadilah fardu ain atas tiap-tiap seorang daripada negeri yang ia masuk itu, hingga perempuan dan sahaya orang …” berperang atau jihad terhadap mereka. Bangsa-bangsa yang telah menjajah dunia Melayu, adalah bukan beragama Islam.
Oleh itu fenomena yang berlaku sekarang, tuduhan umat Islam sebagai pengganas adalah tidak berasas sama sekali, kerana tidak terdapat dalam sejarah bahawa bangsa-bangsa yang beragama Islam datang menjadi penjajah di dunia Melayu.
Sebenarnya bangsa-bangsa penjajah itulah yang layak dilabelkan sebagai pengganas atau terrorist atau penzalim. Gelaran tersebut terdapat dua golongan yang sedang bermusuhan, yang pertama ialah pengganas yang sedang berkuasa (pemerintah) dan yang kedua ialah pengganas yang tidak berkuasa (rakyat).
Perjuangan jihad yang pernah dilakukan oleh ulama kita seperti Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani, Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani, dan lain-lain tidak dapat disamakan dengan kedua-dua golongan pengganas yang tersebut di atas, kerana jihad Islam adalah cukup jelas berdasarkan perintah daripada Allah dan para Rasul-Nya. Siapa saja yang berjihad menurut perintah Allah dan Rasul-Nya adalah benar, tidak terdapat keraguan di dalamnya.
Oleh itu, wajib dipertahankan kebenaran dan kesuciannya daripada pentafsiran-pentafsiran yang tidak betul disusun demikian rapi oleh pihak-pihak tertentu yang telah merasa lazat makanan dan minuman segar tetapi beracun yang mereka peroleh dari musuh-musuh Islam.
Mengenai membuat persiapan sebagai benteng pertahanan dapat kita ketahui dari kalimat beliau, “Atau diperbaiki akan kota yang antaranya dan antara negeri mereka itu, serta diteguhkan dia …”.
Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani menyentuh pula tentang persiapan persenjataan dengan sambungan kalimatnya “dan ditaruhkan senjatanya” maksudnya bahawa dalam benteng pertahanan perlulah ada tersimpan persenjataan yang cukup dan siap digunakan apabila diperlukan.
Patriotik bangsa adalah sangat diperlukan, yang beliau gambarkan pada sambungan kalimatnya “dan orang yang menunggu padanya sekira-kira memadai melawan akan mereka itu”. Kalimat ini dapat dihubungkaitkan dengan “ilmu silat” kerana orang Melayu yang sanggup melawan musuh pada zaman itu perlu mempunyai ketangkasan.
Ketangkasan dalam bentuk fizik adalah mempelajari ilmu silat. Dan tidak dapat dinafikan diperlukan “kekuatan dalaman” atau “mental” atau “rohani”. Baik Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani mahu pun Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani juga pernah mengijazahkan wirid-wirid pertahanan diri untuk menghadapi musuh dalam peperangan.
Wirid pertahanan diri Sheikh Abdus Shamad Al-Falimbani
Untuk memantapkan keyakinan diri menghadapi jihad, dalam karyanya berjudul Mulhik fi Bayanil Fawa’id an-Nafi’ah fil Jihadi fi Sabilillah atau judul terjemahan oleh Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani sendiri iaitu “Suatu Perhubungan Pada Menyatakan Akan Beberapa Faedah Di Dalam Perang Sabilillah”, beliau membahagi dalam risalah tersebut kepada empat bahagian, iaitu:
1. Faedah Yang Pertama Pada Menyatakan Ayat Quran Yang Jadi ‘Azimat Yang Manfaat Di Dalam Perang Sabilillah, Dan Peliharaan Yang Menegahkan Daripada Kejahatan Orang Kafir.
2. Faedah Yang Kedua Pada Menyatakan Doa Yang Manfaat Di Dalam Perang Sabilillah Dan Lainnya.
3. Faedah Yang Ketiga Pada Menyatakan Doa Yang Membinasakan Bagi Segala Seteru, Dan Bagi Sejahtera Daripada Kejahatan Seteru.
4. Faedah Yang Keempat Pada Menyatakan Doa Membinasakan Seteru, Dan Segala Kafir, Dan Bagi Sejahtera Daripada Kejahatan Mereka Itu.
Salah satu amalan Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani pernah diterima oleh pahlawan Mat Kilau. Mengenai ini termaktub dalam Kitab Mat Kilau, cetakan Utusan Melayu (Malaysia) Berhad, 1970, hlm. 23, iaitu “Ini doa diambil daripada Sheikh Abdus Shamad Palembang, siapa yang mengamalkan doa ini nescaya tidak mengenai padanya pedang, atau panah, atau segala rupa kejahatan dari seteru … “Yang disebut dalam Kitab Mat Kilau itu memang termaktub dalam karya Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani tersebut yang beliau tempatkan pada Faedah Yang Kedua.
Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani telah menterjemahkan wirid untuk perang itu daripada bahasa Arab ke bahasa Melayu. Dalam empat buah karangan Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani juga membicarakan wirid yang sama, di antaranya dalam kitab Mun-yat al-Mushalli. Selengkapnya lihat Mun-yat al-Mushalli yang telah penulis transliterasi (lihat terbitan Khazanah Fathaniyah, Kuala Lumpur, 1424 H/2003 M hlm. 96-98).
Walau bagaimanapun, tidak terdapat terjemahan wirid itu oleh Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani seperti yang dilakukan oleh Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani. Perlu juga penulis sentuh di sini bahawa dalam terjemahan wirid Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani tersebut ada hubungkait dengan persilatan. Bahawa ilmu silat yang pernah penulis pelajari adalah melalui tiga jalan, iaitu:
*Belajar secara fizik di gelanggang.
*Belajar wirid-wirid yang boleh mendatang gerak dengan sendirinya.
*Mengabungkan pelajaran fizik dan wirid.
Pada Faedah Yang Keempat wirid Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani terdapat satu doa yang sama dengan yang diamalkan dalam Silat Al-Mu’azat. Walaupun dalam Silat Al-Mu’azat tidak mempelajari gerak fizik, tetapi apabila mengamalkan wirid, maka gerak fizik akan datang dengan sendirinya.
Silat Al-Mu’azat pernah dikembangkan di Johor oleh Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad dalam tahun 1970-an. Wirid yang diamalkan oleh Sheikh Abdus Shamad al-Falimbani, yang sama dengan amalan dalam Silat Al-Mu’azat itu, lebih lengkap ditulis oleh Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani dalam kitab Ward az-Zawahir (lihat hlm. 189).

Kesimpulan dan penutup

Dari semua yang telah dibicarakan di atas penulis berpendapat bahawa:
a.Seni dan budaya persilatan diajarkan dalam dua bentuk, iaitu dalam gerak fizik dan kerohanian.
b.Ilmu persilatan yang menggunakan wirid, hizib, doa, dan yang sejenis dengannya adalah berasal dari ajaran Islam yang benar. Sebaliknya tidak dapat dinafikan terdapat juga yang menggunakan mantera, jampi, serapah, dan yang sejenis dengannya. Mengenai ini sukar dijejaki sumber-sumber asal hingga ke atasnya. Oleh itu, ada yang boleh diamal dan digunakan. Sebaliknya ada pula yang mengandungi unsur khurafat yang menjerumuskan ke arah syirik yang bertentangan dengan akidah Islam.
c.Ulama-ulama Nusantara yang terlibat dalam jihad fi sabilillah mempunyai asas ilmu menggunakan senjata. Mereka memiliki ilmu ketahanan diri yang bersambung dari satu guru ke satu guru hingga sampai kepada pahlawan-pahlawan Islam terdahulu bahkan sumber amalan ada yang berasal dari Rasulullah SAW sendiri.
d. Ulama-ulama Nusantara yang melakukan jihad fi sabilillah demi untuk memperjuangkan Islam dan mempertahankan negeri-negeri Melayu dari dijajah oleh bangsa yang bukan Islam adalah wajib diteruskan secara bersambung dari satu generasi ke generasi yang berikutnya.

Sekianlah yang dapat disampaikan pada ruangan kali ini, mudah-mudah kita dapat menghidupkan seni dan budaya yang dibenarkan syarak dan mengetepikan apa saja seni dan budaya yang bertentangan dengan syarak.
Mudah-mudahan hanya pemikiran ulama yang betul saja yang menjadi ikutan dan pemikiran yang tiada betul walau dari siapa pun datangnya supaya dihindari oleh-Nya.
Sumber: Koleksi artikel ALLAHYARHAM WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH, Akhbar Utusan Malaysia
Posted by Nazari at Monday, June 15, 2009
Newer Post Older Post Home

Sheikh Daud Al-Fathoni Tokoh Ulama Tarikat Syathoriah


Koleksi tulisan Allahyarham Wan Mohd. Shaghir Abdullah

Ketokohan Sheikh Daud al-Fathani dalam bidang fiqh diperakui oleh semua ulama di Asia Tenggara yang memahami dan mengkaji sejarah Islam di rantau ini.

Demikian juga ketokohannya dalam bidang usuluddin, tauhid dan ilmu kalam yang kiranya tidak perlu dijelaskan lagi.

Ketokohan beliau dalam bidang tasauf serba ringkas telah disentuh penulis sebelum ini. Juga dibicarakan dengan mendalam dalam buku berjudul Perkembangan Ilmu Tasauf (Jilid 1). Namun begitu, masih belum dianggap lengkap dan sempurna sekiranya tidak dibicarakan ketokohannya dalam orde Tarekat Syathariyah, yang mana adalah salah seorang Sheikh Mursyid Kamil Mukammilnya.

Setahu penulis bahawa di Asia Tenggara tercatat dua orang sahaja ulama tokoh besar orde tarekat ini yang terkenal. Mereka ialah Sheikh Abdur Rauf al-Fanshuri dan Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Murid Sheikh Abdur Rauf al-Fanshuri bernama Sheikh Burhanuddin Ulakan menyebarkan Tarekat Syathariyah itu ke Pariaman, Minangkabau.

Bahawa pada suatu masa dahulu tarekat ini pernah memegang peranan yang terpenting dalam dakwah Islamiah di Asia Tenggara. Bahkan ia adalah satu orde tarekat yang terbesar pengikutnya di Asia Tenggara sebelum masuknya Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

Syathariyah berkembang di Pulau Jawa, yang terbesar pengikutnya di Cerebon, Jawa Barat. Penyebarnya yang terkenal ialah Sheikh Abdul Muhyi Pamijahan, murid Sheikh Abdul Rauf al-Fansuri iaitu Sheikh Abdul Malik (Tok Pulau Manis) Terengganu, Sheikh Yusuf Tajul Khalwati, semuanya adalah murid Sheikh Abdur Rahman al-Fansuri.

Di mana sahaja Tarekat Syathariyah dikembangkan di zaman mutakhir iaitu dimulai akhir abad ke 18 hingga ke abad ini, Sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani tetap dikenal dan disebut namanya.

Salah seorang muridnya mengenai Tarekat ini seumpama Sheikh Zainuddin Sumbawa. Nama sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani lebih bersemi di hati umat Islam pengikut Tarekat Syathariyah di negeri-negeri di Alam Melayu, bahkan sampai-sampai ke Campa dan Burma. Salasilah tarekat ini di Asia Tenggara ini banyak bersambung dengan Sheikh Daud bin Abdullah al-Fahthani.

Daripada Sheikh Daud al-Fathani dikenal pula ulama besar yang berasal dari Patani sebagai khalifah-khalifah Mursyid Tarekat Syathariyah seperti Sheikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fatani, Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Mustafa al-Fatani, Sheikh Ismail bin Abdul Qadir bin Mustafa al-Fatani dan lain-lain.

Tata cara berzikir pula yang disalin dari naskhah tulisan tangan Sheikh Daud al-Fathani adalah sebagai berikut:

“Duduk bersila menghadap ke arah kiblat. Kedua tangan diletakkan di atas kedua lutut. Mata dipejamkan. Setelah itu diawali dengan lafaz ‘Laa’ dari bawah susu sebelah kiri, yang terletak hati ‘sanubari’, qasadnya ialah menarikkan pada hati sanubari daripada ‘aghyar dan maa siwallaahi Taala’.

Ditarik terus hingga memanjang bunyi lafaz ‘Laa’ hingga sampai ke bahu sebelah kanan, terus dilemparkan dengan lafaz ‘ilaaha’ dengan meniatkan bahawa melemparkan sekelian yang tersebut ke belakang.

Sesudah itu lalu lafaz ‘illa’ di atas bahunya yang kanan. Terakhir sekali memukulkan lafaz ‘Allah’ dengan sekeras-kerasnya ke dalam hati. Demikianlah zikir pada setiap kalinya, bahawa tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya melainkan Allah. Dengan memuji kepada Allah telah talkinkan zikir Syathariyah ini serta dengan baiahnya dan ‘Labsul Khirqati’ dan kaedah yang tersebut itu oleh faqir ilallahi Taala Sheikh Daud bin Abdullah al-Fatani……”.

Sheikh Daud bin Abdullah al- Fatani berpendapat bahawa pimpinan seorang sheikh Mursyid sangat penting, beliau menulis sebagai berikut :

“Ketahuilah! Kadang-kadang seorang Salik yang belajar itu melihat bahawa tiada sesuatu jalan untuk sampai kepada Allah, dia ragu dengan bermacam-macam amalan yang sangat banyak. Kadang-kadang dia tercengang dengan banyak ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya. Apabila murid yang Salik itu mempunyai sheikh yang Arif Billah (Ahlil Hakikat), maka hendaklah dia kembali kepada sheikhnya dan berpegang teguh atas petunjuknya”.

Dalam bahagian lain beliau menulis: “Dan dengan benar orang yang berzikir iaitu benar murid serta sheikhnya sampai ia pada Martabat Siddiqiyah, hendaklah ia mengemukakan apa-apa yang terlintas di hatinya dari perkara yang jahat dan yang baik.

Berkata sebahagian orang yang arif: “Tiada syarat sheikh itu mengetahui dan melihat atas batin murid, tetapi sebahagian dari syarat murid ialah bahawa memberitahu kepada sheikhnya sekelian yang terlintas pada hatinya…”.

Sheikh Daud bin Abdullah al-Fatani menulis selanjutnya: “Bahawa dia (sheikh) adalah penolongnya dari pertolongan Nabi Muhammad s.a.w. Selamanya berhadap ke hadrat Tuhannya, apabila dikerjakan maka limpah pertolongan Ilahiyah daripada Allah pada hati penghulu kita dan dari hati penghulu kita – Nabi Muhammad s.a.w -kepada sekelian hati pada sheikh (Masyaikh), dari satu kepada satu sampai kepada hati yang melakukan zikir. Bahawa yang demikian itu menjadi pertolongan dan pemberian Allah”.

Perlu diketahui oleh setiap penganut tarekat, terutama Tarekat Syathariyah adalah mengenai adabnya. Sheikh Daud bin Abdullah al-Fatani mengatakan bahawa adab zikir itu terbahagi kepada tiga iaitu:

a. Adab sebelum melakukan zikir.

b. Adab ketika berzikir.

c. Adab setelah berzikir.

Keterangan Sheikh Daud yang diringkaskan oleh penulis daripada kitab Dyiaa’ul Murid mengenai adab-adab berzikir adalah sebagai berikut:

a. Adab sebelum melakukan zikir

1. Taubat nasuha, iaitu taubat daripada sesuatu yang tidak memberi faedah kepada agama yang tersalah dari perkataan, perbuatan dan kehendak yang tidak muafakat dengan syarak.

2. Suci badan daripada hadas-hadas besar dan hadas kecil dan kekotoran pada tubuh dan pakaian. Hendaklah mandi dan mengambil air sembahyang serta membersihkan pakaiannya.

3. Mengharumkan pakaian dengan bau-bauan dan menyucikan mulut dengan bersugi (siwak).

4. Dengan niat menegakkan perintah Allah bukan kerana lainnya kerana mengambil faedah dunia dan keinginan hawa nafsu.

5. Membesarkan Allah. Ketika menyebut Allah terasa benar akan kebesaran dan kehebatan-Nya.

b. Adab ketika berzikir

Adapun adab yang dituntut ketika berzikir itu lima belas perkara, iaitu :

1) Hendaklah dia duduk di tempat yang suci seperti duduk dalam sembahyang bagi orang yang mubtadi, duduk bersila bagi orang yang muntahi.

2) Meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut.

3) Menghadap ke kiblat kalau dia berzikir seorang diri, jika berjemaah hendaklah membuat lingkaran keliling.

4) Memakai wangi-wangian di tempat duduknya kerana tempat berzikir adalah tidak sunyi daripada Malaikat dan jin yang beriman.

5) Berkekalan ikhlas iaitu semata-mata kerana perintah Allah bukan kerana lainnya.

6) Benar zikirnya pada zahir dan batin hingga bersamaan antara keduanya. Juga benar hati terhadap sheikhnya pada zahir dan batin.

7) Sedapat-dapatnya hendaklah sekelian yang dimakan dan yang dipakai adalah halal.

8) Duduk di tempat yang kelam iaitu antara terang dan gelap.

9) Memejamkan mata.

10) Menghadirkan makna zikirnya setiap kali mengucapkannya.

11) Dinafikan tiap-tiap yang maujud pada hatinya selain daripada Allah.

12) Diucapkan dengan nyaring (jahar).

13) Dengan kuat yang sempurna. Iaitu ditarikkan dari tengah kepala hingga ke anak jarinya.

14) Terkenang kepada sheikhnya.

15) Menjauhkan lafaz yang lahan yang mengubahkan maknanya.

c. Adab selepas berzikir

Adapun adab kemudian daripada zikir itu lima perkara:

1) Menahan nafas beberapa kali kerana yang demikian itu lebih cepat menerangkan hati dan membukakan hijab (dinding), dan memutuskan khuatir nafas dan syaitan.

2) Jangan meminum air selepas dari berzikir hingga berselang beberapa saat, kerana zikir itu bersifat panas, rindu dan menaikkan kegemaran kepada yang diingat (Allah) inilah tujuan zikir, sedangkan minum itu memadamkan yang demikian itu. Juga kalau minum adalah bertentangan dengan ilmu kedoktoran kerana boleh mengakibatkan penyakit muntah.

3) Diam beberapa ketika sesudah berzikir serta dengan khusyuknya. Perkara ini ulama membahagikannya kepada tiga adab iaitu :

a. Seakan-akan dia berhadap dengan Tuhannya, bahawa Tuhannya melihat kepadanya.

b. Mengheningkan cipta (menumpukan fikiran) seakan-akan sehelai roma pun tidak bergerak seumpama kucing tatkala mengintai tikus.

c. Menafikan sekalian khuatir dan melaksanakan zikir itu di dalam hati.

4)Meniatkan bagi wirid zikir. Mudah-mudahan menghidupkan hati sehingga tercapai cahaya makrifatullah sehingga diperolehinya sekalian sifat kamalat (kesempurnaan) seumpama zuhud dan lain-lain.

5) Mensyukuri akan nikmat-nikmat Allah. Bahawa Allah telah memudahkannya melakukan suruhan-Nya dengan mengucap istighfar daripada taqsir yang hasil daripadanya tiga kali, seperti katanya: “Aku memohon pengampunan dari Allah dari segala taqsirku pada ibadatku sebilang-bilang nafasku”.

Nama-nama kalimah nafi dan isbat

Sebagaimana telah dijelaskan bahawa sheikh Daud bin Abdullah al-Fathani adalah tokoh sufi Tarekat Syathatiyah. Salah satu karya tulisan beliau tentang tersebut dapat dilihat melalui kitab Dhiyaa’ul Murid.

Bahagian terakhir karyanya itu beliau tulis nama-nama kalimah Laa ilahaa illallah. Dalam kitab Jawi yang lain dari kitab Dhiyaa’ul Murid tidak membicarakan hal ini. Oleh itu, penulis salin seringkasnya mudah-mudahan menambah keghairahan memperbanyak bacaan zikir Laa ilaaha illallah (nafi dan isbat) yang sangat dianjurkan oleh ahli warak dan Salihin.

Menurut Sheikh Daud al-Fathani kalimah Laa ilaaha illallah itu mempunyai banyak nama yang disebut dalam kitab suci al-Quran, sebahagiannya penulis nyatakan seperti berikut :

1.Kalimah takwa, dalam surah al-Fath ayat 26. Maksudnya: Dan biasakanlah mereka itu dengan takwa. Takwa tersebut adalah La ilaaha illallah.

2.Kalimah Thaiyibah dalam surah Ibrahim ayat 24. Maksudnya: Allah telah membanding seumpama kalimat yang baik iaitu La ilaaha illallah seperti pohon kayu yang baik asalnya terhunjam pada bumi dan cabang-cabangnya menjulang ke langit.

3.Kalimah Sabit dalam surah Ibrahim ayat 27. Maksudnya: Allah telah menetapkan sekalian orang-orang yang beriman dengan perkataan yang tetap dalam hidup di dunia dan akhirat iaitu perkataan Laa ilaaha illallah.

Banyak lagi yang ditulis oleh Sheikh Daud al-Fathani dalam tulisannya yang tidak dapat disenaraikan semuanya. Antara lain-lain yang secara ringkasnya adalah berikut :

4.Kalimatul ‘Ulya dalam surah at-Taubah ayat 40.

5.Kalimah Stabat dalam surah Muhammad ayat 19.

6.Kalimah Husna dalam surah Yunus ayat 26.

7.Kalimah ‘Adli dalam surah an-Nahl ayat 90.

8.Kalimah Istiqamah dalam surah Fussilat ayat 30.

9.Kalimah ‘Ahdi dalam surah Maryam ayat 87.

10.Kalimah Maqalid dalam surah Zumar ayat 63.

11.Kalimah Tasydid dalam surah al-Ahzab ayat 70.

12.Kalimah Haq dalam surah az-Zukhruf ayat 86.

13.Kalimah Shiratal Mustaqim dalam surah al-An’am ayat 15.

14.Kalimah Sidqi dalam surah az-Zumar ayat 33.

15.Kalimah Iman dinamakan juga Kalimatul Khulud fi Jannah. Sabda Nabi Muhammad s.a.w bermaksud: Barangsiapa yang adalah pada penghabisan perkataannya Laa ilaaha illallah hal keadaannya suci hatinya lagi jernih daripada hatinya, masuk syurga itu bersama-sama orang-orang yang mendapat kemenangan tiada terdahulu seksa.

16.Kalimatus Ishmati wan Najah

Sabda nabi Muhammad s.a.w yang bermaksud: “Apabila mereka mengatakan Laa ilaaha illallah terpelihara daripadaku darah dan hartanya.”

17.Kalimatu Miftahil Jannah iaitu Laa ilaaha illallah.

18.Kalimatu Stamanil Jannah iaitu Laa ilaaha illallah.

19.Kalimatul Ikhlas iaitu Laa ilaaha illallah.

20.Kalimatu Da’watil Haq iaitu Laa ilaaha illallah.

21.Kalimatu ‘Urwatil wustqa iaitu Laa ilaaha illallah.

22.Dan lain-lain.

Kesimpulannya masih banyak amalan Sheikh Daud al-Fathani yang tidak dapat dibicarakan keseluruhannya, yang tentunya amalan wirid beliau sangat banyak. Di antara yang tidak pernah beliau tinggalkan adalah membaca selawat Dalailaul Khairat dan lain-lain.

Peninggalan Sejarah Kerajaan Jembal


Peninggalan Sejarah Kerajaan Jembal
PENGENALAN
Negeri Kelantan hari ini merupakan sebuah negeri yang diasaskan daripada sebuah kerajaan yang kukuh dan disegani sejak zaman berzaman. Kelantan mempunyai sejarahnya yang tersendiri dan unik. Disebabkan pantainya menghala ke timur, maka telah wujud satu bentuk jalinan perhubungan tradisi dengan negeri China dan negeri-negeri yang lain di rantau ini.Kedudukannya di persisiran pantai dan tambah pula posisinya di pertengahan jalan dagang timur barat, sudah tentu ia menjadi satu kawasan yang strategik dan mendapat perhatian kepada pedagang-pedagang yang berulang alik dan kerajaan-kerajaan besar dunia pada masa itu. Dengan itu tidak hairanlah jikalau di Kelantan terdapat sebuah kerajaan yang besar yang mengawal aliran perdagangan dan politik di kawasan ini.Salah sebuah kerajaan yang agung dan terkenal sedikit masa dahulu ialah kerajaan di bawah pimpinan keluarga Diraja Jembal. Keluarga Raja Jembal ini memerintah Kelantan dalam abad yang ke-17 dan 18 iaitu antara 1600-an hingga tahun 1733 M.

SEJARAH AWAL
Asal Nama Kelantan
Sejarah awal Kelantan iaitu bila ianya diasaskan agak sukar dikesan. Setengah-setengah ahli sejarah berpendapat Kelantan sudah wujud sebelum abad yang pertama lagi. Masa itu ialah dikenali dengan nama Medang Kemulan, iaitu bermaksud “Medan Permulaan”. Dari abad pertama hingga abad kelima ia dikenali pula dengan panggilan Medang Gana.Dalam abad yang ke-5, Kelantan dikenali pula dengan nama Kalatana atau “Tanah Kala”. Dalam catatan Cina disebut Ho-lo-tan iaitu catatan yang dibuat oleh Shen Yao (414 – 512 M).Menurut satu riwayat lain, dalam abad yang ke-11, orang melihat satu pancaran sinar yang kuat pada suatu malam dari Bukit Panau terus menjulang ke langit. Oleh kerana pancaran itu dapat dilihat di seluruh pelusuk Kelantan dan mempunyai pengertian yang rahsia, maka raja yang memerintah pada masa itu telah memberi nama sebagai Medan Kilatan Saji. Nama ini disebut “Kilatan” sahaja dan seterusnya menjadi Kelantan, hinggalah ke hari ini.
Kelantan Abad ke-15
Catatan sejarah Kelantan yang lebih jelas ialah bermula pada abad yang ke-15. Dalam tahun 1411 M, Kelantan diperintah oleh seorang raja yang beragama Islam yang bernama Raja Kumar. Baginda menjalinkan hubungan yang baik dengan negeri China. Kemudian Kelantan diperintah pula oleh Sultan Iskandar sehingga tahun 1465 M. Setelah baginda mangkat, diganti pula oleh putera baginda iaitu Sultan Mansur. Masa ini Kelantan menjadi terkenal di merata tempat.Pada tahun 1477 M, Kelantan telah diserang oleh Melaka yang di bawah pemerintahan Sultan Mahmud Syah. Namun begitu, satu peristiwa yang menarik telah berlaku, iaitu berakhir dengan perkahwinan antara Sultan Mahmud Syah dengan Puteri Sultan Mansur yang bernama Onang Kening.Setelah Sultan Mansur mangkat pada tahun 1526, anakanda baginda Raja Gombak telah menjadi Sultan. Apabila Sultan Gombak mangkat, cucu baginda, Raja Ahmad pula ditabal menjadi Sultan pada tahun 1584 bergelar Sultan Ahmad. Sultan Ahmad telah berkahwin dengan Cik Banun puteri Seri Nara D’Raja, sepupu dengan Raja Hussin. Baginda mendapat seorang puteri dan diberi nama Cik Wan Kembang.

Cik Siti Wan Kembang
Apabila Sultan Ahmad mangkat pada tahun 1589, anakanda baginda Cik Wan Kembang tidak dapat ditabalkan kerana baru berusia 4 tahun. Oleh itu Raja Hussin dari Johor dilantik menjadi pemangku raja. Setelah Raja Hussin mangkat pada tahu 1610 M, Cik Wan Kembang pun ditabal menjadi raja. Pusat pentadbiran baginda ialah di Gunung Cinta Wangsa, Ulu Kelantan.Pemerintahan Cik Wan Kembang menjadi masyhur sehingga ramai pedagang datang berniaga, termasuklah pedagang dari Arab. Orang-orang Arab memanggil baginda dengan panggilan “Paduka Cik Siti”. Dari situlah baginda lebih dikenali dengan nama Cik Siti Wan Kembang.

KEBANGKITAN KERAJAAN JEMBAL
Pada masa pemerintahan Cik Siti Wan Kembang yang berpusat di Gunung Cinta Wangsa, di sebelah timur laut Negeri Kelantan telah timbul pula sebuah kerajaan yang berpusat di Jembal iaitu di bawah pentadbiran Raja Sakti. Hubungan kerajaan Cik Siti Wan Kembang dengan kerajaan Jembal di bawah Raja Sakti terjalin dengan baik sekali. Kedua-duanya saling menghantar utusan.

Asal-usul Kerajaan Jembal
Kerajaan Jembal asalnya diasaskan oleh Raja Besar yang dikatakan dari keturunan Raja Bersiung yang memerintah negeri Kedah dalam abad ke-14. Baginda Raja Bersiung dihalau oleh adinda baginda yang berpangkat Raja Muda. Baginda telah melarikan diri ke Kelantan. Mengikut ringkasan “Cetera Kelantan” yang ditulis oleh Dato’ Nik Mahmud Nik Ismail (Dato’ Paduka Raja), Raja Besar dan Raja Bersiung adalah orang yang sama. Kenyataan ini agak kabur dan bercanggah dengan fakta sejarah kerana Raja Bersiung memerintah Kedah pada abad ke-14, sedangkan pembukaan Jembal oleh Raja Besar ialah pada awal abad ke-17 (tahun 1600-an).Raja Besar dan pengikut-pengikut baginda mencari satu tempat yang sesuai untuk dijadikan negeri. Angkatan baginda telah menemui satu kawasan tanah yang subur yang terletak di tepi Sungai Babong dan Pulau Melaka. Di situ baginda mengarahkan pengikut-pengikutnya supaya mendirikan sebuah kota. Di dalam kawasan itu terdapat sebatang pokok yang sangat besar iaitu pokok jambu jembal, lalu baginda menamakan tempat itu JEMBAL.Baginda Raja Besar tiba di Jembal bersama beberapa orang pengikutnya serta dua orang kanak-kanak iaitu seorang lelaki dan seorang perempuan. Kedua-duanya dipercayai cucu baginda. Yang lelaki bernama Raja Sakti dan yang perempuan bernama Puteri Mani Kemeyan. Setelah kedua-duanya meningkat dewasa lalu mereka dikahwinkan.

Pertabalan Raja Sakti
Pada tahun 1638 M Raja Besar telah menabalkan Raja Sakti sebagai raja di Jembal dan memerintah di bahagian utara dan timur Kelantan. Jembal dijadikan pusat pemerintahannya. Tidak lama selepas pertabalan Raja Sakti, Raja Besar pun mangkat. Setengah cerita mengatakan Raja Besar ghaib menghilangkan diri, kerana itulah tidak terdapat makam baginda di kawasan Jembal itu.Raja Sakti dikurniakan tujuh orang putera-puteri, iaitu Raja Adiluddin (yang lebih dikenali dengan nama Raja Loyar), Raja Bahar (Raja Udang), Raja Omar (Raja Ekok), Raja Sungai, Puteri Sayu Bari, Puteri Unang Melor (nama timang-timangannya Nang Rogayah) dan Puteri Cempaka Bongsu. Mengikut buku Abdullah Nakula, Raja Sakti terkenal dengan panggilan Raja Vijaya Indera atau Long Betong. Puteri baginda iaitu Puteri Unang Melor telah berkahwin dengan Raja Terengganu iaitu Sultan Zainal Abidin 1. Dari keturunan inilah asalnya Raja-raja yang memerintah Terengganu hari ini.

Penyatuan Kelantan di bawah Raja Loyar
Setelah Raja Sakti merasa dirinya sudah tua dan putera-puteri baginda meningkat dewasa Raja Sakti telah menyerahkan pentadbiran negeri kepada mereka semua. Pada tahun 1649 M, Raja Loyar ditabalkan sebagai raja yang memerintah kerajaan Jembal. Raja Bahar dilantik sebagai Bendahara, Raja Omar sebagai Raja Muda dan Raja Sungai sebagai Raja Temenggung.Setelah menyerah semua pemerintahan Kerajaan Jembal, maka baginda Raja Sakti pun mengadakan “Istiadat Bersiram” di pinggir Sungai Babong (sekarang hanya kelihatan sebagai lembah sahaja yang dijadikan sawah padi, terletak di belakang Sekolah Menengah Raja Sakti), selama 7 hari 7 malam, setelah sampai malam ke-7 maka baginda Raja Sakti dan Puteri Mani Kemeyan pun “ghaib” dan tidak diketahui riwayatnya sehingga hari ini.Raja Loyar sangat dikasihi oleh semua lapisan rakyat jelata dan para pembesar negeri. Sikap baginda sangat luar biasa, lemah lembut, halus tutur kata dan bersopan santun. Mengikut kepercayaan, pada diri baginda terdapat sifat-sifat ganjil yang kononnya baginda berdarah putih, tulang tunggal, bulu roma songsang, lelangit hitam, lidah fasih dan air liur masin. Pendek kata apa yang dihajati semuanya dapat kerana baginda adalah seorang yang “keramat”.

Makam Al- Marhum Raja Loyor ayahanda kepada Puteri Saadong memerintah kelantan pada tahun 1649M
(Makam ini terletak bersebelahan SMK Raja Sakti Kota Jembal)

Hubungan kerajaan Jembal Dengan Paduka Cik Siti Wan Kembang
Kerajaan Jembal terus maju dan makmur di bawah pemerintahan Raja Loyar. Baginda membuat perhubungan dengan kerajaan-kerajaan sekitar termasuklah dengan kerajaan di Gunung Cinta Wangsa di bawah pemerintahan Cik Siti Wang Kembang. Baginda berdua selalu bertukar-tukar utusan dan persembahan.Raja Loyar dikurniakan dua orang cahaya mata iaitu seorang putera yang diberi nama Raja Sakti (mengambil nama sempena ayahanda baginda), tetapi telah mangkat dalam usia setahun sahaja. Seorang lagi puteri dan diberi nama Puteri Mariam tetapi lebih dikenali sebagai Puteri Saadong. Puteri Saadong ini amat terkenal dalam sejarah Kelantan.Apabila Paduka Cik Siti Wan Kembang mendapat berita bahawa Raja Loyar mendapat seorang puteri, maka baginda berangkat ke Jembal menemui Raja Loyar.Apabila Cik Siti Wan Kembang melihat wajah Puteri Saadong, maka timbul perasaan kasih sayang dan berhasrat mengambil Puteri Saadong sebagai anak angkat baginda. Baginda bercadang melantik Puteri Saadong sebagai mewarisi takhta kerajaannya kerana baginda tidak mempunyai anak dan tidak bersuami. Hasratnya itu disampaikan kepada Raja Loyar dan baginda memperkenankan permintaan tersebut.Puteri Saadong telah dibawa ke Gunung Cinta Wangsa oleh Paduka Cik Siti Wan Kembang. Di sinilah Puteri Saadong dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan penjagaan yang sempurna oleh seorang pemerintah negeri.Cik Siti Wan Kembang telah memerintahkan kepada pembesar negeri dan hulubalang supaya mencari dua ekor anak kijang untuk dijadikan binatang mainan Puteri Saadong supaya tidak kesunyian. Dari situlah gambar dua ekor anak kijang telah dijadikan lambang kebesaran kerajaan Negeri Kelantan sehingga ke hari ini.

Perkahwinan Puteri Saadong dengan Raja Abdullah
Apabila meningkat remaja, Puteri Saadong menjadi seorang Puteri yang sangat cantik paras rupa dan tingkahlakunya. Mengikut Abdullah Nakula, Puteri Saadong juga dikenali sebagai “Puteri Vijaya Mala”. Kecantikan Puteri Saadong ini termasyhur ke seluruh negeri sehingga sampai ke pengetahuan Maharaja Siam iaitu Raja Prasat Thong yang memerintah di Ayudhia. Baginda telah menghantar utusan ke Jembal untuk meminang Puteri Saadong. Setelah Raja Loyar berbincang dengan Cik Siti Wang Kembang, maka pinangan Raja Siam itu telah ditolak.Setelah rombongan Siam itu kembali, baginda Raja Loyar dan Cik Siti Wan Kembang berserta pembesar-pembesar telah bermesyuarat untuk mengahwinkan Puteri Saadong dengan sepupunya Raja Abdullah iaitu anakanda Raja Bahar.Setelah istiadat perkahwinan itu selesai, Raja Abdullah telah membina sebuah kota di hilir Negeri Kelantan dan dinamakan “Kota Jelasin” (sekarang ini dinamakan Kampung Kota, dalam daerah Kota Bharu).Setelah beberapa lama bersemayam di Kota Jelasin, Paduka Cik Siti Wan Kembang bersama Raja Abdullah dan Puteri Saadong berangkat mudik ke hulu dan singgah membuka penempatan baru di Chetok, Pasir Mas. Penempatan ini diberi nama “Tanah Serendah Sekebun Bunga”. Di sinilah dikatakan bahawa baginda Cik Siti Wan Kembang telah jatuh gering kerana mengidap deman panas. Baginda telah dibawa balik ke Gunung Cinta Wangsa dan mangkat di sana. Setelah kemangkatan Cik Siti Wan Kembang maka seluruh negeri Kelantan diperintah oleh Raja Loyar.

Peperangan dengan Angkatan Siam
Berita perkahwinan Raja Abdullah dengan Puteri Saadong sampai juga ke pengetahuan Raja Siam. Baginda terus menghantar satu angkatan tentera ke Kelantan untuk merampas Puteri Saadong. Apabila sampai ke Kota Jelasin, maka berlakulah peperangan yang dahsyat. Rakyat Raja Abdullah ramai yang mati. Dalam senyap-senyap Raja Abdullah berundur ke Melor. Di sinilah baginda telah membina sebuah kota yang dinamakan Kota Mahligai.Kedudukan Raja Abdullah di Kota Mahligai dapat juga dikesan oleh angkatan Raja Siam. Mereka mula bergerak menuju ke Kota Mahligai. Kerana sayangkan nyawa rakyat Puteri Saadong sanggup berkorban. Baginda sanggup menyerah diri dengan persetujuan Raja Abdullah dan mengikut angkatan Siam ke Ayudhiya.Sepeninggalan Puteri Saadong ke Ayudhiya, Paduka ayahanda Raja Loyar telah mangkat. Jenazah baginda dimakamkan di Jembal (makam tersebut terletak di hilir Sekolah Menengah Kebangsaan Raja Sakti sekarang). Dengan persetujuan kerabat dan pembesar-pembesar negeri, Paduka baginda kepada Almarhum Raja Loyar iaitu Raja Omar yang dahulunya memegang jawatan sebagai Raja Muda telah ditabalkan menjadi raja di Jembal bergelar Sultan Omar.Sekembalinya Puteri Saadong dari Ayudhiya dan setelah mendapat tahu ayahandanya telah mangkat, baginda terus ke Kota Mahligai untuk menemui suaminya Raja Abdullah. Apabila sampai ke Kota Mahligai alangkah terkejutnya baginda kerana mendapati Raja Abdullah telah berkahwin lain, sedangkan baginda telah berjanji akan menanti sehingga Puteri Saadong pulang dari Ayudhiya, Raja Abdullah telah berkahwin dengan anak salah seorang pembesar negeri masa itu.Satu perbalahan telah terjadi antara Puteri Saadong dengan Raja Abdullah. Raja Abdullah telah mangkat kerana ditikam oleh Puteri Saadong dengan pemancak sanggulnya di dada sebelah kiri, jenazah Raja Abdullah pada mulanya hendak dimakamkan di Jembal tetapi setelah disebabkan kesukaran perjalanan jenazah baginda dimakamkan di Kampung Padang Halban berhampiran Melor.

Makam Al-Marhum Raja Abdullah memerintah pada tahun 1663,
baginda merupakan sepupu dan suami kepada Puteri Saadong
(Makam ini terletak di Kampung Padang Halban berhampiran Melor)

Bukit marak adalah satu lagi tempat bersejarah Kerajaan Jembal merupakan tempat bersemayam Puteri Saadong setelah mangkatnya Suami baginda Raja Abdullah

Pemerintahan Raja Abdul Rahim
Setelah kemangkatan Raja Abdullah, adinda baginda bernama Raja Abdul Rahim telah ditabal menjadi pemerintah di Kota Mahligai pada tahun 1671 M bergelar Sultan Abdul Rahim. Baginda telah dikahwinkan dengan balu Almarhum Raja Abdullah. Setelah selesai pertabalan, Puteri Saadong pun berpindah ke Bukit Marak untuk bersemayam di sana. Pemerintahan Sultan Abdul Rahim dikatakan zalim dan ramailah rakyat jelata datang mengadu kepada Puteri Saadong di Bukit Marak sehingga baginda selalu berdukacita.Pada tahun 1673 M, Puteri Saadong berangkat ke Gunung Ayam iaitu berhampiran dengan Sungai Nenggiri (kawasan Gua Musang sekarang) untuk mengasingkan diri. Di sinilah berakhirnya riwayat baginda.Kezaliman Sultan Abdul Rahim telah dipandang berat oleh Sultan Omar di Jembal. Baginda telah memerintah anakandanya Raja Kecil Sulong menyelesaikan masalah pentadbiran di Kota Mahligai. Salah seorang orang suruhan Raja Kecil Sulong telah berjaya menikam Sultan Abdul Rahim di tepi Tasik Lalayang Mandi dekat Bukit Kecil, Melor. Kemudian baginda mangkat di situ juga.

Kegemilangan Kelantan di bawah Pemerintahan Sultan Omar
Sultan Omar telah ditabalkan menjadi sultan pada tahun 1675 M setelah kemangkatan Raja Loyar. Kerajaan Jembal kembali masyhur di bawah pemerintahan baginda. Baginda memerintah seluruh Negeri Kelantan.Semasa pemerintahan baginda, banyak kemajuan telah dicapai. Antara kemajuan yang telah dibuat oleh baginda termasuklah membuka kawasan tanaman padi yang luas dinamakan Padang Jembal, yang terletak di kawasan Bachok.Baginda mengadakan lawatan ke seluruh kawasan dan jajahan takluk Kelantan. Baginda juga telah mengadakan perhubungan dengan kerajaan-kerajaan luar seperti Kerajaan Pattani, China, Jawa dan negeri-negeri jiran seperti Terengganu.Baginda dikurniakan lima orang putera-puteri iaitu Raja Kecil Sulong, Raja Pah, Raja Sakti III, Raja Ngah dan Raja Nah.

Makam Al-marhum Sultan Omar memerintah kelantan pada tahun 1675M,
Kerajaan Jembal begitu masyhur di bawah pemerintahan baginda
(Makam ini Terletak di kampung Senang, Kota Jembal)

Kedatangan Anak Raja Pattani
Dalam tahun 1686 M, tiga orang anak Datu Pengkalan Tua, Raja dari Pattani telah datang mengadap baginda Sultan Omar. Mereka ialah Tuan Sulong (Long Sulong), Tuan Senik (Long Senik) dan Tuan Besar (Long Bahar).Setelah berada di Kelantan beberapa lama mereka bertiga pun dikahwinkan oleh Sultan Omar. Tuan Sulong dikahwinkan dengan Cik Biru, anak kepada Penghulu Hitam, orang besar baginda yang tinggal di Kampung Laut. Tuan Senik dikahwinkan dengan Cik Seku, anak Penghulu Deraman orang besar yang tinggal di Kampung Geting, Tumpat. Tuan Besar (Long Bahar) pula dikahwinkan dengan Raja Pah, puteri baginda.Baginda Sultan Omar telah membina sebuah kota dekat Jembal yang dinamakan kota Senang. Sekarang tempat ini dinamakan Kampung Senang. Kota ini kemudiannya diserahkan kepada menantu baginda Tuan Besar. Pada tahun 1721 M, baginda Sultan Omar telah mangkat setelah memerintah Kelantan selama 46 tahun. Jenazah baginda dimakamkan berhampiran dengan Kota Senang. Belindang makam baginda dipercayai didatangkan dari Negeri China kerana ukiran di batu itu mengandungi bentuk ukiran burung dan bunga yang terdapat pada lukisan orang-orang China.

Raja Kecil Sulong
Setelah kemangkatan Sultan Omar dengan persetujuan para kerabat serta pembesar negeri maka anakanda baginda Raja Kecil Sulong ditabalkan menggantikan baginda. Baginda telah membina sebuah kota berhampiran Jembal dinamakan Kota Teras yang diperbuat daripada teras tembesu. Tempat itu sekarang dikenali sebagai Kampung Teras. Baginda memerintah selama lima tahun sahaja. Pada tahun 1725 M, baginda telah mangkat dalam usia yang masih muda.

Peranan Raja Pah
Sebelum jenazah Almarhum dimakamkan Raja Pah dipercayai telah mempengaruhi para kerabat dan pembesar negeri untuk menabalkan suaminya bernama Tuan Besar atau Long Bahar untuk menjadi sultan. Pertabalan Long Bahar menaiki takhta kerajaan dengan alasan bahawa Putera Raja Kecil Sulong yang bernama Raja Abdul Rahman masih muda serta masih belum layak untuk memerintah negeri.Dengan pertabalan Long Bahar, suami Raja Pah itu maka tertolaklah Raja Abdul Rahman untuk mewarisi takhta kerajaan ayahandanya. Setelah Long Bahar menjadi raja, baginda telah berpindah dari Kota Senang ke Kota Jembal iaitu istana almarhum Sultan Omar, ayahanda mertuanya.Apabila Long Bahar mangkat, anakanda baginda yang bernama Long Sulaiman telah menaiki takhta memerintah Negeri Kelantan. Daripada keturunan Long Sulaiman inilah datangnya salasilah raja-raja yang memerintah Negeri Kelantan sehingga ke hari ini.

PENUTUP
Nama Jembal yang begitu bersejarah hanya kekal disebut rakyat jelata sehingga tahun 1922 M sahaja. Bermula pada tahun itu tempat tersebut telah berubah dengan panggilan Kampung Kedai Lalat. Perubahan panggilan ini berlaku secara tidak dirancang tetapi hanya sebagai sindiran sahaja kerana pekan di situ pada awalnya lebih ramai penjual daripada pembeli.Kini, di sekitar Kedai Lalat, masih terdapat ramai keturunan Raja Jembal. Mereka bukan sahaja bertumpu di kawasan sekitar Kedai Lalat bahkan juga telah tersebar di segenap pelusuk Negeri Kelantan dan ke seluruh negara. Mereka berpindah disebabkan banyak faktor, antaranya kerana mencari nafkah dan tugasan lain.Keturunan kerabat Raja Jembal ini ada yang memakai gelaran RAJA, TENGKU, TUAN , KU dan NIK.

Ada juga sebilangan kecil yang telah membuang gelaran tersebut kerana sebab-sebab tertentu.Disebabkan keturunan ini tersebar luas ke seluruh pelusuk tanah air, ramai antara ahli-ahli kerabat sudah tidak mengenali antara satu sama lain. Dari itulah timbul usaha untuk menyatukan semula ahli kerabat ini di dalam satu pertubuhan yang dinamakan PERTUBUHAN KERABAT RAJA JEMBAL KELANTAN. Semoga dengan usaha murni ini akan memberi manfaat yang besar kepada ahli kerabat seluruhnya.

(Dipetik dari Sejarah Ringkas: Kerajaan Jembal Kelantan, terbitan Pertubuhan Kerabat Raja Jembal Kelantan pada 14 Julai 1994)

Sejarah Perkembangan Tafsir


Sejarah Perkembangan Tafsir May 9, ’09 12:07 PM
for everyone
A. PENDAHULUAN
Alquran sebagaimana diyakini kaum muslim merupakan kitab hidayah, petunjuk bagi manusia dalam membedakan yang haq dengan yang batil. Dalam banyak ayat, Alquran menegaskan beberapa sifat dan ciri yang melekat dalam dirinya, di antaranya bersifat transformatif. Yaitu membawa misi perubahan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan, (zhulumât) (di bidang akidah, hukum, politik, ekonomi, sosial budaya dll) kepada sebuah cahaya, Nûr petunjuk ilahi untuk menciptakan kebahagiaan dan kesentosaan hidup manusia, dunia-akhirat. Dari prinsip yang diyakini kaum muslim inilah usaha-usaha manusia muslim dikerahkan untuk menggali format-format petunjuk yang dijanjikan bakal mendatangkan kebahagiaan bagi manusia. Nah dalam upaya penggalian prinsip dan nilai-nilai Qur’ani yang berdimensi keilahian dan kemanusiaan itulah penafsiran dihasilkan.
Dialektika antara manusia dengan realitasnya ditengarai turut masuk mempengaruhi proses penafsiran itu. Bukankah Alquran diturunkan bagi manusia, untuk kemaslahatan manusia dan last but not least, untuk “me-manusiakan” manusia (bukan menjadikannya makhluk otomatis seperti robot, mesin, hewan ataupun malaikat). Maka dari diktum itu pulalah, konsep tentang manusia dan identitasnya dalam menjabarkan misi kekhalifahan dan ‘ubudiy-yah di muka bumi menjadi penentu yang determinan dalam proses mengkaji dan memahami teks suci yang diyakini akan memberikan kesejahteraan bagi umat manusia.
Akan tetapi, posisi sentral manusia yang oleh peradaban Barat menjadi tema utama abad pencerahan juga bukan tanpa cela dalam sudut pandang Islam. Manusia dalam kacamata Islam tidak lah hidup dari, oleh dan untuk dirinya sendiri dan terkungkung dalam dunia yang profan ini. Falsafah hidup Islam tidak mengenal mazhab sekularisme yang memisahkan manusia dari dimensi keilahian dan melucuti aspek moral dan nilai dari kegiatan manusia. Falsafah hidup Islam menggariskan bersatunya nilai agama dan dunia, kehidupan manusia untuk misi yang bersifat keduniaan (dunyawi) dan keakhiratan (ukhrawy). Prinsip-prinsip tersebut yang senantiasa harus diindahkan ketika kaum muslim berinteraksi dengan Alquran.
Alquran yang diturunkan kepada nabi Muhammad dan sekaligus menjadi pedoman bagi umat manusia, dimana sudah pasti didalamnya terkandung semua pedoman hidup yang perlu dikaji, dipahami dan diaplikasi-kan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, upaya mengkaji, memahami dan mengaplikasikan Alquran adalah dengan tafsir atau ta’wil.
Makalah berikut ini sekadar mengingatkan kembali apa itu pengertian tafsir dan takwil dan apa perbedaannya. Hal-hal apakah yang diperlukan dalam melakukan tafsir dan takwil. Konsep tafsir dan takwil sangat perlu diketahui umat Islam, sebab Alquran sebagai pedoman hidup tidak mungkin dipahami, kecuali dengan tafsir dan takwil.
Dengan memahami konsep keduanya, pada gilirannya umat akan dapat mengamalkan Alquran dalam kehidupan. Di samping itu, umat akan dapat pula menilai dengan kritis tafsir dan takwil yang sahih dan yang tidak. Sebab, tidak jarang atas nama “tafsir”, segelintir pihak tertentu menularkan pemahamannya yang keliru mengenai ayat Alquran. Mereka berlindung di balik rupa-rupa argumentasi palsu agar tidak dinilai salah atau sesat, misalnya dengan mengatakan bahwa “Alquran” memang mutlak benar, tetapi “tafsir Alquran” adalah relatif dan nisbi.
Meskipun jauh dari ideal, namun ada sebersit harap dalam do’a semoga tulisan ini minimal dapat memperkaya khazanah keilmuan kita semua. Amien…!?
B. TAFSIR DAN TAKWIL
1. Pengertian Tafsir.
Kata Tafsir mengikuti wazan “taf’il”, berasal dari akar kata al-fasr yang berarti menjelaskan (al-tabyin), menerangkan (al-idlah), menyingkap (al-kasyf) dan menampakkan (izhhar) makna yang abstrak. Dalam Alquran dinyatakan:
وَلاَ يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّ جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيْرًا. (الفرقان [25]: 33)
“Tidaklah mareka datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu sesuattu yang benar dan paling baik tafsirnya”. (Q.S. al-Furqan [25]: 33).
Tafsir menurut istilah, sebagaimana didefinisikan Abu Hayyan ialah: “ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafazh-lafazh Alquran, tentang petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun dan makna-makna yang dimungkin-kan bagainya ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya”. Menurut az-Zarkasyi dalam kitab Manhaj al-Furqan (II/6), tafsir adalah ilmu untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, menjelaskan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah-hikmah-nya.
Ada juga yang mendefinisikan tafsir sebagai ilmu yang membahas kitabullah melalui ayat-ayatnya menyangkut maksud Allah sesuai ke-sanggupan manusia. Sebagian ulama memberikan definisi bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas tentang cara mengucapkan lafazh-lafazh Alquran, maksudnya, segala hukum lafazh tersebut baik perkata maupun kalimat, serta maknanya ketika tersusun menjadi kalimat dan lain sebagai-nya seperti mengetahui naskh, sabab nuzul, dan hal-hal lain semisal qishah dan matsal.
Tafsir adalah kunci untuk membuka gudang simpanan yang tertimbun dalam Alquran. Tanpa tafsir, orang tidak bisa membuka gedung simpanan tersebut untuk mendapatkan mutiara dan permata yang ada di dalamnya, sekalipun ia berulang kali mengucapkan lafazh Alquran dan membacanya sepanjang pagi dan petang. Secara sederhana, tafsir dapat diartikan dengan pengertian lahiriah dari ayat Alquran yang pengertiannya secara tegas menyatakan maksud yang dikehendaki Allah ‘Azza wa Jalla.

2. Pengertian Takwil.
Secara epistimolgi Takwil, berasal dari kata “al-aul” yang artinya kembali. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa takwil itu sinonim (muradlif) dari kata tafsir. Seorang pengarang kamus mengatakan:
أَوَّلَ الْكَلاَمَ تَأْوِيْلاً وَتَأَوَّلَهُ بِمَعْنَى دَبَّرَهُ وَقَدَّرَهُ وَفَسَّرَهُ
Seseorang menakwilkan ucapan dengan suatu takwil, artinya ia merenungkan, memperkirakan dan menafsirkannya.
Di antara firman Allah SWT yang mengemukakan kata takwil dengan makna tafsir adalah:
فَأَمَّا الّّذِيْنَ فِى قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيْلِهِ … الأية (آل عمران [3]: 7).
“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya…”. (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 7).
Kata takwil dalam ayat ini bermakna tafsir dan ta’yin. Atau dengan kata lain tafsir merupakan makna yang jelas dari ayat Alquran tersebut. Takwil juga bisa berarti memalingkan, sebagaimana pada ucapan
أَوَّلْتُهُ فَآلَ أى صَرَّفْتُهَ فَانْصَرَفَ
Aku telah memalingkannya, maka ia berpaling.
Maka takwil berarti memalingkan ayat pada satu makna yang tercakup dalam pengertian ayat yang mungkin mempunyai beberapa pengertian.
Sedangkan dalam terminologi para ahli tafsir (mufassirun), mereka berbeda pendapat dalam memberikan definisi takwil. Ulama mutaqaddimin berpendapat bahwasanya takwil merupakan sinonim (muradif) dari tafsir, sehingga hubungan (nisbat) diantara keduanya adalah sama. Sementara takwil dalam tradisi ulama mutaakhkhirin adalah memalingkan dan meng-arahkan makna lafazh yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) karena ada dalil yang menyertainya.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa takwil adalah pengertian-pengertian tersirat yang diproses (istinbath) dari ayat-ayat Alquran yang memerlukan perenungan dan pemikiran serta merupakan sarana pembuka tabir. Dari ayat-ayat yang kemungkinan mempunyai beberapa pengertian, para mufassir merujuk pada pengertian yang lebih kuat, lebih jelas dan gamblang. Namun hal ini tidak bersifat pasti (qath’i), karena hukum pasti tersebut telah ditetapkan dalam kitab Allah, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ إِلاَّ الله … الأية (آل عمران [3]: 7)
“Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Alah”… (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 7).

C. PERBEDAAN TAFSIR DAN TAKWIL
Para ulama berbeda pendapat tentang perbedaan tafsir dan takwil. Abu Ubaidah dan pengikutnya berpendapat bahwa tafsir dan takwil itu semakna (mutaradif). Dan pendapat ini masyhur menurut para ahli tafsir terdahulu (mutaqaddimin). Ibn Jarir al-Thabary mengatakan dalam tafsirnya, satu pendapat tentang takwil firman Allah ini… atau ahli takwil berbeda pendapat tentang ayat ini… yang dimaksud disini ialah ahli tafsir.
Menurut al-Raghib al-Ashfihany tafsir lebih umum daripada takwil. Tafsir lebih banyak digunakan pada lafazh-lafazh, sedangkan takwil digunakan pada makna-makna, seperti takwil mimpi. Takwil kebanyak-an dipakai dalam kitab-kitab wahyu ilahi, sedangkan tafsir disamping dipakai dalam kitab-kitab tersebut juga dalam hal lainnya.
Al-Maturidy menjelaskan bahwa tafsir berarti memastikan atas maksud (al-murad) dari sebuah lafazh dan membuat kesaksian atas nama Allah bahwa hal inilah yang dimaksudkan oleh Allah. Dan jika didukung dengan adanya dalil qath’i, maka tafsir tersebut berarti benar (shahih). Sedangkan jika tidak ada dalil yang mendukungnya, maka berarti tafsir dengan pendapat sang mufassir (bi al-rakyi).
Menurut Abu Thalib al-Tsa’alaby tafsir berarti menjelaskan asal peletakan dari sebuah lafazh baik bersifat hakiki atau majazi, seperti menafsirkan lafazh al-Shirath dengan al-Thariq, al-Shaib dengan al-Mathar. Sementara takwil menafsirkan lebih mendalam tentang suatu lafazh. Takwil menerangkan tentang maksud yang sebenarnya (haqiqat al-murad) sedangkan tafsir menerangkan tentang dalil dari maksud tersebut.
Al-Kawasyi sependapat dengan al-Baghawy yang menyatakan bahwa takwil adalah mengarahkan ayat pada makna yang paling memungkinkan dari beberapa makna yang sesuai dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya serta tidak bertentangan dengan al-Kitab dan al-Sunnah dengan cara mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah-hikmah di dalamnya (istinbath). Sedangkan tafsir pembahasan tentang asbab nuzul, keadaan dan kisah yang melatarbelakangi suatu ayat.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tafsir adalah hal-hal yang merujuk pada riwayat, sedangkan takwil merupakan hal-hal yang merujuk pada pengetahuan dan pemahaman (dirayah). Takwil fokus pada aspek memilih pendapat yang kuat (tarjih) dengan cara ijtihad dan melalui pengetahuan arti dari lafazh-lafazh (al-mufradat), indikasi dalam bahasa arab, penggunaan dalam susunan bahasa dan mengetahui batasan-batasan bahasa arab (asalib al-‘arabiyah).
Penyebab banyaknya istilah yang berbeda-beda tentang tafsir dan takwil tersebut menurut al-Zarkasyi adalah perbedaan antara pendapat yang diriwatkan (al-manqul), orang yang melakukan penelitian dan pengkajian atas suatu riwayat dan perspektif atas riwayat tersebut.
Apabila mengikuti pendapat bahwa takwil adalah menfsirkan perkata-an dan menjelaskan maknanya, maka takwil dan tafsir adalah dua kata yang berdekatan atan sama maknanya. Dan apabila mengikuti pendapat bahwa takwil adalah esensi yang dimaksud dari suatu perkataan, maka takwil dari kata yang mengandung tuntutan (thalab), merupakan esensi perbuatan yang dituntut itu sendiri dan takwil dari berita (khabar) adalah esensi dari suatu yang diberitakan.
Atas dasar ini maka perbedaan antara tafsir dan takwil cukup besar, sebab tafsir merupakan syarah dan penjelasan bagi suatu perkataan dan penjelaasan ini berada dalam pikiran dengan cara memahaminya juga berada dalam lisan dengan ungkapan yang menunujukkannya. Sedang takwil adalah esensi sesuatu yang berada pada realita. Namun antara keduanya juga memiliki persamaan, yaitu sama-sama menerangkan makna-makna Alquran.
Contoh tafsir dan takwil, firman Allah dalam surah al-Baqarah [2] ayat 2 yang berbunyi: لاَ رَيْبَ فِيهِ (tidak ada keraguan di dalamnya). Jika diartikan, لاَ شَكَّ فِيْهِ (tidak ada kebimbangan di dalamnya),” maka ini adalah tafsir. Jika diartikan, “tidak ada keraguan di kalangan kaum yang beriman” maka ini adalah takwil.
Contoh lain, misalkan firman Allah dalam surah al-An’âm [6] ayat 95 yang berbunyi: yukhrij al-hayya min al-mayyit (Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati). Jika ayat ini diartikan, “Allah mengeluarkan burung (yang bernyawa) dari telur (yang mati/tidak bernyawa),” maka ini tafsir. Jika diartikan Allah mengeluarkan orang Mukmin dari orang kafir atau orang berilmu dari orang bodoh maka ini takwil.
Contoh lain, firman Allah dalam surah al-Fajr [89] ayat 14 yang berbunyi: Inna Rabbaka labil mirshâd (Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi). Jika diartikan, Allah benar-benar mengawasi segala perilaku para hamba-Nya, maka itu tafsir. Jika diartikan, Allah memperingatkan para hamba-Nya yang telah meremehkan dan melalaikan perintah Allah, maka ini adalah takwil.

D. SYARAT-SYARAT, KODE ETIK DAN TATA CARA.
1. Syarat-syarat Mufassir.
Seorang mufassir Alquran perlu memiliki kualifikasi (syarat-syarat). Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh setiap mufassir, antara lain sebagai berikut:
a. Syeikh Jalaluddin as-Suyuthi:
Syarat bagi seorang nufassir adalah menguasai ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu lughah, ilmu isytiqaq, ilmu ma’ani, ilmu bayan, ilmu badi’, ilmu qiraat, ilmu kalam, ilmu ushul fiqh, ilmu asbabun nuzul, ilmu qashas, ilmu nasikh mansukh, ilmu hadits dan ilmu mauhibah.
b. Syeikh Manna’ al-Qaththan:
Secara ringkas, syarat dan tata cara menafsirkan adalah harus berakidah yang benar, bersih dari hawa nafsu, menafsirkan lebih dulu, Alquran dengan Alquran, mencari penafsiran dari sunnah, karena al-Sunnah, pendapat para sahabat dan dari tabi’in, mengetahui bahasa Arab dengan semua cabangnya, mengetahui pokok-pokok ilmu yang bertalian dengan Alquran (‘ulum al-Quran) dan memiliki ketajaman fikiran.

2. Kode etik yang diperlukan oleh mufassir.
Selain mempunyai ilmu pengetahuan yang luas tentang tafsir para mufassir perlu memiliki dan menampakkan budaya yang bagus dan etika yang indah dan bersahaja. Adapun etika yang harus dimiliki oleh mufassir adalah:
a. Niat yang baik dan tujuan yang murni, karena amal perbuatan itu ber-gantung pada niat.
b. Karakter yang baik, sebab mufassir sebagai seorang pendidik yang didikan-nya itu tidak akan berpengaruh ke dalam jiwa tanpa ia menjadi panutan yang diikuti dalam hal dan akhlaq perbuatan mulia.
c. Taat dan beramal. Ilmu akan lebih dapat diterima (oleh khalayak) melalui orang yang mengamalkannya ketimbang dari mereka yang me-miliki ketinggian pengetahuan dan kecermatan kajiannya.
d. Berlaku jujur dan teliti dalam penukilan, sehingga mufassir tidak berbicara atau menulis kecuali setelah menyelidiki apa yang diriwayat-kannya.
e. Kerendahan hati dan kelembutan, karena kesombongan ilmiah merupa-kan dinding kokoh yang menghalangi antara seorang alim dengan ke-manfaatan ilmunya.
f. Berjiwa mulia. Seharusnyalah seorang alim menjauhkan diri dari hal-hal yang remeh serta tidak mengelilingi pintu-pintu kebesaran dan penguasa bagai peminta-minta yang buta.
g. Terus terang dalam kebenaran, karena jihad paling utama adalah me-nyampaikan kalimat yang hak di hadapan penguasa zhalim.
h. Tingkah laku baik yang dapat menjadikan mufassir berwibawa dan ter-hormat dalam semua penampilannya secara umum, juga dalam cara duduk, berdiri dan berjalan, namun sikap ini hendaknya tidak dipaksa-paksakan.
i. Bersikap tenang dan mantap. Mufassir hendaknya tidak tergesa-gesa dalam berbicara, tetapi hendaknya ia berbicara dengan tenang, mantap dan jelas, kata demi kata.
j. Mendahulukan orang yang lebih utama daripada dirinya. Seorang mufassir hendaknya tidak gegabah untuk menafsirkan di hadapan orang yang lebih pandai pada waktu mereka masih hidup dan tidak pula merendahkan mereka sesudah mereka wafat.
k. Mempersiapkan dan menempuh langkah-langkah penafsiran secara baik, seperti memulai dengan menyebutkan asbabun nuzul, arti kosa kata, me-nerangkan susunan kalimat, menjelaskan segi-segi balaghah dan i’rab yang padanya bergantung penentuan makna.

3. Tata cara menafsirkan Alquran.
Untuk memperoleh hasil penafsiran yang baik dan benar, maka selain seorang mufassir harus memenuhi persyaratan –persyaratan tersebut diatas, juga harus ditempuh pula adab-adab mufassir yang benar dan baik. Secara global tata cara menafsirkan Alquran yang benar dan baik adalah:
a. Menafsirkan Alquran lebih dahulu dengan Alquran, karena sesuatu yang masih global pada satu tempat telah diperinci di tempat lain dan sesuatu yang kemungkinan secara ringkas di suatu tempat telah diuraikan di tempat lain.
b. Menafsirkan Alquran dengan keteranagan Al-Sunnah, karena sunnah ber-fungsi sebagai pensyarah Alquran dan penjelasannya.
c. Menafsirkan Alquran dengan pendapat para Sahabat apabila tidak didapat-kan penafsiran dalam sunnah, karena mereka lebih mengetahui tentang tafsir Alquran, mengingat merekalah yang menyaksikan qarinah dan kondisi ketika Alquran diturunkan disamping mereka mempunyai pe-mahaman (penalaran) sempurna, ilmu yang shahih dan amal yang shalih.
d. Menafsirkan Alquran dengan pendapat Tabi’in, apabila tidak ditemukan juga penafsiran dalam Alquran, sunnah maupun dalam pendapat para sahabat, menurut sebagian besar para ulama.
e. Menafsirkan Alquran menurut kaidah-kaidah bahasa Arab dengan segala cabangnya, karena Alquran diturunkan dalam bahasa Arab dan pemahaman tentangnya amat bergantung pada penguraian kosa kata (mufradat) lafazh-lafazh dan pengertian-pengertian yang ditunjukkan menurut letak kata-kata dalam rangkaian kalimat.

4. Syarat-Syarat Ta’wîl.
Para ulama ushul telah menetapkan syarat-syarat takwil agar takwil yang dihasilkan dapat diterima (maqbul) dan sahih. Ada 4 (empat) syarat, yaitu:
a. Takwil yang dihasilkan harus sesuai dengan makna bahasa Arab, makna syariat, atau makna ‘urfi (makna kebiasaan orang Arab). Misalnya, takwil kata quru’ (dalam Qs. al-Baqarah [2]: 228) dengan arti haid atau suci adalah takwil sahih, karena sesuai dengan makna bahasa Arab untuk quru’. Takwil yang tidak sesuai makna bahasa, syariat, atau ‘urfi, tidak diterima.
b. Takwil harus berdasarkan dalil yang sahih dan râjih (kuat), misalkan mengkhususkan nash umum berdasarkan dalil pengkhusus (takhshish), atau memberikan batasan (taqyid) nash mutlak berdasarkan dalil yang men-taqyîd-kan. Karena itu, takwil yang tanpa dalil, atau dengan dalil tetapi dalilnya lemah (marjuh), atau musawi (sederajat kekuatannya) dengan kata yang ditakwil, tidak diterima.
c. Kata yang ada memang memungkinkan untuk ditakwil (qabil li at-ta’wil). Misalkan, katanya adalah kata umum yang dapat di-takhshîsh, atau kata mutlak yang dapat diberi taqyîd, atau kata bermakna hakiki yang dapat diartikan secara makna majazi (metaforis), dan sebagainya. Karena itu, jika takwil dilakukan pada nash khusus (bukan nash umum), tidak diterima.
d. Orang yang menakwil memiliki kapasitas keilmuan untuk melakukan takwil. Karena itu, takwil yang dilakukan orang bodoh (jâhil) dalam bahasa Arab atau ilmu-ilmu syariat (al-ma’ârif al-syar‘îyyah) tidak dapat diterima. Sebab, orang yang hendak melakukan takwil haruslah ber-kualifikasi mujtahid yang memiliki bekal ilmu-ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu syariat.

E. SIMPULAN
Tafsir dapat diartikan dengan pengertian lahiriah dari ayat Alquran yang pengertiannya secara tegas menyatakan maksud yang dikehendaki Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan takwil bisa diartikan sebagai pengertian-pengertian tersirat yang diproses (istinbath) dari ayat-ayat Alquran yang memerlukan perenungan dan pemikiran serta merupakan sarana pembuka tabir.
Tafsir dan takwil menurut ulama mutaqaddimin, makna dari keduanya sama (muradif), sedangkan menurut ulama muta’akhirin pengertian keduanya berbeda. Menurut Az-Zarkasyi pendapat yang tepat ialah yang membedakan keduanya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tafsir adalah hal-hal yang merujuk pada riwayat, sedangkan takwil merupakan hal-hal yang merujuk pada pengetahuan dan pemahaman (dirayah).
Tafsir dan takwil merupakan media untuk memahami Alquran yang bisa dilakukan oleh siapa saja yang telah memenuhi syarat-syarat, kode etik, tata cara yang telah dirumuskan oleh para ulama. Hal ini bukan berarti menutup pintu serapat-rapatnya untuk memahami Alquran. Akan tetapi agar terhindar dari penafsiran ataupun penakwilan yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Suyuthi, al-Itqan fi ‘Ulum Alquran, (Beirut, Daar el-Fikr, 2005).
Asy-Syaukani, Irsyâd al-Fuhûl, (Beirut, Dar el-Fikr, tt).
Al-Amidi, Al-Ihkâm fi Ushul al-Ahkam, (Beirut, Dar el-Fikr, tt).
Al-Qurthubi, Al-Jâmi‘ li Ahkam al-Qur’an, (Beirut, Dar al-Fikr, tt).
‘Abd al-‘Azhim al-Zarqany, Manahil al-‘Irfan fi Ulum Alquran, (Beirut, Dar al-Fikr, tt).
‘Abd al-Qadir Manshur, Mausu’ah ‘Ulum Alquran, (Suriyah, Dar al-Qalam al-‘Araby, cet ke-1 2002).
Al-Jurjani, At-Ta‘rifat, (Beirut, Dar al-Fikr, tt).
‘Ali al-Shabuni, al-Tibyan fi Ulum Alquran, (Beirut, Alam al-Kitab, cet. pertama, 1985).
Badr al-Din al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum Alquran, (Kairo, Dar al-Turats, cet ke-3, 1984).
Khadim al-Haramain, Alquran dan Terjemahnya 1971.
Manna’ al-Qatthan, Mabahits fi Ulum Alquran, (Mansyurat al-‘Ashr al-Hadits, 1973).
M. Husain al-Dzahaby, al-Tafsir wa al-Mufassirun, (Beirut, Syirkah Dar al-Arqam, tt).
Wahbah Az-Zuhaili, Ushûl al-Fiqh al-Islâmî, (Beirut, Dar el-Fikr, tt).

Attachment: tgk.jpg
Tags: 9.5.09
Prev: MAKALAH ULUMUL AL-QURAN
Next: SEJARAH TAFSIR ASIA TENGGARA
r