MANAKIB ALAWIYYAH KE-1 ( AL-IMAM AS-SAYYID ABDUL MALIK AZMATKHAN BIN ‘ALWI AMMUL FAQIH)


azmatkhan
Slide1

Oleh: As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini
Majelis Wali Songo
rujukan: https://majeliswalisongo.wordpress.com/

NASAB BELIAU
Sayyid Abdul Malik bin Alawi (Ammil Faqih) bin Muhammd Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alawi Baitu Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shouma’ah bin Alawi Al-Mubtakir bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra’ binti Muhammad Rasuli-Llahi Shalla-Llahu Alaihhi wa-Sallam

TEMPAT DAN TAHUN KELAHIRANNYA
Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Beliau juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat untuk berda’wah sebagaimana kakek beliau, Al-Imam As-Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah.

ORANGTUA AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN
Ayah dari Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan adalah Al-Imam Alawi Ammul Faqih bin Muhammad lahir di Tarim. Beliau adalah seorang ulama besar, pemimpin kaum Arifin, hafal al-Qur’an, selalu menjaga lidahnya dari kata-kata yang tidak bermanfaat, dermawan, cinta kepada fakir miskin dan memuliakannya, banyak senyum. Imam Alwi bin Muhammad dididik oleh ayahnya dan belajar kepada beberapa ulama, di antaranya Syaikh Salim Bafadhal, Sayid Salim bin Basri, Syaikh Ali bin Ibrahim al-Khatib. Beliau wafat pada hari Senin bulan Zulqaidah tahun 613 hijriyah di Tarim dan dimakamkan di perkuburan Zanbal.

Al-Imam ‘Alawi Ammul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath, memiliki empat orang anak, yaitu:
1. Abdullah (keturunannya terputus)
2. Ahmad (anaknya Fathimah ibu dari Ali dan Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam),
3. Abdul Malik Azmatkhan keturunannya menyebar di India dan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Asia tenggara yang dikenal dengan nama Azmatkhan (leluhur Wali Songo).
4. Abdurahman, keturunannya keluarga al-Bahasyim, al-Bin Semith, al-Bin Thahir, al-Ba’bud Maghfun, al-Bafaraj, al-Haddad, al-Basuroh, al-Bafaqih, al-Aidid, al-Baiti Auhaj.

ISTRI AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN
Istri dari Imam Abdul Malik Azmatkhan adalah Putri Raja Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, yang bernama Ummu Abdillah.

ANAK-ANAK AL-IMAM ABDUL MALIK AZMATKHAN
Imam Abdul Malik Azmatkhan memiliki 4 anak, 2 laki-laki, dan 2 Perempuan:
1. Sayyid Abdullah Azmatkhan (Leluhur Walisongo)
2. Sayyid Alwi Azmatkhan (Leluhur Azmatkhan India)
3. Syarifah Zainab Azmatkhan (nasabnya terputus)
4. Syarifah Fathimah Azmatkhan (nasabnya terputus)

GELAR – GELAR AL-IMAM AS-SAYYID ABDUL MALIK AZMATKHAN
Menurut As-Sayyid Bahruddin Al-Husaini, menjelaskan bahwa gelar yang disandang oleh As-Sayyid Abdul Malik azmatkhan adalah:
1. Al-Malik Lil Muslimiin = Raja Bagi Kaum Muslimin
2. Al-Malik Min ‘Alawiyyiin = Raja dari Kalangan Keturunan Imam Ali bin Abi Thalib
3. Al-Khalifah Lil Mukminiin = Khalifah bagi Kaum mukmin
4. Al-Mursyid = Mursyid bagi beberapa tarekat
5. An-Naaqib = Pakar dalam Ilmu Nasab
6. Al-Muhaddits = Menghafal Ribuan Hadits
7. Al-Musnid = Memiliki sanad keilmuan dari berbagai ulama’ dan guru
8. Al-Qutub = Wali Qutub pada masanya
9. Al-Wali = Seorang Waliyullah
10. Abu Al-Muluuk = Ayah dan datuk bagi para Raja
11. Abu Al-Awliyaa’ = Ayah dan datuk bagi para Wali Songo
12. Abu Al-Mursyidiin = Ayah dan datuk bagi para Mursyid
13. Syaikhul Islam = Guru Besar Islam
14. Imamul Mujaahidiin = Imam Mujtahid
15. Al-Faqiihul Aqdam = Ahli Fiqih Yang paling utama
16. Al-Mujahid Fii Sabiilillah = Pejuang di Jalan Allah
17. Al-Hafiizhul Qur’an = Penghafal Qur’an
18. Shohibul Karomah = Raja dan Wali Allah yang memiliki Karomah
19. Amirul Mukminin= Pemimpin Pemerintahan Islam (Sumber Data: Kitab Ansabi Wali Songo, karya Sayyid Bahruddin)

NAMA FAM AZMATKHAN DALAM ILMU NASAB
Nama Azmatkhan berasal dari penggabungan dua kata dalam bahasa Urdu. “Azmat” berarti; mulia, terhormat. Dan “Khan” memiliki arti setara seperti Komandan, Pemimpin, atau Penguasa. Nama ini disandangkan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik setelah beliau menjadi menantu bangsawan Nasarabad. Mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” sebagai bangsawan sekaligus penguasa setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan apa yang dialami Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan keturunan Al-Husain putra Fathimah binti Rasulillah SAW, maka mereka menambah kalimat “Azmat” sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang.

KESAKSIAN PARA AHLI NASAB TENTANG FAM AZMATKHAN

KESAKSIAN PERTAMA
Menurut As-Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini (Ulama’ asli Tarim, Hadramaut, Yaman), berkata: “Keluarga Azmatkhan (Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal hadhramaut Yaman gelombang pertama yang masuk di Nusantara dalam rangka penyebaran Islam (Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati keluarga Azmatkhan) Sesuai dengan namanya, yang berarti “Pemimpin dari keluarga Mulia” .

KESAKSIAN KEDUA
Menurut H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini dalam bukunya “Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah”, dia berkata:

“Sayyid Abdul Malik bin Alwi lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia meninggalkan Hadhramaut pergi ke India bersama jama’ah para Sayyid dari kaum Alawiyyin. Di India ia bermukim di Naserabad. Ia mempunyai beberapa orang anak lelaki dan perempuan, di antaranya ialah Sayyid Amir Khan Abdullah bin Sayyid Abdul Malik, lahir di kota Nashr Abad, ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir di sebuah desa dekat Naserabad. Ia anak kedua dari Sayyid Abdul Malik
Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India.
Setelah Sayyid Abdul Malik menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang.
Sayyid Abdul Malik juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke India untuk berda’wah, sebagaimana kakek beliau, Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berda’wah
Nama putra Sayyid Abdul Malik adalah “Abdullah”, penulisan “Amir Khan” sebelum “Abdullah” adalah penyebutan gelar yang kurang tepat, adapun yang benar adalah Al-Amir Abdullah Azmatkhan. Al-Amir adalah gelar untuk pejabat wilayah. Sedangkan Azmatkhan adalah marga beliau mengikuti gelar ayahanda. Sebagian orang ada yang menulis “Abdullah Khan”, mungkin ia hanya ingat Khan-nya saja, karena marga “Khan” (tanpa Azmat) memang sangat populer sebagai marga bangsawan di kalangan orang India dan Pakistan. Maka penulisan “Abdullah Khan” itu kurang tepat, karena “Khan” adalah marga bangsawan Pakistan asli, bukan marga beliau yang merupakan pecahan marga Ba’alawi atau Al-Alawi Al-Husaini.
Ada yang berkata bahwa di India mereka juga menulis Al-Khan, namun yang tertulis dalam buku nasab Alawiyyin adalah Azmatkhan, bukan Al-Khan, sehingga penulisan Al-Khan akan menyulitkan pelacakan di buku nasab.
Sayyid Abdullah Azmatkhan pernah menjabat sebagai Pejabat Diplomasi Kerajaan India, beliaupun memanfaatkan jabatan itu untuk menyebarkan Islam ke berbagai negeri. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, persaingan itu tidak lain adalah persaingan didalam memperkenalkan sebuah budaya. Sayyid Abdullah memperkenalkan budaya Islam dan Marcopolo memperkenalkan budaya Barat. Sampai saat ini, sejarah tertua yang kami dapat tentang penyebaran Islam di Cina adalah cerita Sayyid Abdullah ini. Maka bisa jadi beliau adalah penyebar Islam pertama di Cina, sebagaimana beberapa anggota Wali Songo yang masih cucu-cucu beliau adalah orang pertama yang berda’wah di tanah Jawa.
Ia (Sayyid Abdullah) mempunyai anak lelaki bernama Amir Al-Mu’azhzham Syah Maulana Ahmad.” Nama beliau adalah Ahmad, adapun “Al-Amir Al-Mu’azhzham” adalah gelar berbahasa Arab untuk pejabat yang diagungkan, sedangkan “Syah” adalah gelar berbahasa Urdu untuk seorang Raja, bangsawan dan pemimpin, sementara “Maulana” adalah gelar yang dipakai oleh muslimin India untuk seorang Ulama besar.Sayyid Ahmad juga dikenal dengan gelar “Syah Jalaluddin”.
Maulana Ahmad Syah Mu’azhzham adalah seorang besar, Ia diutus oleh Maharaja India ke Asadabad dan kepada Raja Sind untuk pertukaran informasi, kemudian selama kurun waktu tertentu ia diangkat sebagai wazir (menteri). Ia mempunyai banyak anak lelaki. Sebagian dari mereka pergi meninggalkan India, berangkat mengembara. Ada yang ke negeri Cina, Kamboja, Siam (Tailand) dan ada pula yang pergi ke negeri Anam dari Mongolia Dalam (Negeri Mongolia yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan Cina). Mereka lari (?) meninggalkan India untuk menghindari kesewenang-wenangan dan kezhaliman Maharaja India pada waktu terjadi fitnah pada akhir abad ke-7 Hijriah.
Di antara mereka itu yang pertama tiba di Kamboja ialah Sayyid Jamaluddin Al-Husain Amir Syahansyah bin Sayyid Ahmad. Ia pergi meninggalkan India tiga tahun setelah ayahnya wafat. Kepergiannya disertai oleh tiga orang saudaranya, yaitu Syarif Qamaruddin. Konon, dialah yang bergelar ‘Tajul-muluk’. Yang kedua ialah Sayyid Majiduddin dan yang ketiga ialah Sayyid Tsana’uddin.”
Sayyid Jamaluddin Al-Husain oleh sebagian orang Jawa disebut Syekh Jumadil Kubro. Yang pasti nama beliau adalah Husain, sedangkan Jamaluddin adalah gelar atau nama tembahan, sehingga nama beliau juga ditulis “Husain Jamaluddin”. Adapun “Syahansyah” artinya adalah Raja Diraja. Namun kami yakin bahwa gelar Syahansah itu hanyalah pemberian orang yang beliau sendiri tidak tahu, karena Rasulullah SAW melarang pemberian gelar Syahan-syah pada selain Allah.
Sayyid Husain juga memiliki saudara bernama Sulaiman, beliau medirikan sebuah kesultanan di Tailand. Beliau dikenal dengan sebutan Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, barangkali beliau pernah tinggal lama di Baghdad. Nah, Sayyid Husain dan Sayyid Sulaiman inilah nenek moyang daripada keluarga Azmatkhan Indonesia, setidaknya yang kami temukan sampai saat ini.

KESAKSIAN KETIGA

Menurut Sayyid Ali bin Abu Bakar As-Sakran dalam Kitab Nasab yang bernama Al-Jawahir Al-Saniyyah, berkata: “Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih”.

KESAKSIAN KEEMPAT:

Menurut Ad-Dawudi dalam Kitab Umdatut Thalib berkta, “”Al-Azmatkhan adalah fam yang dinisbatkhan kepada Al-Imam As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin ‘Alawi ‘Ammil Faqih, dan keturunannya masih ada sampai sekarang ini melalui jalur Walisongo di Jawa”.

KESAKSIAN KELIMA:

Penelitian sayyid Zain bin abdullah alkaf yg dikutip dalam buku khidmatul ‘asyirah karangan Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf; MEMBENARKAN & MEM-VALID-KAN nasab jalur Azmatkhan.

KESAKSIAN KEENAM:

Penelitian Al-Alammah As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Husain Al-Masyhur dalam Kitab Syamsud Zhahirah, yang memvalidkan nasab jalur Azmatkhan.

KESAKSIAN KETUJUH

Kesaksian dari Sayyid Ali bin Ja’far Assegaf Palembang.

Bermula silsilah wali songo ditemukan oleh sayid Ali bin Ja’far Assegaf pada seorang keturunan bangsawan Palembang. Dalam silsilah tersebut tercatat tuan Fakih Jalaluddin yang dimakamkan di Talang Sura pada tanggal 20 Jumadil Awal 1161 hijriyah, tinggal di istana kerajaan Sultan Muhammad Mansur mengajar ilmu ushuluddin dan alquran. Dalam silsilah tersebut tercatat nasab seorang Alawiyin bernama sayid Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath, yang mempunyai tujuh anak laki. Di samping itu tercatat pula nasab keturunan raja-raja Palembang yang bergelar pangeran dan raden, nasab Muhammad Ainul Yaqin yang bergelar Sunan Giri.

KESAKSIAN KEDELAPAN:

Penelitian As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri dalam Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif

Keluarga Azmatkhan sejauh ini tercatat memimpin banyak Kesultanan atau Kerajaan di Asia Tenggara. Diantaranya :

1. Kesultanan Nasirabad – India
2. Kesultanan Adipati Bagelen
3. Kesultanan Adipati Bangkalan – Madura (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
4. Kesultanan Adipati Gerbang Hilir
5. Kesultanan Adipati Jayakarta
6. Kesultanan Adipati Manonjaya (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
7. Kesultanan Adipati Pajang
8. Kesultanan Adipati Pakuan (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
9. Kesultanan Adipati Sukapura (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
10. Kesultanan Adipati Sumenep (Sebagian dari Raja-Raja Sumenep adalah Keturunan Azmatkhan dari Jalur Fadhal Ali Al-Murthadha)
11. Kesultanan Adipati Tasikmalaya (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
12. Kesultanan Ampel Denta – Surabaya
13. Kesultanan Banten
14. Kesultanan Campa (Kamboja)
15. Kesultanan Cirebon Larang / Carbon Larang
16. Kesultanan Demak Bintoro (Dinasti yang memerintah dari Al-Mukhrowi (Al-Husaini jalur Persia) tetapi ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
17. Kesultanan Giri Kedaton
18. Kesultanan Kacirebonan – Cirebon
19. Kesultanan Kanoman – Cirebon
20. Kesultanan Kasepuhan – Cirebon
21. Kesultanan Kedah – Malaysia (Ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
22. Kesultanan Kelantan – Malaysia
23. Kesultanan Mangkunegaran (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
24. Kesultanan Mataram Islam (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
25. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
26. Kasunanan Surakarta Hadiningrat (ada tautan dari pihak wanita Azmatkhan)
27. Kesultanan Pakualaman
28. Kesultanan Palembang Darusalam
29. Kesultanan Patani – Thailand
30. Kesultanan Sumedang Larang / Sunda Larang
31. Kesultanan Surabaya (Kelanjutan Kesultanan Ampel Denta)
32. Kesultanan Ternate
33. Keratuan Darah Putih, Lampung
34. Kerajaan Islam Tawang Alun Macan Putih, Banyuwangi
35.

DAFTAR KEPUSTAKAAN (BUKU-BUKU YANG MENJELASKAN) TENTANG AZMATKHAN :

1. Sayyid Ahmad bin Anbah,Umdatuth Thaalib Fii Ansaabi Aali Abi Thaalib
2. Sayyid Aki As-Samhudiy, Jawaahir Al-Aqdaini Fii Ansaabi Abnaai As-Sibthaini
3. Sayyid Abu Thalib Taqiyyuddin An-Naqiibi, Ghaayatu Al-Ikhtishoori Fii Al-buyuutaati Al-‘Alawiyyati Al-Mahfuzhati Min Al-Ghayyaari.
4. As-Sayyid Al-Muhaddits Husain bin Abdurrahman Al-Ahdali, Tuhfatuz Zaman Fii Taariikhi Saadaatil Yamani
5. As-Sayyid Abu Fadhal Muhammad Al-Kazhimi Al-Husaini, An-Nafkhah Al-Anbariyyah Fii Ansaabi Khairil Bariyyah
6. As-Sayyid Dhoomin bin Syadqam, Tuhfatul Azhaari Fii Ansaabi Aal An-Nabiyyi Al-Mukhtaari
7. As-Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Attas, Uquud Al-Almaas
8. Sayyid Jamaluddin Abdullah Al-Jurjaani Al-Husaini, Musyajjarah Al-Mutadhammin Ansaabi Ahlilbaiti Ath-Thaahiri
9. As-Sayyid Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin ‘Amiiduddin Al-Husaini An-Najafiy, Kitab Bahrul Ansaabi
10. As-Sayyid Murtadha Az-Zabiidi, Al-Musyajjir Al-Kasysyaaf Li Ushuulis Saadah Al-Asyraaf
11. As-Sayyid Husain bin Muhammad Ar-Rifaa’i Al-Mishri, Bahrul Ansaabil Muhiith
12. As-Sayyid ‘Ali bin Abi Bakar asy-Syakran, Al-Jawaahir As-Saniyyah Fii Ansaabi Al-Husainiyyah
13. As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur Al-Husaini Al-Hadrami, Kitab Syamsuzh Zhahiirah
14. As-Sayyid Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff, Khidmah Al-‘Asyiirah Bi Tartiibi wa Talkhiishi Wa Tadzliili Syamsizh Zhahiirah
15. As-Sayyid Dhiyaa’u Syihaab, Ta’liiqaat Mabsuuthah Wa Mufashsholah ‘Alaa Syamsizh Zhahiirah
16. As-Sayyid Umar bin Alawi Al-Kaff, Al-Faraayid Al-Jauhariyyah Fii Tarraajumi Asy-Syaharah Al-‘Alawiyyah
17. As-Sayyid Umar bin Abdurrahman bin Shihabuddin, Syajaratul Alawiyyah
18. As-Sayyid Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Kitab Al-Mu’jam Al-Lathif
19. As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini, Ansaabi Wali Songo,
20. As-Sayyid Abi Al-Mu’ammar Yahya bin Muhammad bin Al-Qasim Ba’alawi Al-Husaini, Kitab Abnaaul Imam Fii Mishra Was Syaami Al-Hasani Wal Husaini,
21. As-Sayyid Al-Qalqasandiy Al-Hasani, Nihaayatul Urabi Fi Ma’rifati Al-Ansaabi Al-‘Arabi,
22. Al-Imam Abi Sa’di Abdil Karim bin Muhammad bin Mansur At-Tamimiy As-Sam’aaniy, Kitab Al-ansaab
23. Al-Imam Ahmad bin Yahya bin Jabir Al-Balaadiri,Kitabu Al-Jumali Min Ansaabil Asyraaf

Perbincangan Isu Wahabi Syiah Dan Fahaman Liberal Kenapa Berbeza Kita?


Sheikh Ali Gumaat Mufti Mesir

Sheikh Ali Gumaat Mufti Mesir

Pandangan Ulama Sunni Tentang Wahabi
Gerakan Wahabi Salafi–yang dikenal dengan ideologi takfir (mengkafirkan, mem-bid’ah-kan, men-syirik-kan sesama muslim)– adalah gerakan yang mengklaim dirinya sebagai gerakan pemurnian akidah (tauhid) dan mengikuti langkah ulama terdahulu atau ulama salaf. Karena itu gerakan ini disebut dengan berbagai nama seperti Wahhabi merujuk pada nama pendirinya Muhammad bin Abdul Wahhab, Ahli Tauhid dan Salafi atau Wahabi Salafi. Di dunia Arab, mereka lebih sering disebut dengan istilah harakatul Wahhabiyah As-Saudiyah (حركة الوهابية السعودية) atau gerakan Wahabi Arab Saudi karena memang didirikan dan berpusat di Arab Saudi.

Banyak ulama non-Wahabi yang memberi nilai negatif pada gerakan ini. Tidak mengherankan, karena gerakan ini tidak memiliki sikap kompromi dan tidak pernah menilai positif kecuali kepada dirinya sendiri. Dan banyak label kurang sedap dialamatkan pada gerakan yang pendanaan penyebarannya didukung penuh oleh kerajaan Arab Saudi ini. Sebutan itu antara lain seperti “gerakan militan”, gerakan ekstrim, ideologi teroris, neo-Khawarij sampai gerakan sesat.

Berikut beberapa pendapat ulama Sunni non-Wahhabi kontemporer terhadap Wahabi Salafi:

1. Dr. Ali Jumah, mufti Mesir mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan militan dan teror. [1]

2. Dr. Ahmad Tayyib, Syekh al-Azhar mengatakan bahwa Wahabi tidak pantas menyebut dirinya salafi karena mereka tidak berpijak pada manhaj salaf.[2]

3. Dr. Yusuf Qardawi, intelektual Islam produktif dan ahli fiqh terkenal asal Mesir, mengatakan bahwa Wahabi adalah gerakan fanatik buta yang menganggap dirinya paling benar tanpa salah dan menganggap yang lain selalu salah tanpa ada kebenaran sedikitpun.[3] Gerakan Wahabi di Ghaza, menurut Qardawi, lebih suka memerangi dam membunuh sesama muslim daripada membunuh Yahudi.[4]

4. Dr. Wahbah Az-Zuhayli (وهبة الزحيلي), mufti Suriah dan ahli fiqh produktif, menulis magnum opus ensiklopedi fiqh 14 jilid berjudul Al Muwsuatul Fiqhi al-Islami (الموسوعة الفقه الإسلامي ) . Az-Zuhayli mengatakan seputar Wahabi Salafi (yang mengafirkan Jama’ah Tabligh): “mereka [Wahabi] adalah orang-orang yang suka mengkafirkan mayoritas muslim selain dirinya sendiri.”[5]

5. KH. Agil Siradj, ketua PBNU, mengatakan dalam berbagai kesempatan melalui artikel yang ditulisnya, wawancara tv, dan seminar bahwa terorisme modern berakal dari ideologi Wahabi.[6]

6. Syekh Hisyam Kabbani, ketua tariqah Naqshabandi dunia, mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan neo-Khawarij.[7] Yaitu aliran keras yang menghalalkan darah sesama muslim dan terlibat dalam pembunuhan khalifah ke-3 Utsman bin Affan.

========================
CATATAN DAN RUJUKAN

[1] لكننا لم نر من السلفيين الحاليين سوى التشدد والإرهاب والتعصب والدم “Yang saya lihat dari [Wahabi] Salafi hanyalah [gerakan] ekstrim, teror, fanatik dan [haus] darah.” Lihat detailnya: http://www.anbacom.com/news.php?action=show&id=8028.

[2] Lihat wawancaranya di: http://www.youtube.com/watch?v=N_vrTRXujBM

[3] هو التعصب له ضد الأفكار الأخري وهو قائم علي المذهب الحنبلي، ولكنهم لا يرون ولا يؤمنون إلا برأيهم فهم يعتبرون أن رأيهم صواب لا يحتمل الخطأ، ورأي غيرهم خطأ لا يحتمل الصواب Lihat detail: libyan-national-movement.org/article.php?artid=2630

[4] Lihat wawancaranya dengan tv Al Jazeera di: youtube.com/watch?v=y2NcYwEqX7M

[5] الذين يكفرون كما يكفرون أغلب المسلمين غيرهم. Lihat afatih.wordpress.com/2011/12/12/jamaah-tabligh-gerakan-sesat.

[6] Lihat antara lain “Wahabi Mengajarkan Kekerjasan” di: syamsuri149.wordpress.com/2011/12/18/ketua-pbnu-kh-said-agil-siradj-wahabi-mengajarkan-kekerasan/ Dalam artikel tersebut dijelaskan ada 12 yayasan yang didanai Arab Saudi untuk menyebarkan ideologi Wahabi Salafi.

[7] Kabbani mengatakan, “Belakangan ini, beberapa ulama mengritik aliran Wahabi atau “salafî” sebagai kelompok yang secara politik tidak benar. Praktik mengafirkan menjadi ciri utama yang bisa dikenali dari kelompok neo-Khawarij pada masa modern ini. Mereka kelompok yang senang menghantam orang-orang Islam dengan tudingan kafir, bidah, syirik, dan haram, tanpa bukti atau pembenaran selain dari hawa nafsu mereka sendiri, dan tanpa memberikan solusi selain dari sikap tertutup dan kekerasan terhadap siapa pun yang berbeda pendapat dengan mereka. ” Lihat lebih detail: http://groups.yahoo.com/group/Cahaya-Hati/message/2905

Wahabiyah Ujian Allah Ke atas Umat Islam

Wahabiyah Ujian Allah Ke atas Umat Islam

(ini bukan pandangan BABA SYARIF) Sekarang ini timbulnya pelbagai persoalan mengenai isu fahaman Wahabi, Islam liberal mahupun fahaman Syiah di Malaysia. Tidak salah rasanya melontarkan pandangan, tetapi jangan secara melulu tanpa merujuk kepada yang lebih pakar. Yang mungkin menjadi isu pentingnya, ramai yang berlagak boleh tafsiral-Quran dan hadis sendiri padahal ilmu hadis dan Quran hanya cukup makan sahaja.

Tidak perlu rasanya ada perasaan takut, taksub ataupun melatah contohnya zakat ikut fahaman Wahabi la, pergi Mekah ikut Mazhab Maliki. Kita sudah ada ulama-ulama yang sedia memberikan penerangan dan memberikan panduan, boleh bertanya kepada mereka jika ada sebarang persoalan. Apa gunanya ulama yang ada pada hari ini yang dijadikan sebagai “pewaris nabi” kalau kita rasa kita lagi hebat dari mereka dengan membuat tafsiran baru.

rujukan dari :http://beritasemasa.com/kesan-fahaman-wahabi-islam-liberal-syiah-di-malaysia

Mungkin artikel ini boleh membantu :

Perjelasan Isu Wahabi

Perjelasan Isu Wahabi

FELO Kehormat Institut Pemikiran dan Tamadun Islam Antarabangsa(Istac), Dr Muhammad Uthman El-Muhammady mendedahkan sejak kebelakangan ini aliran selain Ahli Sunnah Wal Jamaah seperti fahaman Syiah dan Islam liberal mula menyerang negara menyebabkan sebahagian masyarakat terpengaruh. Beliau yang menjadi ahli panel pada Wacana Ilmu bertajuk Ahli Sunnah Wal Jamaah anjuran akhbar Berita Harian dan Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (Yadim), baru-baru ini melahirkan kebimbangan masyarakat dan negara akan berdepan pelbagai masalah jika perkara itu tidak didedahkan.

Beliau mengatakan ramai yang mempertikaikan kita menggunakan kitab lama, kononnya tidak moden yang lebih menggerakkan masyarakat kepada Fahaman Islam liberal. Masyarakat dibimbangi tidak didedahkan dengan fahaman betul mengenai Ahli Sunnah yang menjadi pegangan Majlis Agama Negeri dan Fatwa Kebangsaan dan boleh menimbulkan pelbagai masalah termasuk boleh mengancam keselamatan negara.

Sejauh mana fahaman Syiah, aliran Wahabi dan Islam Liberal mempengaruhi pemikiran umat Islam, Pengarah Penyelidikan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim), Razali Shahabudin berkata, sukar menafikan wujud segelintir umat Islam negara ini dipengaruhi unsur bertentangan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah dan amalan mazhab Syafi’ie. Beliau berkata, setakat ini Jakim dengan kerjasama Jabatan Agama Islam Negeri (Jain) serta pihak keselamatan melalui peruntukan undang-undang dan dasar kerajaan berjaya membendung penularan fahaman berkenaan.

Beliau berkata, fahaman Syiah dan Islam liberal bahaya terhadap umat Islam kerana alasan yang berbeza. Fahaman Syiah diharamkan di negara ini melalui keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan pada 1996 berdasarkan percanggahan dengan akidah, syariah dan akhlak Ahli Sunnah Wal-Jamaah. Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan yang bersidang pada 3 Mei 1996 membuat keputusan menetapkan umat Islam di Malaysia hendaklah hanya mengikut ajaran Islam berasaskan pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah dari pada segi akidah, syariah dan akhlak.

Memperakukan ajaran Islam yang lain daripada pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah bercanggah dengan hukum syarak dan undang-undang Islam dan dengan demikian penyebaran apa-apa ajaran yang lain daripada pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah dilarang. Antara penyelewengan yang dikenal pasti dalam fahaman Syiah ialah imam adalah maksum, khalifah diwasiatkan secara nas, menolak ijmak ulama, menolak qiyas dan mengamalkan nikah mutaah.

Sementara fahaman Wahhabiyah pula tidak sesuai diamalkan di negara ini kerana dikhuatiri boleh membawa kepada perpecahan umat Islam. Itu adalah hasil daripada perbincangan beberapa kali pada Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan. Semua keputusan adalah menyekat penularan fahaman Wahhabiyyah atas alasan isu khilafiyyah fiqhiyyah yang dibangkitkan boleh menggugat perpaduan umat Islam di Malaysia. Bagaimanapun keputusan itu tidak memutuskan Wahhabiyyah sebagai ajaran sesat. Razali berkata, mengenaifahaman Islam liberal pula setakat ini tidak wujud mana-mana individu atau organisasi di Malaysia yang menubuhkan apa-apa kumpulan atas nama Islam liberal seperti berlaku di Indonesia.

Beliau berkata, ajaran sesat dan sebarang ajaran baru menyalahi tradisi Ahli Sunnah Wal Jamaah di negara ini yang berpegang kepada akidah Asya’irah-Maturidiyyah dan fiqh Syafi’ie, sudah tentu akan menimbulkan rasa kurang senang umat Islam.

Bukti Dari Kitab Karya Ulama Wahabi

Bukti Dari Kitab Karya Ulama Wahabi

Katanya, penyebaran ajaran sesat akan menggugat akidah serta syariah Islam sementara aliran seperti Wahhabiyyah boleh menimbulkan kekeliruan dan berakhir dengan krisis perpaduan jika tidak dibendung dan ditangani.

Berdasarkan rencana Fahaman Wahabi Berasaskan Pemikiran Ibnu Taimiyyah di laman web Jakim bertarikh 19 Disember 2006, pada prinsipnya fahaman Wahabi membuat terjemahan serta tafsiran al-Quran dan hadis sebulat-bulatnya mengikut fahaman pemimpin mereka. Penerapan fahaman Wahabi di kalangan umat Islam di negara ini sejak berkurun lama berakar umbi dengan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah menimbulkan salah faham di kalangan umat Islam. Orang awam yang kurang mahir selok belok mazhab lebih baik bertaklid dengan pegangan mazhab sedia ada.

Timbalan Menteri di Jabatan Perdana Menteri Senator Datuk Dr Mashitah Ibrahim mengatakan Majlis Fatwa Kebangsaan tidak pernah mengkategorikan fahaman Wahabi sebagai salah dan sesat di negara ini

“Kalau kita kata sesat, maknanya kalau kita pergi Mekah, kita tak bolehlah sembahyang dengan tok imam di Mekah. Tidak sah. Habislah jemaah haji kita. Dia (Wahabi) tak sesat, cumanya ia bergantung kepada kesesuaian di negara kita,”

Antara ajaran fahaman Wahabi ialah tidak mengamalkan bacaan doa qunut dan Yasiin selain tidak mengadakan tahlil dan tidak berzikir selepas solat seperti amalan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Hakikatnya fahaman Wahabi tidak membawa pemikiran baru mengenai akidah. Mereka hanya mengamalkan apa yang dikemukakan Ibnu Taimiyyahdalam bentuk yang lebih keras berbanding apa yang diamalkan Ibnu Taimiyyah sendiri.

Perkembangan fahaman Wahabi dan penerapan mazhab lain dalam masyarakat Islam di negara ini tidak dapat dielakkan kerana kesan globalisasi ilmu di dunia hari ini.

Pandangan Baba Syarif:ajaran Wahabi memang tidak bawa ajaran yang baru tapi Wahabi adalah PENERUS dari fahaman MUJASSIMAH MUTASYABIHAH AL HASYWIYAH juga KHAWARIJ, fahaman sesat yang mengisbatkan Allah bersifat seperti makhluk, berjirim dan berjisim, dan mereka juga tak segan menyesatkan orang lain yang tak sefahaman dengan mereka malah mereka mengatakan kafir kepada selain golongan mereka, sila mendalami dalam mengkaji fahaman ini betul betul, semoga Allah jauhkan kita semua dari ajaran kembarnya kepada ajaran BAHAIYAH BABIYAH dan AHMADIYAH QADYANIYAH ini.

Sejarah Ringkas Kaum Mujassimah


Kaum musyabbihah ertinya kaum yang menyerupakan. Kaum musyabbihah digelari kaum musybih (menyerupakan) kerana mereka menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka mengatakan bahawa Allah bertangan, berkaki, bertubuh seperti manusia.

Ada juga orang yang menamakan kaum ini dengan “kaum mujassimah”, yakni kaum yang mengisbatkan tubuh kerana mereka mengisbatkan tubuh bagi Allah. Mereka mengatakan Allah bertubuh terdiri daripada darah, daging, bermuka, bermata, bertangan, berkaki bahkan ada yang mengatakan bahawa Allah itu mempunyai alat kelamin dan kelaminnya itu laki-laki. (lihat syarah nahjul Balaghah juzuk iii, hal. 255).

Ada juga orang yang menamakan mereka dengan “kaum hasyawiyah”.

Hasyawiyah ertinya percakapan kosong, percakapan di luar batas, percakapan hina-dina. Jadi, mereka itu adalah kaum “bercakap kosong”.

Kebanyakan kaum musyabbihah atau mujassimah ini berasal dari orang-orang yang bermazhab Hanbali, tetapi Imam Ahmad bin Hanbal tidak berkeyakinan dan tidak beraqidah sebagaimana mereka.

Imam-imam dan guru-guru besar kaum musyabbihah di antaranya adalah;

1) Abu Abdillah bin Hamad bin ‘Ali al-Bogdadi al-Warraq (meninggal 403H). beliau ini pengarang kitab usuluddin yang bernama “syarah usluddin”, di mana dihuraikan banyak tentang tashbih, yakni keserupaan Allah dengan makhluk.

2) Qadhi Abu Ja’la Muhammad bin Hussein bin Khalaf bin Farra’ al-Hanbali (meninggal 458H). beliau ini banyak mengarang kitab usuluddin yang banyak memperkatakan tentang tashbih. Ada ulama’ mengatakan bahawa : “aib yang dibuat oleh Abu Ja’la ini tidak dapat dibersihkan dengan air sebanyak air laut sekalipun”.

3) Abu Hassan Ali bin Ubaidillah bin Nashar az-Zugwani al-Hanbali (meninggal 527H). beliau pengarang sebuah buku usuluddin yang bernama “al-Idah”, di mana banyak menerangkan soal tashbih dan taklim.

4) Ja’ad bin Dirhan.

5) Bayan bin Ismail.

6) Muhammad bin Kiram (meninggal 256H).

7) Hisyam al-Juwaliqi.

8) Yunus bin Abdirrahman.

9) ‘Ali bin Mansur.

*Nombor (6) sampai (9) ini memfatwakan bahawa Allah itu bertempat, dan tempatnya di atas, boleh ditunjuk dengan telunjuk ke atas.

10) Muaz al-Anbari yang memfatwakan bahawa Allah lelaki.

11) Daud al-Jawarihi yang memfatwakan bahawa Allah itu mempunyai anggota serupa dengan anggota manusia seluruhnya.

12) Dan ramai lagi.

Seorang ulama’ Islam daripada kaum ahlussunnah wal jamaah bernama Jamaluddin Ibnu al-Jauzi al-Hanbali (ini bukan Ibnul Qayyim al-Jauzi) telah mengarang sebuah kitab untuk menolak fahaman kaum musyabbihah ini yang diberi nama “Daf’u Syubahit Tashbih war Rad ‘alal Mujassimah” (penolak syubhah tashbih dan penentang kaum mujassimah).
Diolah bahasa oleh al-Faqir daripada kitab i’tiqad ahlusunnah wal jamaah oleh Kiyai Haji Sirajuddin Abbas.
http://al-amindaud.blogspot.com

Adakah Wahbah Az-Zuhaily Pro Wahhabi?


Disediakan oleh;
Abu Lehyah Al-Kelantany
0133005046
http://abulehyah.blogspot.com/

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمدلله رب العالمين, مكون الأكوان, مدبر الأزمان, الموجود أزلا وأبدا بلاكيف ولاجهة ولامكان , والصلاة والسلام على محمد سيد الأنبياء والمرسلين, وعلى ءاله الطاهرين وصحابته الطيبين, اما بعد

Firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang seorang fasiq kepada kamu membawa berita, periksalah ia terlebih dahulu. Agar nanti jangan kamu menghukum sesuatu kaum dalam keadaan jahil (terhadap apa yang benar), lantas kamu kemudiannya menyesal atas apa yang telah kamu lakukan” (Surah Al-Hujurat 49 : 6)

Kebenaran itu adalah bilamana seseorang itu bertepatan dengan Al-Quran dan Al-Hadits, juga Ijmak ulamak. Tetapi bila seseorang rebah dek kerana harta benda, lantas tidak lagi memandang kepada kebenaran, sanggup bersetongkol dengan golongan Al-Wahhabiyah untuk mendapatkan kemasyhuran, mencari populariti ramai, ketika itu beliau bukan lagi sandaran bagi umat Islam. Bahkan beliau sendiri menjadi musuh di dalam selimut yang menikam di sebalik tabir. Cinta dunia sebegini ibu segala kejahatan, kerana tamak haluba kepada harta benda dan populariti sanggup seseorang itu menggadai agama tercinta kepada golongan al-Wahhabiyah. Maka tidak pelikla kalau selama ini kenapa Wahbah Zuhaily sering berulang-alik ke Saudi Arabia dan boleh mempunyai hubungan yang erat dengan Masyayiekh Wahhabiyah di sana.

Kebenaran tetap kebenaran. Janganlah kita mencintai seseorang itu sebelum ditimbang dengan neraca syarak segala perbuatan, iktiqod dan berbuatannya. Itulah pesanan kebanyakan guru-guru hamba di pondok. Perbincangan berkaitan dengan topik kali ini memerlukan dada yang lapang tanpa bersikap taasub kepada mana-mana pihak. Keluarnya Al-Wahhabiyah dari kelompok Ahlus Sunnah Wal-jama’ah adalah sesuatu yang mashyhur dan tidak dapat dipertikaikan lagi. Oleh itu, pandangan Wahbah Zuhaiy ditolak oleh Ulamak-ulamak Islam, kerana sayz beliau dari ulamak-ulamak yang muktabar yang berjuang menjaga keutuhan dan kelestarian Akidah Islamiyah.

Sikap yang amat mengecewakan,Wahbah Zuhaily memuji dan menggelarkan Muhammad Bin Abdul Wahhab sebagai Mujaddid “secara zuran wa buhtanan”. Wahbah Zuhaily mengatakan didalam kitabnya ini bahawa Muhammad Abdul Wahhab sebagai “Ketua Pembangunan dan Pembaharuan Agama yang amat dinanti-nantikan”( Za’im An-Nahdhothi Ad-Diniyyaty al-Ishlaahiyyaty Al-Muntazhor”. Muhammad Abdul wahhab pada tanggapan Wahbah Zuhaily sebagai orang yang memperbetulkan akidah Islam (ala za’mihi). Padahal yang sebenarnya Muhammad Abdul Wahhablah yang telah mengkafirkan Umat Islam secara keseluruhannya. Cuba lihat di dalam kitab Kash Syubuhaat.
Mufti Mazhab Syafi’e Ahmad bin Zaini Dahlan W 1304H yang merupakan tokoh ulama Mekah pada zaman Sultan Abdul Humaid menyatakan dalam kitabnya “ Ad-Durarus Saniyyah Fir Roddi ‘Alal Wahhabiyah m/s 42: “ Wahhabiyah merupakan golongan pertama yang mengkafirkan umat islam 600 tahun sebelum mereka dan Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: Aku membawa kepada kamu semua agama yang baru dan manusia selain pengikutku adalah kafir musyrik ”.
Mufti Ahmad Zaini Dahlan menyebut lagi di dalam karya tulisannya (( Umaraa-ul Baladil Haram )) m/s 297-298, cetakan Ad-Dar Al-Muttahidah Lin-Nasyr : “ Sesungguhnya golongan Al-Wahhabiyyah apabila memasuki Taif, mereka telah melakukan jenayah pembunuhan secara menyeluruh, dan mereka menguasai orang dewasa dan kanak-kanak, rakyat dan juga pemimpin, membunuh golongan syarif (ahlul bait) dan juga kanak-kanak kecil yang masih lagi di dalam susuan ibunya, tatkala itu mereka menyembelih hidup-hidup kanak-kanak kecil yang masih menyusu di pangkuan ibu mereka, mereka membunuh umat Islam di rumah-rumah dan di kedai-kedai kecil. Apabila mereka mendapati ada satu jemaah umat Islam mengadakan pengajian Al-Quran , lalu bersegera mereka membunuh jemaah tersebut sehingga tiada lagi yang tinggal di kalangan mereka. Kemudian mereka keluar ke masjid –masjid , mereka membunuh seorang lelaki yang sedang rukuk atau sujud dalam solat, dan mereka melakukan rampasan wang-wang dan harta benda, kemudian mereka memijak-mijak mashhaf dengan kaki-kaki mereka, manakala naskhah kitab-kitab Imam Bukhary dan Muslim dan kitab-kitab yang lain dalam bidang hadits, fiqh dan nahu selepas mereka tebarkan di jalanan dan di kawasan-kawasan tanah rendah. Mereka mengambil harta benda orang muslimin, lalu mereka membahagikannya di antara mereka sebagaimana dibahagikan harta rampasan perang (ghanimah) hasil peperangan dengan golongan kuffar.”
Inilah Bukti Wahbah Zuhaily memuji Muhamad Abdul Wahhab, mari kita sama-sama lihat..;

عنده كتاب يسمى : مدى تأثر الدعوات الإصلاحية بدعوة الشيخ محمد بن عبد الوهاب.

((PENGARUH SERUAN-SERUAN PEMBAHARUAN ISLAM OLEH MUHAMMAD BIN ABD WAHHAB))

OLEH WAHBAH ZUHAILY,
SALAH SEORANG TENAGA PENGAJAR FIQH DAN USUL FIQH,
DI KULIYAH SYARI’AH UNIVERSITI DAMSYIQ
untuk sambungan artikel ini sila ke link: http://www.jihadwahabi.blogspot.com/ sekian t.kasih.

Kenyataan Rasmi JAKIM: Wahhabi Adalah Musyabbihah


Kenyataan Rasmi JAKIM: Wahhabi Adalah Musyabbihah

JAKIM: AWAS! WAHHABI ADALAH MUSYABBIHAH

Rujuk sepenuhnya di :
http://baheis.islam.gov.my/web/musykil_new.nsf/0/333B620BF2A286854825747B003E17EF

Golongan musyabbihah dari zaman dahulu lagi, sebelum kedatangan Ibn Taimiah hinggalah dewasa ini sentiasa bertungkus- lumus untuk menyatakan bahawa Allah Ta’ala ada bertempat dengan menggunakan istilah-istilah yang berbeza. Di kalangan mereka berhujahkan dengan ayat al Quran الرحمن على العرش استوى dengan menafsirkan ayat tersebut mengikut hawa nafsu mereka atau mengikut ulama-ulama musyabbihah wahabiah, dan banyak lagi hujah-hujah mereka yang batil untuk mensabitkan ‘tempat’ bagi Allah.

Mereka(golongan musyabihah) juga mengatakan Allah ada tempat tapi tempatNya bukanlah seperti tempat-tempat makhluk, atau pun tempatNya Dia sahaja yang tahu. …Subhanallah …manusia jenis apakah yang mengatakan sedemikian sehingga ada niat yang jahat untuk mengatakan Allah mempunyai tempat. Dari hujah manakah mereka ambil sehingga boleh menghukumkan orang yang berpegang aqidah ‘Allah ada tanpa bertempat’ ini dari Muktazilah dan Jahmiah?.

Kenyataan yang mengatakan ‘aqidah Allah ada tanpa bertempat’ adalah aqidah Muktazilah’ bererti telah menghukum salah seorang sahabat Nabi iaitu Saidina Ali sebagai muktazilah, kerana beliau telah menafikan ‘tempat’ bagi Allah. Saidina Ali telah berkata:

كان الله ولا مكان

Maknanya: Allah ada tanpa tempat

Status
Selesai – Paparan Web.
Nombor Rujukan
PANEL SJAI 090708
Tarikh Selesai
09/07/2008 12:18 PM

Nota:
1. Jawapan kepada soalan disediakan oleh Panel Kemusykilan Agama, JAKIM

Rujuk Kenyataan Rasmi JAKIM tersebut sepenuhnya di:
http://baheis.islam.gov.my/web/musykil_new.nsf/0/333B620BF2A286854825747B003E17EF