Poligami Dengan Berbagai hikmahnya


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Al-Qur’an dengan jelas telah membolehkan seorang suami berpoligami (An-Nisa’:3). Hal ini diberikan Allah sebagai jalan untuk menyelesaikan salah satu perso’alan hidup dan kehidupan manusia. Namun, dari dahulu hingga sekarang, masih ada saja di antara umat Islam sendiri yang bersangka buruk atau enggan menerimanya sebagai perintah dari Allah, khususnya dari kebanyakan kalangan wanita.
Walau pun pada dasarnya seorang wanita sangat susah atau tidak sanggup untuk dimadu, tetapi dalam mengarungi kehidupan berumah tangga, wanita Islam haruslah memahami serta menghayati terlebih dahulu hikmah dan syarat-syarat di sebalik poligami yang dibolehkan oleh Islam. Kaum hawa tidak boleh bersikap su-udhdhon serta sengaja tidak mahu memahami atau berpura-pura tidak mau tahu mengapa dan bagaimana Islam membolehkan seorang lelaki itu berpoligami. Padahal sikap yang demikian itu sangat dilarang oleh Allah sesuai dengan firman-Nya:” Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab:36)
Bagi kaum lelaki juga demikian. Walau pun mereka telah diberikan keizinan oleh Allah untuk berpoligami, namun mereka tidak boleh menyalahgunakan keistimewaan tersebut dengan sesuka hatinya. Sebelum memutuskan untuk menambah isteri, mereka haruslahlah berfikir seribu kali sebelum hal itu dilakukan. Ada sebagian dari kaum lelaki yang menyalah gunakan keizinan Allah ini dengan tidak melihat dan mempelajari syarat-syarat, hikmah dan akibatnya, sehingga ketika mereka memasuki gerbang poligami, rumah tangga mereka langsung retak. Barangkali itulah akibat undang-undang Allah yang disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga tujuan asal berumahtangga yaitu untuk mendapatkan kehidupan yang sakinah, mawaddah dan rahmah berubah menjadi syaqawah yakni kehancuran dan kesengsaraan.
Poligami selalu menimbulkan masalah di kalangan orang banyak, terutama umat Islam. Walau bagaimanapun, Al-Qur’an dan Hadis telah menerangkan bagaimana poligami seharusnya dilaksanakan oleh umat Islam agar mereka tidak mudah terpedaya dengan fitnah-fitnah dan pendapat-pendapat yang sengaja ingin menjatuhkan Islam. Al-Qur’an dan Al-Hadis juga memberikan garis panduan agar umat Islam tidak berpoligami menurut sesuka hati dan nafsu mereka.
Perkawinan Nabi Muhammad SAW dijadikan sebagai satu bahan untuk melemahkan Islam oleh para orientalis Barat. Padahal sebelum itu para nabi yang lain juga telah beristeri lebih dari satu, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Daud, Nabi Ismail, Nabi Nuh, Nabi Ishaq, dan Nabi Sulaiman.
Agar Islam tidak tersebar dengan luas, mereka berusaha mencari-cari kelemahan Nabi Muhammad SAW yaitu dengan menuduh baginda sebagai orang yang bernafsu buas.
Umat-umat di zaman silam sebelum datangnya Islam, semuanya mengamalkan poligami dalam kehidupan mereka. Kitab Taurat sendiri telah membolehkan poligami dan tidak membatasi bilangannya. Bangsa Mesir purba juga mengamalkan praktek tersebut.
Ajaran Zaradisyt, yang menjadi peraturan hidup orang-orang Parsi, telah menganjurkan untuk berpoligami dan mengambil gundik serta perempuan-perempuan simpanan dengan alasan rakyat yang berperang senantiasa memerlukan wanita-wanita muda. Sebab itulah orang Parsi tidak mempunyai undang-undang yang membatasi bilangan isteri.
Orang-orang Romawi pula seperti Kaisar Seila mengumpulkan lima orang perempuan sekaligus dalam hidupnya sehari-hari. Kaisar Constantin dan anak-anaknya yang beragama Kristen juga melakukan poligami. Bahkan Kaisar Valentinianus II telah mengeluarkan satu undang-undang poligami. Dia memperkenankan rakyatnya mengawini beberapa orang wanita jika mereka mau. Sementara itu para paderi dan ketua gereja pada waktu itu sedikit pun tidak menentangnya. Hal ini terjadi pada pertengahan abad ke empat Masehi.
Poligami juga turut diamalkan oleh bangsa-bangsa lain seperti India purba, Babylon and Asyurian. Kemudian dalam masyarakat Cina dahulu pula terdapat satu tradisi beristeri banyak yang dikenal dengan nama bergundik. Tradisi ini membolehkan seorang suami itu menyimpan beberapa perempuan yang mereka sukai, di samping beberapa isteri yang dikawini secara sah.
Di kalangan para nabi pula dikatakan bahwa Nabi Sulaiman mempunyai seratus orang isteri. Rabbaiyun (pengikut Nabi Isa) membatasi kawin sehingga empat orang perempuan saja berdalilkan kepada Nabi Yakub yang telah mengumpulkan empat orang isteri saja.
Jadi, tidaklah heran jika sistem poligami ini telah tersebar luas di kalangan umat manusia sebelum Nabi Muhammad dilahirkan dan kebanyakan tujuan perkawinan yang dilakukan sebelum kelahiran Nabi Muhammad adalah semata-mata untuk mencari kepuasan hawa nafsu saja. Kemudian datanglah Islam yang membatasi jumlah isteri-isteri yang bisa dikawini yaitu hanya empat orang saja dengan syarat-syarat yang ketat tentunya.
Dalam agama Islam, apabila seorang lelaki akan berpoligami, hendaklah dia memenuhi syarat-syarat berikut:
Membatasi jumlah isteri yang akan dikawininya. Pembatasan ini juga bertujuan untuk membatasi kaum lelaki yang suka dengan wanita agar tidak berbuat sesuka hatinya. Di samping itu, dengan pembatasan empat orang isteri, diharapkan jangan sampai ada lelaki yang tidak menemukan isteri atau ada pula wanita yang tidak menemukan suami. Mungkin, kalau Islam membolehkan dua orang isteri saja, maka akan banyak wanita yang tidak menikah. Kalaupun dibolehkan lebih dari empat, mungkin terjadi banyak lelaki yang tidak memperoleh isteri. Jadi alangkah adilnya Allah SWT yang telah menjadikan manusia ini.
Berlaku adil. Para suami diwajibkan berlaku adil jika ingin berpoligami. Jika takut tidak akan berlaku adil dengan mengawini empat orang isteri, maka cukuplah tiga orang saja. Tetapi kalau itu pun masih juga tidak dapat bersikap adil, cukuplah dua saja. Dan kalau dua itu pun masih khawatir tidak bisa berlaku adil, maka hendaklah menikah dengan seorang saja. Perlu diketahui bahwa sikap adil ini mempunyai beberapa syarat:
a. Adil di antara para isteri. Setiap isteri berhak mendapatkan hak masing-masing dari suaminya berupa kemesraan, nafkah makan, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain yang diwajibkan Allah kepada setiap suami. Nabi bersabda:” Barangsiapa yang mempunyai dua orang isteri, lalu dia cenderung kepada salah seorang di antaranya dan tidak berlaku adil antara mereka berdua, maka kelak di hari kiamat dia akan datang dengan keadaan pinggangnya miring hampir jatuh sebelah.” (Ahmad bin Hambal)
b. Adil memberi nafkah. Dalam soal adil memberi nafkah ini, hendaklah si suami tidak mengurangi nafkah dari salah seorang isterinya dengan alasan bahwa si isteri itu kaya, kecuali isteri itu rela. Prinsip adil ini tidak ada perbedaannya antara gadis atau janda, isteri lama atau isteri baru, isteri muda atau isteri tua, yang cantik atau tidak cantik, yang berpindidikan tinggi atau yang buta huruf, kaya atau miskin, yang sakit atau yang sehat, yang mandul atau yang dapat melahirkan. Kesemuanya itu mempunyai hak yang sama sebagai isteri.
c. Adil dalam menyediakan tempat tinggal. Para ulama telah sepakat bahwa suami harus bertanggungjawab menyediakan tempat tinggal yang tersendiri untuk tiap-tiap isteri beserta anak-anaknya sesuai dengan kemampuan suami. Ini dilakukan semata-mata untuk menjaga kesejahteraan isteri-isteri dan anak-anaknya, jangan sampai timbul rasa cemburu yang tidak diingini.
d. Adil dalam giliran. Isteri berhak mendapatkan giliran suaminya menginap di rumahnya sama lamanya dengan waktu menginap di rumah isteri-isteri yang lain. Walau ada di antara mereka yang dalam keadaan haid, nifas atau sakit, suami wajib adil dalam masalah ini. Sebab tujuan perkawinan dalam agama Islam bukanlah semata-mata untuk mengadakan hubungan badan dengan isteri pada malam giliran itu, tetapi bermaksud untuk menyempurnakan kasih sayang dan kerukunan hidup antara suami-isteri.(Al-Rum:21)
Anak-anak juga berhak untuk mendapatkan perlindungan, pemeliharaan serta kasih sayang yang adil dari seorang ayah. Disyaratkan atas setiap suami yang berpoligami tidak membeda-bedakan antara anak si A dengan anak si A. Berlaku adil dalam soal nafkah anak-anak haruslah diperhatikan bahwa anak yang masih kecil berbeda dengan anak yang sudah besar. Anak perempuan berbeda dengan anak lelaki.
Sesungguhnya kalau kita perhatikan tentang tuntutan Syari’ah dalam hal menegakkan keadilan di dalam membagi giliran dan nafkah di antara para isteri, ternyata sangat sukar dan dan berat sekali untuk menegakkannya.
Malah bersikap adil dalam hal kasih sayang dan kecenderungan hati kepada para isteri itu lebih berat daripada membagi giliran dan nafkah karena hal itu diluar kemampuan manusia, seperti apa yang ditegaskan Allah:” Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isterimu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” (An-Nisa’:129). Oleh sebab itu, ada sebuah Hadis dari Aisyah bahwasannya Rasulullah telah membagi giliran di antara para isterinya secara adil lalu mengadu kepada Allah dalam do’anya:” Ya Allah, inilah pembagian giliran yang mampu aku penuhi dan janganlah Engkau mencela apa yang tidak mampu aku lakukan.” (Abu Daud, Tirmidzi dll.)
Tidak menimbulkan huru-hara di kalangan isteri maupun anak-anaknya. Seorang suami harus yakin bahwa perkawinannya yang baru tidak akan merusakkan kehidupan isteri serta anak-anaknya. Diperbolehkannya poligami dalam Islam adalah bertujuan untuk menjaga kepentingan semua pihak. Jika kepentingan semua pihak tidak dapat dijaga dengan baik, maka seseorang yang berpoligami pada saat itu telah melakukan dosa kepada Allah.
HIKMAH BERPOLIGAMI DALAM ISLAM
Islam membolehkan umatnya berpoligami bukanlah tanpa alasan atau tujuan tertentu. Dibolehkannya berpoligami ini mempunyai hikmah dan kepentingan serta kesejahteraan umat Islam itu sendiri. Di antaranya ialah:
Wanita itu mempunyai dua halangan yaitu haid dan nifas. Dalam keadaan begini, Islam membolehkan berpoligami dengan tujuan dalam menggauli salah seorang isterinya yang tidak berhalangan ketika itu. Dengan demikian, dapatlah menyelamatkan suami dari perbuatan zina di saat-saat isterinya berhalangan.
Untuk mendapatkan keturunan karena isteri mandul tidak dapat melahirkan anak atau isteri sudah terlalu tua dan sudah terputus haidnya. Dengan berpoligami diharapkan agar dapat terhindar dari perceraian karena isteri mandul atau sakit atau sudah terlalu tua.
Lelaki itu mempunyai daya seks yang berbeda. Jika suami mempunyai daya seks yang luar biasa, sedangkan isterinya tidak dapat mengimbanginya atau sakit atau masa haidnya terlalu lama, maka berpoligami pada waktu itu adalah langkah terbaik untuk memelihara serta menyelamatkan suami dari lembah perzinaan.
Untuk memberi perlindungan dan penghormatan kepada kaum wanita dari keganasan dan kebuasan kaum lelaki yang tidak dapat menahannya. Kalaulah poligami tidak diperbolehkan, kaum lelaki akan menggunakan wanita sebagai alat untuk kesenangannya semata-mata tanpa dibebani oleh rasa tanggungjawab. Akibatnya kaum wanita akan menjadi simpanan atau pelacur yang tidak dilayani seperti isteri serta tidak pula mendapatkan hak perlindungan untuk dirinya.
Untuk menghindari kelahiran anak-anak luar nikah sekaligus agar keturunan masyarakat terpelihara dan tidak disia-siakan kehidupannya. Dengan demikian dapat pula menjamin kemuliaan umat Islam secara keseluruhan.
Dengan keterangan-keterangan di atas jelaslah bahwa dibolehkannya poligami bukanlah untuk memenuhi nafsu seks saja bagi kalangan kaum lelaki tetapi mempunyai maksud serta tujuan untuk kemaslahatan umat Islam seluruhnya. Islam juga tidak memandang remeh akan syarat-syarat yang telah diharuskan kepada suami yang berpoligami. Sebab itulah, Allah memperingatkan dengan tegas bahwasannya tanggungjawab berpoligami itu sangat berat. Jikalau ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah itu tidak dapat dipenuhi oleh setiap suami yang berpoligami maka dia berdosa dan hal seperti ini tentunya bertentangan dengan ajaran Islam. Wallahu A’lam.(Muhaemin Karim,MA).
http://mdiqrohk.multiply.com/journal/item/3/Poligami_Dengan_Berbagai_hikmahnya

Hikmah Amalan Poligami


POLIGAMI

Poligami ialah amalan berkahwin lebih dari seorang wanita. Amalan ini sering dikaitkan oleh musuh-musuh Islam sebagai bahan untuk memburuk-burukkan dan merendah-rendahkan agama yang suci ini. Monogami pula ialah amalan berkahwin dengan seorang wanita sahaja.

MENGAPA HANYA EMPAT ISTERI?

Sebelum kedatangan Islam, banyak kaum dari pelbagai bangsa yang membenarkan umatnya mengahwini lebih dari seorang wanita. Dan bilangan yang dibenarkan pula tidak menentu, bahkan ada yang mengahwini hingga berpuluh-puluh dan beratus-ratus wanita.

Kemudian datanglah Islam membawa keadilan dan kesederhanaan dengan menetapkan tahap maksima empat orang isteri sahaja dalam satu masa. Ini dapat dibuktikan dengan beberapa buah hadis, di mana Ghailan al-Thaqafi ketika memeluk Islam ada bersamanya sepuluh orang isteri, Qais mempunyai lapan orang isteri dan Naufal pula lima orang isteri. Kemudian Rasulullah s.a.w. memerintahkan agar memilih empat orang darinya sahaja.

Bilangan empat orang isteri bila ditinjau dari sudut lain pula amatlah bersesuaian dengan kemampuan seorang lelaki, di mana setiap seorang dari empat orang isterinya itu mengalami pusingan haidh seminggu setiap bulan. Di samping itu juga dengan empat orang isteri sudah cukup untuk menegah seorang lelaki dari melakukan perkara-perkara yang menyimpang dari syariat Islam, termasuklah perbuatan menyimpan perempuan-perempuan jalang untuk memenuhi kehendak nafsunya.

Manakala bilangan yang melebihi dari empat pula, adalah dikhuatiri akan berlaku zalim oleh lelaki terhadap kaum wanita dengan kurangnya kemampuan memberikan hak-hak yang telah diwajibkan, samada hak pembahagian, nafkah atau jimak.

Kesimpulan yang dapat diambil ialah, bilangan empat adalah suatu bilangan yang adil dan sederhana. Ia dapat memelihara kaum wanita dari penganiayaan dan penindasan.

HIKMAT POLIGAMI

Menurut Dr. Yusof al-Qadhawi, bahawa sesungguhnya Islam adalah kalimah Allah yang terakhir di mana dengannya merupakan penutup segala risalah nabi-nabi sebelumnya. Oleh itu syariat Islam didatangkan secara menyeluruh dan abadi untuk seluruh manusia di pelusuk dunia. Ia tidak disyariatkan hanya untuk orang yang bertamadun sahaja dengan melupakan orang-orang kampung, atau untuk negara yang beriklim sejuk dengan melupakan yang beriklim panas, atau khusus untuk satu abad tertentu dengan meninggalkan abad dan jenarasi yang lain.

Sesungguhnya syariat Islam amat bersesuaian dengan setiap individu atau kumpulan, serta mampu memenuhi kehendak dan keperluan mereka semua.

Sebahagian dari manusia mempunyai keinginan yang kuat untuk memperoleh anak tetapi dia telah dikurniakan dengan seorang isteri yang tidak mampu melahirkan, kerana sakit atau sebagainya. Jadi, apakah bukan suatu kemuliaan bagi isteri dan suatu kebaikan bagi suami seandainya dia berkahwin dengan seorang wanita lain yang mampu melahirkan dengan mengekalkan isteri pertama serta diberi jaminan terhadap hak-haknya?

Sebahagian lelaki pula mempunyai keinginan syahwat seks yang terlalu kuat, tetapi dia telah dikurniakan dengan seorang isteri yang rendah keinginannya terhadap lelaki, samada kerana sakit atau mempunyai tempoh haidh yang agak lama. Dalam masalah ini lelaki tidak dapat menahan kesabarannya terhadap wanita. Dalam keadaan begini salahkah jika dia mengahwini seorang lagi perempuan secara halal sebagai ganti dari perempuan yang disimpannya secara haram?

Begitu juga, kadangkala bilangan wanita melebihi bilangan lelaki, lebih-lebih lagi ketika berlakunya peperangan yang banyak meragut nyawa kaum lelaki. Di sinilah maslahat sosial dan maslahat wanita itu sendiri perlu di dahulukan agar mereka tidak hidup sepanjang hayat dalam keadaan membujang tersisih dari satu kehidupan berumahtangga, di mana di dalamnya terdapat ketenteraman, kasih sayang, nikmat keibuan dan memenuhi seruan naluri yang sentiasa memanggilnya.

Dalam menghadapi masalah bilangan wanita berlebihan dari lelaki, terdapat tiga jalan penyelesaiannya, iaitu:

1. Wanita-wanita tersebut menghabiskan usianya dalam kepahitan kerana tidak memenuhi kehendak nalurinya.

2. Mereka memenuhi kehendak jiwa dengan mendampingi lelaki-lelaki secara haram.

3. Membenarkan mereka mengahwini lelaki-lelaki yang telah berumahtangga yang mampu memberi nafkah dan kasih sayang.

Tidak syak lagi, bahawa jalan terakhir ini adalah cara yang halal dan adil.

Dr. Wahbah al-Zuhaili pula ketika membicarakan mengenai hikmat berpoligami telah membahagikan sebab pengharusan syariat ini kepada dua, iaitu:

1. Sebab Umum, iaitu mengatasi masalah bilangan perempuan yang melebihi bilangan lelaki. Rentetan dari masalah ini timbul pula masalah lain, iaitu perlunya penambahan rakyat sesebuah negara untuk pelbagai tugas termasuk dalam bidang peperangan, pertanian dan perindustrian.

2. Sebab khusus, iaitu yang datangnya dari pihak perempuan seperti kemandulan, sakit dan sebagainya, atau dari pihak lelaki seperti mempunyai nafsu seks yang terlalu kuat dan seumpamanya.

Syed Sabiq pula telah menyatakan tentang hikmat berpoligami dengan panjang lebar. Antara yang di perkatakan oleh beliau ialah:

1. Merupakan rahmat dari Allah Taala.

2. Memperbanyakkan rakyat agar negara menjadi kuat dengan ramainya tenaga pakar dalam pelbagai teknologi. Dengan kekuatan ini, maka risalah Islam dapat disebarkan kepada seluruh manusia.

3. Melindungi janda-janda yang kematian suami ketika mempertahankan negara.

4. Sebagai jalan penyelesaian ketika menghadapi masalah kekurangan lelaki.

5. Mengatasi masalah wanita tidak dapat melakukan hubungan jenis ketika berada dalam tempoh haidh selama seminggu, tempoh melahirkan serta nifas selama 40 hari dan selepas usia putus haidh iaitu sekitar 45 atau 50 tahun. Sedangkan lelaki sentiasa dalam keadaan terbuka untuk melakukan hubungan seks sejak usia baligh sehingga mencecah usia tuanya.

6. Pengambilan syariat poligami dalam negara-negara Islam merupakan satu kebaikan yang amat besar di dalam mengekalkan bersihnya imej negara dari gejala-gejala keruntuhan nilai sosial dan hilangnya akhlak genarasi. Dapat dilihat bagaimana kesannya terhadapa masyarakat yang telah mengharamkan poligami:

i. Tersebarnya kefasikan dan kerosakan, sehingga bilangan pelacur lebih ramai dari bilangan mereka yang bersuami.

ii. Hasil dari masalah ini, ramailah lahir anak-anak haram. Di Amerika Syarikat setiap tahun seramai 100 ribu anak haram dilahirkan.

iii. Hasil dari perhubungan yang keji ini maka menularlah pelbagai penyakit fizikal dan mental.

iv. Mengalir unsur-unsur kelemahan dan ketidakupayaan di dalam jiwa.

v. Renggangnya hubungan suami isteri serta porak peranda institusi keluarga.

vi. Luput nasab yang sah, sehingga seorang suami tidak dapat memastikan dengan tepat apakah anak yang dibela itu adalah dari benihnya.

SYARAT-SYARAT POLIGAMI

Islam mengharuskan poligami dengan mengenakan dua syarat utama iaitu:

1. Dapat bersikap adil terhadap isteri-isterinya. Maksud adil di sini ialah keadilan yang mampu digapai oleh manusia, iaitu penyamarataan dari sudut material samada nafkah, pergaulan yang baik dan tempat tinggal.

Bukanlah yang dimaksudkan dengan adil disini penyamarataan dari sudut perasaan, cinta dan kecenderungan hati. Kerana perkara ini tidak mampu dilakukan oleh seseorang.

2. Kemampuan memberi nafkah. Syarak tidak membenarkan perkahwinan seorang lelaki yang ternyata tidak mampu memberi nafkah kepada isterinya, samada isterinya itu seorang, dua, tiga atau empat.

KEIZINAN DARI KADHI ATAU HAKIM UNTUK BERPOLIGAMI

Terdapat beberapa buah negara yang memperuntukkan dalam undang-undang keluarganya yang menegah seseorang suami berkahwin lebih dari seorang kecuali setelah mendapat keizinan dari kadhi atau mahkamah. Pengizinan akan diberikan setelah benar-benar dipastikan bahawa suami berkenaan akan berlaku adil dan berkemampuan memberi nafkah.

Syeikh Zakiuddin Sya’ban di dalam al-Ahkam al-Syar’iyah lil-Ahwal al-Syakhsiah telah mengkritik undang-undang ini, antaranya ialah:

1. Syarat yang dikenakan oleh Allah Taala terhadap syarat-syarat poligami hanya kepada sesiapa yang berkeinginan untuk berpoligami sahaja.

Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kahwinilah seorang sahaja) – (al-Nisaa’:3)

Jelas di sini bahawa firman ini hanya ditujukan kepada mereka yang berkeinginan berpoligami, bukan kepada orang lain samada kadhi, hakim atau mahkamah. Dan membuat penilaian terhadap rasa takut tidak berlaku adil oleh pihak selain dari suami adalah menyalahi nas al-Quran ini.

Begitu juga dengan penelitian terhadap kemampuan memberi nafkah, nas syarak hanya menghalakannya kepada pihak yang berkeinginan untuk berpoligami atau berkahwin sahaja. Sabda Rasulullah s.a.w.:

“Wahai para pemuda! Barangsiapa yang mampu mengeluarkan belanja perkahwinan hendaklah dia berkahwin…..”

2. Penyelengaraan kadhi terhadap perkara-perkara peribadi adalah sesuatu yang sia-sia, kerana kadangkala dia tidak dapat membongkar sesuatu yang sebenarnya. Kebiasaannya, manusia akan menyembunyikan kebiasaan-kebiasaannya untuk tujuan poligami. Seandainya kadhi dapat membongkar hakikat sebenarnya, maka ini bermakna dia telah membongkar rahsia kehidupan sebuah rumahtangga dan campur tangan atau mengganggu kebebasan manusia. Lagi pula, seorang kadhi telah membuang masa dengan menangani kes-kes seperti ini yang mana sepatutnya masa itu digunakan untuk kes-kes lain. Dia menegah dan memerintahkan sesuatu yang tidak kena pada tempatnya.

Perkahwinan adalah masalah peribadi yang tidak boleh dicampuri oleh orang lain. Ia terlaksana dengan kesepakatan dari kedua belah suami isteri dan pihak wali wanita.

3. Poligami tidaklah berlaku sehingga ke peringkat begitu dikhuatirkan. Apa yang berlaku adalah sebaliknya, terbatas dan amat jarang sekali. Pada tahun 50an, di Mesir dan Libya hanya 4%, dan di Syiria 1% sahaja. Dari nisbah ini, maka tidak perlulah digubal undang-undang yang khusus untuknya. Bahkan jika telah termaktub, ia tidak akan memberi apa-apa perubahan. Kerana untuk mengatasi masalah ini, bergantung kepada sejauh mana pengamalan agama di dalam diri setiap individu.

4. Seperti yang disangkakan, poligami bukanlah punca berlakunya tragedi anak-anak lari dari rumah (rumahtangga porak-peranda). Sebenarnya, yang menjadi punca utamanya ialah kelalaian ibubapa mendidik anak-anak dengan sempurna, gejala penagihan arak dan dadah, judi dan mengabaikan hal-hal rumahtangga.

Dan masalah anak lari dari rumah yang disebabkan oleh poligami pada tahun 50an hanya dalam kadar 5% sahaja, dan punca utama dari masalah ini pada hakikatnya adalah kemiskinan.

Terdapat dua perkara untuk mengatasi pengabaian tanggungjawab setelah berpoligami, iaitu:

1. Mendidik jenarasi dengan didikan agama serta akhlak yang mulia, sehingga sepasang suami isteri dapat merasakan kukuhnya ikatan suci yang mereka bina serta dapat menumpukan terhadap asas kasih sayang yang dianjurkan oleh al-Quran.

2. Menghukum suami yang menzalimi atau tidak memberi hak-hak kepada isterinya, atau mengabaikan tugas mendidik salah seorang dari anak-anaknya sebagaimana yang telah diwajibkan.

Syed Sabiq di dalam Feqh al-Sunnah juga ada memberikan krtitikannya terhadap masalah poligami yang perlu diteliti terlebih dahulu oleh kadhi dari sudut kemampuan memberi keadilan dan nafkah.

Beliau berkata, kehidupan berkeluarga memerlukan nafkah yang besar, dan semakin ramai bilangan keluarga dengan berpoligami semakin bertambahlah nafkah yang perlu dibelanjakan. Perkara ini amat membebankan suami, dan lemahlah dia dari memberikan nafkah keluarga dan mendidik mereka agar menjadi insan yang soleh serta mampu bangkit memikul beban kehidupan dan liku-likunya. Apabila perkara ini terjadi, maka akan tersebarlah kejahilan, kerosakan dan wabak kemungkaran.

Kemudian, pada hari ini seorang lelaki tidak akan berkahwin lebih dari seorang kecuali hanya untuk melepaskan nafsu syahwat mereka atau kerana kerakusan mereka terhadap harta benda. Dia sudah tidak mengendahkan lagi hikmat poligami serta maslahah yang melatarinya. Ramai yang mencabuli hak-hak isteri dan anak-anak mereka. Darinya, terjadilah pertelingkahan antara keluarga yang berantai-rantaian sehingga ada yang sanggup berbunuhan.

Perkara di atas adalah sebahagian dari kesan poligami, dan ia telah di jadikan sebagai bukti perlunya penelitian dari kadhi sebelum dibenarkan berpoligami.

Dan mengenai masalah ini Syed Sabiq memberikan jawapan, bahawa jalan penyelesaian mengenai masalah di atas bukanlah dengan bertindak menegah sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah. Cara yang betul ialah dengan pengajaran dan pendidikan serta memberi kefahaman kepada manusia tentang hukum-hakam agama.

Lihat saja, bagaimana manusia telah dibenarkan mengecapi makanan dan minuman tanpa melebihi hadnya. Jika dia berlebihan di dalam makan dan minumnya, maka penyakit akan menghinggapinya. Dalam keadaan ini, makanan dan minuman tidak boleh disalahkan, tetapi sikap berlebihan dan pelahap itulah yang perlu disalahkan. Dan untuk mengatasi masalah ini, bukanlah dengan cara menegah orang dari makan dan minum, tetapi dengan mengajarnya adab-adab yang patut dijaga semasa makan agar terhindar dari penyakit.

Sesungguhnya orang yang beranggapan bahawa poligami tidak dibenarkan kecuali setelah mendapat keizinan dari kadhi dengan bersandarkan realiti yang berlaku tentang kesan negatif poligami merupakan orang-orang yang jahil atau pura-pura tidak mengerti tentang mara bahaya hasil dari pengharaman poligami. Mara bahaya hasil dari pengharusan poligami adalah lebih rendah atau lebih ringan jika dibandingkan dengan mara bahaya hasil dari pengharaman poligami. Oleh itu wajiblah menjaga yang lebih berat kemerbahayaan dari keduanya dengan cara mengharuskan yang lebih ringan.

Merealisasikan perkara ini (poligami dengan izin kadhi) bermakna menyerahkan kepada kadhi suatu perkara yang tidak boleh ditetapkan. Kerana tiada satupun neraca syarak yang memungkinkan seseorang mengetahui keadaan dan tingkah laku manusia. Bahkan kadangkala mudharatnya lebih hampir dari manfaatnya.

Orang-orang Islam dari dahulu sehingga kini telah mengamalkan poligami, dan tidak pernah sampai kepengetahuan kita bahawa mereka mengharamkannya atau membenarkannya setelah diteliti oleh kadhi. Kita perlu membenarkannya sebagaimana mereka telah membenarkannya. Dan tidak selayaknya bagi kita menyempitkan Rahmat Allah yang maha luas.

*****
Berdasarkan penjelasan di atas, saya kira soalan saudara telahpun berjawab, dengan disertai beberapa pengetahuan dan nasihat lain yang berguna mengenai poligami.

Jelasnya, berpoligami asal hukumnya adalah dibolehkan (jaiz), bukannya wajib. Cuma, dari hukum harus ini akan bertukar menjadi hukum lain – wajib, sunat, makruh dan haram. Ia adalah hukum yang mendatang, bukan hukum asal. Contohnya, jika seseorang itu sememangnya sudah tahu (dan pada realitinya begitu) tidak berkemampuan untuk berlaku adil terhadap isteri-isterinya nanti, maka ketika itu haram hukumnya berpoligami.

Contoh lain, jika seseorang itu mampunyai nafsu seks yang kuat, sehingga jika dia tidak berpoligami kemungkinan untuk terjebak ke lembah perzinaan adalah besar. Maka ketika itu dia wajib berpoligami (setelah memenuhi syarat-syaratnya).

Dan untuk mendapat pengetahuan lain yang berhubung kait dengan masalah poligami (giliran bersama isteri-isteri) sila rujuk jawapan soaljawab 18.

Wallahu a’lam

Rujukan
1. Al-Mughni al-Muhtaj, Syeikh Muhamad al-Khatib al-Syarbini
2. Feqh al-Sunnah, Syed Sabiq
3. Al-Feqh al-Islami Wa Adillatuh, Dr Wahabh al-Zuhaili
4. Dr Yusof al-Qardhawi, al-Halal Wal Haram Fil Islam